Daily Devotional


Hakim Yang Adil

Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Tuhan yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”

(Ulangan 32:4)

Kalau Tuhan menyelamatkan manusia hanya atas dasar kebenaran mereka, tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan. Belas kasihan Tuhan dan kemurahanNya yang tak terbatas itu dicurahkanNya kepada umatNya seturut dengan kehendakNya sendiri, bukan kehendak manusia. Kita semua layak menerima hukumanNya – bukan belas kasihanNya.

Untuk menggambarkan poin-poin di atas, dalam Roma 9:15, Paulus mengutip dari Keluaran 33:19, yang mengisahkan tentang penyembahan berhala oleh bangsa Israel sewaktu Musa sedang berada di puncak gunung untuk menerima Taurat Tuhan. “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati,” Seluruh bangsa itu memang layak dimusnahkan, tetapi Tuhan hanya menghukum 3000 orang – bukan karena yang lainnya kurang jahatnya atau lebih baik kehidupannya, tetapi semata-mata karena kasih karunia dan belas kasihanNya kepada bangsa itu.

Meskipun begitu Paulus tetap menanyakan, “Apakah Tuhan tidak adil?” Lalu dijawabnya sendiri pertanyaan itu, “Mustahil!” (Roma 9:14). Tidak terpikirkan bagaimana Tuhan yang maha kudus bisa melakukan perbuatan yang tidak adil. Tuhan adalah penguasa atas karya dan perbuatanNya menurut kehendakNya dan tujuanNya sendiri. Dan Hakim yang maha adil atas dunia ini selalu melakukan yang benar.

Baik kasih maupun keadilan Tuhan adalah jauh di atas yang mampu kita pahami. Meskipun begitu kita tetap harus jujur dengan sikap dan perasaan kita. Pikirkan satu saat atau peristiwa di mana menurut Anda Tuhan bersikap tidak adil kepada Anda; lalu luangkan beberapa waktu untuk berdoa dengan sungguh-sungguh memohon pemahaman dari Tuhan. Bagaimanapun lemahnya pemahaman Anda terhadap jalan-jalan Tuhan, nyatakan kepada Tuhan bahwa Anda kepercayaan Anda kepadaNya dengan mengulang-ulang janji sebagai berikut ini: “Aku mempercayai keadilan Tuhan yang tidak mampu kupahami karena keterbatasan hikmat dan pengetahuanku. Amen.”

 

 


Singkirkan Beban Itu!

“...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”

(Ibrani 12:1)

 

Para atlit dulu sering menggunakan beban dalam latihan untuk mempersiapkan diri sebelum pertandingan. Salah satu contoh yang modern adalah pemain baseball yang harus mengayunkan tongkat pemukul bola yang ujungnya dilapisi dengan logam sebelum ia berdiri di atas plate (piringan). Sebenarnya tak seorang atlitpun yang ikut berlomba akan menggunakan beban semacam itu pada saat perlombaan, sebab beban itu akan memperlambat gerakannya. Terlalu banyak beban akan mengurangi daya tahan seseorang.

“Beban-beban” apakah yang harus kita tanggalkan (Ibrani 12:1), supaya kita bisa menang dalam perlombaan itu? Segala sesuatu yang dapat menghambat kemajuan kita. Bahkan mungkin hal-hal yang “tampaknya baik” di mata orang lain. Seorang atlit yang ingin menang tidak memilih antara yang baik dan yang buruk; ia harus memilih antara yang lebih baik dan yang paling baik. kita juga harus menyingkirkan “dosa-dosa yang begitu merintangi kita” (Ibrani 12:1). Meskipun dalam ayat itu tidak disebutkan secara khusus dosa-dosa apa, tetapi penulis surat Ibrani mungkin sekali menunjuk kepada dosa ketidakpercayaan. Rasa tidak percayalah yang sudah mencegah bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, dan ketidakpercayaan juga yang dapat mencegah kita masuk ke dalam warisan spiritual dalam Kristus. Ungkapan “dengan iman” (atau “melalui iman”) digunakan 21 kali dalam Ibrani 11, dan itu menunjukkan bahwa hanya iman dalam Kristus saja yang memampukan kita bertahan.

“Beban berat” mana yang menghambat kemajuan Anda? Mintalah supaya Tuhan menolong menyingkirkan beban itu hari ini juga.

 

 


Meskipun Singkat

“Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem.”

(2 Tawarikh 27:8)

David Brainerd adalah misionaris pelopor pekabaran Injil bagi suku Indian Amerika. Ketika usianya baru menginjak 29 tahun, ia menderita sakit parah. Menjelang saat-saat terakhir hidupnya, ia berkata, “Mengapa kereta-Nya tidak datang-datang juga? Saya sudah lama menantikan waktu untuk memuji dan memuliakan Tuhan bersama para malaikat di surga.” Usianya memang terhitung singkat, namun bagi Brainerd hal itu tidak menjadi masalah sebab dalam sepanjang hidupnya ia telah melakukan yang terbaik bagi Sang Raja.

Yotam berumur 25 tahun saat ia menjadi raja menggantikan ayahnya, Uzia. Alkitab mencatat bahwa sebagai raja di Yerusalem ia tidak bersenang-senang saja menikmati kekuasaannya. Sebaliknya, ia bekerja giat untuk Tuhan. Ia mendirikan banyak bangunan, mulai dari gerbang di rumah Tuhan, kota-kota di pegunungan, benteng-benteng sampai banyak menara. Sebagai penguasa, ia pun tidak memilih berdiam diri saja di istana, melainkan ikut berperang melawan bani Amon. Hidupnya memang terbilang singkat-hanya 41 tahun-tetapi selama itu ia berbuah banyak bagi Tuhan. Kehadirannya di dunia ini benar-benar memberi dampak bagi pemerintahannya.

Dari pengalaman David Brainerd dan raja Yotam, kita belajar bahwa yang penting bukan berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita hidup. Apakah ada kualitasnya? Apakah ada manfaatnya bagi sesama? Apakah Tuhan dimuliakan melalui kita? Mari kita, berapa pun usia kita, memasuki tahun baru ini dengan semangat untuk hidup bagi kemuliaan-Nya!

 

Ukuran kehidupan bagaimanapun juga bukan berapa lamanya, melainkan apa sumbangan yang diberikan.

– Corrie Ten Boom –

 


Jangan Takut Memberi

Berilah dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

(Lukas 6:38)

 

 

Berapa banyak di antara kita yang takut untuk memberi? Mungkin mereka berpikir bahwa dengan memberi maka mereka akan kehilangan banyak hartanya secara sia-sia tanpa adanya timbal balik secara nyata saat itu juga. Mereka lebih baik menggunakan uangnya untuk mengerjakan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan lebih padanya.

Ada pula orang-orang yang merasa tidak pantas untuk memberi karena mereka sedang berada dalam kekurangan. Mereka mempunyai pikiran bahwa seharusnya bukan mereka yang memberi akan tetapi mereka yang diberi.

Kita harus tahu bahwa “memberi” itu berlaku kepada siapa saja baik itu kaya maupun miskin dan juga berlaku bagi semua orang. Memberi itu bukan diukur dari seberapa mampu untuk memberi akan tetapi memberi itu diukur dari ketulusan hati.

Kasih itu memberi. Jika kita mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus, maka kita akan memberi dari hati dan tidak lagi memikirkan akan kekurangan. Memberi dengan tulus adalah memberi tanpa mengharapkan timbal balik. Ketika kita sudah memberi, maka lupakanlah dan jangan diingat-ingat lagi.

Tuhan Yesus tidak akan pernah tinggal diam dengan apa yang telah kita lakukan kepada-Nya. Tuhan Yesus melihat semua ketulusan dan kasih kita dalam hal memberi baik itu memberi kepada sesama ataupun memberi bagi pekerjaan Tuhan. Tuhan Yesus tidak mau berhutang kepada kita, maka dari itu Tuhan akan memberkati kita dengan cara yang ajaib. Tuhan akan memberikan berkat lebih dari apa yang kita harapkan. Jangan takut untuk memberi karena Tuhan pasti memberkati.

 


Hidup Itu Singkat

Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap

(Yakobus 4:14)

Hidup selama 70 tahun, kalau Tuhan izinkan bisa sampai 80 tahun. Hidup itu panjang juga ya? 70 tahun di dunia, merasakan pahit dan manisnya cinta, mencicipi asam garam kehidupan, juga pedas dan gurihnya wisata kuliner. Tetapi, jika tahun-tahun itu dilalui, akan ada semacam perasaan bahwa waktu berlalu begitu cepat. Disinilah kita akan merenungkan satu pertanyaan yaitu bahwa hidup itu singkat tidak peduli berapa lama kita hidup.

70 tahun hanyalah satu titik kecil dari “garis” kekekalan Tuhan. Apa yang kita anggap lambat, tidaklah ada artinya di hadapan Tuhan. Ia mempercayakan kepada kita yang kecil ini, satu titik dari kekekalan-Nya supaya kita belajar arti hidup yang sebenarnya, supaya kita mempersiapkan diri untuk berlama-lama dalam kekekalan-Nya.

Hidup itu singkat dan ini adalah kenyataan. Jangan hidup seolah-olah kita masih punya banyak waktu untuk melakukan ini dan itu, dan jangan tertipu oleh waktu. Hiduplah seolah Anda hidup hanya untuk hari ini – bukan berarti Anda menghabiskan semua tabungan Anda hari ini juga, atau melakukan segala yang Anda suka atau inginkan hari ini juga, melainkan hiduplah untuk melakukan apa yang Tuhan ingin Anda lakukan hari ini. Jika kita melakukannya, maka kita akan selalu siap kapanpun Tuhan memanggil kita pulang.

 

Bapa di sorga, ajarlah aku untuk hidup dengan bijaksana, sebagaimana Engkau ingin aku hidup. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang Kau berikan kepadaku di dunia, namun aku ingin memberikan hidup ini hanya bagi-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, alasan untuk aku hidup. Amin.

 

 


↑ Back to Top