Daily Devotional


Menyerahkan Cermin Kita

Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

(Filipi 2:1-5)

 

 

Ketika Musa mengumpulkan bangsa Israel untuk memulai pekerjaan membangun Kemah Suci (Kel. 35–39), ia memanggil Bezaleel, seorang tukang yang ahli, untuk membantu dalam membuat perabotannya. Kita membaca bahwa sejumlah pelayan perempuan diminta untuk memberikan cermin tembaga mereka yang berharga agar dibuat menjadi bejana pembasuhan (38:8). Mereka menyerahkan cermin-cermin itu untuk membantu dalam menyiapkan suatu tempat kediaman bagi Tuhan.

Bagi kebanyakan dari kita, menyerahkan cermin mungkin tidak mudah untuk dilakukan. Kita memang tidak diminta untuk menyerahkan cermin, tetapi saya terpikir bahwa terlalu banyak introspeksi diri mungkin dapat membawa dampak yang mengkhawatirkan. Akibatnya, bisa saja kita menjadi lebih suka memikirkan diri sendiri dan kurang memikirkan keadaan orang lain.

Ketika kita dapat segera melupakan keadaan kita dan mengingat bahwa Tuhan mengasihi kita apa adanya—dengan segala ketidaksempurnaan kita—kita dapat mulai untuk tidak hanya “memperhatikan kepentingan [kita] sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4).

Agustinus pernah berkata, kita akan kehilangan jati diri bila kita mengasihi diri sendiri, tetapi kita menemukan jati diri sejati bila kita mengasihi orang lain. Dengan kata lain, rahasia kebahagiaan bukanlah dengan memuaskan diri sendiri, melainkan dengan memberikan hati kita, hidup kita, dan diri kita dalam kasih kepada sesama.

Bapa, tolong aku untuk lebih mendahulukan orang lain daripada diriku sendiri. Kiranya aku tidak mementingkan diriku sendiri ketika memperhatikan orang lain dan kebutuhan mereka

Hati yang berfokus kepada orang lain tidak akan berpikir untuk mendahulukan diri sendiri.

Sumber: SR.Org

 

 

 


Lihatlah Pemenangnya!

Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis sebagai pengajaran bagi kita, bahwa dengan ketekunan dan penghiburan kitab suci, kita memiliki pengharapan.”

(Roma 15:4)

Para pahlawan iman yang namanya tercantum dalam Ibrani 11 disebutkan juga sebagai “saksi yang bagaikan awan-awan” dalam pasal 12. Para wanita dan pria yang sekarang berada di dalam sorga itu tidak sedang melihat kita yang sedang menjalani pertandingan hidup ini seperti para penonton yang duduk di dalam stadion. Kata “saksi” di sini bukan berarti “penonton”. Kata dalam bahasa Inggris martyr yang berarti orang suci, berasal dari kata Yunani yang juga berarti “saksi”. Para orang suci itu tidak sedang menyaksikan apa yang sedang kita lakukan. Sebaliknya, mereka memberikan kesaksian kepada kita bahwa Tuhan bisa melihat kita secara langsung. Tuhan sudah memberikan kesaksian kepada mereka pada waktu mereka masih hidup, dan sekarang mereka memberikan kesaksian kepada kita melalui kitab Perjanjian Lama. Orang percaya yang mengakui bahwa, “Aku jarang membaca Perjanjian Lama, kecuali kitab Mazmur dan Amsal,” kehilangan banyak dukungan spiritual.

 


Diselamatkan Karena Anugerah

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

(Matius 16:26) 

 

Sia-sialah usaha manusia menjaring angin dibawah muka bumi ini. Dimana Anda harus pergi pagi dan pulang larut malam. Ketika Anda mengumpulkan kekayaan dan mendapatkannya, apakah ini tujuan hidup Anda atau  apakah Anda berpikir bahwa  kekayaan dapat menyelamatkan jiwa Anda? 

Sebab karena kasih karunia  kamu diselamatkan  oleh iman;itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri.”(Efesus 2:8-9)

Ketahuilah bahwa Anda diselamatkan karena Anugerah, bukan karena berbuat baik. Berbuat baik adalah sebuah keharusan. Tujuan keselamatan adalah hidup yang kekal. Tuhan datang ke dunia untuk menyelamatkan Anda. Ketika Anda di selamatkan dan nama Anda ditulis di buku kehidupan. Itu adalah harta yang paling berharga. Tidak ada satupun manusia yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri.  

Keadaan manusia pada zaman ini sudah semakin buruk, karena banyaknya dosa yang dilakukan. Bahkan berhala-berhala modern yang tanpa Anda sadari sudah ada dalam kehidupan Anda. Contohnya saja : pekerjaan, teknologi, harta, bahkan pasangan Anda. Tetaplah menjadikan Tuhan di atas segala-galanya. Berhala modern adalah hal yang sangat tidak berkenan di hadapan Tuhan. Tetaplah percaya kepada Tuhan, karena Dia yang memeliharakan hidup Anda. 

Jadilah Joshua-Joshua akhir zaman, yang tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri. Yang tetap menguatkan dan meneguhkan hati.

 

Sumber: Jawaban.com

 


Kebenaran Sejati

Aku berkata kepadamu: seesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita

(Yohanes 16:20)

Ucapan Yesus membuat bingung para murid. Mereka tidak mengerti apa maksud-Nya Ia akan pergi dan mereka tidak akan melihat dia. Namun kemudian bisa kembali dan melihat dia? Hal ini  mempertegas ucapan Yesus kepada Nikodemus bahwa seorang perlu dilahirkan baru ditolong Roh agar dapat memahami kebenaran rohani.  Itu sebabnya, Yesus mengutus Roh Kudus agar mereka mengerti kebenaran Rohani tersebut dan memuliakan Yesus.

Ada dua tafsiran mengenai ayat  16-23. Pertama, berkaitan dengan kepulangan Yesus kepada Bapa setelah ia menyelesaikan misi-Nya dan kembalinya Yesus untuk menjemput para murid-Nya. Saat itulah dukacita para murid akan berganti sukacita karena keselamatan akan dinikmati semua orang percaya secara tuntas dan sempurna. Kedua, menegaskan bahwa Yesus akan ditangkap, diadili dan dihukum mati. Saat itu, para musuh bersukacita, tapi para murid berdukacita, akan tetapi Yesus akan bangkit sebagai pemenang atas dosa dan penguasa dunia. Ini membawa sukacita yang tak dapat hilang lagi (ay.22) kebangkitanNya mengubah segalanya. Sebelum kematian-Nya, jalan masuk umat kepada Tuhan tertutup oleh dosa. Setelah kebangkitan-Nya, para murid boleh langsung datang kepada Bapa mellui doa dalam nama Yesus (23-24).

Sebagai manusia yang terbatas dan berdosa, kita tidak dapat mengerti dan mempercayai kebenaran Tuhan dengan kemampuan sendiri, kita perlu roh kudus mengajar kita agar mata rohani kita melihat Yesus yang mengalahkan kuasa dosa. Kita perlu dukungan Roh Kudus agar mengimani kemenangan Yesus yang menuntun kita di jalan benar menuju surga. Roh Kudus menolong kita menyadari hak-hak kita sebagai orang beriman yaitu mengalami kesukaan dan berdoa dalam nama Yesus (22-24).

 


Siapa Yang Benar?

Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengetahui apa yang benar, hai bangsa yang menyimpan pengajaran-Ku dalam hatimu! Janganlah takut jika diaibkan oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka.”

(Yesaya 51:7)

 

Setiap orang pasti ingin mencari kebenaran di dalam perjalanan hidup mereka. Mereka tidak cukup dengan sebuah kebenaran yang ada melainkan mereka ingin mencari kebenaran di atas semua kebenaran yang ada. Dari sinilah mulai timbul perpecahan karena akan saling menyalahkan ajaran yang telah ada. Lalu kebenaran mana yang akan kita anut? Dan seperti apa kebenaran sejati itu?

Ajaran yang benar adalah sebuah ajaran yang tidak pilih kasih. Ajaran yang benar bukanlah untuk mencari kesalahan orang lain. Dan ajaran yang benar bukanlah untuk melenyapkan segala hal yang bertentangan dengan ajaran mereka.

Jika kita telah menetapkan pilihan untuk mengikuti Tuhan Yesus, maka kita telah berada di jalan yang benar dengan ajaran-ajaran yang benar pula. Tuhan Yesus selalu mengajarkan tentang kasih dan kasih itu tidak akan pernah melahirkan bentuk kejahatan apapun.

Saat kita merasa telah memiliki ajaran yang benar, maka kita tidak perlu berdemo dan mengajak orang lain dengan paksa untuk mengikut kita. Akan tetapi nyatakanlah dalam bentuk tindakan nyata semua ajaran yang telah kita terima dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sumber: RHK.Net


↑ Back to Top