Daily Devotional


Percaya Kepada Tuhan

YAHWEH adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapa aku harus takut? YAHWEH adalah kekuatan hidupku, kepada siapakah aku harus gentar?”

(Mazmur 27:1)

Kita harus selalu mengingat bahwa musuh-musuh kita (yang dalam bentuk darah dan daging) hanyalah merupakan senjata-senjata dari musuh kita yang sejati, yaitu si iblis. “Sebab, bagi kita pertarungan itu bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan penguasa-penguasa, melawan otoritas-otoritas, melawan penghulu-penghulu dunia kegelapan zaman ini, melawan hal-hal spiritual yang jahat di alam surgawi.” (Efesus 6:12)

Anak-anak Tuhan memiliki musuh-musuh. Bangsa Israel sudah sering diserang oleh musuh-musuh mereka; para nabi membangkitkan perlawanan di antara orang-orang yang tak mau percaya; bahkan gereja-gereja yang mula-mula mengalami serangan dari tokoh-tokoh agama. Tuhan Yesus datang membawa berita damai, tetapi kadang-kadang hasilnya adalah peperangan. Orang percaya yang menghindari penganiayaan adalah sama dengan menyembunyikan cahaya mereka, atau mengkompromikan kebenaran. Kalau rasa takut mencekam hati, rasa takut itu juga bisa membuat pikiran dan tubuh kita menjadi lumpuh. Daud (yang disebut memiliki hati tuhan) melihat musuh-musuhnya sebagai binatang buas, menerkam dan berusaha memakannya. Tetapi ia tidak takut, karena kepercayaannya adalah dalam Tuhan.

Karena kita mengenali bahwa rasa takut adalah senjata iblis, tetapkanlah hati untuk menaruh kepercayaan dalam Tuhan sebagai prioritas dalam hidup Anda.

 


Kesatuan Dan Persekutuan

Hatiku mengikuti firman-Mu; ‘Carilah wajah-Ku; maka wajah-Mu kucari, ya Elohim.”

(Mazmur 27:8)

 

Fakta kehadiran Tuhan beserta kita dipastikan oleh janjiNya, tetapi bagaimana kita mengalami hadiratNya, tergantung pada bagaimana hubungan kita dengan Dia dalam iman, kasih, ketaatan, dan keinginan. Dalam kehidupan Kristiani ada perbedaan antara “kesatuan” (union) yang berarti “menjadi milik Kristus” dan “persekutuan” (communion), yang berarti menikmati kehadiran dan kebersamaan dengan Kristus.

Seorang ayah dan seorang ibu mungkin saja mau meninggalkan anaknya, tetapi kemungkinan itu kecil. Tuhan bagi kita adalah bagaikan seorang Bapa yang setia dan penuh pengabdian, dan Ia juga mengurus kita dengan lemah lembut bagaikan seorang ibu yang penuh kasih. Sebagai anak-anak dalam keluarga Tuhan, kita memiliki seorang Juruselamat yang lebih dekat daripada seorang saudara kandung, dan seorang Bapa yang sekaligus berperan sebagai ayah dan ibu bagi kita dalam semua kebutuhan hidup kita.

Sewaktu kita menjalani kehidupan ini, kita membutuhkan arahan dan tuntunan. Musuh selalu hadir untuk menjatuhkan kita atau membelokkan jalan kita ke jalan lain yang tampak lebih menarik. Tidak peduli bagaimana pun naik turunnya jalan kehidupan ini, Tuhan akan membimbing kita ke jalan yang rata supaya kita jangan sampai terpeleset dan jatuh. Iblis ingin membelokkan kita ke jalan yang berliku-liku, tidak rata, dan penuh dengan pengkhianatan.

 


Berhati Batu

Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun

(Roma 14:19)

Setiap dari kita pastilah mengetahui bagaimana karakteristik tentang sebuah batu. Batu bersifat keras dan akan sangat sulit untuk dipecahkan. Dibutuhkan tenaga yang besar untuk membuatnya hancur. Dan ketika kita melemparkan batu tersebut ke arah orang lain, maka akan dapat melukainya.

Begitu juga dengan orang-orang yang memiliki hati seperti batu. Hati itu akan membuat perasaannya semakin keras sehingga tidak mengijinkan kasih itu masuk di dalamnya. Orang-orang yang memiliki hati seperti itu akan cenderung lebih mudah untuk melukai perasaan orang lain.

Jangan pernah biarkan batu-batu itu memenuhi hati kita. Jangan pernah biarkan kehidupan kita berjalan dengan penuh keburukan yang membuat orang lain tidak nyaman dengan keberadaan kita. Janganlah kita menjadi batu sandungan bagi kehidupan orang ain, melainkan jadikan kehidupan kita sebagai berkat bagi orang lain.

 

Sumber:RHK.net

 


Tuhan Tidak Pernah Pilih Kasih

Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”

(Yohanes 21:21-22)

 

 

Menjadi orang yang dijadikan nomor dua atau tiga dalam sebuah keluarga bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Akibat hal ini juga, banyak anak yang akhirnya terluka atas perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Tidak hanya di rumah, di dalam perusahaan pun hal ini sering ditemui sehingga muncullah sebutan “anak emas bos” bagi mereka yang selalu mendapat perlakuan khusus dari atasannya.

Bagi mereka yang di-anakemas- kan, tentulah senang dengan perilaku yang diberikan oleh para pemimpinnya, tetapi bagi mereka yang tidak, kekecewaan dan kebencian tumbuh menyatu menjadi satu. Sadar atau tidak, pandangan kita terhadap Tuhan pun seperti itu. Kita menganggap bahwa ketika seseorang mendapat berkat yang luar biasa melimpah dan kita belum mendapatkannya maka kita akan menuduh-Nya sebagai Tuhan yang pilih kasih.

Dalam Kemahabesarannya, Tuhan memiliki wewenang menganugerahkan kasih dan kuasa-Nya kepada siapa ia ingin memberikannya. Hal ini bukan berarti Dia menganggap seseorang tidak berharga dan yang lain begitu tinggi derajat di mata-Nya. Dia memiliki rahasia tersendiri untuk memberkati satu persatu umat-Nya dan kita tidak perlu menanyakannya. Percaya saja, Tuhan telah menyiapkan berkat yang terbaik dan Dia akan mencurahkan sesuai dengan waktu yang dirancang-Nya.

Mungkin hari ini ada diantara Anda yang sudah berpaling dari Tuhan karena suatu peristiwa yang Anda anggap tidak harus Anda alami. Dalam kasih Kristus, saya mengatakan kembalilah kepada-Nya. Tuhan tidak pernah pilih kasih dan kalau pun ada kejadian yang membuat Anda begitu sedih dan kecewa lihatlah ada maksud-Nya yang besar dan mulia dibalik semua itu.

 

Tuhan mengasihi anak-anakNya dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun dan oleh apa pun juga.

 

Sumber: renungan harian

 


Kebenaran Dalam Kata Dan Karakter

Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.”

(Yakobus 5:12)

Bersumpah bukanlah dosa karena “mengutuki,” tetapi dosa karena menggunakan sumpah untuk memperkuat sebuah pernyataan, atau dukungan bahwa apa yang dikatakan seseorang itu benar. Orang-orang Farisi menggunakan berbagai macam akal muslihat untuk mengesampingkan kebenaran, dan bersumpah adalah salah satu dari sekian banyak akal muslihat itu. Mereka bisa saja menghindari penggunaan nama Tuhan dalam sumpahnya, tetapi mereka menggantikannya dengan kata-kata lain yang dekat dengan Sang Pencipta, seperti: Yerusalem, sorga, bumi, atau beberapa bagian tubuh.

Yesus mengajarkan bahwa pembicaraan kita haruslah sangat jujur, dan karakter kita sangat benar dan apa adanya, sehingga kita tidak perlu “topangan” untuk membuat orang lain percaya kepada kita. Kepercayaan tergantung pada karakter, dan segala macam sumpah tidak dapat menggantikan karakter yang buruk. “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran; tetapi siapa yang menahan bibirnya berakal budi.” (Amsal 10:19). Makin banyak kata-kata yang diucapkan seseorang untuk meyakinkan kita, kita perlu makin waspada dan curiga terhadapnya.

 


↑ Back to Top