Daily Devotional


Tuhan Melihat Ke Dalam Hati

Tetapi berfirmanlah YAHWEH kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Elohim; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi YAHWEH melihat hati."

(1 samuel 16:7)

 

Bagi orang-orang Yahudi, orang yang bukan Yahudi adalah “anjing-anjing yang tak bersunat.” Tragisnya, orang-orang Yahudi lebih peduli terhadap tanda fisik seperti sunat, daripada realitas kerohanian yang dinyatakan melalui tanda itu: ”Sebab itu sunatlah hatimu...” (Ulangan 10:16; lihat juga Yeremia 9:26; Yehezkiel 44:9). Seorang Yahudi sejati adalah orang yang memiliki pengalaman spiritual di dalam hatinya, tidak hanya operasi fisik di luar atau secara jasmaniah. Manusia modern di zaman ini juga membuat kesalahan yang sama dalam pandangan mereka terhadap baptisan dan Perjamuan Kudus, atau bahkan keanggotaan gereja.

Tuhan menilai manusia menurut “rahasia dalam hati”; Ia sama sekali tidak terkesan oleh formalitas di luar. Seorang non-Yahudi yang beriman dan tidak bersunat tetapi taat, lebih menyenangkan hati Tuhan daripada seorang Yahudi yang bersunat tetapi tidak taat. Bahkan seorang Yahudi yang bersunat tetapi tidak taat dapat menjadi orang yang tak bersunat di mata Tuhan, karena Tuhan melihat ke dalam hati. Orang Yahudi saling memuji diri sendiri karena ketaatan mereka kepada hukum Taurat, tetapi hal yang terpenting adalah “pujian dari Tuhan” dan bukan pujian manusia. Kalau Anda ingat bahwa nama “Yahudi” berasal dari kata “Yehuda” yang berarti “pujian” pernyataan ini akan memberi pengertian baru.

 


Undangan Yang Penuh Kemurahan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

(Matius 11:28)

 

 

“Marilah kita menghadap...marilah kita teguh berpegang...marilah kita saling memperhatikan.” Undangan yang diulang sampai tiga kali dari Ibrani 10:19-25 itu berkaitan langsung dengan keberanian kita memasuki tempat yang maha kudus. Dan keberanian ini kita nikmati karena karya penebusan Juruselamat kita yang telah sempurna. Pada Hari Penebusan Dosa, imam besar tidak boleh masuk ke ruang maha suci kalau ia tidak membawa darah domba yang dikorbankan. Tetapi saat kita memasuki hadirat Tuhan, itu bukan karena darah binatang yang dikorbankan, tetapi darah Kristus yang telah dicurahkan di kayu salib.

Jalan yang terbuka menuju ke hadirat Tuhan itu adalah jalan yang baru dan bukan merupakan bagian dari Perjanjian Lama yang sudah tua dan usang, bahkan sudah hampir musnah (Ibrani 8:13). Jalan itu “hidup” karena Kristus “hidup senantiasa untuk menjadi perantara kita” (Ibrani 7:25). Kristuslah jalan yang baru dan hidup! Kita datang kepada Tuhan melalui Dia, Imam Besar kita di rumah Tuhan. Ketika tubuh-Nya dikoyakkan di atas kayu salib, dan hidup-Nya dikorbankan, Tuhan merobek tirai di dalam Bait Suci. Peristiwa ini melambangkan jalan baru yang hidup, yang sekarang terbuka bagi semua orang yang percaya.

Atas dasar kepastian ini – bahwa kita punya keberanian untuk masuk karena kita memiliki Imam Besar yang hidup – kita juga mempunyai “undangan terbuka” untuk masuk ke hadirat Tuhan. Imam Besar dalam Perjanjian Lama mengunjungi ruang maha suci hanya sekali dalam setahun, tetapi kita diundang untuk tinggal diam di hadirat Tuhan tiap saat setiap hari. Betapa hebatnya pemberian itu!

 


Luka Batin

Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”

(Amsal 16:2)

Luka batin adalah luka yang tersembunyi di bawah kesadaran. Luka batin amat menyakitkan sehingga banyak orang bertendensi menekan dan tidak ingin menyentuh luka batinnya. Akibatnya, lukanya akan semakin terpendam dan tidak pernah sembuh.

Ada saat di mana luka batin ini akan tersentuh. Saat ini sebenarnya merupakan kesempatan di mana kita dapat memeriksa diri dan mencari kesembuhan. Salah satu tanda bahwa kita memiliki luka batin yaitu bilamana ada perkataan atau tindakan seseorang (yang kelihatannya biasa) yang membuat kita begitu sakit sehingga kita tidak dapat mengontrol diri lagi. Respons yang umum dilakukan bila luka batin kita tersentuh yaitu menyalahkan orang lain. Kita tidak tahan dengan rasa sakit tersebut sehingga kita memproyeksikannya kepada orang lain.

Menyalahkan orang lain tidak akan menyembuhkan luka batin kita. Luka batin berakar di dalam batin kita, bukan di luar kita. Oleh sebab itu, bila kita merasakan kesakitan yang dalam, berhentilah menyalahkan orang lain. Introspeksi masa lalu kita, cari pengalaman masa lalu atau masa kecil di mana kita pernah mengalami kesakitan yang serupa. Bila kita telah menemukannya, kita dapat mengeluarkan emosi kita dengan menangis, mengampuni orang yang menyakiti kita dan memohon pengampunan kepada Tuhan dan orang yang kita sakiti.

Berhenti menyalahkan orang lain tetapi lihatlah hati Anda!

 

Sumber: RHK.Com

 


Kuasa Kebangkitan

Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

(Yohanes 11:25)

 

Kematian adalah hal yang paling ditakuti oleh manusia. Mereka tidak ingin hidupnya segera berakhir, karena bagi mereka kematian merupakan akhir dari segalanya. Yesus memang mati di kayu salib, namun Yesus juga tidak pernah membiarkan iblis tertawa. Maut tidak berkuasa atas Yesus, melainkan Yesus yang berkuasa atas maut. Yesus bangkit untuk menyatakan kebesaran-Nya.

Mungkin banyak di antara kita yang mengalami “kematian”. Banyak impian-impian yang telah mati. Bisnis dan pekerjaan hancur, keluarga berantakan, penyakit yang tidak bisa disembuhkan, dan semangat-semangat yang mulai hilang.

Jika mau saja dapat Yesus kalahkan, apalah arti dari permasalahan kita? Yesus sanggup membuat kehidupan kita menjadi bangkit. Yesus sanggup memulihkan bisnis dan pekerjaan kita. Yesus juga sanggup menyatukan keluarga kita. Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh bilur-bilur Yesus.

Milikilah iman yang penuh percaya kepada Yesus. Ketika kita berserah, maka Tuhan akan buka jalan dan membawa kita kepada kemenangan. Segala beban kehidupan telah Yesus angkat dan kita akan beroleh berkat yang melimpah.

 

Sumber: RHK.net

 

 


Merencanakan Masa Depan Bersama Tuhan

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Elohim. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Elahim  dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

(Matius 6:31-33)

Masa depan seperti apa yang Anda inginkan? Pastinya masa depan yang penuh dengan kesuksesan dan semua impian dapat tercapai. Lalu bagaimana kita mengawali langkah kita untuk meraih masa depan yang kita harapkan? Siapa yang dapat menjamin bahwa kita akan sukses?

Rencanakanlah masa depanmu dengan Tuhan dan Tuhan akan menjamin masa depanmu. Saat kita mengundang Yesus masuk dalam setiap perkara, maka Yesus juga akan bekerja dalam kehidupan kita.

Sudahkah Anda menerima Yesus dalam hidup Anda? Carilah Tuhan dan kebenaranNya, maka masa depan Anda akan indah dalam rancanganNya.

Sumber: Renungan.net

 

 


↑ Back to Top