Martyrdom


Ngen Do Man: Pendeta yang ditusuk 13 kali

26 Januari 1991. Tampaknya inilah saat akhir bagi Ngen Do Man merasakan panasnya matahari yang saban hari menyengat ubun-ubun. Siang itu, ia sedang menikmati perjalanan. Siulan kecil keluar dari bibirnya. Ia sedang gembira. Sebentar lagi, ia bertemu saudara-saudara seiman. Ngen Do memang hendak mengajarkan Injil ke sebuah ibadah rumah yang tersembunyi di balik bukit. Bukan sekali ini ia melakukan perjalanan jauh itu.

Sebagai seorang pendeta dan penginjil, ia tahu negerinya tidaklah ramah. Ia sadar nyawanya bisa terancam kapan saja. Tapi Ngen Do Man tak mau gemetar dalam gentar. Tiga tahun mengikut Kristus bukanlah waktu yang lama. Tapi ia sudah memenangkan 200 jiwa lebih dan membawa mereka hidup dalam pengenalan akan Kristus. Tak heran, Ngen Do di cari-cari dan dikejar laksana buron kelas kakap. Tapi Tuhan begitu murah hati. Tiga tahun dia gesit melarikan diri. Tak sekalipun ketahuan. Tapi misteri ajal, tak satu pun bisa memecahkan. Dalam perjalanannya kali ini, Ngen Do dikepung oleh beberapa orang komunis. Mereka sepertinya sudah mengintai gerak-gerik Ngen Do Man dengan seksama.

Di pinggir jalan itu, Ngen Do tiba-tiba terkesima. Belasan orang berwajah sangar berdiri tegap dengan senjata tergenggam erat di tangan. Ngen Do tahu waktunya telah tiba. Ia tak melawan sedikit pun. Ia hanya berdoa dalam hatinya. "Tuhan, terima kasih aku boleh mendapatkan kehormatan mati demi memperjuangkan nama-Mu. Ampunilah mereka. Jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka." Ngen Do memandang mereka satu per satu. Itulah hari terakhir ia bisa memandang sesamanya. Siang itu di bawah teriknya matahari, Ngen Do diserbu dan disiksa dengan kejam. Tanpa ampun, ia ditusuk 13 kali. Ngen Do tewas seketika, tanpa sempat menyampaikan salam perpisahan kepada istri dan anak perempuannya. 


Antonie Aris van de Loosdrech, Kisah Seorang Martir Tana Toraja

Tana Toraja bertahun-tahun lamanya dahulu adalah sebuah wilayah yang banyak dari para penduduknya masih menganut animisme. Berbagai ritual yang tidak sesuai dengan Alkitab kerap mereka praktikkan. Namun di tengah keadaan suram tersebut, datanglah seorang pendeta dari Belanda bernama Antonie Aris van de Loosdrecht. Bersama sang istri, Alida van de Loosdrect, mereka melakukan pelayanan kepada masyarakat sekitar.

Namun, Pendeta Anton dan Ida yang menikah pada 7 Agustus 1913 di Belanda itu tidak langsung mengunjungi Tana Toraja, melainkan mereka tinggal selama beberapa waktu di desa Tentena, Poso. Adapun alasan keduanya melakukan itu karena mereka menyadari mereka perlu mempelajari bahasa penduduk setempat agar bisa berkomunikasi. Dibantu oleh penerjemah Alkitab N. Adriani, pasangan suami-istri ini pun akhirnya mampu melancarkan bahasa Toraja.

Setelah sukses belajar bahasa, Anton dan Ida kemudian pergi ke Tana Toraja. Adapun lokasi yang mereka jadikan sebagai daerah tempat tinggal adalah Rentepao. Di sana keduanya mendapat sambutan yang hangat baik dari penduduk biasa maupun para kepala suku dan juga para parenge" atau para imam.

Awal pekerjaan Anton di wilayah Tana Toraja adalah mendirikan sekolah. Anton menganggap pendidikan merupakan yang paling dibutuhkan oleh orang-orang dimana ia dan istrinya kini berada. Untuk mewujudkan itu, ia dari lewat subuh hingga tengah malam, banting tulang mencari cara membangun tempat pendidikan belajar yang layak.

Usahanya pun kemudian berhasil. Sejumlah anak di Rentepao bahkan berhasil dibawanya untuk dibekali ilmu pengetahuan. Seiring dengan bidang pendidikan berhasil dijalankan, pemberian tindakan medis juga sukses ia dan istrinya bangun.  

Meski kedua bidang itu menunjukkan hasil positif, tetapi sampai beberapa waktu lamanya ternyata belum ada satu pun yang bisa mereka bawa kepada Kristus. Memang salah satu yang membuat mereka sulit untuk memuridkan penduduk lokal disana adalah karena mereka sangat mementingkan kualitas iman yang dari pemahaman benar akan iman Kristen.

Anton dan Ida akan menolak membaptis seseorang yang kurang jika ia tidak ikut pelajaran Katekisasi dulu. Meski sepertinya kaku, tetapi pada akhirnya ada empat pemuda yang bisa mereka muridkan. Perlahan tapi pasti murid yang dihasilkan dari pelayanan suami-istri ini pun bertambah dan bertambah jumlahnya.  

26 Juli 1917 adalah tanggal dimana sebuah hal yang tidak terduga terjadi. Saat Anton sedang berbincang-bincang mengenai rencana penerjemahan cerita-cerita alkitab ke dalam bahasa Toraja dengan seorang guru di Bori-Bori, tiba-tiba pria asal Belanda tersebut diserang oleh seseorang yang telah melumuri diri dengan arang. Sebuah tombak pun tertancap di jantungnya.

Begitu sukses menghujamkan senjata tajam tersebut, sang pembunuh melarikan diri. Guru yang alami ketakutan itu kemudian bersiap-siap berangkat ke kediaman sang misionaris di Rentepoa. Namun, hal itu dicegah.

Dalam keadaan tubuh penuh darah, Anton berkata kepada guru sekolah yang bersamanya tersebut, "Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada Istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdoa". Dalam keadaan berdoa inilah Anton meninggal dunia.

Sampai dengan kini, Pendeta Antonie Aris van de Loosdrech dikenang sebagai Martir untuk Tana Toraja.

Sumber: Jawaban


Paulo Uchibori Dan Anak-Anaknya

Gelombang penganiayaan yang keras terjadi di Jepang pada awal tahun 1600, di mana selama waktu tersebut banyak umat Kristen menjadi martir.

Pada tanggal 20 Februari 1627, pemimpin gereja bernama Paulo Uchibori, istrinya dan ketiga anaknya ditahan karena menampung para misionari. Pada hari itu, Paulo dan 37 orang Kristen lainnya dipukuli, diarak telanjang melalui pusat kota dan dipenjarakan di Istana Shimabara.

Pada keesokan harinya, orang-orang Kristen tersebut dianiaya. Pemerintah tidak berkeinginan menjadikan mereka martir, tetapi mereka menggunakan cara-cara terkeji untuk memaksa orang-orang Kristen menyangkal iman mereka. Salah satu prajurit mengusik Paulo ketika ia memegang sebilah pisau, dengan berkata, “Berapa banyak jari anak-anakmu yang harus kami ambil ?” Paulo menjawab, “Semua terserah padamu.”


Para prajurit memotong semua jari anak-anak Paulo kecuali jempol dan kelingking mereka, dengan berkata orang-orang Kristen seharusnya mempunyai jari lebih sedikit dari binatang. Dua anak tertua Paulo, Antonio dan Barutabazaru merelakan jari-jari mereka kepada para prajurit tersebut, tanpa menangis atau menunjukkan kesakitan. Anak Paulo yang bungsu, Ignatius, berumur lima tahun. Ia juga tidak menunjukkan rasa sakit saat jari-jari tangannya dipotong. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah ke langit, mempersembahkannya kepada Tuhan. Mereka yang melihat terkejut dengan apa yang mereka saksikan dan hati mereka dijamah oleh keberanian anak-anak itu.

Lalu para prajurit mengikat tangan dan kaki ke-16 tahanan tersebut termasuk anak-anak Paulo dan melemparkan mereka berkali-kali ke dalam air es yang sangat dingin di Teluk Shimabara. Walaupun begitu orang-orang Kristen tersebut tidak mau menyangkal iman mereka. Kata-kata terakhir Antonio sebelum ia hilang ditelan laut adalah, “Ayah, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena memberikan kita berkat luar biasa seperti ini.”

Setelah anak-anaknya ditenggelamkan, wajah Paulo dicap dengan tiga huruf Jepang dari kata “Kristen.” Ia dilemparkan ke jalan-jalan dengan tulisan di baju kimononya yang terbaca, “Dihukum karena menjadi Kristen. Dilarang menolong orang ini atau memberinya perlindungan.”

Seminggu setelah kematian martir anak-anaknya, Paulo dibawa ke atas Gunung Unzen dengan ke 15 orang Kristen lainnya untuk merasakan “siksaan di dalam neraka kawah Unzen.” Paulo digantung terbalik dan diturunkan ke atas permukaan air sulfur yang mendidih berkali-kali. Ia berdoa dengan suara keras setiap kali, menyadari ia adalah bagian dari Tubuh Kristus, “Perjamuan Suci harus disucikan.” Akhirnya, tubuhnya dilemparkan ke dalam kawah mendidih yang menguap.

Sekarang iman Paulo dan anak-anaknya menguatkan kita. Kita tahu bahwa mereka, bersama dengan banyak orang-orang Kristen Jepang tanpa nama, diterima dalam hadirat Yesus dan sekarang mereka mengenakan jubah putih.

 

 


Severino Bagtasos, Seorang martir dari Filipina

“Jika ada kesempatan, bunuhlah orang kafir dimanapun kamu menangkap mereka” Sura 9:5

(Gambar ilustrasi pembunuhan di gereja)

 

Severino ditembak mati oleh ekstrimis Islam ketika beribadah pada Minggu pagi di gereja dimana dia menjadi pendeta pada bulan Januari 1996. Tunangannya, Joy menyaksikan kematian calon suami tercintanya. Mereka berencana untuk menikah pada bulan Mei 1997, dan berharap untuk tetap melayani Tuhan bersama-sama.

Severino, seorang warga Filipina berumur 30 tahun, dengan berani membagikan Injil kepada komunitas Muslim lokal di kota Alat yang terletak di  Pulau Jolo di negara Filipina. Usaha tersebut, sebelum peristiwa penembakan, telah membawa ancaman kematian kepadanya dan sepertinya menjadi motif pembunuhannya. Severino pernah berkata, “Jika saya terbunuh, biarlah itu terjadi. Saya sudah siap mati demi Yesus. Tetapi saya lebih memilih mati di dalam gereja, ketika melakukan pekerjaan Tuhan.”

Meskipun harus menderita, Joy mendedikasikan hidupnya untuk menjangkau suku Muslim Tausug dan Sama di Filipina, dengan Injil. Dia berkata, “Saya belajar untuk menerima apapun keadaan yang datang di jalanku dan melihatnya sebagai perlengkapan Tuhan untuk membentukku dan untuk membuatku menjadi seseorang yang lebih baik. Melalui kehidupan Severino, saya belajar untuk berkomitmen dalam pelayanan dan doa. Melalui kematian, saya belajar selalu siap untuk menghadap Sang Penulis dan Pengakhir imanku. Melalui tragedi tersebut, saya belajar untuk hidup setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirku.”


Pahlawan Iman 125: Tateos Michelian – Kematian yang Dinubuatkan

Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus,
supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 
II Korintus 4:11

 

Dalam khotbah terakhirnya, yang disampaikannya tiga hari sebelum ia menghilang, Tateos,  pemimpin gereja di Iran, menegaskan bahwa di sepanjang sejarah Gereja Kristus sudah ada begitu banyak orang yang menjadi martir bagi iman mereka, dan karena itu orang-orang Kristen di Iran juga harus siap apabila hal yang sama juga terjadi kepada mereka.  Ternyata kata-kata itu merupakan nubuatan, karena pada tanggal 29 Juni Tateos keluar dari rumahnya dan tidak pernah kembali dalam keadaan hidup.  Ia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia pada tanggal 2 Juli.

Anaknya, Gao, dipanggil oleh pihak berwenang untuk mengidentifikasi jasad ayahnya, dan melihat bahwa ayahnya sudah meninggal dengan beberapa luka tembakan di kepalanya.  Tateos, yang sudah melayani gereja di Iran selama lebih dari 40 tahun, sudah menerima banyak ancaman dari pihak berwenang di sana, termasuk ancaman untuk dibunuh.   Tateos memiliki karunia yang sangat luar biasa sebagai penerjemah, penulis dan apologis.

 

Ya Tuhan, Tuhan atas segala kebaikan dan kasih karunia
y
ang layak menerima kasih yang terbesar;
y
ang lebih besar daripada yang bisa kami berikan;
Penuhilah hati kami dengan kasih yang demikian kepada-Mu
Sehingga tidak ada lagi penderitaan yang terasa berat
Dalam ketaatan kepada kehendak-Mu
Dan tolonglah agar di dalam kasih kami kepada-Mu
Kami akan menjadi semakin serupa dengan Engkau,
Sampai kami mendapatkan mahkota kehidupan
yang sudah Engkau janjikan bagi orang-orang yang mengasihi Engkau
Melalui Yesus Kristus Tuhan kami.
Uskup Westcott (1825-1901)


↑ Back to Top