Martyrdom


Pahlawan Iman 084: Yan Weiping - Ditangkap di Rumahnya

Karena walau Ia mendatangkan susah,
Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.
Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.
Ratapan 3:32-33

 

Yan Weiping, seorang hamba Tuhan dan pengurus dari Jemaat di Yixian, Hebei, ditangkap pada tanggal  13 Mei 1994 oleh pasukan keamanan China. Mereka menyerbu masuk ke rumahnya, ketika ia sedang beribadah bersama dengan beberapa orang Kristen lainnya.  Sore harinya, ia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di jalanan kota Beijing.  Karena Yan Weiping sama sekali tidak mengidap masalah kesehatan yang serius, komunitas Kristen di kota itu yakin bahwa ia mati karena dibunuh oleh polisi-polisi yang menangkapnya.

Di China, penguasa di sana seringkali menangkapi orang-orang Kristen, khususnya anggota dari gerakan “gereja rumah”, dengan tujuan untuk menutup semua kelompok yang tidak terdaftar itu. Banyak orang Kristen yang ditangkap, dipukuli, dipenjarakan, disiksa dan bahkan dibunuh.

 

Melawan semua penganiayaan di dunia ini, orang-orang kudus tidak memiliki jalan keluar lain selain doa.  John Calvin (1509-1564).

 


Pahlawan Iman 083: Pancras - Martir Muda

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.   
1 Timotius 4:12

 

Pancras menjadi seorang anak yatim piatu ketika ia masih sangat kecil; ibunya, Cyriada, meninggal ketika melahirkannya, sementara ayahnya, Cleonis, meninggal dunia ketika Pancras berusia delapan tahun.  Pancras kemudian diasuh oleh pamannya, Dionysius, dan pindah ke Roma.  Di sana keduanya menjadi Kristen, dan Pancras menjadi seorang pengikut Kristus yang sangat bersemangat.

Keduanya ditangkap pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus, pada tahun 304 M.  Menurut tradisi, Pancras dibawa menghadap penguasa dan dipaksa untuk memberikan korban kepada para dewa Romawi, tetapi ia menolak.  Diokletianus sangat terkesan oleh keberanian anak itu, dan menawarkan kekayaan dalam jumlah yang sangat besar kalau ia mau memberikan korban itu.  Tetapi Pancras menolaknya.  Ia dipenggal kepalanya ketika ia baru berusia 14 tahun.

 

Tuhan, demi kemuliaan nama-Mu
Berikanlah kepadaku kekuatan untuk menahan apapun yang harus aku tahan
Bebaskan hamba-Mu dari ikatan dunia ini
Atas itu semua, Tuhan, hamba-Mu bersyukur
Meski aku tahu ucapan syukurku tidak sepadan dengan besarnya karya-Mu
Thelica of Abitine (menjadi martir pada tahun 304 M)

 


Pahlawan Iman 082: Ishtiaq Masih - Diskriminasi yang Kejam

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa,
tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Tuhan. 
1 Korintus 1:18

 

Pada tanggal 9 Mei 2009, Ishtiag Masih, seorang Kristen dari Pakistan, dilempari batu sampai mati karena tanpa sengaja memesan secangkir teh dari sebuah warung “Khusus Muslim.”

Ishtiaq sedang mengadakan perjalanan antar kota dengan menggunakan bis, dan seperti biasa, bis itu berhenti di sebuah kota untuk memberikan kesempatan kepada penumpangnya untuk beristirahat dan menyegarkan diri.  Di depan sebuah warung teh terdekat dengan pemberhentian bis ada tulisan, “Semua orang non-Muslim harus menyebutkan agamanya sebelum memesan teh.  Warung ini khusus untuk orang Muslim.”  Ishtiaq yang dalam keadaan lelah karena perjalanan, sama sekali tidak melihat tulisan itu dan harus membayarnya dengan nyawanya.

Ketika ia mau membayar teh yang diminumnya, pemilik warung itu melihat kalung salib di lehernya.  Ia langsung memanggil para pegawainya untuk menghukum orang Kristen yang dianggap tidak mengindahkan tulisan itu.  Sekelompok orang kemudian ikut memukuli Ishtiaq dengan menggunakan apapun yang bisa mereka pegang, termasuk batu-batu besar yang banyak terserak di jalan.

Para penumpang bis sebenarnya berusaha untuk mencegah dan menghentikan pemukulan itu, tetapi Ishtiaq mati di sebuah klinik kecil di desa itu, karena luka-luka yang dideritanya sangat parah.  Polisi mengatakan bahwa kasus pembunuhan ini didasari oleh agama.

 

Pagarilah aku, Ya Tuhan, dengan kuasa dari Salib-Mu yang mulia dan yang memberikan kehidupan, dan peliharalah aku dari segala yang jahat. Eastern Orthodox Prayer.

 

 

 


Pahlawan Iman 081: Victor Marius - Hidup dengan Setia

Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu,
aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.
Filipi 2:17

 

Victor adalah seorang dari Mauritius yang menyerahkan dirinya kepada Kristus ketika ia masih sangat muda.  Ia menjadi anggota pasukan elite Romawi, yaitu Pasukan Praetorian, pasukan pengawal Kaisar.  Ia menjalani kehidupannya sebagai seorang Kristen yang sangat setia dan terbukti bisa diandalkan dalam menjalankan tugasnya.

Tetapi pada tahun 303 M, atas perintah Kaisar Maximianus, Victor yang saat itu sudah berusia lanjut, ditangkap dan disiksa, termasuk disiram dengan cairan timah yang sangat panas, sebagai siksaan agar ia meninggalkan imannya.  Tetapi Victor tetap bertahan dan akhirnya ia meninggal sebagai martir karena dipenggal kepalanya.

 

Ya Tuhan, Engkau yang adalah Raja di atas segala raja, kami mau melayani Engkau dengan setia sampai akhir hidup kami.  Ajarkanlah kami untuk setia dan menjalani kehidupan kami sebagai utusan-utusan yang berkenan kepada-Mu.

 


Pahlawan Iman 080: Jamil Ahmad al-Rifai - Tetangga Pahlawan

Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
1 Korintus 15:54-55

 

Jamil terbunuh di dalam sebuah ledakan bom ketika ia sedang berusaha untuk menolong seorang keluarga missionaris yang rumahnya menjadi sasaran pengeboman.  Jamil adalah tetangga terdekat dari keluarga missionaris itu.  Awalnya, polisi mengatakan bahwa Jamil, seorang dari Yordania yang baru menjadi Kristen, adalah pelaku yang memasang bom di rumah tetangganya itu, yang terletak  di Tripoli, Lebanon Utara. Tetapi kemudian menjadi jelas bahwa Jamil yang saat itu berusia 28 tahun, justru tewas ketika menolong missionaris dari Belanda itu, Gerrit Griffioen, dan keluarganya. 

Malam sebelumnya, sekitar pukul 23:30 di bulan Mei 2003, istri Gerrit merasa yakin bahwa ada orang yang masuk ke pekarangan rumah mereka.  Gerrit kemudian menelpon Jamil dan meminta tolong kepadanya.  Ketika Jamil datang, orang itu sudah melarikan diri, meninggalkan 2 kilogram bom yang sudah siap meledak.  Griffioen mengejar penyusup itu, sementara Jamil mengungsikan ketiga anak Gerrit dari sana.  Setelah itu, ia kembali ke pekarangan rumah dan saat itulah bom itu meledak dan menewaskan Jamil.  Gerrit sendiri sudah berulangkali mendapatkan ancaman serangan selama 20 tahun pelayanannya sebagai missionaris di Lebanon.

 

Barangsiapa kepalanya sudah berada di surga tidak akan takut meletakkan kakinya ke kubur.  Matthew Henry

 


↑ Back to Top