Martyrdom


Pahlawan Iman 124: Seorang Petani Kristen – Martir yang Terlupakan

Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan
dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman. 
II Petrus 2:9

 

Seorang petani Kristen, yang baru saja kembali dari pengungsian ke desanya di Kayamanta, di dekat Poso, Sulawesi Tengah, dibunuh pada bulan Juli 2002 ketika ia berangkat ke ladangnya.  Isterinya sudah meninggal dunia setahun sebelumnya ketika keluarga itu berada di kamp pengungsi.  Suami isteri itu meninggalkan lima orang anak.

Petani itu menjadi salah satu dari banyak orang-orang Kristen yang terlupakan, yang kehilangan nyawanya selama masa kerusuhan di Sulawesi Tengah.  Wilayah Poso, secara khusus, sudah menjadi tempat terjadinya banyak kekerasan anti-Kristen sejak tahun 1998.  Daerah dimana petani itu hidup, meledak dalam kerusuhan yang bernuansa SARA sejak tahun 2001, ketika sebuah organisasi yang bernama Laskar Jihad mulai mengirimkan banyak milisi ke wilayah itu dari berbagai tempat di Indonesia.  Sebagai akibat kerusuhan itu, sejumlah desa Kristen dihancurkan, ribuan orang kehilangan nyawanya dan sekitar 50.000 orang melarikan diri ke pengungsian.

 

Ya Tuhan, kami memohon agar Engkau membebaskan kami dari ketakutan; takut akan masa depan yang tidak kami ketahui, takut gagal, takut miskin, takut menderita dan sakit, takut menjadi tua, dan takut akan kematian.  Tolonglah kami, ya Bapa, melalui kasih karunia-Mu, untuk mengasihi dan hanya takut akan Engkau saja.  Penuhilah hati kami dengan keberanian sukacita dan kasih yang percaya kepada-Mu, melalui Tuhan dan Juruselamat kami Yesus Kristus. 
Akanu Ibaim (1906-1995).


Pahlawan Iman 123: Shamimu Muteteri Hassan – Anak Gadis yang Berpendirian Kuat

Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.
Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.
Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu. 
Lukas 21:17-19.

 

Ketika Shamimu Muteteri Hassan, seorang gadis berusia 16 tahun dari Uganda meninggalkan Islam dan menjadi Kristen pada tahun 2007, ayahnya yang adalah seorang Islam radikal menjadi sangat murka.  Ayahnya memang dikenal di desanya sebagai seorang yang sangat kuat pendirian agamanya, dan karena itu ia berusaha untuk membuat Shamimu menyangkali Kristus, bahkan sampai mengancam untuk membunuhnya. 

Gereja kemudian berusaha membuat rencana untuk mengungsikan Shamimu dari rumahnya, tetapi sebelum rencana itu dilaksanakan, ayahnya menyerang dan membunuh Shamimu dengan menggunakan sebuah palu besar pada tanggal 1 Juli 2007, dua bulan setelah Shamimu menjadi percaya.  Ayahnya kemudian membakar jasad Shamimu dan menguburkannya.  Polisi menangkap ayah Shamimu, tetapi seorang Muslim yang kaya menyuap para polisi itu untuk membebaskannya. 

Kekasih Shamimu yang bernama Ivan, anak dari pendeta yang membimbing Shamimu menjadi percaya, justru yang kemudian ditangkap polisi dan dipenjarakan selama beberapa hari.

 

Tidak ada rasa aman—rasa aman dari manusia, rasa aman dunia—selain dari rasa aman sejati yang aku temukan di dalam Tuhan Yesus Kristus.
N
agla al-Imam, pengacara dan pegiat hak asasi manusia dari Mesir, yang diinterogasi dan dipukuli pada tahun 2010 oleh aparat keamanan karena imannya kepada Kristus.


Pahlawan Iman 122: Missionaris dan Orang-orang percaya di China – “Aku tidak takut kalau Tuhan menghendaki aku menderita kematian sebagai martir”

 

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur,
sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.
Mazmur 4:9

 

Pada masa pemberontakan Boxer yang terkenal di Cina, sepuluh orang missionaris dari Swedia dibunuh di dekat So-p’ing pada tanggal 29 Juni 1900 setelah para perusuh menjarah dan membakar rumah para missionaris itu.  Orang-orang Kristen Cina dan mereka yang bersahabat dengan para missionaris itu juga dilemparkan ke dalam api dan terbakar sampai mati. 

Di antara mereka yang meninggal di dalam peristiwa itu adalah Nathaniel Carleson, yang merupakan anggota paling senior dari kelompok missionaris itu; Ernst Peterson, missionaris yang termuda dan yang baru sebentar melayani di sana; dan seorang wanita Cina bersama dengan seorang anak perempuannya.  Salah satu dari wanita Swedia yang meninggal dunia, Mina Hedlund, sudah pernah menuliskan di dalam suratnya yang terakhir, “Aku tidak takut kalau Tuhan menghendaki aku menderita kematian sebagai martir.”

Keesokan harinya, missionaris Edith Searell dan Emily Whitchurch juga menjadi korban kekejaman pemberontak Boxer di Hiao-i, Shan-si.  Emily berangkat ke Cina pada tahun 1884 setelah ia mendengar seruan missi yang diucapkan oleh Hudson Taylor, pendiri dari China Inland Mission.  Edith, salah seorang missionaris pertama ke Cina dari Selandia Baru, bekerja berdampingan dengan Emily selama empat tahun.  Mereka melayani orang-orang Cina yang ditampung di rumah pengungsi untuk para pecandu opium.  Tentang Emily, salah seorang rekan sepelayanannya pernah mengatakan, “Tuhan sudah dengan penuh anugerah menerima dan memberkati pelayanan kasihnya, dan banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan, roh-roh jahat diusir, orang-orang sakit disembuhkan, pecandu opium dipulihkan, menjadi saksi bagaimana Tuhan penuh dengan kuasa dan bisa memakai seseorang yang menyerahkan hidup kepada-Nya.”

 

Dari sisi manusia maka semua manusia setara dalam hal tidak bisa menyelamatkan dirinya, dan bagi orang-orang yang hidupnya sudah aman bersama dengan Kristus di dalam Tuhan maka mereka menjadi setara dalam hal semuanya sudah diselamatkan!  Anak-anak-Nya akan diberi tempat pengungsian, dan tempat rahasia yang disiapkan oleh Yang Mahatinggi itu adalah “Tuhanku benteng yang teguh.”  Dan di dalam Dia kita aman sampai selama-lamanya.
Tulisan Edith Searell di dalam salah satu surat terakhirnya, yang dituliskannya dua hari sebelum ia menjadi martir di tahun 1900.


Pahlawan Iman 121: Irenaeus – Menolak Memberikan Persembahan

Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Tuhan, yang membenarkan aku.
Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku.
Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku. 
Mazmur 4:2

 

Ketika Irenaeus, yang adalah seorang uskup di Sirmium (Serbia) ditahan dan diperhadapkan di hadapan Probus, pejabat Romawi di sana, diperintahkan untuk memberikan persembahan kepada dewa-dewa Romawi.  Tetapi ia menolak, dengan mengutip Keluaran 22:20, “Siapa yang mempersembahkan korban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas.”

Jabatan Irenaeus sebagai pemimpin Kristen yang sangat senior pada saat itu menjadikan jawabannya di hadapan kaisar Diokletianus itu sangat berarti.  Ibunya, ayahnya, isterinya dan anak-anak dan sahabat-sahabat Iranaeus berusaha membujuknya untuk memberikan persembahan kepada dewa-dewa Romawi itu agar ia terhindar dari hukuman mati, tetapi ia tetap menolak dan tetap berdiri teguh di dalam imannya.  Akhirnya pada tahun 304 M, Irenaeus dipenjarakan, disiksa dan dipenggal.

 

Tuhan, berikanlah kepadaku mahkota yang sudah sangat aku rindukan ini,
karena aku sudah sangat merindukan Engkau dengan sepenuh hati dan jiwaku
aku rindu melihat Engkau, dipenuhi dengan sukacita-Mu, dan mendapatkan kelagaan dari-Mu
Sehingga aku tidak lagi harus melihat 
        penderitaan dari anggota jemaat yang aku layani,
        gereja-gereja yang dihancurkan,
        mimbar-mimbar yang dijungkir-balikkan,
        pelayan-pelayan-Mu yang dianiaya,
        umat-Mu yang tak berdaya yang dilecehkan,
        kebenaran yang diabaikan,
        dan menyusutnya jumlah jemaat karena penganiayaan yang terjadi kepada mereka.
Sehingga aku tidak lagi harus melihat
        orang-orang yang aku anggap sahabat berubah pikiran,
        menjadi marah dan berusaha membunuhku,
        dan sahabat-sahabat sejatiku dirampas melalui penganiayaan,
        sementara mereka yang melakukan pembunuhan tetap bebas di luar sana.
S
imon Seleucia (menjadi martir sekitar tahun 340 M)


Pahlawan Iman 120: Gregory Nikolsky – Ditembak di Mulut

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,
padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Tuhan.
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Yesaya 53:4-5

 

Pada tanggal 27 Juni 1918, Pastor Gregory Nikolsky dari biara Mary Magdalena di Rusia diseret keluar dari biara itu oleh pasukan Komunis.  Mereka memaksanya membuka mulutnya dan mengejeknya dengan mengatakan, “Giliran kami melayani sakramen untukmu.”  Mereka menembak Gregory di mulutnya.

Ketika kaum Komunis merebut kekuasaan di Rusia pada tahun 1917, mereka menyerang Gereja Ortodoks dan berusaha memusnahkan orang-orang Kristen.  Kematian Gregory hanyalah satu contoh dari begitu banyak kekejaman yang dilakukan di sana.

 

Kristus menggantikan segala sesuatu, tetapi tidak ada apapun yang bisa menggantikan Kristus. 
Henry Allan Ironside (1876-1951).


↑ Back to Top