Martyrdom


Pahlawan Iman 119: Yohanes dan Paulus – Saudara Seiman dan Sehidup-semati

Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus,
adalah Tuhan yang telah mengurapi. 
II Korintus 1:21

 

Kedua martir ini adalah dua orang kakak-beradik dari sebuah keluarga bangsawan yang berkedudukan tinggi di dalam Kerajaan Romawi.  Setelah Kaisar Julianus naik tahta, kedua kakak-beradik itu ditangkap karena iman mereka, dan diberi kesempatan sepuluh hari untuk menyangkal Kristus dan memberikan persembahan kepada dewa-dewa Romawi.  Tetapi kedua orang itu memilih untuk mati sebagai martir.  Mereka dibunuh di rumah mereka sendiri pada tahun 362.  Kedua kakak beradik ini, yang bernama Yohanes dan Paulus, termasuk dalam golongan martir terakhir yang menderita di Roma karena menolak untuk memberikan persembahan kepada dewa-dewa Romawi. 

 

Melalui kegelapan keraguan dan dukacita
musafir itu terus maju
menyanyikan lagu pengharapan
berbaris menuju Tanah Perjanjian
Nampak jelas di depan kami, menembus kegelapan
bersinar terang yang membimbing perjalanan
Sesama saudara bergandengan tangan
Melangkah di dalam gelap malam tanpa ketakutan
Bernhardt S. Ingemann (1789-1862)


Pahlawan Iman 118: William E. Simpson – Penginjil di Alam Terbuka

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.
Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,
supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yohanes 15:16

 

William dilahirkan di dalam keluarga missionaris Amerika ketika mereka sedang melayani di daerah perbatasan antara Tibet dengan Cina.  William mengikuti jejak ayahnya menjadi penginjil terhadap orang-orang Tibet.  Ia mengadakan perjalanan lebih dari 8.000 km dalam setahun dengan menggunakan kuda, dari satu perkemahan suku Tibet ke perkemahan lainnya, membagikan Injil kepada mereka.  Ia kemudian membangun sebuah sekolah kecil di perbatasan Tibet, dimana ia mengajar Alkitab kepada anak-anak.  Di sekolah itu jugalah ia menjadi martir, ketika sekelompok tentara Muslim yang melakukan desersi menyerang sekolah Kristen itu.  Peristiwa itu terjadi pada tahun 1932, dan William berusia 29 tahun ketika ia mati dibunuh di sana.

Ketika ayah William mendengar berita tentang kematianya itu, ia, yang tinggal di dekat daerah itu juga, langsung bergegas menuju ke sekolah itu.  Ia mendapati tunuh anaknya yang berlumuran darah di lantai sekolah.  Di bawah tubuh William, ia menemukan secarik kertas berlumuran darah yang bertuliskan, “Sebagai peringatan akan Aku.”

Ayah William, yang juga bernama William, tetap melayani di Cina sampai tahun 1949.  Ia terus melakukan pelayana penginjilan dan juga melakukan pelatihan terhadap para pelayan dari antara orang-orang Cina yang dimenangkannya.

 

Bukankah semua penganiayaan, kesepian, kepedihan, kelemahan dan kesakitan, kedinginan dan kelelahan di perjalanan yang panjang, kegelapan dan kekecewaan, dan semua cobaan serta ujian, sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sukacita yang sangat besar karena kesempatan untuk memberikan kesaksian mengenai “kabar sukacita besar” itu? 
William E. Simpson (menjadi martir pada tahun 1932).


Pahlawan Iman 117: Victor, Montanus, Lucius dan Flavian – Tuduhan Palsu

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau,
janganlah bimbang, sebab Aku ini Tuhanmu;
Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;
Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. 
Yesaya 41:10

 

Empat orang ini adalah bagian dari delapan martir Afrika yang ditangkap atas dasar tuduhan palsu.  Pada tahun 259 mereka dituduh melakukan pemberontakan terhadap penguasa Romawi di Kartago.  Beberapa di antara mereka adalah para pelayan di gereja di bawah pelayanan dari Cyprianus, yang sudah dijatuhi hukuman mati setahun sebelumnya.

Empat orang itu diinterogasi dan tetap berada di dalam penjara, dimana mereka hanya mendapatkan sedikit saja makanan dan menderita karena kelaparan dan kehausan.  Victor, yang adalah seorang imam, langsung dibunuh saat itu juga; ketiga orang lainnya dipenjarakan dalam waktu yang sangat lama. 

Ketika waktu pelaksanaan hukuman tiba, Lucius yang terlebih dahulu menempatkan diri di tempat eksekusi, karena ia merasa sudah sangat lemah dan yakin bahwa ia tidak akan bisa bertahan bersama dengan rekan-rekannya.  Montanus yang masih cukup kuat mengambil kesempatan itu untuk menyampaikan Injil kepada orang-orang yang menyaksikan hukuman itu dan menguatkan saudara-saudara seiman.  Salah seorang dari mereka, Flavian, ditunda hukumannya, tetapi ketika mereka mengetahui bahwa ia adalah seorang penatua jemaat, ia langsung dipenggal kepalanya.

 

Ya Tuhan yang kekal, yang memerintah atas dunia dari selamanya sampai selamanya; Berbicaralah kepada kami ketika manusia dikuasai oleh ketakutan, dan ketika kasih banyak orang menjadi dingin, dan ketika kekuatiran melanda bangsa-bangsa di dunia.  Peliharalah agar kami terus kuat dan tekun dalam segala sesuatu dan tidak tergucang; dan tolonglah kami untuk mengangkat wajah kami dan memandang apa yang tak nampak dan yang kekal di dalam Engkau; melalui Yesus Kristus Tuhan kami.  Parish Prayer


Pahlawan Iman 116: Para Missionaris Elim – Diserbu Kaum Gerilyawan

Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.
Yohanes 4:35

 

“Pada hari Jumat, 23 Juni 1978 adalah hari dan tanggalnya kami sampai ke pusat Missi Ngue di Wilayah Vumba di dekat Kamp Matondo di Distrik Zimunya.  Waktu operasi ditetapkan pukul 6:30-9:00 malam.... Jumlah rekan seperjuangan yang melaksanakan operasi di sana adalah 21 orang.... Senjata yang dipakai adalah kapak dan parang.  Tujuan: Membinasakan semua musuh.  Kami berhasil membunuh 12 orang kulit putih termasuk 4 orang bayi...”

Catatan yang sangat mengerikan ini ditulis di dalam sebuah diary milik salah seorang anggota gerilyawan yang menyerang sebuah pusat missi di Zimbabwe (dahulu bernama Rhodesia).   Kelompok penyerang itu menyeret para missionaris ke semak-semak dan membunuh mereka semua, termasuk anak-anak kecil.

Para missionaris yang menjadi martir adalah:  Catherine Picken, seorang perawat; Mary Fisher, seorang guru;  Wendy White, seorang pekerja sosial; Peter McCann, seorang guru IPA di SMP Elim di Catarere; istreri Peter, Sandra dan anaknya yang masih bayi, Joy; Roy Lynn, seorang pegawai bagian pemeliharaan alat-alat; Philip dan Sue Evans bersama dengan tiga orang anak mereka.  Mary Fisher sebenarnya ditemukan masih hidup, tetapi kemudian meninggal karena luka-lukanya.  Pemakaman mereka dihadiri oleh 800 orang Eropa dan Afrika.

 

Dunia akan melihat bahwa membunuh seorang Kristen sebenarnya sedang melipatgandakan kekristenan.  Darah dari para martir Gereja sebenarnya adalah benih untuk tumbuhnya orang-orang Kristen baru.  Dengan cara ini Gereja akan menang kalau Gereja ditindas dan mengalami kemajuan ketika dianiaya.  Sekarang aku percaya bahwa tanggungjawabku adalah untuk menyebarkan Injil.  Pernyataan seorang Kristen Afrika mengenai kejadian pembunuhan terhadap kaum missionaris Elim.


Pahlawan Iman 115: Alban – Martir Pertama dari Inggris

Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -
tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati -.
Akan tetapi Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada kita,
oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Roma 5:7-8

 

Alban adalah seorang tentara dari kota Verulamium (sekarang nama kota itu diganti menjadi St. Alban sebagai penghargaan untuk Alban.  Kota Verulamium adalah salah satu kota yang dibangun oleh Romawi sebagai kota tempat kediaman pasukan tentara Romawi yang menjaga Britannia pada abad yang ketiga. Meskipun ia sendiri bukan seorang Kristen, Alban menyembunyikan Amphibalus, seorang Kristen yang melarikan diri dari penganiayaan Kekaisaran Romawi.

Suatu saat, ketika melihat Amphibalus berdoa, Alban mulai mengajukan pertanyaan Amphibalus tentang Kekristenan dan tidak lama kemudian ia membuat komitmen kepada Kristus dan dibaptiskan. 

Pejabat Romawi kemudian mengetahui bahwa Alban menyembunyikan Amphibalus, dan kemudian menangkap Alban untuk ditanyai.  Tetapi Alban tidak mau memberitahukan mengenai keberadaan Amphibalus, dan menyerahkan dirinya untuk ditangkap menggantikan Amphibalus. Kemudian ia dibawa menghadap hakim, yang kemudian memerintahkan agar ia memberikan persembahan kepada dewa-dewa Romawi.  Alban menolak dan mengatakan, “Aku mengakui bahwa Yesus Kristus, Anak Tuhan, dengan seluruh keberadaanku.  Semua yang kalian sebut sebagai dewa itu, sebenarnya dibuat dengan tangan.” 

Alban membuat hakim itu menjadi sangat marah ketika ia menolak untuk memberitahukan tentang keberadaan Amphibalus.  Hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap Alban, tetapi yang sangat menarik, prajurit yang seharusnya melaksanakan hukuman mati terhadap Alban, menolak untuk membunuh Alban, karena ia sendiri sangat terkesan dengan iman Alban dan menjadi percaya kepada Kristus juga.  Akhirnya keduanya, Alban dan prajurit itu, dipenggal.

Kematian Alban diperingati setiap tanggal 22 Juni sebagai martir Kristen Inggris yang pertama, meskipun tahun kematiannya sendiri sampai sekarang masih belum diketahui.

 

Oh, kasih Yesus yang dalam, tak terhingga, tak terukur, tak terperi dan tak terikat!
Datanglah bagaikan gelombang laut yang bergelora ke dalam kehidupanku!
Sehingga arus kasih-Mu menyelimuti seluruh hidupku
Mendorongku untuk maju, memimpinku berjalan menuju ke tempat perhentian-Mu!
Samuel Francis (1834-1925)


↑ Back to Top