Martyrdom


Pahlawan Iman 109: Ashish Prabash Masih – Serangan dari kaum Hindu

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Akuilah Dia dalam segala lakumu,
maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Mazmur 3:5-6

 

Ashish adalah seorang penginjil berusia 23 tahun yang ditemukan meninggal karena dibunuh di rumahnya di kota Jalandhar, propinsi Punjab, India, pada bukan Juni 2000.  Persekutuan Kristen di Punjab percaya bahwa Ashish dibunuh karena penentangan kaum nasionalis Hindu terhadap Kekristenan di daerah itu.

Orang-orang Kristen di India harus menghadapi kekerasan dari kelompok ekstrimis Hindu.  Pada saat yang hampir bersamaan dengan pembunuhan Ashish, seorang pendeta juga dibunuh di kota Mathura, Uttar Pradesh, dan beberapa bom diledakkan di beberapa gereja yang berada di Andhra Pradesh dan Karnataka.

 

Ketika penderitaan dan kesakitan, kesedihaan dan kedukaan, naik membumbung seperti awan dan menghalangi pancaran Matahari Kebenaran serta menutupinya dari pandangan, jangan menjadi gusar, karena nanti awan itu akan turun menjadi hujan berkat membasahi kepalamu, dan kemudian Matahari Kebenaran itu akan selamanya bersinar atasmu.  Sadhu Sundar Singh (1889-1929).

 


Pahlawan Iman 108: Missionaris ke China – Diburu

Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Tuhanmu?" Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Tuhan! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Tuhanku.  Mazmur 42:10-11

 

Pada masa Pemberontakan Boxer di Cina, sekelompok missionaris berlindung dari kejaran kelompok perusuh yang haus darah itu di sebuah rumah milik seorang hakim Cina yang menawarkan perlindungan kepada mereka.  Mereka berada di bawah perlindungan beberapa orang bersenjata selama 18 hari, dan pada saat itu istri Stewart McKee melahirkan.  Di dalam rumah itu ada dua pasang suami isteri, dua orang wanita, dan lima orang anak kecil, termasuk bayi Stewart McKee.

Pada tanggal 12 Juni 1900, seorang pejabat setempat mendatangi rumah itu dan membuat daftar dari orang-orang yang berlindung di sana.  Tidak lama kemudian, 300 orang tentara datang dan Stewart keluar untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.  Ia langsung ditusuk dengan pedang sampai mati oleh kelompok prajurit yang marah itu, yang kemudian membakar rumah perlindungan itu.  Semua orang didalamnya mati terbakar, kecuali seorang anak kecil, Alice, yang kemudian juga diburu dan dibunuh oleh para pemberontak itu, yang memang merencanakan untuk membunuh semua orang Kristen yang bisa mereka temui.

 

Aku meminta kepada Tuhan seikat bunga yang segar, tetapi Ia memberikan kaktus berduri;
Aku meminta kepada Tuhan kupu-kupu yang cantik, tetapi Ia memberikan kepadaku ulat berbulu;
Aku terancam, aku kecewa, aku bersedih.
Tetapi beberapa hari kemudian, kaktus itu mengeluarkan bunga yang sangat indah, dan ulat berbulu itu menjadi kupu-kupu yang sangat cantik
Jalan Tuhan selalu yang terbaik bagiku
Kao Chun-Ming, menulis dari penjara Taiwan dimana ia dipenjarakan pada tahun 1980-1984.  

 


Pahlawan Iman 107: Maximus – Menuju Ke Rumah

Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,
dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;
sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. 
Mazmur 90:10

 

Ketika Maximus dipanggil menghadap konsul Optimus pada masa penganiayaan di bawah kekuasaan Kaisar Decius, ia dengan terus terang memberitahukan tentang namanya, pekerjaannya (pedagang), dan identitasnya sebagai seorang Kristen.  Sebuah keputusan Kaisar sudah menetapkan bahwa semua warga negara Romawi harus mau sujud di depan patung Kaisar.  Bagi mereka yang menolak, siksaan dan bahkan kematian sudah menanti.

Maximus diberi pilihan oleh sang konsul untuk memberikan persembahan kepada patung Kaisar atau mati karena siksaan.  Maximus menjawab, “Inilah yang selalu aku inginkan.  Inilah sebabnya saya mendatangi anda, sehingga saya bisa dengan segera menukarkan keberadaan saya yang sementara ini dengan kehidupan kekal yang sudah tersedia bagi saya.”  Meskipun ia disiksa dengan kesakitan yang sangat besar dan dipukuli dengan tongkat, Maximus tetap menolak untuk mengikuti keputusan Kaisar itu.  Akhirnya Optimus memerintahkan agar Maximus dibawa keluar dari tembok kota dan disana ia dirajam sampai mati.

 

Ya Tuhan, tolonglah kami untuk selalu ingat bahwa di balik kehidupan yang sementara ini, ada kekekalan yang menantikan kami.  Tolonglah supaya di dalam hidup kami yang sementara ini, kami senantiasa menantikan saat-saat kami akan kembali kepada-Mu, dan menjalani kekekalan kami bersama dengan Engkau.  Amin.

 


Pahlawan Iman 106: Mitrophan (Chi Sung) – “Menderita Bagi Kristus Tidak Menyakitkan.”

Sebab adalah kasih karunia,
jika seorang karena sadar akan kehendak Tuhan
menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. 
1 Petrus 2:19

 

Pada bulan Juni 1900, pengumuman dipasang di tembok-tembok kota Beijing menyerukan pembunuhan terhadap semua orang Kristen di Cina.  Keesokan harinya, sekelompok pemberontak Boxer berkeliling kota itu untuk memaksa orang-orang Kristen bersujud di hadapan berhala, menyiksa dan membunuh orang-orang yang menolak melakukannya.

Di antara orang-orang yang menjadi sasaran serangan adalah Mitrophan, seorang pendeta Cina yang nama aslinya adalah Chi Sung.

Di suatu sore, Mitrophan, isterinya, ketiga anak laki-lakinya dan beberapa orang Kristen berkumpul untuk menyelamatkan diri mereka.  Tetapi persembunyian mereka ditemukan oleh kaum pemberontak Boxer dan dengan segera mereka dikepung.  Kelompok Boxer menangkap anak laki-laki Chi Sung, yang bernama Yesaya, dan kemudian mulai menyiksanya dengan pedang, sebagai ancaman agar Chi Sung meninggalkan imannya.  Mereka mengejek Chi Sung, tetapi Chi Sung menjawab, “Menderita bagi Kristus itu tidak menyakitkan.”  Karena jawaban iman yang sangat berani itu, Chi Sung langsung dibunuh oleh kaum pemberontak itu. 

Sebanyak 222 orang Kristen dibunuh di Beijing selama pemberontakan Boxer.

 

Berdiri karena Yesus
Tak lama masa berperang
Sorak peperangan
Menjadi nyanyian kemenangan
Bagi dia yang menang
Mahkota kehidupan diberikan
Bersama dengan Raja Kemuliaan
Memerintah selamanya

George Duffield (1818-1888)


Pahlawan Iman 105: George Kuzhikandum dan Vijay Ekka – Saksi Pembunuhan Dibunuh

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;
itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan,
itu bukan hasil pekerjaanmu:
jangan ada orang yang memegahkan diri. 
Efesus 2:8-9

 

George adalah seorang guru dan pemimpin gereja di salah satu kota di India ketika ketegangan terjadi antara kelompok Hindu dengan kelompok Kristen.  George diserang oleh sekelompok orang Hindu yang memukulinya dengan tongkat besi sampai mati.  Peristiwa itu terjadi pada tanggal 7 Juni 2000 ketika George sedang berada di sekolah dimana ia mengajar, Brother Polus Memorial School, di dekat Mathura, Uttar Pradesh.  Pembunuhan itu disaksikan oleh seorang Kristen lain, yang bernama Vijay Ekka, yang beberapa hari kemudian meninggal dunia dalam tahanan polisi, dalam keadaan yang sangat mencurigakan. 

Vijay memberikan pernyataannya sebagai saksi di kantor polisi mengenai pembunuhan George, dan polisi berjanji bahwa ia akan dilepaskan pada hari itu juga.  Tetapi ia justru ditahan dan diinterogasi selama beberapa hari. Kepada sahabat-sahabatnya yang mengunjunginya, Vijay menceritakan bahwa ia disiksa oleh para polisi yang menginterogasinya. 

Setelah kematiannya, polisi melaporkan bahwa Vijay meninggal karena bunuh diri, tetapi visum yang dilakukan menunjukkan bahwa ia mengalami luka-luka karena pemukulan dan bahkan disetrum dengan listrik, yang menyebabkan kematiannya.  Vijay meninggalkan seorang isteri yang sedang hamil.

 

Ketika masih beragama Hindu, saya mendisiplin diri dan banyak belajar dengan tujuan untuk memperbaiki diri saya, karena saya mau mencapai surga dengan kekuatan saya sendiri.  Tetapi Kekristenan berawal dengan kelemahan manusia.  Kekristenan mengajak kita menyadari keberadaan kita yang mementingkan diri sendiri dan menerima kelemahan kita, dan berjanji akan menjadikan kita sebagai manusia baru.  Paul Krishna, mantan Hindu.


↑ Back to Top