Martyrdom


Pahlawan Iman 104: Carl Heine – Dituntun oleh Cinta

Langkah orang ditentukan oleh TUHAN. 
Amsal 20:24a

 

Karena kecintaannya—pertama-tama kepada Kepulauan Marshall di Samudera Pasifik, dan kemudian kepada seorang gadis Kristen yang dijumpainya di sana—membawa Carl untuk menemukan iman kepada Kristus.  Ia kemudian menjadi missionaris Protestan yang paling terkemuka di Kepulauan Marshall.

Perjalannya sebagai salah satu awak kapal di sebuah kapal dagang membawa Carl dari kota asalnya di New South Wales, Australia, ke Kepulauan Marshall, Mikronesia, pada tahun 1892.  Tetapi tragisnya, isterinya yang sangat dikasihinya, yang berasal dari Kepulauan Marshall, meninggal tidak lama setelah pernikahan mereka.  Carl kemudian meninggalkan pulau itu dan bergabung dengan sebuah organisasi missi, yang mentahbiskannya sebagai seorang missionaris.  Sejak saat itu ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan Injil di kepulauan Marshall dan kemudian diberi tanggungjawab menjadi pemimpin gereja di sana.

Ketika Perang Dunia Kedua pecah, pasukan Jepang berhasil menduduki Kepulauan Marshall.  Semua missionaris yang ada di sana diungsikan oleh lembaga missi yang mengutus mereka.  Tetapi Carl menolak untuk ikut mengungsi, dan bertekad untuk bertahan di tempat pelayanannya. Pada awal tahun 1944, pasukan Jepang menangkap Carl bersama dengan anak sulungnya, Claude, dan membunuh mereka berdua.

 

Ajarkanlah kami untuk menghargai pelayanan yang Engkau berikan kepada kami, apapun bentuk pelayanan itu, lebih dari kami menghargai semua tawaran kesenangan yang diajukan oleh dunia kepada kami, sehingga kami bisa terus bertekun dalam pelayanan itu sampai Engkau menjemput kami kembali kepada-Mu. Amin.

 


Pahlawan Iman 103: Daw Pwa Sein – Berdiri Teguh Bersama Suku yang Dibenci

Tetapi kata Rut: "… bangsamulah bangsaku dan Tuhanmulah Tuhanku.” 
Rut 1:16

 

Daw Pwa Sein meninggal dunia karena dibacok dengan senjata tajam ketika ia memilih untuk berada bersama dengan sekelompok orang dari sebuah suku Kristen ketika mereka diserang oleh suku Burma.  Pwa Sein dilahirkan dalam sebuah keluarga beragama Budha, tetapi menjadi percaya ketika ia berusia remaja dan kemudian ia menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah Kristen di Kemendine, Burma.  Negara itu mengalami kekacauan pada tahun 1941, dan karena itu Pwa Sein memutuskan untuk memindahkan sekilahnya ke Nyaugn-ngu.  Penduduk desa itu berasal dari  suku Karen, salah satu suku yang banyak penduduknya beragama Kristen, dan juga salah satu suku yang sangat dibenci oleh suku Burma, yang merupakan mayoritas penduduk negara Burma.

Pada tanggal 5 Juni 1942 desa dimana sekolah Pwa Sein berada diserang oleh suku Burma, dan meskipun Daw Pwa Sein bukan seorang dari suku Karen, ia tetap berdiri di tengah-tengah mereka, yang adalah saudara-saudara seiman dengannya.  Para penyerang dari suku Burma itu menjadi sangat membencinya dan langsung menyerang Pwa Sein bersama dengan rekan-rekannya, yaitu Daw Sein Thit, Daw Aye Nyein, Hilda, Anna, dan ma Tin Shwe.  Sebelum dibunuh, mereka meminta kesempatan untuk berdoa, dan setelah mereka menyelesaikan doanya, mereka dibacok sampai mati.

 

Ya Tuhan, kiranya kami selalu dikuatkan untuk memilih jalan-Mu, lebih dari keinginan kami untuk memilih jalan bagi kami sendiri; kiranya kami diberi kemampuan untuk berdiri teguh di dalam Engkau walaupun itu berarti penganiayaan dan penderitaan bagi kami, lebih dari keinginan kami untuk mencari kesenangan dan kenyamanan pribadi kami.  Amin.

 


Pahlawan Iman 102: Sanctus – “Saya Orang Kristen”

Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus,
asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.
Ibrani 3:14

 

Sanctus adalah salah satu orang Kristen yang berdiri teguh di dalam imannya melalui berbagai penganiayaan yang mengerikan pada saat terjadinya penganiayaan di propinsi Gaul Romawi pada abad kedua.  Tradisi mengatakan bahwa ia “melawan semua kekejaman yang luar biasa itu dengan keberanian yang luar biasa.” 

Sanctus dianiaya agar ia mau memberikan informasi yang diperlukan oleh penguasa di sana, tetapi ia tetap menolak untuk menjawab pertanyaan mereka.  Ketika ia ditanya mengenai nama, suku, kota asal dan apakah ia seorang budak atau orang merdeka, Sanctus tanpa malu menjawab semua pertanyaan itu dengan mengatakan, “Saya orang Kristen.”

Karena jawaban itu, gubernur menjadi sangat marah dan siksaan terhadap Sanctus ditingkatkan lagi, dengan menempelkan logam yang sangat panas di bagian-bagian tubuh Sanctus yang sangat peka.  Tetapi Sanctus tetap bertahan.  Dalam keadaan yang bengkak-bengkak, melepuh di sekujur tubuhnya karena siksaan itu, Sanctus dibawa lagi untuk disiksa.  Ia diikat dalam sebuah para-para, tetapi bukannya merusak badannya, para-para itu justru membuat badan Sanctus yang tadinya agak bungkuk menjadi lurus kembali.

Seteah itu, Sanctus dibawa bersama-sama dengan beberapa orang Kristen lainnya untuk dipertontonkan di depan umum, dimana mereka juga mengalami siksaan yang lebih banyak lagi, termasuk diadu dengan binatang buas.  Tetapi Sanctus hanya memberikan jawaban yang sama dengan pengakuannya sejak awal, sampai akhirnya ia dihukum mati.

 

Berikan kepada kami, Oh Tuhan, hati yang teguh,
     agar kasih kepada dunia tidak akan bisa menjatuhkan kami;
Berikan kepada kami hati yang berkemenangan,
     yang tidak akan goyah karena siksaan;
Berikan kepada kami hati yang lurus,
     agar kami tidak diselewengkan oleh godaan apapun.
Curahkanlah kepada kami, ya Tuhan,
     kemampuan untuk mengenal Engkau,
     ketekunan untuk mencari Engkau,
     dan kesetiaan untuk membawa kami mendekat kepada-Mu;
melalui Yesus Kristus Tuhan kami, Amin.

Thomas Aquinas

 


Pahlawan Iman 101: Orang-Orang Kristen di Uganda – Martir yang Menguatkan

Bersukacitalah senantiasa.
Tetaplah berdoa.
Mengucap syukurlah dalam segala hal,
sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam Kristus Yesus bagi kamu. 
1 Tesalonika 5:16-18

 

Agama Kristen datang ke Uganda pada tahun 1877 setelah seorang penjelajah dari Inggris, Henry Stanley, membagikan Injil kepada Raja Mutesa, yang kemudian mengundang banyak missionaris untuk datang ke negaranya.  Namun penggantinya, Raja Mwanga, tidak mewarisi semangat Raja Mutesa untuk menerima Kekristenan.  Ia bahkan menjadi marah karena terjadinya banyak pertobatan di antara bangsanya, karena mereka menjadi lebih setia kepada Kristus dibandingkan kepada kerajaan.  Raja Mwanga kemudian memutuskan untuk melenyapkan Kekristenan dari negaranya.

Orang-orang Kristen mulai menjadi martir pada tahun 1885, dan kematian pertama karena iman Kristen di Uganda terjadi pada tanggal 31 Januari 1885.  Pada saat itu, Mark Kukumba, Yusuf Rugarama, dan Noah Seruwanga mati sebagai martir.  Kemudian, pada tanggal 3 Juni 1886 Raja Mwanga memerintahkan pembunuhan terhadap 26 pembantunya yang masih berusia muda karena mereka menjadi percaya kepada Kristus. 

Namun, bukannya membuat Kekristenan menjadi surut seperti yang dikehendakinya, teladan para anak muda itu—yang berjalan menuju tempat eksekusi mereka dengan terus menyanyikan pujian dan mendoakan musuh-musuh mereka—justru menjadikan banyak orang yang menyaksikan hukuman itu menjadi tertarik untuk belajar semakin banyak tentang Kekristenan.  Banyak orang percaya yang dikuatkan melalui teladan mereka.  Beberapa tahun kemudian, orang Kristen yang tadinya berjumlah sedikit saja, menjadi berkembang dengan sangat cepat.

Ribuan orang percaya di Uganda juga menjadi martir pada saat pemerintahan dictator Idi Amin pada tahun 1970-an.  Tetapi orang-orang percaya tetap kuat di dalam iman mereka, dan saat ini Uganda menkadi salah satu negara dengan persentasi orang percaya terbesar di antara negara-negara di Afrika. 

 

Setiap hari menyanyikan pujian,
     merindukan kota surgawi yang dibuat Tuhan;
     merindukan taman Eden yang indah. 
Oh, sekiranya aku punya sayap malaikat,
     aku akan mengembangkan sayapku dan terbang ke surga,
     mencari pintu gerbang Yerusalem baru, yang jauh lebih tinggi dari bintang di langit. 
Lagu Pujian Martir Uganda


Pahlawan Iman 100: Orang-Orang Kristen di Irak – Sering Menjadi Sasaran

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya;
tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan memperolehnya.
Matius 16:25

 

Para pemimpin gereja sering menjadi sasaran serangan kaum militant Islam di Irak dengan tujuan untuk menunjukkan kepada orang-orang Kristen di sana bahwa iman mereka tidak diterima di dalam negara itu.  Pada hari Minggu, 3 Juni 2007, seorang hamba Tuhan dan tiga orang majelis gereja ditembak mati ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang dari pelayanan di sebuah gereja di Mosul, Irak utara.  Mereka ditembak beberapa ratus meter dari gereja itu.

Jemaat awam di Irak juga sering dibunuh oleh kaum militant.  Seminggu sebelum penembakan itu, sepasang suami istri Kristen, Hazim dan Amal dipenggal kepalanya oleh kaum militant. 

 

Oh, Yerusalem kota mulia
Hatiku rindu ke sana
Tak lama lagi Tuhanku datanglah
Bawa saya masuk sana.

(Lagu: "Oh Yerusalem Kota Mulia")


↑ Back to Top