Martyrdom


Pahlawan Iman 099: Chou Wen-Mo – Dikhianati

"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya".  Matius 10:16-17

 

Missionaris ini dua kali dikhianati dan diserahkan kepada penguasa Korea sebelum kemudian ia dijatuhi hukuman mati pada tanggal 31 Mei 1801.  Chou Wen-Mo, seorang yatim piatu dari Cina, ditolong untuk masuk ke Seoul oleh dua orang Korea pada bulan Desember 1794.  Ia kemudian menjadi gembala bagi orang-orang Kristen di sana, sampai penangkapanya.  Ia pernah tertangkap karena dilaporkan kepada pemerintah oleh seorang Kristen baru.  Dalam penahanan itu ia bisa bebas karena pertolongan beberapa orang sahabatnya.  Setelah kebebasannya, ia  melakukan pelayanan kembali sebagai gembala dari sebuah gereja “bawah tanah” yang berhasil.

Pada tahun 1801, ketika terjadi penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di Korea, dimana ada sekitar 300 orang Kristen menjadi martir, Wen-Mao sekali lagi dikhianati oleh seseorang yang dipikirnya sudah menjadi percaya.   Setelah ia dihukum mati, tubuhnya dimakamkan secara rahasia oleh pemerintah Korea, karena mereka khawatir bahwa orang-orang Kristen di sana akan menemukan tubuh Wen-Mo dan bertambah semangat dalam melayani.

 

Tuhan Yesus, yang datang ke dunia sebagai manusia,
Yang menderita karena kasih-Mu, yang membiarkan tangan-Mu dipaku ke kayu salib bagi dosa-dosa kami,
Berikanlah kepada kami kekuatan untuk memikul penderitaan kami,
Yang terjadi bukan karena seteru kami, tetapi justru dari saudara kami
Namun, Tuhan, jangan hitungkan itu sebagai dosa baginya

Boris dari Kiev (menjadi martir pada tahun 1015).

 


Pahlawan Iman 098: Orang-Orang Kristen Libanon – Dibunuh oleh Kelompok Islam

TUHAN adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya.
Bangsa-bangsa lenyap dari tanah-Nya. 
Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kaudengarkan, ya TUHAN;
Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telinga-Mu,
untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang terinjak;
Mazmur 10:16-18a

 

Dalam rentang waktu antara 30 Mei sampai 26 Juni 1860, kelompok perusuh dari kaum Druze, salah satu sekte Islam, membakar dan menjarah desa-desa Kristen di Libanon.  Dalam salah satu peristiwa, Emmanuel Ruiz, seorang rahib biara di Damaskus, dibunuh bersama dengan tujuh orang rahib lainnya dan tiga orang awam.  Mereka diberi pilihan untuk memeluk agama Islam atau dibunuh; mereka berpegang teguh dalam iman.

Kaum Druze secara sistematik membunuh orang-orang Kristen dalam pemberontakan mereka melawan Gereja Maronite.  Mereka marah karena menganggap bahwa mereka tidak diperlakukan setara dengan orang-orang Kristen di sana pada masa itu.  Pada tanggal 9 Juli saja, 3000 orang laki-laki Kristen dibunuh di Damaskus.

 

Ya Tuhan, yang mengumpulkan doa dan tangisan kaum tebusan-Mu, tuntunlah kami di dalam kasih karunia-Mu yang besar, sehingga kami bisa terus menjalani kehidupan yang berkanan kepada-Mu.  Amin

 


Pahlawan Iman 097 : Raphael Aka Kouame – Petani yang Disalibkan

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia
dan kuasa kebangkitan-Nya
dan persekutuan dalam penderitaan-Nya,
di mana aku menjadi serupa dengan Dia
dalam kematian-Nya. 
Filipi 3:10

 

Raphael dan adik laki-lakinya, Kouassi Privat Kacou, secara sadis disalib untuk meniru kematian Kristus yang disalibkan.  Peristiwa itu terjadi di Pantai Gading pada tanggal 29 Mei 2011.  Peristiwa itu adalah salah satu dari berbagai kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut setia dari presiden Muslim baru di negara itu, Alassane Ouattara.  Mereka menyerang orang-orang Kristen dalam upaya untuk meneguhkan Ouattara setelah adanya perselisihan tentang hasil pemilihan umum yang membuat presiden sebelumnya, Laurent Gbagbo, turun dari jabatannya.  Raphael meninggal karena luka-lukanya, tetapi ajaibnya, Kouassi selamat.

Kedua kakak beradik itu dipukuli sampai terluka parah sebelum kemudian dengan kasar dipakukan ke sebuah palang.  Kedua tangan dan kaki mereka dipaku dengan paku besi yang kasar.  Mereka dituduh menyembunyikan senjata di rumah mereka di Binkro, yang menjadi sasaran serangan kelompok Ouattara karena dianggap sebagai tempat kelahiran seorang tokoh yang dianggap melawan mereka. 

Raphael dan Koussa membantah keterlibatan mereka dalam kekerasan, tetapi perkataan keduanya sama sekali tidak didengar oleh kelompok penyerang itu.  Setelah menyalibkan keduanya, anggota dari kelompok Ouattara mengadakan pencarian yang sangat teliti di Binkro, tetapi mereka hanya mendapati simpanan perlatan medis, yang kemudian mereka jarah.  Raphael dan Koussa yang sudah terluka sangat parah, kemudian dibawa ke penjara di Oume, dimana Raphael meninggal dunia.

 

Kita tidak tahu, kita tidak bisa menjelaskan
Sakit dan dan derita yang ditanggung sang Juruselamat
Tetapi kita percaya Ia menanggungnya bagi kita
Ia digantung dan menderita menggantikan kita

Cecil Frances Alexander (1823-1895)


Pahlawan Iman 096 : Samuel Masih – Dibunuh di Rumah Sakit

Berbahagialah kamu,
jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya
dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat
.
Matius 5:11

 

Samuel, seorang pemuda Kristen, meninggal karena luka-luka parah di kepalanya setelah seorang aparat kepolisian memukulnya dengan sebuah palu ketika ia sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit.

Samuel dibawa ke Rumah Sakit pada tanggal 22 Mei 2004, setelah ia menderita TBC di dalam penjara, dimana ia ditahan sejak bulan Agustus 2003 karena tuduhan melanggar “hukum penghujatan.”  Samuel dituduh dengan sengaja menajiskan sebuah masjid.

Pada pagi hari tanggal 24 Mei 2004, seorang anggota kepolisian bernama Faryad Ali masuk ke dalam ruangan Rumah Sakit dimana Samuel dirawat dan kemudian – meski ada beberapa anggota kepolisian di situ – menyerang Samuel dengan palu yang biasa dipakai memotong batu bata.  Samuel kemudian menjadi koma dan meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 2004.  Faryad berusaha membunuh Samuel karena tuduhan penghujatan.  Ia kemudian ditangkap dengan tuduhan percobaan pembunuhan, tetapi setelah Samuel meninggal ia secara resmi dikenali tuduhan pembunuhan.

“Hukum penghuatan” sering disalahgunakan oleh kaum Muslim Pakistan untuk membalas dendam untuk perselisihan pribadi, khususnya terhadap orang-orang Kristen.  Seorang pria bernama Muhammad Yaqub membawa Samuel ke pengadilan.  Ia mengatakan bahwa ia melihat Samuel meludah ke arah masjid, ke dinding yang bagian dalamnya adalah sebuah perpustakaan.

 

Memandang kepala, tangan dan kaki-Nya
Kepedihan dan kasih bercampur menjadi satu
Tak pernah terjadi kepedihan dan kasih menyatu
Tak pernah terjadi juga raja bermahkotakan duri tajam  di kepalanya

Isaac Watts (1674-1748).


Pahlawan Iman 095: Winnie Davies – Ditangkap Pemberontak

Terpujilah YAHWEH dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus,
yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali
oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati,
kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. 
1 Petrus 1:3

 

Winnie berasal dari sebuah keluarga sederhana di Wales, dan ia pergi ke Nebobongo di Kongo sebagai missionaris pada tahun 1946.  Ia memiliki latar belakang pendidikan sebagai perawat dan juga lulus dari Sekolah Alkitab sebelum ia memasuki pelayanannya itu. 

Winnie membuka pusat perawatan ibu yang baru melahirkan di Nebobongo, dimana ia melayani sampai pecahnya pemberontakan melawan pemerintahan pusat Kongo pada tahun 1964.  Sebenarnya pada tahun 1961, Winnie dan beberapa rekannya sudah dievakuasi dari sana, tetapi ia memutuskan kembali untuk melayani di Nebobongo.

Pada tahun 1964 itu juga, Winnie ditangkap oleh para pemberontak.  Beberapa laporan kemudian menunjukkan bahwa ia masih hidup selama beberapa tahun di dalam sekapan kaum pemberontak. Tetapi pada tanggal 27 Mei 1967, ia dibunuh oleh kaum pemberontak setelah ia berusaha melarikan diri dari sekapan mereka.  Empat orang missionaris lainnya yaitu Jim Rodger, Bill McChesney, Cyril Taylor dan Muriel Harman juga dibunuh dalam pemberontakan yang terjadi pada tahun 1964 itu.

 

Doa yang paling indah adalah doa yang dinaikkan melalui tangan yang sudah mengobati dan memberi. 
Penyembahan yang paling  agung adalah penyembahan pelayanan Kristen yang tidak mementingkan diri sendiri.
Pujian yang paling merdu adalah bunyi tapak kaki orang-orang yang mencari yang terhilang dan tak berdaya.

Billy Graham


↑ Back to Top