Martyrdom


Pahlawan Iman 089: Keluarga Perez – Diserang di Dalam Rumah

Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita,
jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan. 
Ibrani 3:6

 

Pendeta Perez, isteri dan keenam anak mereka terbunuh ketika sekelompok orang bersenjata menyerbu masuk ke dalam rumah mereka pada tanggal 19 Mei 954.  Mereka adalah beberapa dari antara 120 orang Kristen yangterbunuh antara tahun 1940-1950-an di Kolombia, yang pada dasawarsa itu memang sangat giat menganiaya orang-orang Kristen, khususnya terhadap kaum Injili.  Gereja-gereja kaum Injili dibakar dan anggota-anggotamerekamenjadi sasaran karena mereka dianggap berpihak kepada kaum revolusioner yang melawan pemerintah.

Pendeta Perez dan anaknya, Bernardo, 12 tahun, ditahan pada bulan November 1953 dan diinterogasi mengenai keterlibatan mereka membantu kaum revolusioner; sejak itu kehidupan mereka sangat terancam.

Pada bulan Mei 1954, tanpa ada peringatan sebelumnya, sekelompok orang bersenjata menyerbu masuk ke rumah Perez dan menembak mati Perez dan isterinya.  Ketujuh anak mereka juga diserang dengan menggunakan senjata tajam, dan secara tragis, enam dari tujuh anak mereka meninggal pada saat itu juga.  Hanya satu saja anak mereka, David, yang bertahan hidup.  David berhasil mengalahkan segala trauma dan kepahitan karena kehilangan anggota keluarganya, dan kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi pendeta.

 

Tuhan, aku berdoa kepada-Mu, nyalakanlah lilin kecil kehidupanku ini, sehingga aku bisa menyala bagi-Mu.  Pakailah hidupku, karena hidupku adalah milik-Mu.  Aku tidak mencari hidup yang panjang, tetapi aku mencari hidup yang seperti Engkau, Tuhan Yesus. Jim Elliot


Pahlawan Iman 088: Peregrinus – Berkhotbah Melawan Penyembahan Berhala

Orang-orang yang kurang ajar sangat mencemoohkan aku,
tetapi aku tidak menyimpang dari Taurat-Mu.
Mazmur 119:51

 

Peregrinus adalah Uskup yang pertama di Auxerre, Perancis, dan khotbah-khotbahnya membuat sebagian besar dari penduduk kota itu menjadi Kristen.  Kemudian, ia membangun sebuah gereja dan mulai menginjili daerah-daerah sekitarnya.  Ketika sebuah kuil penyembahan kepada dewa Romawi, Yupiter, didirikan di Interanum, sebelah barat-daya Auxerre, Peregrinus langsung mendatangi kota itu dan meminta agar penduduknya meninggalkan penyembahan berhala.  Ia langsung ditangkap dan dibawa menghadap gubernur di sana.  Ia disiksa dan kemudian dipenggal sekitar tahun 261 M.

 

Terima kasih Tuhan Yesus Kristus,
Untuk semua kebaikan yang sudah Engkau berikan kepada kami
Untuk semua kepedihan dan cemoohan yang Engkau tanggung bagi kami.
Oh, Penebus, Sahabat dan Tuhan yang penuh rahmat,
Tolonglah kami untuk lebih mengenal-Mu,
Lebih dalam mengasihi-Mu,
Dan lebih dekat mengikuti-Mu,
Hari demi hari dalam hidup kami.
Richard of Chichester (1197-1253).

 


Pahlawan Iman 087: Musa dan Alexander Bakut – Kerusuhan di Nigeria

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan,
sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

Ibrani 12:14

 

Bapak dan anak ini menjadi martir bersama-sama ketika para pelaku kerusuhan Muslim melakukan kerusuhan anti-Kristen di propinsi Kadune, Nigeria, pada bulan Mei 1992.  Namun menariknya, kedua orang itu memang sudah bermimpi mengenai kematian mereka, bahkan sebelum mereka menjadi martir.

Dalam sebuah ibadah di gereja pada tanggal 17 Mei, Musa memimpin jemaat untuk berdoa tentang kerusuhan yang terjadi di Zangon Kataf, Keduna.   Orang-orang Kristen diminta untuk tidak melakukan pembalasan bahkan ketika mereka diserang.    Setelah itu Musa pulang ke rumahnya, tetapi dengan segera ia kembali ke gerejanya yang sudah dibakar oleh para perusuh.  Musa pulang lagi ke rumahnya sambil menangis.

Pada pukul 1 dinihari, batu-batu berjatuhan di rumah Musa, dan kemudian kaum perusuh datang sambil menyiramkan bensin ke sekeliling rumah Musa.  Musa keluar dari rumahnya, menemui para perusuh itu dan berbicara dengan mereka.  Saat itu ada sekitar 15 orang perusuh bersenjatakan tongkat, senapan dan panah.  Mereka memerintahkan Musa untuk membawa mereka kepada seseorang yang bisa memastikan identitas Musa.  Isteri Musa memohon agar mereka tidak membawanya, tetapi para perusuh itu justru melukainya.  Anak sulung mereka, Alexander, mengikuti mereka tetapi tidak bisa menolong ayahnya. Salah satu kelompok itu menyiramkan bensin kepada Musa dan membakarnya hidup-hidup, sementara kelompok yang satunya memenggal kepala Alexander.

 

Bapa Surgawi, kami sering mendapati bahwa dunia ini tidak bisa memberikan damai sejahtera kepada kami.  Tetapi ingatkanlah kami bahwa Engkaulah sumber damai sejahtera yang sejati; tolonglah kami berpegang kepada janji-janji-Mu; dan bahwa seluruh dunia sekalipun tidak akan bisa mengambil damai sejahtera yang Engkau berikan kepada kami.  Soren Kierkegaard (1813-1855).


Pahlawan Iman 086: Abdul Karim – Penginjil yang Bersemangat

Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
Kisah Para Rasul 4:29

 

Abdul, seorang penginjil yang sangat bersemangat, dipotong kedua tangannya oleh sekelompok orang Afganistan yang bermaksud membunuhnya karena ia menolak untuk menyangkal Kristus.

Sebelum menjadi martir, Abdul sudah mengalami banyak sekali penderitaan karena imannya.  Ketika ia baru menjadi percaya, ia ditolak oleh keluarganya yang beragama Islam. Ketika berita tentang imannya yang baru tersebar luas, tidak seorangpun mau lagi menolongnya menggarap tanahnya, satu-satunya sumber penghasilannya.  Tetapi ia memutuskan untuk menjadi seorang penginjil kepada sukunya di Perbatasan Barat Laut, yang saat itu menjadi bagian dari wilayah India yang dikuasai oleh Inggris—sekarang menjadi salah satu Propinsi Pakistan yang bernama Khyber Pakhtunkhwa.

Abdul begitu bersemangat untuk memberitakan tentang Kristus sampai-sampai di suatu pagi pada bulan Mei 1906 ia memutuskan untuk membawa berita Injil itu masuk ke dalam wilayah Afganistan sendiri.  Setelah ia pergi ke sana, para pejabat di kotanya mendengar bahwa Abdul sudah ditangkap di kota Kandahar.  Ia lalu dibawa ke ibukota, Kabul.  Tetapi karena campur tangan pemerintah Inggris, ia dibebaskan dari dalam penjara.

Berita tentang pembebasan itu membuat penduduk di sana sangat marah, dan ia ditangkap oleh massa.  Ketika ia diberi kesempatan untuk memilih antara menyangkal Kristus atau mati, Abdul berdiri teguh dalam imannya.  Massa kemudian memotong salah satu tangannya, dan kemudian mengajukan pilihan yang sama kepada Abdul.  Tetap saja Abdul berpegang kepada imannya, sehingga mereka memotong tangannya yang satu lagi.  Tetapi Abdul tetap saja menolak menyangkali Kristus, sehingga ia akhirya dibunuh.

 

Membaralah dalam semangatmu dan orang akan datang dari tempat-tempat yang jauh untuk melihat nyala apimu.  John Wesley (1703-1791).

 


Pahlawan Iman 085: Javaid Anjum – Remaja yang Disiksa

Sekarang tinggallah berdiri dan lihatlah perkara yang besar yang akan dilakukan TUHAN di depan matamu ini.
1 Samuel 12: 16

 

Pada suatu siang di tahun 2004, Jawaid, seorang pelajar Kristen berusia 19 tahun, sedang dalam perjalanan mengunjungi kakeknya di Propinsi Punjab, Pakistan.  Ketika ia sedang menunggu bis, ia merasakan sangat haus dan kemudian minum air dari kran milik sebuah madrasah.  Beberapa tetes air itu harus dibayar dengan nyawanya.

Apa yang dilakukannya dilihat oleh beberapa orang siswa madrasah itu, yang langsung menanyakan tentang siapa dirinya dan apa yang sedang dilakukannya di situ.  Ketika mereka tahu bahwa ia adalah seorang Kristen, mereka langsung meringkus Jawaid dan membawanya masuk ke dalam lingkungan madrasah.  Di sana mereka memaksanya untuk menyangkali Kristus dan mengucapkan kalimat shahadat.  Jawaid menolak, dan karena itu mereka menyiksanya sampai 5 hari lamanya.  Dalam siksaan itu, beberapa kali ia disetrum dengan listrik dan kuku-kuku jarinya dicabuti.  Setelah itu mereka menyerahkan Jawaid kepada polisi dengan tuduhan bahwa ia melakukan pencurian.

Dua minggu kemudian, Jawaid meninggal karena luka-lukanya.  Para dokter yang memeriksa jasadnya mendapati bahwa seluruh tubuhnya penuh dengan luka, ginjalnya rusak, tangan dan jari-jari kanannya patah.

 

Kami mau mendekat kepada-Mu, karena kami tahu bahwa di dalam Engkau kami akan mendapatkan keamanan dan damai sejahtera.  Hati kami akan dipenuhi dengan sukacita-Mu, bahkan pada saat tubuh kami dianiaya dan tersiksa bagi nama-Mu.

 

 

 


↑ Back to Top