Reflections and Inspirations


Jangan Beri Pipimu Yang Lain!

Islam akan selalu menang kecuali jika kita memeranginya dengan senjatanya sendiri. Anda tidak dapat menghentikan kekerasan dengan memberikan pipi yang satunya lagi. Jika anda ingin menghentikannya, anda harus siap mematahkan tangan yang menampar anda. Memberikan pipi yang satunya lagi hanya akan berhasil terhadap orang-orang yang waras dan tahu diri. Orang yang narsisistik bukanlah orang yang waras. Orang yang waras pun tidak akan menjadi orang yang pertama menampar anda.


Muslim Adalah Kafir

Sebutan kafir yang Muhammad berikan kepada orang-orang yang mencelanya sebenarnya adalah istilah yang sangat menghina. Kata tersebut diterjemahkan secara keliru sebagai orang yang tidak beriman atau tidak percaya. Pada kenyataannya itu adalah ad hominem. Kafir mungkin memiliki akar yang sama dengan kata bahasa Inggeris cover (menutupi). Artinya seseorang yang menutupi (kebenaran). Label ini paling cocok diberikan kepada Muslim, yang selalu melakukan penyensoran? Yang membungkam orang-orang yang mengkritik mereka? Yang melakukan tindak kerusuhan dan protes setiap kali seseorang mempertanyakan kepercayaan mereka? Yang lebih memilih kekerasan daripada berdebat? Muslim adalah kafir; bukan orang-orang yang menolak Islam. Muslimlah yang ingin menutupi kebenaran.


Beberapa Pertanyaan Refleksi Kehidupan

Hidup manusia merupakan proses perenungan yang tiada akhir, apalagi jika dikaitkan dengan hubungan dengan sesama manusia yang lain. Seringkali perbuatan kita membuat orang lain tidak nyaman, atau bisa jadi diri kita sendiripun tidak nyaman dengan apa yang kita perbuat. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dapat membantu Anda untuk menemukan diri Anda dan bagaimana Anda dapat menghargai kehidupan Anda, dan juga kehidupan orang lain.

  1. Kebaikan sederhana apa yang pernah kamu terima/rasakan yang benar-benar membuatmu terkesan sehingga kamu masih mengingatnya dengan jelas sampai sekarang?
  2. Seandainya kamu diberitahu bahwa besok adalah hari terakhirmu hidup di dunia, bagaimana kamu akan merencanakan hari esokmu? Apa saja yang akan kamu lakukan di hari esok itu?
  3. Seandainya kamu diberi kesempatan untuk meminta maaf pada seseorang dan kamu pasti dimaafkan, kepada siapa kamu akan meminta maaf dan apa yang akan kamu katakan?
  4. Seandainya mesin waktu itu ada dan kamu diberikan hanya satu kesempatan untuk kembali ke masa lalumu dan menyaksikan kembali dirimu di masa lalu, ke momen mana kamu akan pergi?
  5. Seandainya kamu tahu kamu tidak mungkin gagal, hal realistis apa yang akan kamu lakukan?
  6. Seandainya kamu diberi kesempatan untuk bertanya satu pertanyaan dan kamu pasti mendapat jawaban yang tepat, apa pertanyaanmu?
  7. Seandainya kamu bisa bertukar hidup dengan orang lain, dengan siapa kamu mau bertukar hidup? Kenapa?
  8. Seandainya kamu bisa mengubah hidup satu orang secara instan, hidup siapa yang akan kamu ubah dan apa yang akan kamu ubah?
  9. Melihat dirimu hari ini dan 5 tahun yang lalu, sejauh apa perubahan yang kamu rasakan terjadi dalam hidupmu?
  10. Seandainya kamu bisa menyembuhkan sebuah penyakit secara instan, penyakit apa yang akan kamu pilih? Kenapa?
  11. Apa hal yang paling kamu sukai dari keluargamu, sekolahmu, tempat kerjamu?
  12. Siapakah tokoh yang paling kamu kagumi dan menjadi teladanmu? Hal apa yang kamu kagumi darinya?
  13. Pernahkah kamu menangis untuk orang yang tidak kamu kenal? Mengapa? Ceritakan!
  14. Ceritakan tentang pekerjaan ideal menurut pandanganmu!
  15. Pikirkan satu orang teman terdekatmu. Bagaimana kalian dapat menjadi teman dekat?
  16. Ingin dikenang sebagai apakah kamu oleh orang-orang di sekitarmu setelah kamu meninggal nanti?

 


Kisah Anak Penyemir Sepatu

(Gambar ilustrasi anak penyemir sepatu)

Adalah seorang Bapak yang berprofesi sebagai pengusaha. Setiap hari Bapak ini harus menyeberang sungai dengan sebuah kapal kecil untuk menuju ke kantornya. Sebelum pergi, biasanya ia mampir di sebuah kedai yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan itu untuk minum kopi. Di sekitar kedai itu ada beberapa anak kecil yang menawarkan jasa semir sepatu kepada pria-pria yang sedang duduk menikmati hangatnya kopi pagi.

Bapak inipun memanggil seorang anak kecil untuk menyemir sepatunya, "Nak, mari datang kemari. Tolong semirkan sepatu Bapak ya?"

Anak kecil itupun datang menghampiri Bapak ini dan dengan penuh semangat mulai menyemir sepatunya. Dari mata anak itu terpancar betapa senangnya ia melakukan pekerjaan itu untuk Bapak ini. Setelah selesai, sejumlah uangpun diberikan kepadanya, dan anak itu mengucapkan terima kasih.

Keesokan harinya, ketika Bapak ini baru saja turun dari kapal kecil yang ditumpanginya, dari kejauhan anak itu segera berlari mendapatkan Bapak ini. Dengan senang hati ia membantu membawa tas Bapak ini sampai ke kedai kopi. Sementara Bapak ini menikmati hangatnya kopi pagi, anak kecil itu menyemir sepatunya sampai mengkilap. Seperti biasanya, setelah anak itu selesai menyemir sepatu, Bapak ini kemudian memberikan sejumlah uang kepadanya.

Kejadian ini terus saja berulang sampai suatu pagi terjadi suatu hal yang tidak seperti biasanya. Pagi itu, ketika anak kecil ini melihat sang Bapak turun dari kapal, dengan sekuat tenaganya ia berlari mendapatkannya dan membawa tasnya sampai ke kedai kopi. Ia membuka sepatu Bapak ini dengan tangannya sendiri dan kemudian menyemir sepatunya sampai mengkilap. Dari sorot matanya yang polos, ia melakukannya dengan penuh antusias. Setelah selesai, Bapak ini kemudian mengeluarkan sejumlah uang dari kantongnya untuk memberikannya kepada anak itu. Tapi reaksinya sungguh berbeda. Anak itu menolak pemberian Bapak ini.

Bapak ini kaget. ‘Apa yang terjadi? Apa ia tidak membutuhkan uang?' tanya Bapak itu dalam hatinya. Kemudian dengan lembut Bapak ini bertanya sambil menatap wajah anak itu, "Nak, kenapa kamu tidak mau mengambil uang ini? Apakah kamu tidak membutuhkannya?"

Dengan mata berkaca-kaca anak kecil tersebut menjawab, "Pak, saya ini anak yatim piatu. Saya hidup di jalanan. Kedua orang tua saya sudah lama meninggal. Saya belum pernah merasakan bagaimana kasih sayang orang tua. Tetapi ketika kita pertama berjumpa dan Bapak memanggil saya dengan sebutan, ‘Nak, mari datang kemari', sewaktu Bapak memanggil saya ‘Nak', saya merasa seperti anak Bapak. Saya merasa memiliki ayah lagi. Oleh sebab itu saya tidak mau lagi mengambil uang yang Bapak berikan kepada saya. Mulai sekarang, tidak ada satupun yang tidak ingin saya buat bagi Bapak. Semuanya saya mau lakukan untuk menyenangkan hati Bapak."

Kemudian sambil menangis, sambil memegang bahu anak itu dan memandang wajahnya, Bapak itu bertanya, "Nak, maukah mulai saat ini juga kamu tinggal bersama saya dan menjadi anak saya?" Sambil memeluk erat Bapak itu anak ini menjawab, "Ya, Pak. Saya mau!"

---------------

Bukankah demikian dengan kita? Ketika kita sebagai anak yang terhilang, Tuhan datang sebagai Bapa yang baik menghampiri dan memanggil kita, "Nak, mari datang kemari!" Saat suara itu memanggil, kita merasakan kembali kasih Bapa. Ketika kita merasakan kasihNya yang besar, kasih tanpa batas dan tanpa syarat itu, kasih Bapa itu pula yang dapat membuat kita berkata seperti anak kecil itu, "Mulai sekarang, tidak ada satupun yang tidak ingin saya buat bagi Bapak. Semuanya saya mau lakukan untuk menyenangkan hati Bapak."

 


Tetap Melakukannya

  • Orang sering tidak masuk akal, rasional, dan egois. Tetaplah memaafkan mereka.
  • Jika Anda berbuat kebaikan, orang mungkin menuduh Anda egoistis, menyimpan motif tersembunyi di sebalimnya. Tetaplah berbuat dan jadilah baik.
  • Jika Anda berhasil, Anda akan beroleh beberapa teman setia dan JUGA beberapa musuh yang sesungguhnya. Tetaplah upayakan keberhasilan anda.
  • Jika Anda jujur dan tulus orang-orang mungkin menipu dan memanfaatkan Anda. Namun demikian, tetaplah dengan setia dan pertahankanlah untuk bersikap jujur dan tulus itu.
  • Apa yang sudah Anda habiskan sekian tahun untuk membuat dan menghasilkannya, orang lain bisa menghancurkan itu semua cuma mungkin dalam semalam saja. Namun demikian,tetaplah berkarya!
  • Jika Anda menemukan ketenangan dan kebahagiaan, sebagian orang mungkin merasa tidak senang, mungkin sebab iri hati. Namun demikian, tetaplah berbahagia.
  • Yang baik Anda lakukan hari ini, akan mungkin sering dilupakan keesokan harinya. Namun demikian, tetaplah berbuat!
  • Berikan yang terbaik yang Anda miliki, dan itu tidak akan pernah cukup bagi beberapa orang. Namun demikian, tetaplah berikan yang terbaik itu.
  • Dalam analisis akhir pada akhirnya, segala dan semua perkara-perkara di atas itu adalah antara Anda dan Tuhan SAJA. Itu tetap saja tidak akan pernah menjadi urusan antara Anda dengan mereka.

- Mother Teresa -

 


↑ Back to Top