Reflections and Inspirations


Dari Debu Iman Akan Bangkit

Iman yang Tak Tergoyahkan dari Para hamba Tuhan yang dipanggil untuk memimpin gereja yang teraniaya di Indonesia

Cuaca sangat panas, tetapi sangat sulit untuk membedakan antara keringat dan air mata yang ada di wajah orang-orang Kristen yang ada di kerumuman itu.  Tiba-tiba seorang wanita berteriak ketika tangan besi dari sebuah backhoe menembus melalui tembok gerejanya.  Suasana kemudian dipenuhi dengan tangisan keputus-asaan yang dicampur dengan suara tepuk tangan yang kedengaran sangat aneh dari sekelompok kaum Muslim radikal yang, sambil mengepalkan tangan ke atas, berteriak “Allahu Akbar!”(Allah Mahabesar!).  Wanita Kristen itu jatuh terduduk, pingsan ketika melihat sebagian besar tembok gereja mulai runtuh.  Beberapa minggu sebelumnya dia dan anggota jemaat lainnya beribadah di dalam gedung itu dengan tenang, tanpa mengira sama sekali bahwa gedung gereja itu akan menjadi sasaran penghancuran.

Pdt. John (nama diganti untuk alasan keamanan) memperhatikan dengan wajah gusar, karena tidak berdaya untuk menghentikan penghancuran dari tempat ibadah yang sangat dikasihinya itu.  Dengan hati yang berat, dia memandang ke sekelilingnya dan melihat wajah-wajah puas dari orang-orang Muslim di sana, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berteriak dan bertepuk tangan ketika tembok gereja itu menjadi reruntuhan.  “Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat sendiri. Di antara mereka ada remaja dan bahkan anak-anak kecil yang bersorak dengan gembira,” katanya dalah wawancara dengan ICC.

Yang sangat menyedihkan, kata Pdt. John, yang berasal dari bagian lain di kota yang sama, adalah bahwa penghancuran gereja di Jakarta yang terjadi pada tanggal 21 Maret itu hanyalah salah satu dari begitu banyak kejadian yang sekarang sangat lazim terjadi, dimana gereja-gereja dipaksa untuk ditutup di Indonesia.  Pada tahun 2012, ICC memperkirakan bahwa paling tidak 50 gereja dipaksa untuk ditutup oleh pemerintah setempat yang sangat ingin memenuhi tuntutan dari kelompok-kelompok Islam radikal.  Sayangnya, tahun 2013 juga sama buruknya, kalau tidak bisa dikatakan lebih buruk lagi. 

 

Kisah tentang Pdt. John

Kalau bukan karena anugerah keselamatan dari Yesus, ada kemungkinan Pdt. John justru akan berada di sana sebagai salah satu dari orang Muslim yang bersorak di kerumunan itu.  Dilahirkan sebagai seorang Muslim dalam sebuah keluarga yang sederhana, Pdt. John menghabiskan masa kanak-kanaknya membantu keluarganya mencari makan.  Ketika ia remaja, salah seorang anggota keluarganya datang dengan membawa Alkitab dan mulai berbicara tentang iman yang baru itu.  Pada awalnya ia tidak memperdulikan hal itu, “Saya mengatakan bahwa saya sudah punya agama sendiri, dan mereka juga punya agama sendiri.  Tetapi lama kelamaan saya menjadi bosan mendengarkan perkataan mereka, sehingga saya menyuruh mereka untuk diam.”

Baru setelah anggota keluarganya itu bertanya secara langsung, “Menurutmu, apakah kalau kamu mati hari ini, kamu masuk surga?”  John mulai berpikir mengenai Kekristenan.  Ia ingat bahwa kalau di masjid, mereka bahkan sering harus berdoa untuk Muhammad agar ia bisa masuk surga.  Saat itu ia berpikir, kalau Muhammad saja perlu didoakan untuk bisa masuk surga, lalu bagaimana dengan dirinya?  Setelah itu, ia mulai mencuri-curi membaca bagian-bagian di dalam Alkitab, agar orang tuanya tidak tahu kalau ia mulai membaca kitab itu.  Tidak lama kemudian, ia mendapati dirinya duduk di kursi paling belakang di sebuah gereja, dengan hati yang berdebar-debar dan perasaan yang belum pernah dirasakannya, serta mata yang basah dengan air mata, saat ia mendengar hamba Tuhan di gereja itu membaca dari Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

 

Dipanggil untuk memimpin mereka yang dianiaya

Pdt. John memberikan hidupnya kepada Yesus pada hari itu juga.  Saat itu ia sama sekali tidak tahu bahwa Tuhan akan memanggilnya menjadi seorang hamba Tuhan, dan lebih lagi, bahwa Tuhan akan memanggilnya untuk memulai sebuah gereja di salah satu tempat dimana yang Islamnya paling radikal di Indonesia.  Setelah menyelesaikan sekolah Alkitab, dengan hanya berbekal iman dan tekad yang bulat bahwa ia akan mengikuti pimpinan Tuhan apapun yang akan terjadi, Pdt. John mulai melakukan pelayanan kepada orang-orang di suatu daerah di Bekasi.

Beberapa bulan kemudian, tekadnya untuk melayani mendapatkan ujian yang sangat keras.  Ketika Pdt. John sedang menyampaikan khotbah di suatu hari Minggu pagi, 15 orang dengan berpakain juban putih panjang menyerbu masuk ke dalam gerejanya, sambil berteriak-teriak dan mencaci maki anggota jemaatnya.  Mereka menuntut agar Pdt. John menghentikan ibadah di sana dan mengosongkan rumah itu.  Meskipun tubuhnya kecil, Pdt. John langsung menghadang orang-orang yang sedang mengamuk itu.  Dengan penuh keberanian yang hanya berasal dari Tuhan saja, John dengan keras berkata, “Dengar, anda tidak berhak menghentikan ibadah di sini.  Sekarang, pergi.  Nanti saya akan datang dan berbicara dengan anda setelah saya menyelesaikan khotbah saya.”  Dengan penuh kemarahan, orang-orang itu diam, dan keluar dari ruangan ibadah itu.

Tetapi itu bukan akhir dari serangan mereka.  Sekarang ini jemaat berkumpul di tempat yang berbeda-beda setiap minggunya, berusaha untuk menghindar dari perhatian dan juga gangguan dari pihak yang tidak suka.  Beberapa gereja tidak seberuntung itu dalam beberapa tahun belakangan ini, dimana kadangkala mereka harus menghadapi gangguan dan serangan dari ratusan dan bahkan ribuan orang ketika mereka sedang berkumpul untuk beribadah.  Tetapi John masih terus mengingat apa yang terjadi hari itu, dan bagaimana Tuhan menyertai dia ketika ia membuat orang banyak itu terbungkam.

 

DARI RERUNTUHAN INI

Ketika Pdt. John melihat kehancuran sebuah gereja Kristen pada tanggal 21 Maret itu, ia menolak cobaan untuk kehilangan iman.  Ia menggandeng tangan gembala yang melayani di gereja itu, lalu mengajaknya naik ke reruntuhan gereja yang sudah hancur itu, dan mengajak anggota jemaat untuk menaikan doa kenabian.  “Tuhan, kami percaya bahwa bahkan dari reruntuhan ini, Engkau akan membangkitkan sebuah gereja yang baru, yang lebih kuat daripada sebelumnya.”

Bagi Pdt. John, seorang yang sudah mengatasi berbagai macam halangan dalam pelayanannya kepada Tuhan, ia yakin bahwa hanya iman saja, dan bukan penganiayaan, yang pada akhirnya akan menang.

 


One of the Most Heartbreaking and Beautiful Dog Rescues Ever


Sang Janda yang Mengalahkan Ketakutan

Isteri Mahmoud yang paling muda, Aisha, tiba-tiba menjadi janda dengan empat orang anak ketika ia baru berusia empat tahun.  Aisha melihat bagaimana para petugas di klinik itu sudah menunjukkan kasih dan perhatian yang begitu besar kepada suaminya, bahkan meskipun sejak bertahun-tahun sebelumnya Mahmoud sudah begitu sering melontarkan kata-kata kutukan dan bahkan memimpin penolakan terhadap keberadaan klinik itu.  Di hari-hari akhir kehidupan Mahmoud, dia juga sudah menjadi seorang pengikut Kristus.  Setelah kematian suamnya, Aisha menjadi seorang saksi yang sangat giat untuk imannya yang baru itu.  Kerabat dan sahabat-sahabatnya yang Muslim tidak bisa menghentikan kesaksiannya.  Para pemimpin di daerah itu kemudian mulai memperhatikan apa yang dilakukan oleh Aisha.  Meskipun negaranya tidak pernah melakukan pemenjaraan terhadap perempuan,  namun polisi kemudian tetap menahan Aisha.

Di dalam penjara Aisha mendapatkan pengajaran dan juga ancaman untuk dikenai segala macam hukuman yang keras.   Orang-orang yang menangkapnya tidak meletakannya di dalam sel penjara yang sebenarnya, tetapi melemparkannya ke dalam sebuah gudang bawah tanah yang gelap dan lembab.  Di tempat itu sama sekali tidak ada lampunya.  Dan karena pembangunan gudang bawah tanah itu memang belum selesai, lantainyapun masih lantai tanah yang becek.  Labalaba,  serangga dan bahkan tikus berkeliaran di sana.

Ketika ada di dalam ketakutan, dan bahkan ketika ia merasa hampir menyerah karena tidak berdaya, ia menceritakan kepada kami bahwa ia bermaksud berseru kepada Allah bahwa ia sudah tidak sanggup lagi.  Tetapi ketika ia membuka mulutnya untuk berteriak dalam keputus-asaannya itu, yang keluar dari bibirnya justru sebuah pujian yang berasal dari dalam hatinya.  Bukannya berteriak-teriak ketakutan, Aisha justru menyanyi.  Karena terkejut dan sekaligus juga dikuatkan oleh suara nyanyiannya sendiri, dank arena ia sungguh-sungguh merasakan kehadiran Allah di dalam dirinya, ia kemudian mulai menyanyikan pujian dan penyembahan kepada Yesus dengan semakin keras.  Pada saat ia menyanyi, ia memperhatikan bahwa ruangan demi ruangan di dalam kantor polisi itu tiba-tiba menjadi sangat hening.

Malam harinya, pintu ruangan dimana ia ditahan tiba-tiba terbuka.  Seberkas cahaya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan bawah tanah itu.  Kepala Polisi masuk dan mengulurkan tangannya ke arah Aisha dan kemudian mengatakan, “Kami akan melepaskanmu dan membiarkan engkau pulang.”   “Jangan, tolonglah!”  Aisha membantah.  “Anda tidak bisa melakukan demikian!  Ini sudah lewat tengah malam.  Saya tidak boleh berada di luar rumah sendirian.”  Tentu saja, Kepala Polisi itu juga tahu bahwa bagi seorang perempuan, berada di luar rumah sendirian saja pada waktu malam demikian adalah perbuatan melanggar hukum.  Aisha berpikir bahwa Kepala Polisi itu mungkin mau menjebak dia, agar dia bisa terbukti melakukan pelanggaran demikian.  “Engkau tidak mengerti,”  kata Kepala Polisi kepadanya.  “Tidak ada yang perlu dikuatirkan.   Aku sendiri yang akan mengantarkan engkau pulang ke rumahmu…. tetapi dengan satu syarat.”

Aisha langsung curiga kepada maksud Kepala Polisi itu.  Tetapi ternyata Kepala Polisi itu sama sekali tidak bermaksud jahat kepadanya.

Sang Kepala Polisi, orang yang paling berkuasa di kota itu, memandang ke arah Aisha dan menggelengkan kepalanya.  “Aku sama sekali tidak bisa mengerti,” katanya, “Engkau sama sekali tidak takut kepada apapun.”

Ia menghela nafas dan kemudian menggelengkan kepalanya lagi, “Istriku, anak-anak perempuanku dan semua permpuan yang ada di dalam keluargaku, takut kepada semua hal. sesuatu.  Tetapi engkau sama sekali tidak takut kepada apapun.  Jadi sekarang, aku akan membawamu pulang dengan aman ke rumahnya.  Tiga hari lagi, aku mau agar engkau datang ke rumahku dan mengajarkan kepada semua perempuan di rumahku bagaimana caranya agar tidak merasa takut lagi.  Juga aku mau engkau menyanyikan lagi lagu yang tadi engkau nyanyikan itu.”

 

 

 


BELANDA: Dua orang Mantan Imam Dibaptiskan

 

Dua orang imam masjid sudah dibaptiskan dan sekarang menjadi pengikut Yesus.  Salah satunya adalah seorang pengungsi yang bekerja sebagai imam di sebuah masjid ketika ia masih berada di negara asalnya, Guinea di Afrika Barat.  Saat ini ia tinggal di sebuah kamp pengungsian di Amsterdam dimana Hannie van der Weerd, seorang anggota dari gereja Protestan 'Noorderkerk', memulai sebuah kelompok doa.  Kelompok doa ini berkembang dengan pesat dan juga menarik beberapa orang berlatar belakang Muslim menjadi anggotanya, termasuk sang mantan imam itu.  Ia bersaksi bahwa enam bulan yang lalu Yesus menampakkan diri kepadanya di dalam sebuah penghlihatan.  Hamba Tuhan dari gereja itu melakukan follow up dan membaptiskan imam itu dalam sebuah ibadah Minggu.  Sumber: Joel News.

 


↑ Back to Top