Blog / Pembunuhan Ka’b ibn Ashraf

Islam mengubah semua nilai. Islam adalah dunia yang berasal dari lubang kelinci. Segala sesuatunya bukan apa-apa karena segala sesuatunya adalah kebalikannya. Realita mengalami gangguan. Kebaikan adalah kejahatan, dan kejahatan itu ilahi. Kepalsuan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah kebencian. Pengetahuan adalah kebodohan, dan ketidaktahuan adalah hikmat. Pengkhianatan diagungkan. Sikap pengecut adalah heroik. Pembunuhan adalah kurban. Kejahatan adalah kekuatan, dan kasih adalah kelemahan. Orang Muslim menggunakan kosa kata yang sama yang anda gunakan, tetapi maksudnya sama sekali berbeda.

Ka’b adalah seorang Yahudi yang tampan, ibunya berasal dari Bani Nadir. Ia juga adalah seorang penyair. Ketika ia mendengar apa yang dilakukan Muhammad kepada para bangsawan Quraysh dan bagaimana ia melemparkan semua jenazah mereka ke dalam sumur, ia sangat terkejut. Ia mengatakan ini adalah hari dimana bagian bawah bumi lebih baik daripada permukaan bumi. Ia pergi ke Mekkah, mengarang sebuah syair pujian untuk para bangsawan yang terbunuh dan meratapi para sahabat lamanya, sambil berkeluh kesah dengan pahit tentang Muhammad.    

Ijinkan saya mengutip sebuah contoh syair Ka’b dan bagaimana orang Muslim menanggapinya. Keduanya menunjukkan cara berpikir kedua belah pihak. Syair itu menggambarkan dengan sangat jelas lebih dari yang dapat saya katakan tentang kurangnya empati dalam diri orang Muslim, dan sukacita mereka dalam membunuh kerabat mereka, yang adalah orang-orang tidak beriman. Ka’b menumpahkan dukacitanya dengan kata-kata sebagai berikut:

Pada peristiwa sepert Badr engkau akan meratap dan menangis.   

orang-orang terbaik dibantai di sekitar sumur mereka,

janganlah merasa aneh karena para pangeran ditinggalkan terbaring.

berapa banyak bangsawan yang tampan,

pengungsi yang tidak mempunyai rumah telah dibunuh.   

 

Hassan ibn Thabet merespon,

Merataplah ['Atika], karena engkau telah membuat budak jahat meratap,

Seperti anak anjing yang mengikuti pelacur cilik.

Allah telah memberi kepuasan kepada pemimpin kami.

dan untuk mempermalukan dan menekuk lutut orang-orang yang memeranginya.

Seorang wanita Muslim menambahkan:

 

Budak ini menunjukkan keprihatinan besar,

Tiada lelah meratapi yang terbunuh.

Kiranya mata yang meratapi yang terbunuh di Badr terus meratap,

dan semoga Lu'ayy Bani Ghalib meratap lebih banyak lagi!

Akankah mereka yang jatuh bangun dalam darah mereka,

dapat terlihat oleh mereka yang tinggal di antara gunung-gunung Mekkah!

tentu mereka akan tahu dan melihat, 

bagaimana mereka diseret dari rambut dan janggut mereka.   

 

Ka'b menjawabnya:        

Apakah engkau menghinaku karena aku menangis

untuk orang-orang yang sangat kukasihi?

Selama aku hidup aku akan meratap dan mengingat,

kebajikan-kebajikan orang-orang yang kemuliaannya ada dalam rumah-rumah Mekkah.

 

Namun demikian nabi hanya mempunyai sedikit kesabaran terhadap persaingan puitis seperti itu. Ia memanggil para pengikutnya dan berkata, “Siapakah yang akan menyingkirkan Ibn Ashraf bagiku?” Muhammad ibn Maslama berkata, “Aku akan mengurusnya bagimu, wahai rasul Allah, aku akan membunuhnya”. Ia berkata, “Lakukanlah itu jika engkau bisa”. Maka Muhammad ibn Maslama kembali dan menunggu selama 3 hari tanpa makan dan minum, menjauhkan diri dari apa yang menjadi kebutuhannya. Ketika rasul diberitahu mengenai hal ini, ia memanggilnya dan bertanya kepadanya mengapa ia tidak makan dan tidak minum. Ia menjawab bahwa ia (rasul) telah memberinya tugas dan ia tidak tahu apakah ia dapat melaksanakannya atau tidak. Rasul berkata, “yang harus kau lakukan adalah mencobanya”. Ia berkata, “Wahai rasul Allah, kita harus berdusta”. Ia menjawab, “katakanlah apa yang ingin kau katakan, karena dalam hal ini engkau bebas”. Kemudian ia dan Silkan ibn Salama yang adalah saudara angkat dari Ka’b [dan 3 orang lainnya] berkonspirasi bersama dan mengutus Silkan kepada musuh Allah, Ka’b ibn Ashraf, sebelum mereka mendatanginya. Ia berbicara kepadanya beberapa saat dan mereka saling berbalas pantun, karena Silkan sangat menyukai puisi. Kemudian ia berkata, “Wahai Ibn Ashraf, aku datang kepadamu untuk suatu perkara yang hendak kuberitahukan kepadamu dan hendaknya engkau merahasiakannya”. Ia menjawab, “Baiklah”. Silkan melanjutkan, “Kedatangan orang ini adalah cobaan besar bagi kita. Hal ini telah membangkitkan kekejaman orang Arab, dan mereka semua berkomplot melawan kita. Jalan-jalan tidak lagi dapat dilalui sehingga keluarga-keluarga kita mengalami kekurangan dan kemiskinan, dan kami beserta keluarga kami berada dalam kesusahan besar ”. Ka’b menjawab, “Demi Tuhan, aku terus mengatakan padamu, wahai Ibn Salama, bahwa hal-hal yang telah kuperingatkan kepadamu akan terjadi”. Silkan berkata kepadanya, “Aku ingin engkau menjual makanan kepada kami dan kami akan melindungimu. Aku mempunyai teman-teman yang berpendapat sama dan aku ingin membawa mereka kepadamu agar engkau dapat menjual kepada mereka dan bermurah hati, dan kami akan memberimu senjata yang cukup sebagai imbalan yang baik”.

Tujuan Silkan adalah agar ia tidak terkejut melihat senjata yang akan dibawa teman-temannya. Ka’b menjawab, “Senjata adalah imbalan yang baik”. Lalu Silkan kembali kepada teman-temannya, menceritakan pada mereka apa yang telah terjadi, dan kemudian memerintahkan mereka untuk membawa senjata mereka. Mereka pun pergi dan berkumpul dengannya dan menemui rasul. Rasul berjalan bersama mereka sejauh Baqiu’l-Gharqad. Kemudian ia mengutus mereka dan berkata, “Pergilah dalam nama Allah; kiranya Allah menolong mereka”. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya. Malam itu bulan purnama dan mereka berjalan hingga mereka tiba di istananya, dan Abu Na’ila (Silkan) memanggilnya. Ia baru saja menikah, dan ia melompat dan menyembunyikan diri dalam selimut, dan istrinya memegang salah satu ujung selimut itu dan berkata, “Engkau sedang berperang, dan orang-orang yang berperang tidak keluar pada jam ini”. Ia menjawab, “Itu adalah Abu Na’ila. Jika ia melihatku tidur, ia tidak akan membangunkanku”. Istrinya menjawab, “Demi Tuhan, aku dapat merasakan kejahatan dalam suaranya”. Ka’b menjawab, “Sekalipun panggilan itu adalah untuk sebuah tusukan, seorang yang pemberani harus menjawabnya”. Lalu ia turun dan berbicara dengan mereka untuk beberapa saat. Kemudian Abu Na’ila berkata, “Maukah engkau berjalan bersama kami ke Shi’b al-‘Ajuz, agar kita dapat berbincang sepanjang malam?” Ia menjawab, “Jika engkau suka”. Lalu mereka pergi berjalan bersama; dan setelah beberapa saat Abu Na’ila menyisir rambutnya dengan tangannya. Kemudian ia mencium tangannya dan berkata, “Belum pernah aku mencium bau yang sewangi ini”. Mereka terus berjalan dan ia kembali melakukan hal yang sama sehingga Ka’b tidak merasa curiga. Lalu setelah beberapa saat ia melakukannya untuk ketiga kalinya dan berteriak, “Tebaslah musuh Allah!” Lalu mereka menebasnya, dan pedang mereka tidak mengenai apa-apa. Muhammad ibn Maslama berkata, “Aku teringat akan belatiku ketika aku melihat pedang kami tidak berguna, dan aku mengeluarkannya. Sementara itu musuh Allah mengeluarkan suara nyaring sekali sehingga rumah-rumah di sekitar kami menyalakan lampu. Aku menusukkannya ke tubuhnya bagian bawah, kemudian aku terus menarikkan belatiku hingga kemaluannya, dan musuh Allah jatuh ke tanah”.[1]

Dalam pergulatan ini salah seorang pembunuh terluka oleh pedang temannya. Si pembunuh menjatuhkan tubuh Ka’b dan melarikan diri hingga mereka sampai di tempat yang aman. Teman mereka yang terluka terseok-seok di belakang, lemah karena kehilangan darah. Mereka menunggu sampai ia tiba dan dari sana mereka menggendongnya dan membawanya kepada Muhammad. Malam sudah hampir berlalu dan Muhammad tidak dapat tidur. Ia sedang berdiri untuk berdoa ketika mereka masuk ke mesjid. Ia bersukacita mendengar kabar pembunuhan Ka’b dan meludahi luka orang itu untuk menyembuhkannya dengan liurnya yang penuh mujizat. Para narator menambahkan, “Serangan kami terhadap musuh Allah menebar teror di antara orang Yahudi, dan tidak ada orang Yahudi di Medinah yang tidak takut akan nyawanya”.

Pelajaran dalam kisah ini adalah: jadilah pembohong, penipu, pengkhianat dan pengecut. Tetapi yang mengherankan adalah orang Muslim menafsirkan kisah ini dengan berbeda. Mereka melihat dalam diri mereka keberanian, dapat dipercayai, penyangkalan diri dan kesombongan. Ka’b ibn Malik berkata:

Oleh mereka Ka’’b tersungkur disana,

Dengan pedang di tangan kami merobohkannya.

Dengan perintah Muhammad diam-diam ia diutus pada malam hari,

 

Saudara Ka'b agar pergi menemui Ka'b.

Ia memperdayainya dan merobohkannya dengan tipuan,

Mahmud dapat dipercayai, berani.  

 

Hassan ibn Thabit, menyebutkan pembunuhan Ka’b dan Sallam ibn Abu’l-Huqayq, yang dilakukan secara licik (disebutkan di bawah ini) paralel dengan pembunuhan Ka’b, mengatakan: 

Berjalan di malam hari dengan pedang mereka,

kuat seperti singa di hutan sarang mereka.

hingga mereka mendatangimu di kediamanmu, 

dan membuatmu merasakan kematian dengan pedang mereka yang mematikan.

Mencari kemenangan bagi agama nabi mereka,

menganggap hidup dan kekayaan mereka sebagai hal yang sia-sia.  

 

Islam mengubah semua nilai. Islam adalah dunia yang berasal dari lubang kelinci. Segala sesuatunya bukan apa-apa karena segala sesuatunya adalah kebalikannya. Realita mengalami gangguan. Kebaikan adalah kejahatan, dan kejahatan itu ilahi. Kepalsuan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah kebencian. Pengetahuan adalah kebodohan, dan ketidaktahuan adalah hikmat. Pengkhianatan diagungkan. Sikap pengecut adalah heroik. Pembunuhan adalah kurban. Kejahatan adalah kekuatan, dan kasih adalah kelemahan. Orang Muslim menggunakan kosa kata yang sama yang anda gunakan, tetapi maksudnya sama sekali berbeda. Mereka tersenyum pada anda sambil berpikir bagaimana menikam anda dari belakang. Mereka mengatakan bahwa mereka mengasihi anda padahal mereka membenci anda. Mereka mengatakan bahwa mereka menghormati kebudayaan anda, agama dan cara hidup anda, namun mereka berjuang untuk menghancurkan semua itu. Mereka menipu anda sambil menganggap diri mereka adalah orang yang dapat dipercayai. Mereka adalah penjelmaan segala sesuatu yang jahat dan memproyeksikannya kepada anda, dan membenci anda untuk kejahatan mereka sendiri. Mereka memandang nabi mereka dan para sahabatnya yang adalah pembunuh sebagai teladan terbaik untuk diikuti – para salaf mereka, yang terbaik yang pernah diciptakan alam semesta.

 



[1] Ibn Ishaq, h. 367-368


Add a Comment
| 8
rianti
Reply| 25 Oct 2014 23:15:36
yang pasti adalah karena slimmers benar percaya kalau yang tertulis di quran adalah perkataan Tuhan. logis atau tak logis harus dipercaya, tidak sesuai hati nurani atau sesuai harus percaya juga. sesuai sejarah maupun tak sesuai sejarah harus juga percaya, yang kontradiksi, tetap dianggap baik2 saja.
ikben
Reply| 24 Oct 2014 23:06:02
Bila hendak mengetahui mujizat apa yang telah dilakukan muhammad, yaitu dimana ia membunuh pengkritik prilakunya dan para pengikutnya ternyata menganggap suatu perbuatan yang normal.
Mengapa ?. Sebab para muslimin/mah telah tersihir oleh muhammad sehingga tidak dapat lagi membedakan, apakah perbuatan muhammad dengan membunuh Ka’b ibn Ashraf itu adalah dosa atau tidak.

Mujizat muhammad adalah kehebatannya menyihir para muslimin/mah untuk tetap mengagungkannya sekalipun prilakunya tidak manusiawi.
John
Reply| 24 Oct 2014 15:50:53
untuk kepentingan pribadi Muhammad melakukan apa saja, dan di atas namakan allah swt.
Cempluk
Reply| 23 Oct 2014 23:50:07
one word...BIADAB
umar
Reply| 23 Oct 2014 19:36:56
Iblis berkata kepada allah swt untuk membuat manusia menganggap hal yang jahat menjadi baik dan diijinkan allah. Seperti itulah yang terjadi pada para muslim saat menilai dan menganggap semua kelakuan jahat dan amoral nabi muhammad tapi dianggap mulia dan teladan yang baik. Para teroris islam adalah cerminan apa yg pernah dilakukan muhammad karena mereka meneladani muhammad dan menjalankan perintah allah swt.

Musuh muhammad adalah musuh allah swt dan musuh allah adalah musuh muhammad karena allah swt adalah muhammad sendiri. Wahyu allah swt hanya keluardari mulut muhammad karenaallah swt adalah muhammad.
Seorang penyair yg meratapi kerbatnya yg dibantai dan mengecam tindakan kejam muhammad and the gang tidak luput dari kekejaman mereka karena musuh muhammad adalah musuh allah. Nama allah swt hanyalah kedok karena muhammad adalah allah swt.
Fetching more Comments...
↑ Back to Top