Blog / Islam Dan “Pembengkokkan Kebenaran”

Bila berkenaan dengan etika dan moralitas, umumnya orang akan meninggikan kebenaran diantara nilai-nilai lainnya yang mereka junjung. Hubungan Islam dengan kebenaran dan ketidakbenaran agak sedikit rumit namun setidaknya kita dapat mengatakan bahwa orang Muslim tidak diwajibkan untuk mengatakan kebenaran dalam semua keadaan dan bahwa tipu daya seringkali sangat dianjurkan. Ini karena Muhammad menganjurkan sistem etik dengan pertanyaan penuntunnya adalah: “Apakah yang akan mendatangkan kebaikan bagi Islam dalam keadaan ini?” Oleh karena itu, pertanyaan penuntunnya bukanlah “Apakah yang benar?” Oleh karena itu berdusta dan kebenaran yang separuh sangat diijinkan, terutama jika hal itu dikatakan kepada non Muslim, jika dapat melayani kepentingan Islam.

 

Prinsip menggunakan tipu daya untuk mendahulukan kepentingan Islam sangat ditekankan di dalam Quran. Teks-teks berikut ini membentuk dasar bagi doktrin taqiyya (tipu daya) sebagai bagian yang dapat diterima dalam moralitas Islam:

 

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” (Quran 16:106).

Ayat ini menetapkan prinsip bahwa seorang Muslim dapat berdusta bahwa ia Muslim jika ia percaya bahwa ia akan dicelakakan bila ketahuan dia Muslim. Dalam Quran 40:28[1]terdapat teladan seseorang yang menyembunyikan keyakinannya dengan cara demikian. Seperti yang akan kita lihat, prinsip ini diperluas dalam hadith hingga apa yang disebut sebagai tipu daya ofensif, mendapatkan kepercayaan orang dengan berpura-pura sebagai non Muslim dan kemudian menyakiti mereka.

 

“Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin” (Quran 9:3).

Ayat ini sangat sinis. Sumpah yang dilakukan dalam nama Allah dapat dengan mudah dibatalkan dengan menyatakan bahwa Allah dan Muhammad dibebaskan dari kewajiban terhadap orang-orang tidak beriman. Ini menetapkan prinsip bahwa perjanjian, sumpah dan janji hanya perlu dipenuhi jika menguntungkan orang Muslim. Jika keuntungan dapat diraih dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban semacam itu, kesempatan harus diambil untuk melkaukannya demi Islam. Lebih jauh lagi, orang Muslim dijamin bahwa Allah tidak akan “menghukum” mereka (Quran 2:225).

 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”  (Quran 3:28).

Inilah ayat terkenal dimana orang Muslim diperintahkan untuk tidak bersahabat dengan non Muslim. Namun demikian ada satu pengecualian penting. Mereka dapat bersahabat dengan non Muslim “kecuali karena siasat” sebagai saran untuk “memelihara diri” terhadap mereka. Teks ini ditafsirkan sebagai pengajaran bahwa orang Muslim diijinkan untuk berpura-pura bersahabat dengan non Muslim sebagai sarana untuk menyelamatkan posisi mereka sendiri dalam masyarakat.

 

Kesamaan semua ayat yang dikutip di atas adalah semua ayat tersebut mengajarkan orang Muslim bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang sudah bulat, namun kebohongan dan tipu daya kadangkala dapat digunakan demi keuntungan Islam. Konklusi ini dikonfirmasi kuat dalam hadith dimana banyak contoh orang Muslim dipuji karena tindakan-tindakan tipu daya mereka memperkuat tujuan Muslim. Beberapa diantaranya adalah:

 

Sahih Bukhari (52:269) mengutip Muhammad berkata “Perang adalah tipu daya”. Hadith berikut ini kemudian menunjukkan bagaimana prinsip menggunakan tipu daya dalam perang dapat diberlakukan. Sahih Bukhari (52:271) menjelaskan: “Nabi berkata, ‘Siapakah yang siap membunuh Ka’b bin Ashraf (yang adalah seorang Yahudi)?’ Muhammad bin Maslama menjawab, ‘Inginkah engkau agar aku membunuhnya?’ Nabi mengiyakan. Muhammad bin Maslam berkata, ‘Maka ijinkan aku mengatakan apa yang aku kehendaki’. Nabi mengiyakan”.

Perhatikan baik-baik apa yang terjadi disini: Salah seorang pengikut Muhammad meminta ijin untuk berdusta, dan ijin itu langsung diberikan. Apa yang terjadi selanjutnya diceritakan dalam Sahih Bukhari (53:369). Bin Maslama menemui orang yang diinginkan kematiannya oleh Muhammad dan berpura-pura seakan ia sangat tertipu oleh sang “nabi”. Dengan cara ini, ia mendapatkan kepercayaan orang itu dan diperbolehkan untuk memasuki lingkaran dalamnya. Setelah “persahabatan” tersebut terjalin erat, Maslama bertanya pada Ka’b apakah ia dapat mencium bau parfum di kepalanya, ini adalah sebuah tindakan yang hanya dapat dilakukan di antara dua sahabat karib. Dengan memercayai “sahabatnya”, Ka’b mengijinkannya dan seketika itu juga ia dibunuh! Sesungguhnya “perang adalah tipu daya”.

 

 

Muhammad mengijinkan para pengikutnya untuk membuat perjanjian damai berdasarkan informasi palsu. Prinsip ini dinyatakan dalam Sahih Bukhari 49:857 “Diriwayatkan Um Kulthum bint Uqba: Bahwa ia mendengar rasul Allah berkata, ‘Siapa yang berdamai dengan orang lain dengan menciptakan informasi yang baik atau mengatakan hal-hal yang baik, bukanlah seorang pendusta”.

 

Gagasan diperbolehkannya berdusta dalam keadaan tertentu tidak hanya diberlakukan dalam hubungan dengan non Muslim. Suami dan istri juga diperbolehkan untuk saling membohongi demi (keharmonisan) hubungan mereka. Tidak dijelaskan bagaimana tipu daya semacam ini dapat mendatangkan hasil yang baik: “Ibn Sihab berkata ia tidak mendengar bahwa pengecualian diberikan untuk dusta apapun yang diucapkan orang selain dari tiga kasus (keadaan): dalam perang, untuk membawa rekonsiliasi dan dalam perkataan suami kepada istrinya, dan perkataan istri kepada suaminya (berdusta agar terjadi rekonsiliasi di antara mereka)” (Sahih Muslim 33:3603).

 

Kutipan-kutipan dari teks-teks Islam yang diberikan di atas tentunya meninggalkan kesan bahwa relasi antara pengajaran Islam dan konsep kebenaran setidaknya dapat dikatakan rumit. Apa yang harus kita lakukan dengan agama yang mengklaim diri sebagai jalan kebajikan namun para pengikutnya dianjurkan untuk berdusta dan menipu untuk melayani kepentingan agama tersebut?

 

 



[1] QS Al Mumin 40:28 “Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu." Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.”

 

 


Add a Comment
| 1
Al mujarab
Reply| 29 Sep 2018 00:01:28
aliran tipuan.............ISLAM gitu low........!!!
Fetching more Comments...
↑ Back to Top