Martyrdom - Pahlawan Iman 122: Missionaris dan Orang-orang percaya di China – “Aku tidak takut kalau Tuhan menghendaki aku menderita kematian sebagai martir”

 

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur,
sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.
Mazmur 4:9

 

Pada masa pemberontakan Boxer yang terkenal di Cina, sepuluh orang missionaris dari Swedia dibunuh di dekat So-p’ing pada tanggal 29 Juni 1900 setelah para perusuh menjarah dan membakar rumah para missionaris itu.  Orang-orang Kristen Cina dan mereka yang bersahabat dengan para missionaris itu juga dilemparkan ke dalam api dan terbakar sampai mati. 

Di antara mereka yang meninggal di dalam peristiwa itu adalah Nathaniel Carleson, yang merupakan anggota paling senior dari kelompok missionaris itu; Ernst Peterson, missionaris yang termuda dan yang baru sebentar melayani di sana; dan seorang wanita Cina bersama dengan seorang anak perempuannya.  Salah satu dari wanita Swedia yang meninggal dunia, Mina Hedlund, sudah pernah menuliskan di dalam suratnya yang terakhir, “Aku tidak takut kalau Tuhan menghendaki aku menderita kematian sebagai martir.”

Keesokan harinya, missionaris Edith Searell dan Emily Whitchurch juga menjadi korban kekejaman pemberontak Boxer di Hiao-i, Shan-si.  Emily berangkat ke Cina pada tahun 1884 setelah ia mendengar seruan missi yang diucapkan oleh Hudson Taylor, pendiri dari China Inland Mission.  Edith, salah seorang missionaris pertama ke Cina dari Selandia Baru, bekerja berdampingan dengan Emily selama empat tahun.  Mereka melayani orang-orang Cina yang ditampung di rumah pengungsi untuk para pecandu opium.  Tentang Emily, salah seorang rekan sepelayanannya pernah mengatakan, “Tuhan sudah dengan penuh anugerah menerima dan memberkati pelayanan kasihnya, dan banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan, roh-roh jahat diusir, orang-orang sakit disembuhkan, pecandu opium dipulihkan, menjadi saksi bagaimana Tuhan penuh dengan kuasa dan bisa memakai seseorang yang menyerahkan hidup kepada-Nya.”

 

Dari sisi manusia maka semua manusia setara dalam hal tidak bisa menyelamatkan dirinya, dan bagi orang-orang yang hidupnya sudah aman bersama dengan Kristus di dalam Tuhan maka mereka menjadi setara dalam hal semuanya sudah diselamatkan!  Anak-anak-Nya akan diberi tempat pengungsian, dan tempat rahasia yang disiapkan oleh Yang Mahatinggi itu adalah “Tuhanku benteng yang teguh.”  Dan di dalam Dia kita aman sampai selama-lamanya.
Tulisan Edith Searell di dalam salah satu surat terakhirnya, yang dituliskannya dua hari sebelum ia menjadi martir di tahun 1900.


↑ Back to Top