Blog / Hari Ini Dalam Sejarah: Perang di Tours (Pertempuran Balat al-Syuhada)

Muhammad mempunyai sebuah sura dalam Quran yang menggambarkan bagaimana seharusnya properti hasil curian itu dibagi. Surah Anfal ditulis setelah perang Badr. Surah ini dimulai dengan mengatakan, يَسْأَلُونَكَ عَنْ الْأَنْفَالِ قُلْ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ , ”Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”(Qs Al Anfal 8:1)

Di sini Muhammad menjadikan pencipta jagat raya ini sebagai partner dalam kejahatan yang ia lakukan, dimana seseorang dengan otak yang ukurannya hanya sebesar otak kucing pastilah mengetahui bahwa Tuhan tidak memerlukan harta benda hasil jarahan sekelompok penyamun Arab. Seluruh harta jarahan itu akan menjadi milik Muhammad. Jika demikian, mengapa menajiskan nama Tuhan?

 

Ilustrasi Perang di Tours

 

Oleh: Alwi Alatas

Balat al-Syuhada, dikenal sebagai Pertempuran Tours atau Pertempuran Poitiers, terjadi antara pasukan Muslim dari Andalusia

 

Hidayatullah.com--KITA tak hanya harus belajar dari kemenangan dan keberhasilan. Kadang kita perlu belajar juga dari kekalahan. Karena dengan demikian kita akan memahami hal-hal yang menjadi penyebab kekalahan itu dan dapat menghindarinya pada masa-masa yang akan datang. Itulah di antara alasan mengapa kita mempelajari Sejarah.

Pada awal Ramadhan tahun 114 H (732 M), telah terjadi salah satu pertempuran yang paling menentukan sepanjang sejarah. Pertempuran itu terjadi di suatu tempat di Prancis, di antara kota Tours dan Poitiers, dan kemudian dikenal sebagai Balat al-Syuhada, pavements of martyrs. Paul K. Davis memasukkan peristiwa ini dalam daftar 100 Decisive Battles-nya. Sementara seorang penulis lain, Edward Creasy, memasukkan pertempuran ini dalam bukunya, Fifteen Decisive Battles of the World.

Kapan dikatakan sebuah pertempuran bersifat menentukan jalannya sejarah? Menurut Paul K. Davies (1999: xi), sebuah pertempuran dikatakan ’menentukan’ ketika memenuhi salah satu dari tiga kriteria berikut ini.

Pertama, pertempuran itu berdampak pada perubahan sosial politik yang sangat penting (brought about a major political or social change).
Kedua, sekiranya hasil dari pertempuran itu berbeda 180 derajat, maka akan terjadi perubahan besar-besaran secara politik dan sosial (had the outcome ... been reversed, major political or social changes would have ensued).
Ketiga, pertempuran tersebut menandai dimulainya perubahan penting dalam strategi perang (marks the introduction of a major change in warfare). Pertempuran yang tengah kita bicarakan ini, termasuk dalam kategori yang kedua.

Balat al-Syuhada, dalam sejarah juga dikenal sebagai Pertempuran Tours atau Pertempuran Poitiers, terjadi antara pasukan Muslim dari Andalusia yang dipimpin oleh Abdul Rahman al-Ghafiqi melawan pasukan Perancis yang dipimpin oleh Charles Martel. Pada pertempuran ini kaum Muslimin kalah dan Abdul Rahman sendiri turut gugur sebagai syuhada.

Muhammad Abdullah Enan dalam bukunya Decisive Moments in the History of Islam (1983: 43) menyebutkan betapa para ahli sejarah, terutama di Barat, berandai-andai bahwa sekiranya hasil dari pertempuran ini berbeda 180 derajat, yaitu kaum Muslimin menang dan pasukan Perancis kalah, maka ‘tidak akan ada lagi Eropa yang Kristen atau agama Kristen, dan Islam akan mendominasi Eropa.’

Ia juga mengutip pendapat Edward Gibbon yang mengatakan bahwa pada titik itu (di daerah antara Poitiers dan Tours, pen.) garis kemenangan kaum Muslimin telah mencapai 1000 mil ke Utara dihitung dari Gibraltar. Sekiranya mereka mampu meneruskan jarak kemenangannya dengan jumlah yang sama, maka mereka akan mampu mencapai Polandia dan Dataran Tinggi Skotlandia. Jika itu benar-benar terjadi, ‘barangkali tafsir al-Qur’an pada masa sekarang ini akan diajarkan di sekolah-sekolah Oxford, dan mimbar-mimbarnya mungkin menunjukkan pada orang yang bersunat akan kesucian dan kebenaran Wahyu Muhammad’ (1983: 48). Kemungkinan-kemungkinan inilah yang membuat para sejarawan memandang pertempuran ini sebagai decisive battle.

Enan sendiri dalam pengantar bukunya (1983: iv) memandang pertempuran ini sebagai salah satu dari dua pertempuran paling menentukan antara Islam dan Barat (the greatest decisive encounters of Islam and Christendom). Pertempuran yang satunya lagi adalah pengepungan Konstantinopel yang telah dimulai sejak 32 H (653 M). Kegagalan kaum Muslimin dalam dua pertempuran tersebut telah menunda, atau menghalangi, penetrasi Islam ke Eropa, masing-masing dari pintu masuk Timur dan Barat-nya.

Bagaimana jalannya Pertempuran Tours atau Poitiers ini sendiri? Dan apa yang menyebabkan kekalahan kaum Muslimin pada pertempuran tersebut? Kita akan melihatnya lebih jauh.

Pertempuran ini terjadi sekitar 20 tahun setelah masuknya Islam ke Andalusia di bawah kepemimpinan Tariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nusayr. Sejak awal sudah tampak keinginan para pemimpin Muslim ini untuk membuka lebih jauh wilayah Eropa. Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad sudah menyeberangi Pegunungan Pyrenees yang membatasi wilayah Spanyol dan Perancis untuk memasuki wilayah yang terakhir ini lebih jauh lagi dan, tidak tertutup kemungkinan, untuk mencapai Konstantinopel dari arah Barat (Eropa).

Namun ketika kedua tokoh ini baru menguasai beberapa bagian Selatan Perancis mereka dipanggil menghadap Khalifah di Damaskus. Sepeninggal Musa ibn Nusayr hingga ke masa Abdul Rahman al-Ghafiqi setidaknya ada lima orang lainnya yang ditunjuk oleh Damaskus untuk memimpin Andalusia (Reinaud, 1964). Sejak memasuki Andalusia, kekuatan kaum Muslimin terus merambah wilayah Selatan, Tengah, dan bahkan Utara Perancis (Davis, 1999: 103). Namun, laju penetrasi pasukan Muslim ke Perancis berjalan relatif lambat disebabkan ketidakstabilan politik di Andalusia pada masa itu.

Keadaan sosial dan politik menjadi lebih baik saat Abdul Rahman al-Ghafiqi ditunjuk untuk memimpin Andalusia. Kepemimpinannya yang baik dan adil membuatnya disukai oleh orang-orang yang dipimpinnya. Dalam membagikan pampasan perang, ia terbiasa mendahulukan kepentingan anggota pasukannya daripada kepentingannya sendiri. Ia juga merupakan seorang pemimpin yang saleh dan dikenal sebagai salah seorang sahabat Ibn Umar radhiyallahu ’anhu, salah seorang Sahabat Rasulullah shallallhu ’alaihi wasallam (Reinaud, 1964: 43; Alatas: 2007: 151).

Enan (1983: 45) menjelaskan bahwa al-Ghafiqi merupakan pemimpin dan administrator yang tangguh, seorang pembaharu yang antusias, seorang yang memiliki kebaikan dan kualitas yang ideal, serta memiliki rasa keadilan, kesabaran, dan relijiusitas yang tinggi. Secara umum Enan melihat sosok al-Ghafiqi sebagai pemimpin (Wali) Andalusia yang terbesar dan paling handal. Sejak era kepemimpinannya, menurut Reinaud (1964: 44), gubernur-gubernur yang tidak amanah diganti dengan orang-orang yang jujur. Orang-orang Islam dan Kristen diperlakukan secara adil, sesuai dengan perjanjian yang terjalin di antara mereka. Gereja-gereja yang dirobohkan secara semena-mena diperbaiki kembali. Demikian juga sebaliknya, gereja yang dibangun dengan cara korupsi, yaitu dengan cara menyogok penguasa setempat, diperintahkan untuk dirobohkan.

Al-Ghafiqi sangat waspada terhadap potensi konflik internal dan pemberontakan di Andalusia serta terhadap kemungkinan ancaman dari arah Utara. Oleh karena itu, ia segera mengirim pasukannya ke Utara, menyeberangi pegunungan Pyrenees, untuk memerangi salah satu gubernurnya di Perancis Selatan, Uthman ibn Abi Nis’ah, yang menentang kepemimpinannya dan bersekutu dengan penguasa Kristen di wilayah itu, yaitu Eudo, Duke of Acquitaine. Pasukan yang dikirim al-Ghafiqi berhasil menumpas perlawanan Ibn Abi Nis’ah. Al-ghafiqi sendiri kemudian menyusul ke Utara dengan pasukan yang kuat untuk menghadapi ancaman Duke Eudo dan pasukannya.

Al-Ghafiqi memasuki wilayah Perancis pada musim semi 732 M (awal 114 H), kurang lebih satu tahun setelah ia diangkat menjadi Wali Andalusia. Satu persatu wilayah Acquitaine berhasil diduduki pasukannya. Eudo berusaha menahan pasukan al-Ghafiqi di tepi Sungai Dordogne. Namun dalam pertempuran ini Eudo menderita kekalahan telak dan banyak anggota pasukannya yang mati di pertempuran itu. Al-Ghafiqi mengejar Eudo hingga ke ibukota kerajaannya di Burdal, Bordeaux, yang segera takluk ke tangannya setelah pengepungan singkat. Seluruh Acquitaine kemudian jatuh ke tangan Muslim. Sementara Eudo sendiri melarikan diri ke Utara, pasukan Muslim mulai memasuki wilayah Burgundi dan menaklukkan kota-kota seperti Lyon dan Besancon. Sebagian pasukan Muslim bahkan berhasil mencapai Sens yang terletak hanya seratus mil saja dari Paris. Pasukan al-Ghafiqi kemudian bergerak ke arah Barat hingga ke tepi Sungai Loire. Dari sana mereka bersiap untuk ke Utara menuju pusat Kerajaan Frank (Perancis) (Enan, 1983: 47-8).

Kerajaan Frank ketika itu dalam masa transisi antara Dinasti Merovingian dan Dinasti Carolingian. Walaupun secara resmi masih dipimpin oleh seorang raja Merovingian yang sudah tak lagi memiliki kekuasaan riil, Kerajaan Frank ketika itu secara efektif dikendalikan oleh Charles Martel. Kerajaan Frank pada masa itu, dan pada abad-abad setelahnya, dapat dikatakan sebagai kerajaan terkuat di Eropa Barat dan merupakan sekutu paling setia dari kepausan Katholik di Roma. Melihat gerakan pasukan Islam yang semakin berbahaya, Charles Martel menghimpun pasukannya. Eudo sendiri, yang merupakan saingan Charles Martel dan selama sekian lama berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat, kemudian datang dan meminta bantuan pada Charles Martel. Charles menyetujuinya dengan syarat Eudo akan terus loyal kepadanya.

Sementara itu, Pasukan Muslim telah mencapai daerah di antara Poitiers dan Tours. Mereka menyerang dan menguasai kedua kota itu. Tak lama setelah itu, di wilayah antara Poitiers dan Tours, pasukan Muslim mulai berhadapan dengan pasukan Frank yang dipimpin oleh Charles Martel. Laporan tentang jumlah pasukan Muslim beragam, antara 20.000 sampai 80.000. Sementara jumlah pasukan Frank dilaporkan secara beragam juga, ada yang menyatakan lebih sedikit dari pasukan Muslim dan ada yang yang menyebutkan angka yang lebih besar. Pasukan Frank kebanyakannya merupakan pasukan irregular, nyaris telanjang, dengan rambut ikal yang tergerai hingga ke bahu, serta mengenakan kulit serigala.

            Charles Martel

 

Pasukan yang dibawa al-Ghafiqi ketika itu merupakan pasukan terkuat dan terbesar yang pernah dibawa ke Perancis. Namun jumlah pasukan sudah agak berkurang setelah melalui berbagai pertempuran. Pada saat itu mereka juga menghadapi ujian yang cukup serius: harta! Sepanjang penaklukkan berbagai kota di Perancis, pasukan Muslim berhasil mengumpulkan banyak pampasan perang. Harta itu bisa menjadi kekuatan ekonomi bagi Muslim selepas perang. Tapi masalahnya perang belum selesai. Dan kini mereka justru sedang dihadapkan dengan kekuatan inti lawan.

Al-Ghafiqi mulai mengkhawatirkan keberadaan pampasan perang yang ada di tangan pasukannya. Ia khawatir perhatian pasukannya terpecah antara menghadapi musuh dengan menjaga pampasan perang agar tidak jatuh ke tangan musuh. Ia meminta agar sebagian pampasan perang itu ditinggalkan saja, tapi ia tidak mampu memaksakan hal ini karena khawatir anggota pasukan akan menentangnya di saat yang cukup genting tersebut.

Kedua pasukan tidak langsung bertempur. Mereka saling mengawasi selama kurang lebih seminggu. Kesempatan ini digunakan oleh pasukan Muslim untuk mengamankan harta yang telah mereka kumpulkan agak jauh ke Selatan. Akhirnya pertempuran bermula pada tanggal 12 atau 13 Oktober 732 (akhir Sha’ban 114). Selama tujuh hingga delapan hari berikutnya kedua pasukan terlibat dalam pertempuran kecil. Kemudian pada hari kesembilan mereka memasuki pertempuran besar yang melibatkan seluruh anggota pasukan. Mereka bertempur hingga malam hari tanpa ada pihak yang menang.

Pada hari kesepuluh kedua belah pihak saling menyerang lebih keras lagi. Kubu Perancis memperlihatkan strategi pertahanan yang kokoh dan menyulitkan kaum Muslimin untuk menyerang. Enan menyebutkan bahwa pasukan Perancis pada akhirnya mulai kelelahan dan tanda-tanda kemenangan mulai berpihak kepada pasukan Muslim. Tapi sayangnya banyak di antara anggota pasukan Muslim yang terlalu khawatir akan jatuhnya pampasan perang ke tangan musuh. Sehingga ketika mereka mendengar seruan dari tempat penjagaan harta bahwa musuh mulai melakukan penetrasi ke tempat itu, konsentrasi pasukan Muslim menjadi terpecah. Banyak di antara mereka yang meninggalkan tempatnya dan menuju tempat harta pampasan perang berada. Hal ini menimbulkan kekacauan di dalam barisan Muslim dan membuka peluang bagi musuh.

Al-Ghafiqi berusaha untuk mengembalikan pasukannya pada posisi mereka semula. Tapi semuanya sudah terlambat. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, ia terkena anak panah yang dilontarkan musuh. Ia terjatuh dari kudanya dan mati syahid. Keadaan menjadi semakin kacau dan musuh berhasil mendesak pasukan Muslim. Walaupun mendapat pukulan bertubi-tubi dan banyak korban yang gugur, kaum Muslimin masih bisa mempertahankan posisi mereka hingga pertempuran dihentikan pada hari itu. Kedua belah pihak kembali ke posisi masing-masing dan bersiap-siap menyongsong pertempuran baru keesokan harinya. Namun pasukan Muslim tidak bersiap untuk menyongsong pertempuran baru. Mereka menyadari bahwa mereka sudah kalah dan pemimpin mereka sudah gugur. Maka secara diam-diam mereka memutuskan untuk mundur pada malam harinya dan meninggalkan semua pampasan perang yang sejak awal berusaha mereka jaga.

Keesokan paginya pasukan Frank merasa heran dengan kesunyian di kubu Muslim. Mereka kemudian menyadari bahwa lawan mereka sudah pergi meninggalkan pertempuran. Charles Martel dan pasukannya merasa cukup dengan hasil pertempuran itu dan tidak merasa perlu untuk mengejar pasukan Muslim. Mereka mengambil harta pampasan perang yang ditinggalkan pasukan Muslim dan kemudian kembali pulang (Enan, 1983: 56-9; Davis, 1999: 104-6).

Peristiwa itu kemudian dikenal dalam Sejarah Islam sebagai Balat al-Syuhada’ atau Dataran Syuhada. Para Sejarawan hanya bisa berandai-andai atas apa yang akan terjadi sekiranya pertempuran itu dimenangkan oleh pasukan Muslim. Bagaimana keadaan Eropa setelah itu sekiranya Kerajaan Frank dan seluruh wilayah Perancis jatuh ke tangan Muslim? Akankah Paris, dan mungkin juga setelah itu London, dan berbagai kota penting Eropa lainnya, menjadi pusat-pusat kebudayaan Islam?

Tapi kita tidak perlu berandai-andai. Semuanya sudah ditetapkan Allah dan ketetapan Allah adalah yang terbaik. Kita hanya perlu belajar dari Sejarah, bahwa adakalanya bukan musuh yang kuat yang mampu menaklukkan dan mengalahkan kita. Kita hanya perlu belajar bahwa adakalanya, atau malah seringkali, yang membuat kita takluk dan kalah justru ketidakmampuan kita sendiri dalam mengontrol hawa nafsu yang bersumber pada kecintaan yang berlebihan terhadap harta duniawi. Wallahu a’lam bis showab. [Jakarta, 25 Ramadhan 1431/ 4 September 2010]

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

 

Sumber: Hidayatullah.com


Add a Comment
| 14
kebenaransejati
Reply| 19 Nov 2013 20:55:12
Mengapa harus SALING MEMBUNUH ????
KASIH itu tidak melihat Agama, suku, Ras dan Perbedaan. KASIH itu tanpa PAMRIH............................KASIH itu tidak hanya untuk golongan sendiri. KASIH itu tidak membedakan KAWAN maupun LAWAN.

KASIH pasti LEMAH LEMBUT, KASIH pasti MEMAAFKAN, KASIH pasti MURAH HATI, KASIH MU TUHAN. Ajarilah kami ini SALING MENGASIHI. Ajarilah kami ini SALING MENGAMPUNI. Ajarilah kami ini KASIHMU YA TUHAN..................Marilah kita sesama manusia SALING MENGASIHI seperti apa yang diajarkan oleh ALLAH yang benar.
Cempluk
Reply| 19 Oct 2013 12:10:46
makanya waktu kontes otak pemenangnya otak yahudi dan otak muslim...

otak yahudi menang karena terbukti pintar, banyak penemuan dilakukan orang yahudi...(yang lain juga sih tapi yang kafir doang...)

otak muslim menang karena terbukti original alias masih asli, alias gak pernah dipake...
hahahaah
Reply| 16 Oct 2013 17:37:39
@acepe : kyk gini ni tipe muslim, otak nya ga pernah di pake. blanda menjajah indo slama 350 tahun. klo memang fokus utama belanda saat menjajah indo adalah untuk menyebarkan kekristenan, indonesia sudah menjadi negra kristen terbesar di asia. 350 tahun adalah waktu yg cukup lama untuk mengkristen kan indo. tapi liat apa agama terbesar indo skarang? islam. apa agama terbesar indo sebelum islam masuk k indo? hindu. jai islam lah yg menjajah indo maka nya indo ga pernah maju2 sampe sekarang. bahkan kerajaan2 besar di indo yg beraliran hindu/budha hancur krn penyusupan ajaran islam.
lilin
Reply| 16 Oct 2013 13:51:18
@acepe
wrote:
makanya ente belajar sejarah lagi, belanda jajah indonesia buat isi kas gereja wkwkwkwk,

respon:
anda itu orang yg bicara tanpa bukti yang bisa dipertanggungjawbkan, kelihatan bohongya. berikan bukti/data kl belanda jajah indonesia buat isi kas gereja. jika anda tidak bisa memberikan bukti dan sumber buktinya, berarti anda memang pembohong besar....

@acepe
wrote:
inget tuh dasar PANCASILA dari Soekarno awalnya apa sila pertamanya, ada kata2 "menjalankan syariat Islam", kalo sekarang menuntut wajar dunk, lihat juga di pembukaan UUD "atas berkat rahmat Allah", sejarah sering bolos ya xixixixiixi

respon:
wajar anda bilang? emangnya indonesia merdeka cm orang islam yang berjuang? kan orang2 beragama lainnya jg ikut berjuang. anda cm orang yang berpikiran sempit...
acepe
Reply| 16 Oct 2013 09:01:42
@kaoskaki
makanya ente belajar sejarah lagi, belanda jajah indonesia buat isi kas gereja wkwkwkwk, inget tuh dasar PANCASILA dari Soekarno awalnya apa sila pertamanya, ada kata2 "menjalankan syariat Islam", kalo sekarang menuntut wajar dunk, lihat juga di pembukaan UUD "atas berkat rahmat Allah", sejarah sering bolos ya xixixixiixi
Cempluk
Reply| 16 Oct 2013 08:07:02
@ acepe
hehehe yang pada komen kayak ga pernah jadi rakyat indonesia saja, bro kita dijajah belanda dan sekutunya karena misi GEREJA... wkwkwk lempar tangan sembunyi kaki sih lo pade xixixixixi

cempluk bilang:

hehehe....bang acepe gak pernah sekolah ya kok bilang kita dijajah belanda karena misi gereja...
hehehe...makanya belajar lagi bang....
kosaki
Reply| 16 Oct 2013 07:08:07
@acepe
Belajar sejarah lagi ya....sejak kapan Gereja menganjurkan penjajahan?? Nah kalau di Islam ada tuh atas nama jihad, buktinya penyerangan agresi ke Eropa, mesir dan kawasan asia kecil lainnya. Lihat aja sejarah Spanyol yang dijajah oleh Arab, Konstantinopel yang diserang juga sehingga mematikan jalur perdagangan (perdagangan berhenti mungkin karena banyak pedagang yang dirampas sama jihadis). Sekarang kamu lihat kondisi negeri ini, dasar negara ialah PANCASILA, jadi kan banyak tuh yang makar hendak mengganti Pancasila dengan kekhalifaan mencontek bangsa Arab, nah justru mereka ini yang patut ditanyakan nilai-nilai nasionalismenya
acepe
Reply| 15 Oct 2013 22:05:41
hehehe yang pada komen kayak ga pernah jadi rakyat indonesia saja, bro kita dijajah belanda dan sekutunya karena misi GEREJA... wkwkwk lempar tangan sembunyi kaki sih lo pade xixixixixi
Ronz
Reply| 15 Oct 2013 18:15:39
@kosaki
Jadi intinya dari dulu sampai sekarang sebenarnya jihad lebih mengarah kepada motif ekonomi....perampasan dan perampokan
======================================================
Tepat sekali..coba klo Muhammad dulu ga pke nge-janjikan "hadiah2" itu, ga bakalan ada istilah Jihad..karena xg mereka pikirkan bkn hal2 surgawi..mereka rela mati krn d surga pun mereka di-imingi bidadari2 cantiq dan Anggur..
jakakentir
Reply| 15 Oct 2013 02:03:06
We are Against Hate, Not Faith
ini pasti tulisan propaganda sejarah buatan CIA dan Yahudi, (mark wolford mode ON )
hahahahah.....
kosaki
Reply| 14 Oct 2013 22:17:03
Jadi intinya dari dulu sampai sekarang sebenarnya jihad lebih mengarah kepada motif ekonomi....perampasan dan perampokan
Ronz
Reply| 14 Oct 2013 20:10:50
Tapi kita tidak perlu berandai-andai. Semuanya sudah ditetapkan Allah dan ketetapan Allah adalah yang terbaik. Kita hanya perlu belajar dari Sejarah, bahwa adakalanya bukan musuh yang kuat yang mampu menaklukkan dan mengalahkan kita. Kita hanya perlu belajar bahwa adakalanya, atau malah seringkali, yang membuat kita takluk dan kalah justru ketidakmampuan kita sendiri dalam mengontrol hawa nafsu yang bersumber pada kecintaan yang berlebihan terhadap harta duniawi.
======================================================
Entah si penulis ini tahu atau tidak tahu bahwa Muhammad lah yg pertama kali meng-iming2i pengikutnya dengan harta rampasan (fa'i), bahkan istri2 dan anak2 dari korban perang di jadikan hasil rampasan perang sebagai budak sex dan dagangan.
Tentu bagi pengikut2 Muhammad yg tidak bermoral dan berotak itu merupakan ajakan yg menggiurkan, krn jika menang perang akan mendapatkan harta dan wanita sebagai kepuasan mereka.
Itulah knp mereka rela saling membunuh bahkan dari keluarganya sendiri krn iming2 itu, dan bahkan rela mati syahid krn sdh ada bidadari cantik yg menunggu di surga.
Jelas bukan niatan Sorgawi xg mereka kejar, tapi kepuasan duniawi.
nabi sange
Reply| 13 Oct 2013 22:49:15
Dari waktu ke waktu, sejak Islam disebarkan dengan kekerasan, jihadis tak lebih dari gerombolan perampok dengan menggunakan Allah dan Islam sebagai senjata yang ampuh dan menempatkan Baginda Rosul sebagai the great great god father.
Emang Benar
Reply| 13 Oct 2013 22:10:47
Pasukan jihad tak lebih dari sekelompok penyamun!

tx utk artikel yg mencerahkan
Fetching more Comments...
↑ Back to Top