Blog / Irak Siap Melegalisasi Pernikahan Gadis Usia 9 Tahun

Diriwayatkan Aisha, Ummul Mu’minin:

Rasul Allah (saw) menikahiku tatkala aku berumur 7 atau 6 tahun. Ketika kami sampai di Medina, beberapa perempuan datang. (versi Bishr: Umm Ruman datang kepadaku ketika aku sedang main ayunan. Mereka mengambilku, mempersiapkan dan menghiasiku. Lalu aku dibawa kepada Rasul Allah (saw), dan dia menyetubuhiku ketika aku berumur 9 tahun. Dia menghentikanku di pintu, dan aku tertawa terbahak-bahak

(Sunan Abu Dawud, Buku 41, Nomor 4915, juga No.4916 dan 4917)

 

Pernikahan anak usia dini di tahun 1970-an, disebut “fasliyah” – adalah terlarang di Irak ketika negara ini berkembang menuju sekularisasi dan modernisasi.

“Aturan yang melarang fasliyah ini kini akan dihapuskan”, demikian laporan Al-Monitor, sebuah surat kabar Timur Tengah

Beberapa tahun lalu, angka pernikahan anak mengalami kemunduran. Misalnya tahun 1997, hanya 15 persen dari perempuan Irak yang menikah ketika masih anak-anak, demikian yang dilaporkan oleh Kantor Pusat Statistik setempat. Angka yang sama juga berlaku di tahun 2004.

Tapi ketika negara ini memasuki masa-masa kelam oleh karena Perang Irak, maka tradisinya pun mulai berubah, termasuk pernikahan anak usia dini.

Tahun 2007, Al Monitor melaporkan, ada 21 persen perempuan muda Irak yang menikah ketika masih anak. Enam tahun kemudian, Biro Referensi Populasi menyampaikan bahwa “kemunduran angka pernikahan anak-anak di Irak sama sekali telah berhenti”.

Kenyataannya, statistiknya berkembang sangat pesat.

Persentase wanita di negara-negara Timur Tengah usia 20-24, yang menikah sebelum mereka berusia 18 tahun

 

Pertengahan tahun 2013, lebih dari seperempat kaum wanita menikah ketika masih anak, dan ada 5 persen yang menikah sebelum usia 15. Angka pernikahan anak usia dini yang sangat tinggi ini menempatkan Irak sebagai negara dengan angka pernikahan anak tertinggi di seluruh Timur Tengah.

"Nabi Muhammad pun mempraktikkannya (menikahi gadis sebelum gadis itu mengalami menstruasi), itu bukanlah pelecehan atau eksploitasi, itu adalah sebuah pernikahan." (Dr Billal Phillips, Imam Inggris)

 

Kini, pemerintah Irak telah menyiapkan draft undang-undang yang akan mengijinkan pernikahan anak bagi populasi Muslim Syiah yang menjadi mayoritas di negara ini. Undang-undang ini, yang sejumlah orang memperkirakan akan mulai diberlakukan sebelum pemilihan parlemen bulan ini, akan memberikan dampak yang sangat signifikan.

Disebut Hukum Status Personal Jaafari, undang-undang ini akan melarang pria Muslim untuk menikahi non-Muslim, mencegah perempuan Muslim untuk meninggalkan rumah tanpa ijin suami, secara otomatis akan memberikan hak asuh kepada ayahnya, pada anak usia di atas 2 tahun apabila sepasang suami-isteri bercerai, dan melegalisir perkosaan dalam pernikahan.

Hukum ini, yang para pendukungnya mengatakan akan menyelamatkan “hak-hak dan martabat” kaum wanita, juga mengijinkan pria muda/remaja untuk menikah di usia 15 tahun, serta menikahi gadis usia 9 tahun. Gadis-gadis yang berusia sebelum 9 tahun diijinkan untuk menikah dengan ijin orangtua mereka.  

Ayad Allawi, mantan perdana menteri Irak, mengekspresikan kegeramannya minggu ini dalam sebuah wawancara dengan Telegraph. Ia mengatakan bahwa hukum ini akan melegalisir pelecehan terhadap kaum wanita.

Draft undang-undang ini, yang diperkenalkan di akhir tahun lalu, juga telah dikecam oleh kelompok-kelompok hak-hak asasi internasional.

Washington Post.com

 


Add a Comment
| 7
BudaS
Reply| 20 Apr 2014 11:18:29
"Quote
perdana mengatakan: Karena bukan orang Irak mungkin saya tak bisa comment banyak..."

@ perdana
Bung, ini bukan soal urusan dalam negeri bangsa lain, ini soal etika moral manusia yang berlaku universal.

Bayangkan anak gadis anda yg msh di kelas 4 SD dinikahkan lalu ditiduri oleh pria dewasa. Bayangkan ekspresi wajah anak gadis anda saat detik-detik penis pria dewasa memasuki lubang vagina anak gadis anda yang masih kecil dan suci. Apakah anak gadis anda akan mendesis kenikmatan atau akan merasa kesakitan? Apakah anda akan merasa bahagia jika membayangkan hal-hal tsb?

Jika anda tidak merasa tersentuh, bergidik atau ngeri akan hal tsb saya tidak tahu anda termasuk jenis makhluk apa. Asal anda tahu anjing jantan dewasa tidak mengawini anak anjing betina.

Jika masjidil aqsa di Yerusalem direbut Israel dengan alasan sejarah dan fakta bahwa Israel ingin mengambil kembali harta peninggalan leluhur mereka, apakah (jika anda muslim) tidak akan terusik rasa solidaritas keislaman dan anda akan bersikap apatis sambil mengatakan kalau itu adalah bukan urusan saya karena itu urusan konflik dalam negeri mereka?
Daviel
Reply| 15 Apr 2014 23:53:11
@ikben


2 jempol untuk mas bro ikben....
nabi sange
Reply| 14 Apr 2014 08:05:33
@ikben
Terima kasih untuk pencerahannya.
ikben
Reply| 12 Apr 2014 23:49:24
Bung nabi sange, karakter seseorang terbentuk oleh ajaran orang tua, lingkungan sekolah, pergaulan dan pendidikan formal maupun non-formal. Bila seseorang menerima ajaran dan didikan yang menganggap prilaku pedofil bukan suatu masalah besar, maka orang tersebut akan menerima (tanpa sadar) sebagai hal yang wajar. Maka dalam hal demikian dapat dikatakan tertular.

Bila anda percaya akan roh, maka pedofil dapat juga dikatakan sebagai roh pedofil, sama seperti yang sering didengar tentang adanya roh ketakutan, roh perzinahan dst.
Kapan seseorang terkontaminasi dengan roh-roh tersebut ?. Bila Roh Allah yang Mahakuasa tidak berdaulat dalam kehidupan orang tersebut.
nabi sange
Reply| 12 Apr 2014 22:45:55
Saya tidak habis fikir apakah pedofil merupakan penyakit menular? Ataukah muslim ingin mengikuti teladan Muhammad yang pedofil? Atau apa?
perdana
Reply| 12 Apr 2014 20:12:22
Karena bukan orang Irak mungkin saya tak bisa comment banyak, hanya berharap semoga kebijakan itu bisa membantu modernisasi, memajukan peradaban dan memakmurkan bangsa Irak.OK
Si momad69Aisha
Reply| 12 Apr 2014 12:39:46
"Guru kencing berdiri, murid kencing berlari."; "Nabi tokoh pedophile, muslimin ... "apalagi"

Alhayat ------------> "jangan ditanya"
Fetching more Comments...
↑ Back to Top