Blog / Muhammad Menerima Wahyu

Ketika Muhammad memberitahu Khadijah, “Khadijah, aku pikir aku telah menjadi gila,” instingnya untuk melindungi si narsisis yang sedang membutuhkan langsung tergerak. Seorang yang menderita ‘inverted narcissism’ bergantung kepada pendamping narsisisnya untuk memenuhi kebutuhan narsistiknya. Ia mengupayakan kehebatannya dalam bayangan pendamping narsisisnya. Khadijah dihadapkan kepada dua pilihan: Mengakui bahwa pendamping narsisisnya telah menjadi gila dan menghadapi ejekan orang-orang yang mencemooh dirinya ketika ia menikah dengan Muhammad atau mendukung halusinasinya dan mendorongnya untuk merintis karir kenabian. Pilihan pertama berarti dipermalukan di depan publik dan pilihan kedua berarti kemuliaan. Pilihan yang sangat jelas baginya. Inverted narcissism adalah kebalikan dari narsisis. Pegangannya terhadap realita sama rapuhnya dengan orang yang narsisis.

Gua Hira

Suatu malam, saat tidur di gua Hira, Muhammad mengalami hal yang aneh. Ia merasakan sakit di bagian rusuknya, seolah-olah seseorang telah menendangnya. Ia terbangun dan tidak melihat siapa pun. Ia mencoba untuk tidur lagi dan kembali merasa seseorang menendang bagian rusuknya, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hal ini terjadi tiga kali, hingga ia melihat sebuah penampakan cahaya putih dan di dalam cahaya itu berdiri sesosok manusia. Kata Rasulullah,  “Ia mendatangiku saat aku tidur, dengan selimut brokat yang di atasnya terdapat tulisan, dan berkata, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ Ia membekapku dengan selimut itu untuk ketiga kalinya sampai aku berpikir ini adalah kematian dan ia berkata lagi, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ – dan aku mengatakan ini hanya demi menyelamatkan diriku darinya, jangan-jangan ia akan melakukan hal yang sama lagi terhadapku. Ia berkata:

‘Baca dalam nama Allahmu yang menciptakan,

Yang menciptakan manusia dari gumpalan darah,

Baca! Allahmu adalah yang paling dermawan,

Yang mengajar dengan pena,

Mengajarkan apa yang tidak diketahui manusia’”.[1]

 

Sulit untuk dipercaya bahwa Tuhan akan berkomunikasi dengan para nabiNya dengan cara yang lucu seperti ini. Apa yang dialami Muhammad adalah contoh khas kejang yang disebabkan oleh epilepsi lobus temporal.

Muhammad tertegun. Ia melihat ke kiri dan ke kanan dan kemanapun ia menoleh ia melihat Jibril berdiri di depannya. Itu adalah petunjuk yang jelas bahwa sosok yang ia lihat hanya ada di dalam kepalanya, bukan di luar dirinya. Itu adalah bagian dari imajinasinya. Kita tidak bisa memiliki bukti yang lebih baik lagi bahwa apa yang ia alami adalah halusinasi.

Muhammad berpikir ia telah kerasukan setan, atau kerasukan roh penyair. Untuk alasan tertentu, ia membenci para penyair. Ia berkata, “Lebih baik perut kalian dijejali dengan nanah, daripada menjejali (pikiran seseorang) dengan puisi.”[2] Ia berkata, “Tidak ada makhluk Allah yang lebih membenci aku daripada penyair atau orang kesurupan. Aku bahkan tidak bisa memandang mereka. Aku berpikir, celakalah jika aku ini penyair atau orang yang kesurupan? Orang Quraisy tidak akan pernah mengatakan hal ini kepadaku! Aku akan pergi ke puncak bukit dan menjatuhkan diriku ke bawah supaya aku terbunuh dan dapat beristirahat dengan tenang. Jadi aku berangkat untuk melaksanakannya dan kemudian, saat aku di tengah perjalanan menuju puncak bukit, aku mendengar suara dari langit berkata, ‘O Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.’ Aku mendongakkan kepalaku ke arah langit untuk melihat (siapa yang berbicara), dan sesungguhnya, Jibril dalam wujud manusia dengan kaki mengangkang di cakrawala berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.”[3]

Ilustrasi: usaha bunuh diri ala Muhammad

Muhammad pulang ke rumah dengan ketakutan dan gemetar. “Aku mendatangi Khadijah dan duduk di pangkuannya dan merapatkan diriku padanya.”[4] Ia kemudian menceritakan pengalamannya. “Lindungi aku, lindungi aku,” ia memohon isterinya. Cobalah untuk membayangkan Muhammad, pria berusia empat puluh tahun, duduk di pangkuan Khadijah, seperti seorang balita, dan Khadijah berusaha menenangkannya.

“Puer Aeternus,” kata Sam Vaknin, “remaja abadi, Peter Pan yang abadi, adalah fenomena yang sering dikaitkan dengan narsisme patologis. Orang-orang yang menolak untuk menjadi dewasa memberi kesan kepada orang lain sebagai orang yang egois dan penyendiri, suka merajuk dan bandel, congkak dan penuntut – singkatnya: seperti anak kecil atau kekanak-kanakan. Orang narsisistik adalah orang dewasa parsial. Ia berusaha menghindari kedewasaan. Beberapa narsisis bahkan kadang-kadang menggunakan nada suara kekanak-kanakan dan meniru bahasa tubuh balita. Mereka menolak atau menghindari tugas-tugas dan fungsi orang dewasa. Mereka tidak mau berusaha menguasai ketrampilan orang dewasa atau pendidikan formal orang dewasa. Mereka melemparkan tanggungjawab orang dewasa kepada orang lain, termasuk dan khususnya kepada orang-orang terdekat dan terkasih mereka. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak pernah menikah, tidak pernah membesarkan anak-anak, menyembunyikan asal-usul, tidak memelihara persahabatan yang sejati atau hubungan yang bermakna.”[5]

Semua ini cocok dengan Muhammad, kecuali bahwa ia menikah, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Tetapi apakah itu benar-benar pernikahan? Hubungannya dengan Khadijah adalah hubungan ibu dan anak. Ia tidak pernah berfungsi sebagai seorang pria – seorang pencari nafkah, seorang pelindung. Ia tidak pernah memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami atau ayah. Ia bukan anggota masyarakat yang aktif. Ia tinggal sebagai seorang penyendiri di gua. Dan setelah Khadijah wafat, ia menjadi kumbang seksual, menikahi atau hanya bersetubuh dengan sejumlah wanita, tanpa ikatan pernikahan yang sebenarnya dengan mereka. Bagaimana seorang pria berusia limapuluhan bisa menciptakan hubungan pernikahan yang berarti dengan wanita yang seharusnya menjadi anaknya atau bahkan cucunya? Tak satupun hubungan Muhammad yang sesuai dengan definisi pernikahan, yang merupakan kemitraan dari dua orang yang sepadan. Para isteri dan gundiknya hanyalah sekedar objek untuk dinikmati, mainan untuk dimainkan atau sebagaimana ditekankan oleh orang Muslim, sebagai pion dalam langkah politiknya.

Ketika Muhammad memberitahu Khadijah, “Khadijah, aku pikir aku telah menjadi gila,”[6] instingnya untuk melindungi si narsisis yang sedang membutuhkan langsung tergerak. Seorang yang menderita ‘inverted narcissism’ bergantung kepada pendamping narsisisnya untuk memenuhi kebutuhan narsistiknya. Ia mengupayakan kehebatannya dalam bayangan pendamping narsisisnya. Khadijah dihadapkan kepada dua pilihan: Mengakui bahwa pendamping narsisisnya telah menjadi gila dan menghadapi ejekan orang-orang yang mencemooh dirinya ketika ia menikah dengan Muhammad atau mendukung halusinasinya dan mendorongnya untuk merintis karir kenabian. Pilihan pertama berarti dipermalukan di depan publik dan pilihan kedua berarti kemuliaan. Pilihan yang sangat jelas baginya. Inverted narcissism adalah kebalikan dari narsisis. Pegangannya terhadap realita sama rapuhnya dengan orang yang narsisis.

Jika Khadijah adalah wanita normal, ia tentu akan terkejut dan akan meminta bantuan. Ia tentu akan memanggil pengusir setan atau tabib untuk menyembuhkan suaminya. Sesungguhnya jika ia memang normal ia tidak akan pernah menikahi Muhammad. Tetapi sebagai penderita ‘inverted narcissism’, ia meyakinkan Muhammad bahwa ia telah menjadi seorang nabi. Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hal itu wahai Abul Qasim. Allah tidak akan memperlakukan engkau demikian sebab ia tahu tentang kejujuranmu, kau sungguh dapat dipercaya, karaktermu yang baik, dan kebaikanmu. Hal ini tidak mungkin, sayangku. Bersukacitalah, dan berbesar hatilah. Sesungguhnya demi dia yang memegang jiwaku, aku memiliki harapan bahwa engkau akan menjadi nabi bagi orang-orang ini.”[7]

Hadis mengatakan bahwa Khadijah berangkat menemui sepupu tuanya Waraqa ibn Naufal yang telah menjadi Kristen. Ia memberitahu sepupunya apa yang telah terjadi kepada suaminya dan sepupunya meyakinkan dirinya bahwa Muhammad telah menerima wahyu yang sama yang diterima oleh Musa dan Yesus. Kebetulan sekali, Waraqa meninggal tidak lama setelah menyatakan Muhammad sebagai nabi Tuhan sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menyanggah apa yang diklaim oleh Muhammad dan Khadijah. Namun, ada sesuatu dalam cerita itu yang membuatnya janggal. Dikatakan bahwa Waraqa mengenali Muhammad sebagai nabi karena pengetahuannya akan kitab-kitab suci. Hal ini tidak benar. Tidak ada dalam kitab suci Yahudi maupun Kristen yang mengisyaratkan tentang akan datangnya seorang nabi dari Arabia.

Ceritanya berlanjut dengan mengatakan bahwa Waraqa meramalkan Muhammad akan ditolak dan diusir oleh kaumnya. Apakah Waraqa seorang cenayang? Bagaimana ia bisa mengetahui hal-hal ini? Hadis ini, jika bukan buatan Muhammad tentunya merupakan karangan bertahun-tahun kemudian.

 


[1] Ibn Ishaq. 105

[2] Bukhari 8:73:175 dan Muslim 28:5609

[3] Ibn Ishaq. 106

[4] Ibn Ishaq. 106

[5] samvak.tripod.com/narcissistinfantile.html

[6] Tabari v. 3, h. 849

[7] Ibn Ishaq. 107

 


Add a Comment
| 11
andrew
Reply| 07 Apr 2015 17:01:29
silahkan baca atau google 2Korintus 11:14
seniman
Reply| 02 Mar 2015 15:09:45
1juta % aku yakin "wahyu" Muhammad dari Jin atau makhluk roh alam setingkat atau di bawah Jin, jadi bukan bukan malaikat.... Dari seluruh nabi-nabi yang ada di dunia (mulai agama pagan maupun samawi), tidak ada yang mendapatkan wahyu dari Tuhan melalui kesurupan dan gejala-gelaja yang di alami Muhammad.
Hanya Jin atau makhluk roh alam rendah lainnya yang dapat berpadu dan berinteraksi dengan manusia dengan gejala yang sepertli Muhammad alami.
(sumber : pengalaman sendiri dan pengalaman beberapa teman yang pernah belajar dan berinteraksi (kesurupan oleh Jin)
rianti
Reply| 25 Oct 2014 23:00:46
@Alhayat SAg, MAg
pak, saya sudah pernah ketempat ini, terus terang saja ini hanya kejadian alam yang masih bisa dibuktikan secara logika dan bukan hanya di medina di tempat lain di dunia ini ada juga, saya pernah baca di pulau jawa ada tempat seperti ini juga.
rianti
Reply| 25 Oct 2014 22:58:26
@Naik Hj. Almayat SAg, MAg
yang dikatakan AlHayat memang benar. tapi bukanlah medan magnit (terus terang saya pernah kesana di Medinah), jika medan magnit tentunya semua benda logam akan tertarik pada satu titik tertentu. di pulau jawapun sebetulnya ada tempat seperti ini (saya pernah baca tetapi lupa persisnya). kalau menurut para ahli tempat itu adalah seperti fatmorgana, terlihat seperti naik padahal sebetulnya menurun, sehingga bila mesin mobil dimatikan , mobil akan berjalan sendirinya, padahal terlihat seperti tanjakan.
Naik Hj.(4++) Almayat SAg, MAg
Reply| 12 Oct 2014 22:02:20
@Alhayat SAg, MAg
Quote:
Bus yang kami tumpangi bisa bergerak sendiri walau mesin dimatikan oleh bapak supir.

Respon:
Huahahahahahahahaha...
Kalau mau ngibul kira-kira dong aku yang asli..!
Mana ada busnya bergerak sendiri, walaupun mesinnya dimatikan?
Lalu apa makna spiritual yang bisa dipetik dari kisahmu ini..?
Jangan-jangan yang kamu maksud mesin dimatikan itu, bukannya mesin busnya kali?
Benar-benar kocak lah kau..! Baru hadir saja sudah jadi badut..!

Jangan suka nyembunyiin otakmu di dengkul dong bro..!
Alhayat SAg, MAg
Reply| 12 Oct 2014 11:36:47
tanggal 28 November kami menikmati keajaiban alam dengan mengunjungi Jabal Magnet. Bus yang kami tumpangi bisa bergerak sendiri walau mesin dimatikan oleh bapak supir. Supir bus kami tsb ternyata orang Indonesia (orang dari Bima NTB). Menyenangkan sekali menikmati kemahakuasaan Alloh SWT yang mengagumkan.
Naik Hj. Almayat SAg, MAg
Reply| 10 Oct 2014 18:53:06
@ikben
Aku sangatlah mengerti bahwasanya semakin dalam dan luas aku belajar dan menekuni sebuah bidang keilmuan, semakin aku menyadari betapa kurang dan miskinnya pengetahuan dan kemampuanku akan bidang keilmuan tersebut. Selanjutnya bilamana aku menggali keilmuan tersebut lebih dalam lagi dan lebih dalam lagi, mataku semakin-makin terbuka dan terbuka lagi bahwa pada faktanya kemampuanku jauh dari selayaknya. Terlebih pula akan kebenaran sejati, semakin-makin aku belajar akan kebenaran sejati, di dalam kesadaranku fakta hidup telah membuktikan, bahwa pengertianku akan kebenaran masih sangat miskin dan jauh dari kebenaran sejati itu.

Lain halnya akan Kejahatan-Kejahatan Muhammad yang sama sekali tak mau disadari oleh aku yang asli, tapi malahan mengelabui semua orang dengan bertaqiyya, hingga bertahun-tahun. Padahal secara intuisi saja (tanpa dipikir) anak kecilpun dengan mudah saja dapat memahami tindakan-tindakan jahat Muhammad itu adalah tidak benar. Walaupun sikap aku yang asli itu adalah urusan pribadinya sendiri, namun tetap saja memiliki dampak bagi kita seluruh umat manusia.

Kita semua tentu sangat tidak setuju, bilamana sedikit saja keteledoran kita pada taqiyya oleh aku yang asli, membawa dampak pada terkoyaknya peradaban manusia bahkan lebih jauh lagi bukan mustahil, bilamana Islam sudah menjadi sedemikian dominannya dimuka bumi, justru akan menghancurkan seluruh umat manusia, sampai Islam itu sendiri saja yang tetap eksis. Yang mungkin saja bila aku yang asli menyadari akan dampak seperti ini, beliau tidak akan mempraktekkan taqiyyanya itu.

Demianlah semoga dapat dimengerti, mengapa tujuan utama kehadiranku disini melalui jalan aktif dan intensif, tidak lain dari upaya penyelamatan eksistensi aku yang asli, supaya beliau tetap terus berkesinambungan dalam forum ini. Seutuhnya juga aku sesungguhnya mengharapkan, memalui jalan aktif dan intensif yang aku lakukan akan menjadikan aku yang asli secara tahap demi-tahap sadar dan bertobat total.

Akhir kata dengan penuh kerendahan hati aku ucapkan banyak terima kasih atas teguran anda yang membangun ini.

GBU
ikben
Reply| 10 Oct 2014 10:20:31
Naik Hj. Almayat SAg, Mag menulis:
Kini aku yang asli menjadi aku, Almayat SAg, MAg dalam forum ini.
Tujuan utama kehadiranku disini.. tidak lain dari penyelamatan akan aku yang asli, melalui jalan aktif dan intensif 'melindungi dan memberi muka' terhadap aku yang asli..!


Tanggapan: Mengakui suatu ajaran dimana sejak orang tersebut dapat menganalisa ajarannya, bahwa ternyata ada kejanggalan (tidak normal) didalamnya, bukanlah suatu hal yang mudah.

Bilapun orang tersebut kemudian menyadari bahwa ternyata ada hal yang janggal (tidak normal) dalam ajaran yang selama ini diimani (berakar kuat), maka reaksi pertama adalah kaget, bingung, kecewa, galau dan stress.

Ada orang yang mencoba mematikan nalar dan hati nuraninya untuk mengakui/menerima kenyataan bahwa apa yang dipercaya selama ini memiliki kejanggalan. Dan penolakan tersebut biasanya mengarah kepada kemarahan yang tidak jelas, dimana kadangkala menimbulkan penyakit dalam tubuh atau menunjukkan tabiat yang negatif.

Bermegahlah dalam kelemahan sebab akan membawa diri ini menjadi rendah hati dan kerendahan hati membebaskan diri dari rasa bersalah karena dalam kelemahan ada pengakuan: "aku bukanlah manusia telah sepenuhnya mengetahui kebenaran"
Satrio Piningit
Reply| 10 Oct 2014 08:37:36
Jibril berkata: "O Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril."

Aneh?!

Jibril cuma bilang/klaim, "Muhammad...engkau adalah rasul Allah"
Pertanyaannya: Berdasarkan ketetapan siapa Muhammad menjadi rasul Allah?
Jika melihat kalimat ini, terlihat berdasarkan ketetapan Jibril semata.

Kemudian Jibril berkata: "dan aku adalah Jibril"
Pertanyaannya: Siapa dia? Siapa sosok yang mengaku bernama Jibril ini? Malaikat Tuhan-kah? Setan-kah? Genderuwo-kah? Jin-kah?
Siapa dia??? Koq perkenalan dirinya tidak utuh dan sepertinya ada yang ingin disembunyikan oleh si Jibril ini.

Karena malaikat yang asli di dalam Alkitab selalu memperkenalkan dirinya secara utuh, contohnya Gabriel di Alkitab yang berkata kepada Maria:
Luk 1:26 Dan pada bulan keenam, malaikat Gabriel diutus oleh Elohim ke sebuah kota di Galilea yang bernama Nazaret,
Luk 1:27 kepada seorang perawan yang telah ditunangkan dengan seorang pria bernama Yusuf dari keluarga Daud, dan nama perawan itu Maria.
Luk 1:28 Dan ketika masuk, malaikat itu berkata kepadanya, “Salam, hai engkau yang dilimpahi anugerah, YAHWEH besertamu, hai engkau yang diberkati di antara para wanita!”

Jelas Jibril BUKAN Gabriel.

Pertanyaannya: Siapakah Jibril ini???
Naik Hj. Almayat SAg, MAg
Reply| 09 Oct 2014 19:22:29
Pemahaman yang benar dan penjajakan masuk akal akan artikel ini, adalah suatu kemestian tak dapat ditawar bagi kaum Muslimin beradab (bersusila).

Jika mereka (kaum Muslimin) adalah manusia-manusia normal, mereka tentu akan berlaku rasional dan berfikir ulang akan iman mereka. Bahwasanya mereka dikatakan normal [lurus, tulus ikhlas, jujur, dan selalu mengatakan yang sebenarnya] tidak akan pernah mengakui dan mengadopsi Muhammad sebagai nabi mereka, apalagi mengucapkan kalimat syahadat.
Kecuali mereka juga orang-orang sakit jiwa, sama seperti Siti Khadijah, Waraqa ibn Naufal ataupun Muhammad.

-------------------------------------------------
Just for remind:
Aku yang asli dahulu terlampau sering bertaqiyya, dengan maksud memoles agar Islam terlihat seolah-olah benar dan juga baik.
Lihatlah..! Aku yang asli itu berakar kuat dari pokok nabiku/Muhammad yang penuh salah kaprah dan dusta tak tahu malu.
Terbongkarnya Aib pembusukan hal ihwal dusta/taqiyya ku ini, menjadikan aku yang asli malunya ½ mati, sehingga mengambil istirahat dalam waktu tak terbatas dari forum ini.
Kini aku yang asli menjadi aku, Almayat SAg, MAg dalam forum ini.
Tujuan utama kehadiranku disini.. tidak lain dari penyelamatan akan aku yang asli, melalui jalan aktif dan intensif 'melindungi dan memberi muka' terhadap aku yang asli..!
Pro-Paulus-or-Muhamad?
Reply| 09 Oct 2014 11:10:39
CAMKAN HAL INI WAHAI MUSLIMIN:

"Hubungannya (MHD) dengan Khadijah adalah hubungan ibu dan anak. Ia tidak pernah berfungsi sebagai seorang pria – seorang pencari nafkah, seorang pelindung. Ia tidak pernah memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami atau ayah. Ia bukan anggota masyarakat yang aktif. Ia tinggal sebagai seorang penyendiri di gua. Dan setelah Khadijah wafat, ia menjadi kumbang seksual, menikahi atau hanya bersetubuh dengan sejumlah wanita, tanpa ikatan pernikahan yang sebenarnya dengan mereka. Bagaimana seorang pria berusia limapuluhan bisa menciptakan hubungan pernikahan yang berarti dengan wanita yang seharusnya menjadi anaknya atau bahkan cucunya? Tak satupun hubungan Muhammad yang sesuai dengan definisi pernikahan, yang merupakan kemitraan dari dua orang yang sepadan".
Fetching more Comments...
↑ Back to Top