FHTH Kepatuhan

Sebab, kamu telah dibeli dengan sebuah harga, karena itu, muliakanlah Elohim dengan tubuhmu dan dengan rohmu yang adalah milik Elohim. (I Korintus 6 : 20)

 

 

Teman saya membeli seekor anak anjing golden seharga tiga juta rupiah pada seorang rekannya. Setelah anak anjing itu lunas dibayar, teman saya dan dua anaknya yang masih kecil memperlakukan anjing itu dengan baik. Mereka memandikannya, memberi makan, mengajaknya bermain, bahkan menyuruh anjing itu menemani mereka jogging setiap hari sabtu. Ketika saya bertamu, anjing itu dengan ganas menggongong memanggil-manggil tuannya bahwa tamu tak dikenal datang. Namun setelah ia melihat saya dan tuannya saling kenal, ia bersikap ramah. Teman saya lalu memamerkan keberhasilnnya melatih anjingnya, ia menyuruh anjing itu berjalan dengan dua kaki, mengambil bola, dan berguling-guling. Anjing itu patuh.

Kalau anjing patuh pada tuannya yang baru setelah dibeli dari pet shop, atau dari tuannya yang lama, bagaimana sikap dan tingkah laku kita setelah tahu kita sudah dibayar lunas oleh Tuhan? Saya percaya kita semua sadar diri sudah ditebus, sayangnya ada sebagian orang yang justru melawan Tuhan dan sengaja membangkang. Kita tahu apa itu dosa, namun tetap saja mengulangi dosa yang sama, salah satunya percabulan. Percabulan kalau dijabarkan wujudnya bermacam-macam, namun sudahkah kita berusaha melawan godaan dosa ini atau justru terus menikmati dan menurutinya karena menganggap Tuhan pasti ampuni kok dosa percabulan? Selesai bercabul, doa minta ampun. Besoknya diulangi dan berdoa minta ampun lagi. Kalau secara fisik dan kasat mata kita berpakaian rapi, bersih dan sopan, serta memakai minyak wangi saat datang ke gereja, apakah kita ″melakukan hal yang sama″ saat sendirian dan bukan hanya di gereja. Dalam bahasa yang sederhana, apakah kita memuliakan Tuhan dengan tubuh kita sekalipun tak ada yang melihat?

Kita dikatakan anak Tuhan yang setia saat melakukan apapun perintah Tuhan dalam segala situasi dan kondisi, termasuk saat tak seorang pun melihat. Ketaatan yang sejati bukan ditunjukkan melalui kata-kata atau pujian, namun melalui tindakan nyata yaitu hidup seturut perintah-Nya.

 

 

Ketaatan sejati diwujudkan dalam tindakan nyata saat tak ada yang melihat.

 


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top