Melepas Jabatan

Lalu mengertilah Saul dan tahulah ia, bahwa TUHAN menyertai Daud, dan bahwa seluruh orang Israel mengasihi Daud.

I Samuel 18 :  6 – 30

 

 

Negara Pantai Gading sejak bulan Desember 2010 – April 2011 hancur oleh perang saudara. Perang saudara pecah karena Laurent Gbagbo, presiden yang tak mau mengakui kekalahan dalam pemilu yang diadakan pada bulan November 2010 dan telah berkuasa 10 tahun, menolak turun dari kekuasaan dan mengobarkan perang. Presiden terpilih Pantai Gading Alasane Quattara dibantu pasukan Perancis akhirnya berhasil memenangkan perang dan menangkap Laurent Gbagbo, sehingga perang saudara pun akhirnya berakhir. Meski perang sudah berakhir, perang itu membuat ratusan orang tewas dan hancurnya berbagai infrastruktur. Berbagai kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia menjadi catatan kelam bagi negara Pantai Gading hanya gara-gara keegoisan seseorang yang tak rela menyerahkan kekuasaannya kepada orang lain, yang dipilih oleh rakyatnya sendiri.

Tak hanya terjadi di era sekarang, ribuan tahun lalu hal ini terjadi juga di Israel, tepatnya dilakukan oleh Saul, raja pertama Israel. Saul tidak rela Daud menjadi pengantinya karena ia dengki dengan Daud, padahal Saul sesungguhnya sadar kelak Daud yang akan mengantikannya. Dengan segala cara Saul berusaha membinasakan Daud, namun semuanya gagal sebab Tuhan selalu menyertai Daud. Akibatnya berakhir tragis, Saul menuliskan catatan buruk sebagai seorang raja dan akhir hidupnya berakhir menyedihkan karena ia mati bunuh diri dan seluruh tentara Israel kalah perang. Anak-anak Saul pun mati di medan pertempuran. Seandainya saja kala itu Saul dengan lapang dada menyerahkan kekuasaan kepada Daud, mungkin Tuhan akan mengampuninya, Saul pun bisa mati dengan tenang.

Jika saat ini kita bergumul dalam masalah menyerahkan jabatan kita kepada seseorang, mari belajar berlapang dada saat memberikan jabatan itu kepada orang lain. Jabatan apapun yang kita miliki hanya titipan, sehingga buat apa kita mempertahankannya mati-matian? Kalau Tuhan ijinkan orang lain mengambil alih jabatan itu, serahkanlah, karena Tuhan pasti memberikan ganti berupa jabatan yang lebih baik, atau Tuhan ingin kita melakukan sesuatu yang lain. Sejarah membuktikan bahwa mempertahankan kekuasaan yang seharusnya diberikan kepada orang lain selalu berakhir tragis. Mari kita isi sejarah hidup kita dengan menjadi seseorang yang legowo alias berlapang dada menyerahkan jabatan, sehingga Tuhan bisa memberikan berkat yang lebih besar dan masyarakat bisa mendapat inspirasi positif dari sikap legowo kita.

 

 

 

Jadilah sosok yang berlapang dada.

 


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top