Blog / Tipuan Nalar Murni

Yang harus dilakukan orang Muslim untuk mematikan pikirannya adalah mengucapkan kalimat ajaib “keluar dari konteks”. Setelah mengucapkan frase ajaib ini seorang Muslim menghentikan dirinya dari berpikir. Yang penting baginya adalah frase ajaib ini menyelesaikan segala sesuatu dan membuatnya tidak menggunakan otaknya. Ia tidak lagi harus merepotkan dirinya dengan sekian banyak bukti dari hadith dan Quran yang menyangkali klaim Muhammad. Yang harus dilakukan seorang materialis untuk mematikan otaknya adalah mengucapkan kata ajaib “rumor”. Setelah mengucapkan kata ajaib ini seorang materialis menghentikan dirinya dari berpikir. Kata itu, dalam pikirannya yang sempit, menjaganya dari mengkuatirkan segunung bukit pengalaman mati suri.   

"Jika aku tak dapat melihatmu, maka engkau pun tak dapat melihatku"?

 

Oleh  Alisina · 17 Maret, 2015

 

Hari ini saya membaca sebuah komentar dari seorang penganut materialisme yang menyerang saya dengan tuduhan bahwa saya menyeleweng dari sains dan nalar, serta mengalami delusi karena sekarang saya percaya bahwa nurani tetap hidup setelah kematian fisik. Beberapa menit kemudian, saya membuka kotak surat dan menemukan sebuah surel dari seseorang yang bertanya-tanya bagaimana 1,5 milyar manusia masih percaya pada agama yang tidak masuk akal seperti Islam sedangkan banyak di antara orang-orang itu yang tidak bodoh dan masih sanggup berpikir secara rasional. 

Menariknya, jawaban untuk kedua pertanyaan itu sama: tipuan nalar murni. Batasan nalar murni telah disampaikan oleh Immanuel Kant yang mendapati bahwa para ahli metafisika membuat klaim hebat mengenai natur dari realita hanya berdasarkan nalar, tetapi klaim-klaim ini seringkali berkonflik satu dengan yang lainnya. Kant berusaha membuat argumennya melalui pengetahuan a-priori dan a-posteriori, yaitu pengetahuan yang terdapat dalam naluri manusia dan pengetahuan yang didapatkan melalui pengalaman.  

Kant tidak mengikuti kaum metafisika rasionalis dalam menyampaikan bahwa nalar murni mempunyai kemampuan untuk memahami misteri alam semesta. Alih-alih, ia memaparkan bahwa banyak hal yang kita anggap sebagai realita dibentuk oleh apa yang dipahami pikiran. Menurut Kant, pikiran tidak secara pasif menerima informasi yang diberikan oleh indera. Melainkan, pikiran secara aktif membentuk dan membuat informasi itu masuk akal. Pada dasarnya, Kant mengatakan orang yang melihat realita dari perspektifnya yang unik, hampir sama seperti orang yang mengenakan kacamata berwarna. Ia melihat dunia ini berwarna. Oleh karena itu kebenaran bersifat relatif bagi orang yang mengamatinya dan tidaklah bersifat universal dan absolut.

Kritik saya terhadap nalar semata-mata adalah ketidakmampuan manusia berkaitan dengan pengetahuan. Dengan kata lain, oleh karena akurasi nalar bergantung pada fakta dan karena dalam dunia metafisika tidak semua fakta dapat diketahui oleh manusia, akibatnya pemahaman kita akan kebenaran akan benar-benar tidak tepat sekalipun penalaran kita benar. 

Ijinkan saya menjelaskan hal ini dengan sebuah kisah. Ada seorang rabi yang bijak, yang tinggal di desa di Eropa Timur. Ia sangat dihormati dan pendapat-pendapatnya selalu dimintai orang. Suatu hari, ada dua orang yang sedang bertengkar hebat, lalu mereka sepakat untuk menemui rabi itu untuk menyelesaikan masalah mereka. Orang yang pertama menemui rabi dan dengan teliti menyampaikan argumennya. Rabi tersebut mendengarkan dengan seksama dan akhirnya berkata, “Anda benar”. Orang itu pulang dengan merasa puas. Tidak lama kemudian, orang yang kedua datang dan mengatakan kepada rabi apa pendapatnya mengenai masalah yang terjadi. Sekali lagi rabi itu mendengarkan dengan seksama dan menjawab, “Anda benar”. Lalu, istri rabi tersebut, yang mendengar percakapan rabi dengan kedua orang yang bertikai itu berkata, “Rabi, anda mengatakan kepada orang yang pertama dan orang yang kedua bahwa mereka benar. Bagaimana bisa begitu?” Dan rabi pun kembali menjawab, “Ya, engkau juga benar!”

Kisah ini seringkali diceritakan sebagai humor, tetapi maknanya dalam. Semua orang adalah benar menurut penalaran mereka sendiri. Tidak seorangpun percaya pada hal-hal yang mereka anggap tidak rasional.

Belum lama ini, seorang ulama Muslim di Arab Saudi pergi ke sebuah stasiun TV untuk mengumumkan bahwa bumi ini diam, tidak bergerak, dan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, seperti yang diyakini Muhammad, dan dinyatakan dalam banyak hadith. Ia berpendapat bahwa jika bumi berotasi, pesawat yang mengudara dari Riyadh tidak akan pernah bisa tiba di Cina karena Cina akan “melaju” lebih kencang dari pesawat jet.

Tidak ada yang salah dengan penalaran ini. Kita dapat menunjukkannya dengan contoh seekor kupu-kupu yang hinggap di atap sebuah bis yang melaju dengan kecepatan 100km/jam. Oleh karena kupu-kupu itu tidak dapat terbang secepat itu, ketika ia mengudara dari bagian belakang bis ia tidak akan pernah mencapai bagian depan. Namun demikian, kupu-kupu itu dapat dengan mudah terbang dari bagian belakang bis ke depan dengan kecepatan normal, saat ia berada di dalam bis. Perbedaannya adalah, udara di dalam bis itu juga bergerak bersama dengan bis. Penalaran si ulama tersebut bukanlah tidak tepat. Ia hanya mengabaikan fakta bahwa atmosfir (udara) yang menyelimuti bumi juga berotasi bersama bumi. Ia juga mengabaikan efek gravitasi bumi pada satelit-satelitnya. Penalarannya baik, namun ia mengabaikan beberapa fakta.   

Orang Muslim percaya kepada keyakinan yang benar-benar tidak masuk akal, bukan karena mereka tidak rasional, tetapi karena mereka mengabaikan fakta-fakta penting mengenai agama mereka. Ketika kita remaja, salah satu Sura yang harus kita hafalkan adalah Sura al Kafirun (Orang tidak beriman). Sura itu berirama sehingga mudah diingat. Sura ini mengatakan,

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamusembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." 

Ayat-ayat ini seakan memberikan penampakan bahwa Islam menganjurkan toleransi beragama. Kita tidak pernah diberitahu mengenai konteks dari Sura ini. Ketika kita bertumbuh kita membaca banyak ayat lain yang menyerukan pembantaian orang yang tidak beriman. Namun indoktrinasi  awal ini selalu mengatasi keraguan apapun. Kita tidak pernah mengijinkan fakta-fakta mempengaruhi pemikiran kita dan mengubahnya. 

Faktanya adalah, Sura di atas sama sekali tidak berkaitan dengan toleransi. Ibn Ishaq mengatakan bahwa ketika Rasul sedang mengitari Ka’ba, beberapa petinggi Mekkah menemuinya dan berkata kepadanya, “Muhammad, biarlah kami menyembah apa yang kau sembah, dan engkau menyembah apa yang kami sembah. Engkau dan kami akan bergabung dalam perkara ini. Jika yang kau sembah itu lebih baik dari yang kami sembah, maka kami akan mengambil bagian di dalamnya, dan jika yang kami sembah lebih baik dari yang engkau sembah, engkau dapat mengambil bagian di dalamnya”. Maka Allah menurunkan wahyu berkenaan dengan mereka,

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamusembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." Maksudnya, jika kalian hanya mau menyembah Tuhan dengan syarat bahwa aku menyembah apa yang engkau sembah, aku sama sekali tidak memerlukan/tidak ada urusan dengan kalian. Silahkan memiliki semua agama kalian, dan aku memiliki agamaku” [Sira h. 165]  

Orang-orang Muslim yang masih percaya Islam adalah agama yang toleran bukanlah orang-orang yang tidak rasional. Mereka hanya mengabaikan fakta-fakta, seringkali dengan sengaja. Seperti yang ditunjukkan Ibn Ishaq, orang Quraishlah yang bersikap toleran, sedangkan Muhammad tidak toleran. 

Situasi yang dialami kaum materialis tidaklah berbeda. Mereka menggunakan nalar untuk mendukung pandangan-pandangan mereka. Namun demikian, sama seperti orang Muslim, mereka mengabaikan beberapa fakta dan seringkali mereka melakukannya dengan sengaja. Selama anda mengabaikan fakta-fakta, anda dapat secara rasional membuktikan absurditas apapun. Kaum cendekiawan Yunani kuno menyempurnakan seni ini kepada sains. 

Ketika Galileo mengatakan bumi ini berotasi dan bergerak, para pengkritiknya mengoloknya lalu bertanya, “Jika demikian, mengapa kita tidak merasa pusing dan jatuh dari bumi?” Itu bukanlah pertanyaan yang tidak rasional. Jika anda mengabaikan gravitasi, sebagai contoh jika bumi ini adalah sebuah balon yang kosong, faktanya kita semua akan jatuh dari bumi. Nalar tanpa fakta tidaklah berarti. Nalar adalah alat untuk mengukur. Nalar akan akurat selama fakta-fakta yang ada juga akurat. 

Bayangkanlah anda hendak menimbang berat badan anda. Anda berdiri di atas timbangan. Tetapi agar angkanya akurat, anda harus menaruh seluruh berat badan anda ke atasnya. Jika anda hanya menaruh satu kaki di timbangan sementara kaki lainnya berjejak di lantai, timbangan anda tidak dapat memberikan informasi berat badan anda yang sesungguhnya. Timbangan itu memberikan informasi yang akurat, namun bukan berat badan anda yang sesungguhnya. Demikian pula, saya dapat memiliki penalaran yang tepat, tapi selama fakta-fakta yang saya miliki tidak benar, maka saya pasti salah. 

Dalam salah satu penampilannya di televisi mengenai pengalaman mati suri, Sam Harris berpendapat ketika otak mengalami malfungsi, persepsi seseorang menjadi tidak koheren. Ia beralasan agak tidak masuk akal jika berasumsi otak yang mati tiba-tiba berfungsi dengan sempurna dan orang bahkan dapat melihat kakek neneknya yang telah wafat. Para penonton memandang pernyataannya ini sangat logis dan mereka bertepuk tangan dengan antusias.

Argumen ini bukannya tidak logis, namun keliru. Sam Harris mengabaikan beberapa fakta. Ia berasumsi alam batin/roh digerakkan oleh otak. Namun, kita mempunyai bukti yang tidak terbantahkan bahwa roh manusia berdiri sendiri/independen dari otak. Otak bukanlah organ untuk berpikir, tetapi otak adalah prosesor. Sistem operasi yang menjalankan otak bersifat independen dari otak, sama seperti perangkat lunak dalam komputer anda yang independen dari CPU. Bayangkan batin atau roh anda sebagai sistem operasi yang menggunakan otak sebagai unit pemrosesan sentral untuk berinteraksi dengan dunia ini. Kita tidak membutuhkan otak untuk berpikir lebih dari kita membutuhkan tangki oksigen untuk bernafas atau teropong malam untuk melihat. Namun jika kita ingin menyelam kita membutuhkan tangki oksigen, dan jika kita ingin melihat di kegelapan malam kita membutuhkan teropong malam.

Roh kita benar-benar independen dari tubuh kita. Namun demikian, untuk mengalami dunia ini kita harus “mendiami” sebuah tubuh fisik yang terbuat dari beberapa substansi. Itu sama seperti jika anda ingin memainkan sebuah permainan virtual; anda harus mengenakan sejenis teropong dan headset. Kedua peralatan ini membawa anda ke dalam dunia virtual (maya) dan memisahkan anda dari dunia yang ada di sekitar anda. Jika perangkat tersebut mengalami malfungsi maka pengalaman virtual anda menjadi kabur dan tidak sempurna. Dan anda mendapati diri anda berada di rumah, di antara orang-orang yang mengasihi anda.

Ada orang-orang yang terlahir buta, yang mengatakan dalam pengalaman mati suri mereka dapat melihat dengan sempurna. Seorang wanita yang terlahir buta dan mengalami mati suri mendapati dirinya terbaring di tempat tidur dan ia mengenali dirinya saat melihat ukiran di cincin yang dikenakannya. Ia sangat mengenali ukiran di cincin itu melalui indera perabanya. Ia mengatakan pengalamannya melihat untuk pertama kalinya itu sangat membingungkan bahkan menakutkan.

Analogi teropong ini menunjukkan mengapa penalaran Harris membawa kepada konklusi yang tidak tepat, sekalipun penalarannya itu benar. Itu karena ia mengabaikan fakta bahwa kita bukanlah tubuh kita, melainkan kesadaran atau roh yang mengalami dunia ini melalui sebuah tubuh fisik.

Pertanyaan yang harus kita perhatikan adalah apakah independensi kesadaran atau roh kita dari otak adalah fakta. Inilah satu-satunyi fakta argumen yang penting disini. Tanpa menetapkannya sebagai fakta atau fantasi, setiap argumen lain tidaklah relevan. Fakta-fakta yang tidak lengkap dapat dengan mudah menyesatkan kita dan penalaran sebanyak apapun tidak dapat menolong.

Sejak 4 dekade terakhir, dan oleh karena kemajuan ilmu medis, ada jutaan kasus orang yang mendapatkan resusitasi yang melaporkan bahwa mereka sadar sepanjang waktu, melayang-layang di atas kepala para dokter, melihat dan mendengarkan mereka dari atas, bahkan menembus dinding dan melaporkan secara akurat apa yang mereka lihat di ruangan-ruangan lain, sementara tubuh mereka terbaring di meja operasi, dan secara klinis telah dinyatakan wafat.

Tidak ada cara untuk menjelaskan fenomena ini dengan menggunakan penalaran materialistis. Kaum materialis benar selama mereka mengabaikan fakta ini dan karena materialisme adalah sebuah keyakinan, sama seperti orang yang beragama, mereka akan melakukan apa saja dengan kekuatan mereka untuk menyangkali otentisitas fenomena mati suri. Tetapi mereka “kalah dalam pertempuran”. Setiap hari ada banyak orang yang diresusitasi dan sekitar seperlima dari dari jumlah tersebut ingat akan pengalaman mati suri mereka.

Pengalaman-pengalaman ini tidak dapat hanya dianggap sebagai halusinasi dari otak yang sekarat. Walau kisahnya beragam, semuanya konsisten. Sebagai contoh, tidak seorangpun yang bertemu dengan Muhammad atau firdaus Islam. Belum lama ini seorang jihadis ditembak mati oleh tentara Suriah (lihat: Recently a jihadi was shot down by the Syrian army.). Ia ditinggalkan oleh teman-temannya. Jasadnya ditemukan oleh beberapa orang Kristen yang berpendapat ia patut dikuburkan dengan selayaknya, tanpa mempedulikan apa yang telah dilakukannya. Namun, sebelum mereka menguburkannya, orang itu hidup kembali. Ia menceritakan ia disambut oleh setan-setan. Ia melihat kembali  hidupnya selama ini dan ia mengalami semua kesakitan yang telah ditmbulkannya kepada orang lain dari perspektif para korbannya. Ia melihat dirinya memenggal seseorang, tetapi kali ini dialah yang dipenggal. Ia merasakan semua kesakitan, rasa takut dan kengerian yang ditimbulkannya kepada para korbannya. Kemudian ia dibawa ke neraka. Sebelum ia dilemparkan ke dalam api, Tuhan berbicara kepadanya dan mengatakan bahwa ia telah menjalani hidup yang sangat buruk dan ia harus memilih untuk mati dan masuk ke neraka atau hidup kembali dan mengubah jalan hidupnya.