Cuman Dikit kok

Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Galatia 5 : 9

 

 

Saya mendapatkan cerita yang menarik buat saya tentang kata “Cuman Dikit Kok.” Seminggu yang lalu saya seperti biasa mengikuti ibadah tengah minggu di gereja. Dalam ibadah yang santai namun serius itu, seorang teman yang baru saja pulang dari Pulau Bali membawa oleh-oleh sebungkus kacang garing yang enak rasanya. Sontak seluruh peserta ibadah mengucapkan terima kasih dan mengambil sedikit-sedikit kacang itu, saya pun ikut mengambil. Ada salah satu teman yang sedang menderita batuk pun ikut mengambil lumayan banyak, sehingga saya kemudian bertanya bukannya orang batuk itu nggak boleh makan yang serba kering, seperti kacang. Tujuan saya baik, yaitu agar dia cepat sembuh. Sambil tersipu dia menjawab : ″Cuma dikit kok, nggak apa-apa. Batukku ini kata dokter juga bentar lagi sembuh.″ seminggu kemarin saat saya kembali bertemu dengannya dalam ibadah tengah minggu, sakit batuknya belum sembuh juga sehingga saya kembali menasehatinya agar menjaga pola makan jika ingin sembuh.

Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, ″cuma dikit kok″, itulah kata-kata yang tanpa sadar sering kita ucapkan saat kita sengaja memakan atau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kita makan atau ambil. Contohnya kisah teman saya. Saya percaya ia akan lebih cepat sembuh jika mematuhi nasehat dokter yang pasti menyuruhnya nggak boleh makan sembarangan seperti makan es krim atau kacang garing. Sekarang bagaimana dengan cara kita menjaga tubuh rohani kita tetap sehat? Jangan pernah main-main dengan dosa atau icip-icip dosa walaupun hanya dikit. Firman Tuhan berkata sedikit ragi aja udah mengkhamirkan seluruh adonan, yang kalau diterjemahkan dalam kalimat yang lebih sederhana = sedikit dosa aja bisa merusak seluruh kebaikan yang kamu udah lakuin. Contoh kejadian nyatanya udah banyak terjadi di sekitar kita. Seorang cewek masih kuliah bisa ″tidur″ dengan pacarnya tentu berawal dari ciuman dikit yang keterusan. Seorang remaja kecanduan narkoba atau rokok tentu berawal dari ia mencoba mencicipi satu batang rokok atau satu gram sabu-sabu yang kebablasan.

Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, saya percaya kita sudah bisa membedakan mana tindakan yang sesuai Firman Tuhan dan mana yang tidak, mana pergaulan yang patut diikuti dan mana yang tidak, seperti apa teman yang bener dan seperti apa yang teman menyesatkan. Keputusan untuk melakukan sesuatu ada ditanganmu sendiri, sehingga selalu mohon penyertaan Tuhan agar memiliki penguasaan diri yang baik, sehingga selalu mampu mengambil keputusan yang tepat.

 

 

 

Pilihlah Keputusan yang Benar.

 


Add a Comment
| 1
Budi
Reply| 15 Jun 2015 23:02:07
Memang mengerikan yang "dikit ini". Saya sendiri mengalaminya dan saya mau tak mau harus berjuang memperbaikinya agar berkenan di hadapan Ellohim. Amin.
Fetching more Comments...
↑ Back to Top