Reflections and Inspirations - Apa yang ISIS Pelajari dari Kartel Obat Bius

Apa yang ISIS Pelajari dari Kartel Obat Bius

 

Ilustrasi dari The Daily Beast

 

Seorang pria yang dipenggal kepalanya di depan kamera, tahanan yang dirantai dibakar hingga mati di dalam sebuah kurungan, gambar-gambar memuakkan dikirim ke seluruh media.

Ini adalah horor terbaru dari ISIS yang dilihat dari layar dunia, dengan tidak tahu malu dipublikasikan, dengan menyalahgunakan teknologi.

Kecuali dalam satu hal, ini bukanlah hal terbaru.

Dan mereka bukanlah ISIS.

Mereka adalah orang-orang Meksiko.

Kartel obat terlarang Meksiko telah memainkan apa yang dilakukan oleh Islamic State – pemenggalan, pembunuhan, video, media sosial – sejak 10 tahun yang lalu. Adalah kartel-kartel obat bius yang pertama kali memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan teror dan propaganda.

Kata “terorisme” telah begitu sering digunakan hingga kita cenderung melupakan akar katanya: “teror.”

Tujuan teror adalah untuk meneror orang agar tunduk.

Tujuan dari teror sendiri bukanlah tindakannya, melainkan reaksinya.

Aksi tindakan teror tidaklah berguna bila masyarakat tidak mendengar tentangnya, akan lebih baik bila mereka melihatnya.

Tindakan teror harus dikomunikasikan.

Di era modern saat ini “terro-communication” ini dimulai dari kartel obat bius.

 Pada bulan Mei 2005, seorang pemimpin kartel yang berasosiasi dengan cabang Beltran-Leyva dari Kartel Sinaloa menangkap empat pembunuh bayaran milik Zeta yang diperintahkan untuk membunuh pemimpin tersebut. Dia membawa mereka ke sebuah rumah, “menghiasi” lantai dan dinding rumah itu dengan tas plastik hitam, dan kemudian “mewawancarai” mereka dengan menggunakan kamera perekam merk Sony. Setelah para tawanan mengakui kejahatan-kejahatan mereka, dia menembak kepala mereka – di depan kamera – kemudian mengirimkan rekaman tersebut ke berbagai stasiun televisi. Salah seorang calon pembunuh membawa istri dan anak perempuannya. Pemimpin kartel memberi mereka uang dan tiket bis untuk pulang, kemudian menulis sebuah surat kepada editor dilengkapi dengan pernyataan “suci” yang menyatakan bahwa tidak seperti orang-orang yang mati di dalam video, dia tidak membahayakan kaum wanita dan anak-anak.

Stasiun-stasiun televisi tidak menayangkan rekaman tersebut karena penuh kekerasan, namun video tersebut langsung menyebar di internet dan menjadi, seperti yang diakui mereka, sebuah “sensasi.” Pemimpin kartel yang awalnya dipertanyakan memperoleh status, kekuasaan, dan ya, popularitas – dan tidak ada lagi percobaan pembunuhan terhadapnya (setidaknya, selama delapan tahun ke depan).

Pelajaran telah dikomunikasikan.

Dan kartel-kartel telah belajar dari diri mereka sendiri – hal yang diserap penuh oleh ISIS : Tidaklah cukup untuk memenangkan medan perang, kau harus memenangkan perang media juga.

Kartel-kartel cukup cerdas sehingga tahu bahwa mereka harus mengontrol ceritanya.

Mereka menemukan bahwa internet adalah sarana yang sempurna.

Internet tidak memiliki sensor. Tidak pula dikontrol oleh media mapan atau pun pemerintah. Demokratisasi dalam komunikasi – beberapa orang mungkin menganggapnya anarki – memungkinkan siapa saja untuk menyebarkan apa pun, tidak peduli betapa menjijikannya hal itu, atau untuk tujuan apa.

Kartel-kartel yang saling bersaing – dalam pertarungan berdarah selama 10 tahun melawan satu sama yang lain dan pemerintah Meksiko – juga melancarkan perang media, terutama di internet. Di mana kriminal berusaha untuk menyembunyikan kekejaman mereka, kartel merekamnya dan menyebarkannya di media sosial.

Gambar-gambar itu – pemenggalan kepala, pembunuhan, mengeluarkan isi perut, penyiksaan – sungguh-sungguh mengerikan, dan memang itulah tujuannya. Seperti ISIS saat ini, kartel-kartel mencoba untuk menguasai dan mengontrol suatu teritori, dan untuk itu mereka perlu mengintimidasi masyarakat setempat. Video-video tersebut merupakan pernyataan akan kekuatan, sebuah cara untuk memproklamirkan, “Lihat apa yang bisa kami lakukan. Lihatlah apa yang akan kami lakukan. Hal ini bisa terjadi pada Anda.”

Sebuah sikap yang diserukan keras dalam video-video penuh kesombongan ISIS.

Dalam video mereka, baik kartel maupun ISIS berusaha keras untuk membenarkan tindakan mereka, membuat pembunuhan berdarah dingin menjadi sebuah propaganda – sekali lagi, berusaha mengontrol jalan cerita. Akan tetapi ISIS telah melakukan sebuah langkah yang tidak diambil oleh kartel, menambahkan “kualitas” produksi dan musik yang membuat video milik kartel terlihat seperti video amatir dan murah.

Baik kartel maupun jihadis telah merekrut ahli program komputer dan “penyihir” media sosial, kartel terkadang menculik mereka langsung dari kampus.

Akan tetapi, ini lebih dari sekedar intimidasi.

Media sosial juga telah menjadi sarana merekrut anak-anak muda agar bergabung dengan kartel. Video penuh kekerasan itu sendiri merupakan sarana rekrut, akan tetapi kartel secara jelas menjanjikan gaji yang tinggi, bonus, makanan enak, dan kehidupan yang nyaman.

Rekrutmen berhasil karena dua faktor: kebutuhan dan daya tarik.

Pada masa lalu, anak-anak muda yang hidup di lingkungan yang dikuasai oleh kartel tidak memiliki pilihan selain bergabung agar bisa bertahan hidup. Mereka harus memilih harus berdiri di pihak mana atau mati terbunuh, dan mereka akan memilih pihak yang paling kuat. Video-video adalah cara menyatakan dominansi – “Kau ingin menjadi yang memegang gergaji mesin, bukan yang terbunuh.”

Pihak lain lebih bersifat kompleks. Sulit membayangkan mengapa ada orang yang akan tertarik dengan gambar-gambar mengerikan, akan tetapi begitulah kenyataannya. Kita lihat anak muda, pria dan wanita, beramai-ramai mendatangi ISIS setelah direkrut lewat media sosial. Dalam kasus kartel Meksiko, kita lihat kesamaan anak muda yang tidak memiliki kekuatan dan dikucilkan kemudian tertarik oleh kekuasaan dan kebersamaan dalam kartel. Bagi orang yang melihat dirinya tidak memiliki kekuatan, tidak banyak hal yang bisa lebih menggoda selain kekuatan. Mereka ditawari senjata (kekuatan), uang (kekuatan), dan sesuatu yang dirasa lebih besar daripada dirinya.

Sekali lagi, ISIS belajar dari hal ini. Mereka menawarkan senjata, gaji, pekerjaan bagi penduduk setempat, persaudaraan, dan imbalan tertinggi dari Surga. Meskipun pengikut kartel pada dasarnya lebih tertarik dengan uang dan kekuatan dibandingkan dengan ideologi, setidaknya dua kartel – La Familia Michoacana dan penerusnya, Knights of Templar – memiliki basis keagamaan.

Kartel Meksiko juga memprakarsai kemuliaan dari mati muda. Ada sebuah pepatah umum di antara para pengikutnya, “Lebih baik lima tahun sebagai raja daripada tiga puluh lima tahun sebagai kacung.” ISIS dan kelompok jihadis lainnya menyemangati anak-anak muda mereka untuk segera menemukan Surga.

Jadi apakah karena kebutuhan atau daya tarik, pengikut baru membanjiri kartel, seperti yang terjadi pada Islamic State saat ini.

ISIS belajar hal lain dari kartel.

Tujuan lain dari terorisme adalah mendorong musuhnya – biasanya yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer lebih besar – merespon tindakan mereka dengan respon yang tidak semestinya yang akan mengasingkan masyarakat setempat. Kartel mendorong pemerintah Meksiko untuk mengirim tentara, bukan polisi. Para tentara menghancurkan rumah, membakar desa, memukuli dan menyiksa tersangka yang seringkali tidak bersalah, mengubah masyarakat yang tadinya bersikap netral atau bersedia menolong menjadi musuh mereka. Kartel kemudian akan membangun klinik, gereja, dan tempat permain, mengadakan festival bagi anak-anak dan perayaan hari ibu di mana mereka akan menghadiahkan sebuah mesin cuci atau kulkas bagi setiap wanita.

Taktik dua sisi intimidasi dan kemurahan hati ini telah digunakan oleh ISIS dan kelompok jihadis lainnya ketika misil dan bom milik Amerika menyebabkan kerusakan sosial dan menarik pengikut baru. ISIS berusaha mendorong AS untuk berperang di medan merang, di mana pasukan akan memerangi perang gerilya, dengan segala pertumpahan darah yang akan mengikutinya.

Tragisnya, ISIS mengadopsi taktik lain kartel.

Pembantaian “pihak lain.”

Seiring dengan penyebaran dan dalamnya perang obat bius, kartel-kartel akan pergi menuju sebuah kota atau sebuah lingkungan dan langsung menghabisi siapapun yang bukan “mereka”, entah hal itu benar atau hanya dugaan saja. Jika ada sedikit saja kemungkinan bahwa sekelompok orang mungkin memihak pihak lain, kartel akan membunuh mereka. Mereka menyerang pusat rehabilitasi narkotika, pesta ulang tahun anak remaja, rumah sakit. Kelompok Zeta secara rutin menghentikan bus-bus imigran yang menuju utara di Highway 1 (The Highway of Death) dan membunuhi semua pria karena dikhawatirkan mereka merupakan pengikut baru saingannya, Gulf Cartel. Wanita dan anak-anak dibunuh atau diperkosa, dan kemudian dijadikan prostitusi atau pekerja paksa.

ISIS, juga menghabisi “pihak lain” – orang Nasrani, Syiah, dan “bidah”, “kafir” – siapapun yang mereka curigai akan bekerja sama dengan pihak musuh atau menantang otoritas mereka. Sekali lagi, dalam kasus ISIS dan kelompok jihadis lainnya, kaum wanita diberikan atau dipaksa menjalani pernikahan.

Inilah permainan ISIS: media sosial sebagai alat intimidasi, rekrutmen, dan provokasi; pembunuhan massal sebagai alat kontrol – yang sekarang kita saksikan dengan penuh kengerian dan keterkejutan.

Akan tetapi pada kenyataannya, kita telah melihatnya sejak betahun-tahun yang lalu.

Hanya dari sekitar perbatasan negara kita.

ISIS memperolehnya dari kartel.

 

Sumber : thedailybeast


↑ Back to Top