Blog / Serangan Seks di Cologne Yang Dilakukan Para Imigran Muslim Sudah Direncanakan

Seorang perempuan lain, Anne (25), mengatakan kepada harian Jerman, Bild, bahwa ia sedang menunggu meja di sebuah klub malam dan keluar sebentar saat jeda ketika dirinya diserang oleh sekelompok pria "Arab", yang menarik gaunnya dan merobek celana dalamnya sebelum melarikan diri.

Harian yang sama melaporkan, seorang perempuan lain yang tidak disebutkan namanya, yang berusia 20 tahun, mengaku bahwa setiap potong pakaian di tubuhnya jadi robek, sementara temannya "dilecehkan dengan jari".

COLOGNE -  Serangan seks yang terjadi di kota Cologne, Jerman pada malam pergantian tahun bukanlah sebuah hal yang dilakukan secara spontan. Menurut Menteri Kehakiman Jerman, Heiko Maas, serangan itu sudah direncanakan sebelumnya.

Namun, Maas dalam sebuah wawancara dengan media setempat menuturkan, pihaknya sampai saat ini masih mencari informasi dimana dan apa latar belakang dari para pelaku melakukan serangan seks yang memakan korban ratusan wanita di Cologne itu.

"Tidak ada yang bisa memberitahu saya bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak diesepakati atau direncanakan sebelumnya. Kami perlu untuk segera mengungkap bagaimana kejahatan keji itu direncanakan," kata Maas, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (10/12).

Salah seorang korban serangan seksual yang dilakukan imigran Muslim

Kepolisian Cologne sejauh ini menerima 170 aduan, termasuk 117 yang bersifat serangan seksual dan dua pemerkosaan. Dua orang, berusia 16 dan 23 tahun yang diidentifikasi sebagai warga Afrika Utara, telah ditangkap atas tuduhan melakukan penyerangan seksual.

Sebagai buntut dari serangan seks tersebut, ratusan hingga ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes tindakan keji itu. Aksi demonstrasi ini dilakukan di stasiun kereta api Cologne yang menjadi lokasi serangan seks massal itu terjadi, dan mereka menuntut Kanselir Jerman, Angela Merkel, untuk mundur.

Merkel memang menjadi orang yang paling disalahkan atas terjadinya insiden itu. Kebijakan Merkel yang sangat longgar terhadap imigran dinilai sebagai salah satu faktor penyebab kejahatan itu terjadi.

Salah seorang korban serangan seksual massal di kota Cologne, Jerman, telah menggambarkan momen mengerikan saat sekelompok pria berjumlah lebih dari 30 orang mengepung dia dan teman-temannya lalu menggerayangi serta merampok mereka pada malam perayaan Tahun Baru.

Seorang perempuan lain menceritakan bagaimana pakaian dalamnya benar-benar robek dari tubuhnya dalam serangan yang tampaknya terkoordinasi, di luar stasiun kereta api utama di kota terbesar keempat di Jerman itu pada tengah malam tanggal 31 Desember 2015.

Kepala polisi Cologne, Wolfgang Albers, menggambarkan para pelaku bertampang Arab atau Afrika Utara, dan menyebut serangan itu sebagai "sebuah dimensi kejahatan yang sama sekali baru". Serangan tersebut mengejutkan Jerman dan memicu perdebatan tentang kebijakan pengungsi negara itu.

Salah seorang korban, Michelle (18), mengatakan kepada saluran televisi berita NTV bahwa dia bersama sekelompok temannya yang berjumlah 10 orang tiba di stasiun kereta api pada sekitar pukul 11.00 malam menjelang pergantian tahun. Mereka melihat sekitar 1.000 orang, hampir semuanya pria asing, berkumpul di daerah yang berdekatan dengan katedral kota itu.

Michelle mengatakan, saat ia dan teman-temannya berjalan menuju Sungai Rhine untuk menonton kembang api, "Tiba-tiba 20 sampai 30 pria mengepung kami, dan semakin banyak yang datang".

Dia mengatakan, para pria itu mulai melecehkan mereka, menyentuh kaki, punggung, torso, dan bokong mereka, serta berusaha untuk meraih pakaian dalam mereka. "Untungnya kami mengenakan pakaian yang tebal," kata Michelle.

Ia dan teman-temannya protes, tetapi para pria itu tampaknya tidak mengerti bahasa Jerman. "Mereka semua orang asing," katanya.

Michelle mengatakan, beberapa temannya berteriak selama serangan, yang ia diperkirakan berlangsung selama lima menit. Mereka akhirnya bergandengan tangan dan bebas. Beberapa dari anggota kelompoknya itu menangis.

Beberapa saat setelah melarikan diri, mereka baru menyadari bahwa mereka juga telah dirampok. Ponsel, dompet, dan rokok mereka telah diambil para pria itu.

Seorang perempuan lain, Anne (25), mengatakan kepada harian Jerman, Bild, bahwa ia sedang menunggu meja di sebuah klub malam dan keluar sebentar saat jeda ketika dirinya diserang oleh sekelompok pria "Arab", yang menarik gaunnya dan merobek celana dalamnya sebelum melarikan diri.

Harian yang sama melaporkan, seorang perempuan lain yang tidak disebutkan namanya, yang berusia 20 tahun, mengaku bahwa setiap potong pakaian di tubuhnya jadi robek, sementara temannya "dilecehkan dengan jari".

Salah seorang korban mengatakan, saat kekacauan di sekitar stasiun kereta api terjadi, ia takut dirinya bisa terbunuh atau diperkosa dan "tidak seorang pun yang akan melihat hal itu", seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

Perempuan itu mengatakan, dia dan temannya berjalan melewati stasiun kereta api ketika mereka dikelilingi sekelompok pria yang "menggerayangi kami di mana-mana" dan "meraba-raba di antara kaki-kaki kami".

"Saya berpikir bahwa jika kami tinggal di sini dalam kerumunan ini, mereka bisa membunuh kami, memerkosa kami, dan tidak seorang pun yang akan tahu. Saya pikir, kami hanya harus menerima hal itu. Tidak ada orang di sekitar kami yang membantu atau berada dalam posisi untuk membantu. Yang saya inginkan adalah keluar dari sana," kata perempuan itu.

"Saya takut bahwa saya tidak akan bisa keluar dari kerumunan itu dalam keadaan masih hidup. Saya takut bahwa jika seseorang muncul dengan pisau, saya bisa diperkosa di tengah jalan. Saya mengalami mimpi buruk pada malam itu dan saya tidak bisa tidur lagi. Saya terlalu takut untuk pergi ke luar, dan tentu saja saya sekarang takut pergi ke kota-kota besar."