FHTH Pengabdian yang Tulus

 

Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. II Korintus 11 : 9

 

 

Kehadirannnya tak pernah kita harapkan, namun saat terjadi kebakaran dialah yang akan kita panggil, dialah pemadam kebakaran. Sebagian orang mengira pekerjaan pemadam kebakaran adalah pekerjaan yang enteng, tinggal memadamkan api urusan beres, kalau tak ada kebakaran mereka menganggur dan makan gaji buta. Anggapan itu di satu sisi memang betul, namun di satu sisi salah karena pekerjaan sebagai pemadam kebakaran adalah sebuah pengabdian. Gaji sebagai pemadam kebakaran terbilang minim, padahal resiko pekerjaan mereka sangat tinggi. Saat saya membaca kisah suka duka pemadam kebakaran yang dimuat di salah satu harian nasional, banyak sekali resiko dan kecelakaan yang harus siap mereka alami.

Seorang pemadam pernah mengalami luka bakar di kakinya karena menginjak bahan plastik yang masih panas, ada pemadam yang matanya luka parah terkena pecahan kaca. Ada yang luka parah kepalanya tertimpa balok kayu rumah. Saat menuju tempat yang terbakar, kadang mereka dihadang penduduk yang menuntut rumahnya dahulu yang diselamatkan, susah memasuki perumahan yang di portal di sana-sini, dan ada juga yang dikalungi clurit oleh massa dan dipaksa memadamkan api di rumah mereka. Menggali sumur dan memperbaiki mesin pompa macet pun menjadi hal biasa yang harus mereka alami. Walau profesi  pemadam kebakaran kurang terkenal, mereka tetap dengan setia menjalankan tugas dan pantang pulang sebelum (api) padam.

Sebagai orang percaya kepada Kristus, apapun profesi kita. Entah pendeta, penulis buku, pemimpin pujian, guru sekolah minggu, petugas kebersihan gereja, seksi peralatan, dan lain-lain, pelayanan kita sebetulnya pun adalah pengabdian yang tulus. Tak ada membayar kita secara materi. Mungkin kita berkata pendeta dan penulis mendapat bayaran. Ucapan itu betul, namun itu semua dari Tuhan. Melayani Tuhan berbeda dengan berdagang yang menjual barang atau jasa demi mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Menjadi murid Yesus adalah pengabdian yang tulus, sehingga besar atau kecil berkat yang Tuhan berikan, kita harus terima semuanya itu dengan penuh ucapan syukur dan kita pergunakan dengan bijaksana.

 Puji Tuhan kalau melalui pelayanan kita mendapat pemasukan yang cukup besar, misalnya dengan menjadi penulis buku rohani, atau motivator rohani. Namun jangan kecil hati dan merasa diabaikan Tuhan, kalau penghasilan kita minim bahkan kurang. Kita bisa belajar dari Paulus yang pelayanannya sangat luar biasa, namun secara penghasilan serba kekurangan. Walau begitu Paulus tetap semangat melayani Tuhan karena dia tahu pengabdian yang tulus yang dia lakukan bukan mencari ketenaran atau uang, namun pengabdian yang tulus kepada pemilik dunia ini, yang juga menebus dirinya.

 

 

Jadilah pelayan Tuhan yang tidak duniawi.

 


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top