Blog / Apakah Anda Sungguh-Sungguh Mencintai Syariah?

­

 

Muslim umumnya memiliki pengertian yang sangat sedikit tentang Syariah. Butir-butir tentang semua hukum positip Syariah tidak diumumkan dengan terbuka dan kaffah. Politisi yang mencoba memaksakan hukum Syariah tidak menjelaskan esensi dan kebenarannya sampai mereka sudah memegang tampuk kekuasaan, sehingga rakyat yang dipimpinnya terlanjur tidak memiliki cara dan kesempatan lagi untuk membalikkan keadaan. Mereka mencoba menghembuskan betapa damai dan rahmatnya Syariah bilamana itu ditegakkan diseluruh Negara. Tak ada yang harus dikhawatirkan, karena hak-hak manusia dijunjung sendiri oleh Allah sang Penciptanya. Betapa besar pahala yang akan diterima kelak oleh umatNya karena melaksanakan undang-undang Ilahi ini. Dar al Salam dan Rahmatan lil alamin itulah yang dinikmati masyarakat yang bertakwa …

Namun Ibn Warraq, tokoh besar mantan Muslim ber-kata: “Dengan menggunakan standar-standar manusia saja (human), hukuman-hukuman dalam Syariah adalah tidak manusiawi (inhuman)… Syariah hanya memberikan human duties, bukan human rights”.

Inilah antara lain yang akan kita “nikmati” dalam Syariah:

 

1. Semua penduduk harus menjalankan shalat (doa) lima waktu. Jika saat waktu shalat anda tertangkap basah melakukan hal lain, maka anda akan dipukuli.

Nabi berkata,”Sesungguhnya aku telah memutuskan untuk memerintahkan muazin mengumumkan azan dan memerintahkan seorang pria memimpin shalat serta membawa obor untuk membakar mereka yang tidak meninggalkan rumah-rumah mereka untuk menjalankan shalat, beserta dengan rumah-rumah mereka.” (Bukhari, Adhan 29, Husumat 5, Ahkam 52; Muslim, Masajid 252, (651); Muwatta, Salatu'l-Jama'a 3, (1, 129-130); Abu Dawud, Salat 47, (548, 549); Tirmi-dhi, Salat 162, (217); Nasai, Imamah 49, (2, 107).

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

 

2. Semua pria akan memelihara/menumbuhkan janggut. Panjang yang dianggap benar adalah setidaknya satu kepalan di bawah dagu. Jika Anda tidak mematuhi aturan ini, Anda akan dipukuli

 

Dari Ibn Umar yang mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tampillah kalian berbeda dengan orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis”. Dan ketika Ibn Umar melak-sanakan haji atau umrah, beliau memegang jenggotnya, dan ia pun memotong bagian yang melebihi genggamannya” (Shahih al-Bukhari, 5442).

 

3. Semua anak laki-laki akan mengenakan turban. Kaum wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuh mereka dengan pakai-an yang longgar (baggy)

Anak laki-laki dari kelas satu sampai kelas enam akan mengenakan turban hitam, kelas yang lebih tinggi akan mengenakan warna putih. Semua anak laki-laki akan mengenakan pakaian Islam. Kerah kemeja harus dikancing. Aturan berpakaian dalam Islam bersifat wajib baik untuk laki-laki dan perempuan. Islam melarang kebebasan individu dari masyarakatnya untuk berpakaian sebagaimana yang mereka kehendaki sendiri-sendiri. Setiap pelanggaran akan dihukum termasuk hukuman badan seperti dipenjara, dicambuk dan dipermalukan di hadapan publik

Kaum wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuh mereka dengan pakaian yang longgar (baggy) dengan perkecualian pada muka dan tangan mereka. Hukum ini didasarkan pada Quran Surah Al-Ahzab 33:59 yang berbunyi:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, dan oleh karena itu mereka tidak akan diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hukum untuk menutup tubuh itu juga didasarkan pada urusan syahwat:

“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (Hasyiah ‘Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188-189) Quran Surah An-Nur 24: 30-31 mem-berlakukan larangan yang lebih ketat baik terhadap pria maupun wanita dalam kaitan dengan bagaimana seharusnya mereka berpakaian dan dengan siapa mereka diijinkan untuk berinteraksi.

 

 

4. Menyanyi adalah aktifitas yang dilarang

Apakah menyanyi dan bermain musik diharamkan dalam Is-lam atau tidak; merupakan masalah penafsiran dimana kedua posisi adalah saling menyalahkan.

“Sekelompok dari umatku benar-benar akan minum khamr, dan mereka akan menamakan khamr itu dengan nama lain. Di atas kepala mereka akan dimainkan alat-alat musik dan penyanyi-penyanyi wanita. Allah akan membenamkan mereka kedalam bumi/tanah, dan menjadikan lainnya kera-kera dan babi-babi” (Hadist Shahih Lighairihi, riwayat Bukhari dlm At-Tarikh; Ibn Majah no 4020)

Dan yang paling keras melarang musik adalah:

 

Shahih Bukhari vol.7. 69. no.494:

Dikisahkam oleh Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Ash’ari: Nabi berkata, “Diantara para pengikutku akan ada sejumlah orang yang akan menganggap seks-bebas (illegal), mengenakan sutra, minum al-kohol, dan memainkan alat musik, itu dianggap termasuk hal-hal yang dibolehkan hukum…. Allah akan menghancurkan mereka diwaktu malam dan menimpakan gunung keatas mereka, dan Dia akan mengubah sisa-sisa mereka menjadi kera-kera dan babi-babi seumur hidupnya hingga kepada Hari Kebangkitan”.

 

Hadist Muslim vol.24, no.5279  

dari Abu Huraira, Rasul Allah berkata: “Lonceng adalah alat musik dari Syaitan”

 

Namun sebaliknya, Muhammad pula yang mengizinkan menyanyi dan bermain musik, tatkala itu digelar di rumahnya,

Shahih Bukhari vol.5, no.268,

Diriwayatkan Aisyah: Suatu ketika di hari Idul Fitri atau Idul Adha datanglah Abu Bakr ke rumah dia (Aisyah) tatkala ada Nabi dan dia, beserta dengan 2 orang gadis penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Ansar tentang hari (perang) Bu’ath. Abu Bakr menegur dua kali, “Alat musik dari Syaitan!”

Tetapi Nabi berkata: “Biarkan saja mereka, Abu Bakr, sebab setiap bangsa mempunyai ‘Id (festifal) dan hari ini adalah ‘Id kita.”

 

Shahih Bukhari vol.6, no.568,

Diriwayatkan Abu Musa, bahwa Nabi berkata kepadanya, 

“O Abu Musa! Engkau telah diberikan satu alat musik tiup dari keluarga Daud”

Dan Hadist ini telah dikonfirmasi oleh dua ayat Quran yang juga memuliakan nyanyian-nyanyian Zabur(silahkan baca QS.4:163, 17:55).

Dalam ketidakpastian, keputusan diserahkan pada para mullah dan para sarjana untuk memutuskan apakah bermain musik diijinkan atau dapat diam-puni. Banyak dari mereka yang bersikap hati-hati dengan tidak mengijinkan musik. Mereka bahkan mengutip Quran Surah Luqman 31:6 yang berkata:

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (misalnya musik, nyanyian) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah...” dan melihat musik sebagai omong kosong untuk mendukung pandangan-pandangan mereka.”

Al-Hasan al-Basri mengatakan, ayat ini diwah-yukan dalam kaitan dengan menyanyi dan instrumen musik (literal: instrumen tiup dari kayu). (Tafsir Ibn Kathir, 3/451)

 

5. Menari dilarang