Blog / Islam Agama Tahyul

Ketakutan akan tahayul

Apakah sesungguhnya Muhammad sebenarnya percaya akan adanya kuasa yang lebih tinggi sebetulnya patut dipertanyakan. Tetapi melalui pembacaan dari Hadis, nyata bahwa rasa takutnya yang sangat rumit memaksanya untuk terobsesi secara tahayul atas kejadian-kejadian di alam di langit.

Ditulis di dalam Hadis tiupan angin yang seperti biasa saja membuat ‘nabi’ ketakutan:

Anas bin Malik berkata, “Jika akan terjadi angin yang berhembus kencang, maka hal itu dapat diketahui pada wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Sahih Bukhari 976)

Jika Muhammad berteriak ketakutan karena tiupan angin kencang, tentu saja hal ini akan menunjukkan sifat cengengnya yang asli. Ironisnya, rasa takutnya yang kelihatan tersebut malah menjadi senjata terhadap para pengikutnya yang sangat bodoh itu. Menyadari bahwa semua ke-materialistis-an manusia itu sebetulnya dapat membuat mereka berpaling dari pengajaran pemujaan Muhammad yang sangat memberatkan tersebut, hamba Allah ini sekali lagi menggunakan tahayulnya yang tidak mendasar, dan terang-terangan menakut-nakuti pengikutnya agar mereka tunduk.

Menurut sang ‘nabi’, kecintaan akan ‘hal duniawi’ akan menyebabkan “ketulian dan kebutaan.” Dan lagi, dongeng nenek nenek tua Islam muncul, seperti tahayul barat zaman dulu, bahwa ‘masturbasi’ akan menyebabkan “kebutaan dan tangan berbulu.”

Ketika kemudian ‘nabi’ melihat ketaatan dogmatik dari pengikutnya sudah tidak tergoyahkan, maka sudah menjadi hal yang mudah untuk menggunakan ketakutan tahayul tersebut untuk membuat mereka menjadi bawahan yang tidak pernah berpikir logis lagi. Tentu saja, indoktrinasi Islam akan api neraka yang ada, kemaha-hadiran Setan, dan mata Allah yang selalu mengawasi, membuat setiap orang yang baru saja menjadi pengikutnya menjadi sangat patuh atas perintahnya. Seperti misalkan, bahwa ada malaikat Islam yang mencatat riwayat siapa saja yang hadir pada saat Jumatan di mesjid, dan siapa yang tidak. Tetapi sesungguhnya, hal yang paling mendasar pada diri Muhammad adalah ‘uang’, dan tahayul ini tidak diragukan lagi menjamin aliran Zakat terus mengalir, supaya pengikutnya tidak melupakan kewajiban mereka untuk membayar upeti penghormatan kepada ‘nabi’.

Muhammad juga meneruskan tradisinya membuat cerita yang menakutkan, untuk mengatur pengambilan Zakat dari setiap pedagang, penjual, tentara, bahkan pengemis:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Harta salah seorang diantara kalian (jika tidak dizakati), maka pada hari kiamat menjadi ular yang menyeramkan, pemilik harta itu berusaha menyelamatkan diri namun si ular terus memburunya sambil mengatakan; ‘aku adalah hartamu, ‘ Demi Allah, si ular itu tiada henti memburunya hingga orang yang mempunyai harta membentangkan tangannya dan dia melahapnya.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika pemilik unta tidak memberikan haknya, maka pada hari kiamat unta tersebut melawannya hingga menginjak-injak wajahnya dengan kuku kakinya.” (Sahih Bukhari 6443)

Moral dari cerita itu? Bayar pajakmu, atau hal buruk akan menimpamu!

Tahayul yang menular

Setelah ‘nabi’ mulai berurusan terus dengan kewajiban keuangan umat Muslim, dan ketika hal tersebut belum membebani seperti itu, mulai-lah pendiri Islam ini membuat dirinya bisa mengatur bagaimana caranya agar para pengikutnya bisa melakukan hubungan badan.

Menurut Muhammad, ia mengkotbahkan bahwa menurutnya kalau “sepasang suami istri orang Yahudi bersetubuh di luar posisi selain posisi ‘kuno’ maka anaknya akan lahir dengan mata juling.” Tetapi, jikalau seseorang mencoba berpikir apa maksud dan tujuan dari nasehat yang tidak masuk akal itu, maka akan terlihat kalau sebetulnya sang ‘nabi’ sedang mempergunakan tahayul-nya yang menyesatkan itu guna menempatkan dirinya agar dapat ambil bagian dari setiap aktivitas seks dalam posisi yang disenanginya – sementara juga ia menjauhkan keberadaan dirinya dari kultur Yahudi. Tradisi ini merupakan sebuah upaya ‘membunuh dua burung dengan satu lemparan batu,’ begitulah kira-kira.

Sama dengan hal di atas, ‘nabi’ juga mendorong konsep aneh bahwa ‘pemilihan kelamin bayi’ dapat ditentukan semata melalui keberhasilan orgasme:

“…apabila sang suami mendatangi istrinya, apabila air mani suami mendahului air mani istrinya berarti akan lahir anak yang mirip dengan bapaknya, sebaliknya apabila air mani istrinya mendahului air mani suaminya maka akan lahir anak yang mirip dengan ibunya”. (Sahih Bukhari 3082)

Tentu, pada awalnya umat Muslim mengadopsi tradisi Arab pra Islam yang lebih memilih laki-laki ketimbang wanita, sehingga usaha untuk memilih kelamin laki-laki untuk anak mereka terlalu menarik untuk tidak diikuti. Bertindak melalui tahayul seperti ini, Muhammad secara gila mencetuskan mantra yang bisa mengubah kelamin bayi, yaitu dengan mengucapkan ‘Bismillah’ selagi berhubungan badan, maka anaknya dijamin laki-laki.

Bukan rahasia umum bahwa anak laki-laki di dalam Islam akan selalu berada dalam posisi populer selama sistem pemujaan Muhammad ini terus berlaku. Dan, tidak diragukan lagi bahwa setiap pasangan yang ingin melahirkan anak laki-laki, dan wanita di dalam Islam selalu dianggap oleh ‘pendiri Islam’ sebagai yang lebih ‘rendah’. Akan tetapi bagi semua keluarga Muslim yang ‘sedang tidak beruntung’ karena melahirkan anak perempuan, tidak diragukan lagi iman mereka di dalam Islam akan terguncang jikalau mereka tahu bahwa mantra “Bismillah” hanyalah dongeng nenek-nenek tua.

Kita merasa kasihan dengan seluruh umat Muslim yang wanita (Muslimah), yang orang tuanya sebetulnya menginginkan anak laki-laki ketimbang mereka. Bagaimana terhinanya perasaan mereka jika mereka tahu bahwa ini karena Muhammad, bahwa orang tua mereka percaya dan yakin bisa mengubah kelamin anak yang akan mereka lahirkan.

Ya, bahkan di Islam juga kontradiksi yang terjadi sehubungan dengan kelahiran anak sangat mencuat karena sang ‘nabi’ sendiri yang mengatakan bahwa “tidak ada seorang pun yang tahu kelamin seorang anak sebelum dilahirkan.” Tetapi bila mengatakan “Bismillah” menjamin anaknya menjadi laki-laki, bukankah ini merupakan cara jitu mengenai kelamin seorang bayi? Jika memang ini halnya, maka mantra itu sama artinya tidak ada gunanya, atau anda sudah dapat mengetahui kelamin bayi sebelum anak itu lahir. Tanpa terkecuali, ini adalah bukti ampuh yang menunjukkan kalau Muhammad itu nabi palsu.

Tetapi ada lagi, bahkan sekarang kita sudah bisa menggunakan kecanggihan teknologi ‘ultra-sound’ untuk mendeteksi kelamin anak. Jadi, kesimpulannya, kedua argumen ini membuktikan bahwa betul ‘nabi’ ini palsu, karena tidak ada prosedur mental atau prosedur verbal yang bisa dibuktikan untuk mencoba mengubah kelamin seorang bayi.

Tahayul dan ilmu alam

Ilmu alam adalah ilmu tentang alam semesta, dan terbagi menjadi dua kubu, yaitu kebenaran, atau fiksi atau hipotesis – tetapi bukan tahayul. Kebanyakan akademisi masa kini, rasionalisasi atas realitas kita yang ada adalah didasarkan pada kebenaran, sebagai hasil dari eksperimen yang melelahkan sehingga hasilnya jelas dan tidak meragukan.

Jika seorang individu mengajukan hipotesa yang dipandang aneh atau tidak benar, maka ia akan disebut seorang ilmuwan yang bodoh tidak berguna, tetapi tetap seorang ilmuwan. Kadang kala, teori yang paling liar sekalipun biasanya mengandung beberapa usaha pembuktian ilmiah. Akan tetapi bagi seorang pemimpin religius yang tidak pernah mengeluarkan hipotesa, tetapi mengaku mengerti seluruh ilmu alam semesta, kerumitannya, hal-hal rahasia yang tersembunyi di alam, termasuk solusi dari berbagai hal berdasarkan kaidah ilmu alam semesta; tetapi ternyata didapatkan bahwa hal tersebut ternyata salah – maka seharusnya ia tidak disebut lagi ilmuwan bodoh, tetapi nabi palsu.

Berulang kali, Hadis memberikan anjuran-anjuran yang tidak berdasar, fiksi dan telaahan aneh tentang ilmu alam yang malah menunjukkan siapa sebenarnya Muhammad itu – seorang yang tidak terpelajar, yang mati-matian berusaha memahami ilmu fisika yang ia tahu dari dunianya yang sangat primitif, sementara mendasarkan ilmunya semata berdasarkan tahayul.

Banyaknya bukti bahwa keterbatasan intelektual yang dimiliki ‘nabi’ mendorongnya untuk mengkotbahkan kejanggalan, yang sedihnya, umat Muslim sekarang percaya hal tersebut sebagai suatu kebenaran.

Setelah membaca keseluruhan Hadis, menjadi jelas bahwa tidak ada satupun dari temuan Muhammad didasarkan atas suatu pengujian dari suatu hipotesa, tetapi hanya merupakan mitos, dongeng, dan kisah nenek-nenek tua. Sebagai contoh, sakit jiwanya karena hal-hal supernatural membuatnya terobsesi tentang sesuatu ancaman yang sebetulnya tidak ada, seperti murka Allah. Jika kita membaca Quran dan Hadis, tidak pernah sekalipun Allahnya Islam pernah membuktikan keberadaannya dengan mengendalikan kejadian fisik seusai dengan ucapannya. Tentu saja, Islam tidak bisa mengklaim Perjanjian Lama yang di Alkitab sebagai ke Maha Kuasa an dari Allah, sebagaimana kejadian mujizat di dalam Alkitab hanya unik bagi umat Yahudi dan Yahweh (nama diri Tuhan dalam Perjanjian Lama) dan bukan bagi agama lain – termasuk Islam.

Malahan, cerita di dalam Islam kekurangan bukti, dan menjadi bukti bahwa isinya merupakan kumpulan dari cerita karangan yang tidak memiliki dasar keilmuan ataupun bukti arkeologis. Muhammad sadar akan hal ini, tetapi bersikeras untuk tetap melanjutkan membuat cerita tahayul yang aneh dan menggelikan, mencoba untuk memberi agamanya kredibilitas dan mencoba dengan keras dan kejam terhadap lawan-lawannya, yaitu bangsa Yahudi dan Tuhan mereka. Ia gagal. Jika seseorang mempelajari seluruh dugaan sains yang disebutkan di dalam cerita-cerita buku Islam, tidak ada satupun yang dapat memberikan bukti yang tidak terbantahkan, bahkan semuanya merupakan tahayul yang sederhana.

Contoh dari hal ini adalah sebuah tradisi yang menggambarkan peringatan sang ‘nabi’ untuk tidak pernah melihat ke atas langit ketika sedang berdoa, supaya jangan kehilangan mata mereka. Tentu saja, melihat langit secara berlebihan akan membuat daya penglihatan menurun, tetapi hal itu menjadi lucu karena sang ‘nabi’ melarangnya hanya pada saat sedang sholat. Pada saat tidak sedang sholat, tidak apa-apa bila memandang matahari langsung tanpa beresiko merusak retina mata

Tentu, sementara para pembela Muslim bersiap-siap untuk membela ‘nabi’ mereka dengan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan sebuah metafora, sebuah ayat lain berkisah tentang hal itu dengan maksud yang mirip:

Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika ia mengangkat kepalanya sebelum Imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai?” (Sahih Bukhari 650Sahih Bukhari 650)

Jelaslah, bahwa Muhammad tidak memiliki pemahaman tentang bahaya dari sinar matahari, dan menyebutkan tradisi aneh ini untuk memperluas rasa ketakutan berdasarkan tahayul kepada allah, pejabat Islam, dan imam mereka.

Namun, menurut Islam, sang ‘nabi’ adalah sebuah “suri tauladan dari karakter manusia” dan sebagai sang “manusia sempurna”, dan dengan pernyataan demikian akan menyebabkan setiap orang berpikir bahwa dengan gelar mulia dan hubungan dengan Allah seperti itu, tentu akan memiliki pengetahuan lengkap atas semua molekul alam, atom, dan pola alam. Akan tetapi, sang “tuan jagad raya” selalu menyatakan kalau dia sendiri bahkan tidak dapat meramalkan akan datangnya hujan. Namun, hari ini kita dapat memperkirakan secara akurat ramalan cuaca ke 10 hari ke depan. Mengejutkan memang, dengan keseluruhan pemahaman Muhammad yang turun dari Allah dan indra keenamnya, ia tidak dapat menunjukkan kemampuan sensorinya yang tiada duanya pemberian Allah itu untuk meramalkan alam dalam beberapa hari ke depan.

Tentu saja, tipu muslihatnya yang nyata-nyata diungkapkan tidak dapat dipahami oleh umat Muslim masa kini yang tetap saja mempercayai bahwa manusia satu ini secara khusus dipilih oleh Allah untuk memimpin umat manusia. Kok bisa, manusia yang begitu spesial dan ditinggikan jadi sedemikian keliru? Sangat tepat bila dikatakan benar ketika ‘nabi’ mengatakan bahwa kilat itu disebabkan oleh “malaikat”, bukan karena perubahan suhu udara di atmosfir:

Ibnu Abbas berkata: Orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan berkata: Wahai Abu Al Qasim, ceritakan kepada kami apakah halilintar itu! beliau menjawab: “Itu (halilintar) adalah seorang malaikat yang ditugaskan (mengatur) awan, bersamanya ada angin dari api untuk menggiring awan sesuai kehendak Allah.” Mereka bertanya: Lalu dari mana asal suara (halilintar) yang kita dengar itu? Beliau menjawab: “Itu adalah benturan dengan awan dan akan berhenti sesuai dengan perintah Allah,” mereka berkata: Engkau benar" (Sunan Tirmidzi 3042)

Lebih jauh lagi, pemahamannya yang salah dan tahayul akan ‘matahari’ juga membuktikan dirinya jauh lebih seperti seorang bayi ketimbang yang lain. Jelas sekali terlihat upayanya meneruskan ‘pengetahuan’ tahayulnya kepada penerus masa depan Kalifah Umar, dia juga meniru tuannya sang ‘nabi’ dengan menekankan tanpa ilmu bahwa “mandi di bawah matahari langsung akan menyebabkan leprosy/kusta.” Tanda kebodohan ini tentu saja diturunkan dari kesalahan Muhammad mendiagnosis gejala terbakar karena terpapar matahari, yang secara keliru mempercayai bahwa itu adalah kusta. Tentu saja, setiap orang yang tahu akan mengerti kalau memberikan air pada kulit sementara berada ditengah terik malah akan memperparah efek sengatan matahari pada kulit. Dijamin, kalau pengikutnya mandi berlama-lama di bawah panasnya matahari padang pasir pasti akan bengkak-bengkak.

Meskipun demikian, hal itu tidak membuat Muhammad jera untuk mandi di bawah terik matahari, sambil mengajarkan pengikutnya karena mereka hanya perlu menghindari untuk mandi di bawah matahari di hari “Rabu” saja, karena itulah hari menurut ‘nabi’ sebagai satu-satunya hari dimana kusta bisa muncul.

Tidak dapat dipungkiri lagi kalau kepercayaan tahayulnya seringkali berhubungan langsung dengan penyakit mentalnya (skizofrenik), karena ia terus menerus mengutarakan halusinasinya yang masih tertinggal di dalam ingatannya, dan itu menjadi dasar ketakutannya. Lebih lagi, Muhammad juga mengira bahwa ‘gerhana matahari’ bukan lah karena perubahan susunan di tata surya, tetapi secara tahayul menyatakan kalau kejadian ini merupakan suatu kejadian yang dibuat oleh Allah untuk “menakut-nakuti orangnya yang taat.” Kenapa sesosok Allah mau menakuti ciptaannya dengan cara seperti itu, tanpa alasan lagi, sungguh di luar akal sehat kita. Sekali lagi, hal ini meneguhkan kembali kenyataan bahwa allahnya orang Islam tidak dapat membuktikan keberadaannya, dan hanya dapat ditemukan  di saat gerhana saja, yang merupakan kejadian alam biasa. Kalau di Perjanjian Lama, Yahweh membelah Laut Merah, menunjukkan diriNya di semak yang terbakar dan mengirim air bah yang menutupi bumi. Tidak satu pun dari hal ini yang merupakan kejadian alam yang biasa menurut nalar, dan dengan demikian itu menunjukkan suatu kekuatan supra natural sedang bekerja.

Muhammad tidak pernah mampu menunjukkan keberadaan allahnya. Akibatnya, ia selalu mendasarkan keberadaan Awloh melalui kepercayaan-kepercayaan agama kuno bahwa matahari adalah dewa/ilah atau suatu makhluk kejam; seperti yang diyakini bangsa Maya kuno dan Mesir kuno zaman Firaun Akhenaten yang juga menyembah dan menghormati benda-benda angkasa yang besar.

Tambahan lagi, ‘nabi’ Islam ini tetap konsisten dengan kepercayaan sintingnya mengenai bulan dan panas ‘kejam’ yang ditimbulkannya, yang secara tahayul dikatakan ‘nabi’ bahwa matahari terbit itu sedang difitnah dengan pengaruh Setan:

Dari Ibnu Umar ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian menunda-nunda shalat sehingga mengerjakannya saat matahari terbit, dan jangan pula saat terbenamnya, karena matahari itu terbit di antara dua tanduk syetan.” (Sahih Muslim 1370)

Bagi seorang manusia untuk bisa dianggap naik ke surga, dan bisa mendapatkan kesempatan istimewa untuk secara historis menatap bumi dari ketinggian seperti itu, sang ‘nabi’ tetap berpendapat bahwa matahari hanyalah sebuah obyek seukuran bola voli yang menurutnya berhenti istirahat di penghujung hari. Hal ini diperkuat di Quran, sebagaimana di ayat tersebut bahwa Muhammad sedang memberikan perintah kepada matahari arah jalan dan terbenamnya:

“Hingga, apabila dia telah mencapai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari itu terbenam di air yang berlumpur hitam.” (Quran sura 18:86)

Bagaimana pun juga, tahayul yang dimilikinya suatu kali membongkar pandangannya yang bertolak belakang dengan kejadian alam, ketika sang ‘nabi’ menyatakan bahwa matahari terbenam di bawah tahta dewa, bukan di air yang keruh:

Abu Dzar radliallahu ‘anhu dia berkata; Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid pada saat matahari mulai terbenam. Lalu beliau bertanya; Wahai Abu Dzar, tahukah kamu dimana matahari terbenam? Aku menjawab; Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya matahari itu pergi hingga ia bersujud di bawah Arsy. (Sahih Bukhari 4428)

Silahkan mengoreksi kalau salah, bukankah Muhammad berkata Matahari tenggelam di “air yang keruh”? Sekarang kita tahu bukan di “air keruh” sebagaimana ucapan sebelumnya, tetapi kini ia mengatakan yang bertolakbelakang, bahwa matahari menurutnya seperti benda datar seperti sajadah yang dia pakai untuk sujud menyembah Allah. Kalau datar, berarti ratusan ribu foto dan video dari luar angkasa yang dibuat oleh NASA salah. Kok bisa, nabi yang diakui sebagai rahmatan lil alamin ini bisa salah?

Tentulah, tradisi ini tidak saja menunjukkan kalau sifat percaya tahayulnya itu bohong belaka, tetapi juga menunjukkan konsep Islam kalau dunia itu ‘datar’. Hal serupa akan “fakta” ini diungkap di dalam Hadis, sebagaimana terus menerus sang ‘nabi’ menipu pengikut-pengikutnya untuk mempercayai bahwa dunia itu ditaruh di atas “ikan paus yang besar”:

“Dikatakan bahwa Nun itu adalah seekor ikan paus besar yang sedang mengarungi arus dari samudera dan dipunggungnya ikan itu membawa tujuh Bumi…

Kemudian Allah membuat “Nun” dan Ia menghembuskan air uap keluar naik ke angkasa yang akhirnya menjadi langit dan Bumi pun diletakkan secara mendatar pada punggung Nun. Kemudian sang Nun pun menjadi gelisah dan (sebagai akibatnya) bumi mulai bergoyang, tetapi (Allah) mengikat (bumi) dengan gunung-gunung supaya bumi tidak lagi bergoyang…

Dikatakan juga kalau Nun adalah seekor ikan paus besar yang ada di dasar ke tujuh Bumi.”

Tafsir Ibn-Katsir

Tetapi sekali lagi, kejadian alam yang terbalik-balik yang diumbar Muhammad juga mengutarakan bahwa permukaan planet itu sebetulnya sebuah “karpet besar yang rata”, dan tidak diletakkan di punggung ikan paus. Coba anda pikir:

“Dan Kami telah menghamparkan bumi (seperti karpet); dan menjadikan padanya gunung-gunung yang diam dan tidak bergerak; dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (Quran sura 15:19)

Juga mohon dicatat di dalam Quran 20:53, bahwa kalimat bahasa Arab yang digunakan untuk kalimat ‘menghamparkan’ adalah mahdan, yang artinya dalam kata kerja adalah menggelar rata dari sebuah gulungan. Arti yang sama diulang di Quran 71:19 dengan kalimat Bisaatan.

Akhirnya, bualan keragaman koleksi cerita mistis dan tahayul yang dimiliki Muhammad belumlah lengkap tanpa kebiasaan ancaman Islam yang menakut-nakuti. Di dalam Quran, juga banyak sekali dijelaskan bahwa sang ‘nabi’ tidak memahami kejadian luar angkasa yang spektakuler seperti ‘bintang jatuh’, tetapi malah mengatakan bahwa hal itu adalah perbuatan Setan:

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Quran sura 67:5)

Ini hanyalah sebagian kecil dari ayat-ayat dan tradisi tahayul yang aneh yang dimiliki Muhammad. Beberapa yang terkenal bodoh dan mengejutkan adalah anggapan Muhammad bahwa orang “non Muslim punya 7 usus, sementara orang Muslim hanya punya 1” dan bahwa ‘bawang putih’ menyakiti malaikat, dan juga menyakiti manusia. Tapi kita ketahui bahwa tidak ada satu pun manusia yang lahir dengan usus lebih dari satu, dan kenyataannya, ‘bawang putih’ itu punya banyak khasiat untuk kesehatan, dan secara alami merupakan makanan super yang anti bakteri dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Kita bisa saja melanjutkan artikel ini sepanjang hari, mengupas, membahas, menunjukkan kebodohan dan ke-ngawur-an Muhammad. Sejatinya adalah bahwa pemahamannya akan ilmu alam hanya didasarkan pada alasan tahayul, dan seluruhnya alasannya seperti kanak-kanak. Pengetahuan Muhammad “nol besar” tentang kejadian alam yang ada disekitarnya, kejadian di langit, atau mengenai tata surya, jumlah bintang di langit, yang disebutnya berasal dari bumi.

Ironis bukan, bahwa planet dan bintang di luar angkasa terdekat, termasuk perputarannya, perpindahannya, dan arah putarnya, semuanya sudah dipahami ribuan tahun sebelum Muhammad oleh bangsa Mesir kuno, dan juga di kemudian hari oleh bangsa Viking.

Begitulah apa yang diakunya sebagai sang “manusia sempurna”.

 

Tahayul tentang dunia akhirat dan hari kiamat

Saya pikir baik untuk memulai bahagian ini dengan mengatakan bahwa ayat yang telah disebutkan sebelumnya tentang misalkan “72 perawan, bidadari/houris, anak laki-laki muda bagaikan mutiara yang berserakan” dsb. Nyata sekali bahwa hal-hal ini adalah cerita isapan jempol Muhammad yang begitu bermasalah, tetapi sangat tahayul dan imajinatif.

Namun demikian, jika kita melaksanakan suatu analisis awal untuk menganalisa mitos ini, jelas lah bahwa sang ‘nabi’ mencontek banyak sekali tradisi dongeng-dongeng Hindu-Buddha, yang juga menyebutkan adanya hadiah seks untuk para martirnya.

Jelaslah, bahwa inti dari houris (bidadari dalam Quran disebut houris yang arti harafiahnya adalah pekerja/budak seks) yang dibentuk menurut dewa ‘Apsara’ menurut mitos Hindu-Buddha – suatu roh wanita atau ‘peri surga’ yang menggoda para dewa dan wanita, dan menanti mereka di medan laga. Dalam menjaga kelangsungan nuansa tradisi kesuburan masa pra Islam, adanya houris ini juga berhubungan dengan ritual-ritual kuno.

Bahwasanya pandangan Muhammad secara kultur tentang bumi dan surga dipengaruhi oleh latar belakang itu, hal tersebut juga bercampur baur dengan paham tahayul bahwa alam juga dipergunakan sebagai alat komunikasi verbal oleh Allah. Jika kita mengacu pada nubuatan akhir jaman yang diutarakan oleh sang ‘nabi’, ia sebetulnya percaya bahwa batu dan pohon akan berujar untuk membantu menghabisi orang Yahudi:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kiamat tidak terjadi hingga kaum muslimin memerangi Yahudi lalu kaum muslimin membunuh mereka hingga orang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, batu atau pohon berkata, ‘Hai Muslim, hai hamba Allah, ini orang Yahudi dibelakangku, kemarilah, bunuhlah dia, ‘kecuali pohon gharqad, ia adalah pohon Yahudi’.” (Sahih Muslim 5203)

Astaga, kepercayaannya akan tahayul juga berlanjut bahwa dunia hewan juga merupakan bagian dari rencana sang ‘nabi’ dalam ber-jihad. Sekali lagi, bahwa nyata sekali kepercayaannya dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Buddha, Muhammad mencontek konsep ‘reinkarnasi’ untuk membuat mitos ini:

“Ruh mereka berada di dalam rongga burung hijau yang mempunyai banyak pelita yang bergantungan di ‘Arsy, ia dapat keluar masuk surga sesuka hati kemudian beristirahat lagi di pelita-pelita itu, kemudian Rabb mereka menengok mereka seraya berkata: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu? ‘ Mereka menjawab, ‘Apa lagi yang kami inginkan kalau kami sudah dapat keluar masuk ke surga sesuka hati kami? ‘ Lalu Allah terus mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali. Ketika mereka melihat kalau mereka tidak akan ditinggalkan sebelum menjawab pertanyaan itu, maka merekapun menjawab, ‘Duhai Rabb, kami menginginkan ruh kami dikembalikan lagi ke jasad kami hingga kami dapat berperang lagi di jalan-Mu untuk kesekian kalinya.’ (Sahih Muslim 3500)

Lihatlah betapa sifat dari tema ini begitu bersifat tahayul dan akan ada jihad yang kedua kalinya? Tampak sekali bahwa ideologi Islam berpusatkan pada reinkarnasi, yang memfasilitasi suatu ketekunan dengan suatu kepuasan agar terus mau menumpahkan darah dan ber-jihad.

Keseluruhan kode aturan Islam dikotori dengan ucapan berulang-ulang pengorbanan untuk pengampunan dosa dengan cara memberikan diri dibunuh oleh pedang musuh. Darah adalah komponen sangat penting dalam sifat plin plan Islam dalam hal keselamatan. Dan, inilah bukti bahwa Muhammad sangat tergugah saat dilihatnya mayat-mayat korbannya yang bersimbah darah. Tidak dapat dipungkiri lagi sang ‘nabi’ sangat terangsang dan terpukau dengan kejadian kematian, terutama bila darah korban tersebut secara gamblang mengeluarkan bau minyak kesturi (musk) yang wangi:

“Tidak ada seorang pun yang terluka dalam perang fi sabilillah - dan Allah lebih mengetahui bagi siapa yang terluka di jalan-Nya - kecuali ia akan datang di hari kiamat kelak dengan luka yang mengucurkan darah berwarna merah dan baunya seperti bau kesturi.” (Sahih Muslim 3486)

Tidak diragukan lagi, sejalan dengan kebiasaannya menjiplak, tradisi ini diturunkan langsung dari Perjanjian Lama yang mendeskripsikan hal yang berkaitan dengan darah binatang yang dikurbankan di mesbah:

“Imam harus menyiramkan darahnya pada mezbah TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan dan membakar lemaknya menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN.” (Imamat 17:6)

Dengan menyulam cerita tahayul tercela seperti ini, para pengikutnya yang jidahis yang masih muda-muda itu terbujuk rayu untuk mati dengan cara seperti itu, yang nampak seperti memuliakan dan berkurban kepada Allah. Disebutkan pula bahwa Muhammad terangsang secara seksual bila melihat pembunuhan besar-besaran dan merasa terdorong untuk menuliskan keinginannya dalam sebuah tradisi yang tertulis.

Sementara kurban darah adalah komponen penting di dalam doktrin Islam, tidak terpungkiri oleh siapa pun bahwa mayoritas dari isi Hadis berisi tentang kampanye hari kiamat yang mengerikan.

Peringatan tahayulnya yang berkaitan dengan ‘berakhirnya dunia’ diberi judul “Hari Penghakiman”, sebagaimana dia percayai secara tahayul bahwa seluruh kaum pengikutnya yang telah meninggal akan diadili oleh Allah. Nyata sekali, setiap orang yang paham Alkitab akan tahu bahwa kepercayaan ini merupakan kopian dari buku Wahyu Kitab Perjanjian Baru, yang juga memprediksikan bahwa hal yang sama akan terjadi.

Bahkan di Islam dinyatakan bahwa masuk surga bukanlah perkara mudah, karena seluruh bangsa Muslim harus melewati tantangan untuk menyebrangi apa yang disebut sebagai ‘Jembatan as shirat menuju ke surga’. Ini tentu saja teknik tipuan dari sang ‘nabi’, yang berarti hanya yang berani dan yang beruntung saja yang bisa menyebrang. Tidak peduli berapa kali sang Muslim sudah wudhu tanpa cela atau mengulang-ulang bacaan ayat sepanjang hidupnya, keselamatan mereka tidaklah pernah dapat dipastikan.

“Orang mukmin yang melewatinya sedemikian cepat, ada yang bagaikan kedipan mata, ada yang bagaikan kilat, ada yang bagaikan angin, dan ada yang bagaikan kuda pilihan. Ada yang bagaikan kuda tunggangan, ada yang selamat dengan betul-betul terselamatkan, namun ada juga yang selamat setelah tercabik-cabik oleh besi-besi pengait itu, atau terlempar karenanya di neraka jahannam, hingga manusia terakhir kali melewati dengan diseret seret” (Sahih Bukhari 6886)

Tentu saja, mitos tahayul ini sekali lagi merupakan kopian. Cerita ini berasal dari agama ‘Zoroastrianism’ yang memiliki pemahaman yang sama tentang dunia setelah kiamat bahwa semua orang harus ‘menyebrangi jembatan’ menuju ke surga.

Hidup sampai ‘Hari Penghakiman’ akan membuktikan apa yang akan terjadi. Tetapi tidak dengan suatu nubuatan seperti akan munculnya orang-orang holigan yang biadab di atas planet ini, atau anggapan akan munculnya Isa yang Muslim yang akan membunuhi para orang Kristen dan Yahudi, dan lebih-lebih lagi orang Muslim yang buruk akan mengenakan “bendera” terhina – melekat di pantat mereka:

“Setiap pengkhianat akan membawa bendera di belakangnya (pantat) di hari Kiamat kelak (Sahih Muslim 3271)

Tentu saja, pasti akan ada orang Muslim yang jadi jelek karena lupa meniup hidungnya tiga kali di pagi hari untuk mengusir Setan, atau mengusap anusnya dengan batu yang berjumlah ganjil. Akan tetapi, orang akan bisa diselamatkan dari pemasangan bendera mufanik di pantat mereka untuk menghindari masuk neraka selama-lama, begini caranya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membebaskan budak muslim, Allah membebaskan setiap anggota tubuhnya karena anggota tubuh yang dibebaskannya dari neraka, hingga Allah membebaskan kemaluannya dari neraka, karena kemaluannya” (Sahih Bukhari 6221)

Jadi, jika seorang adalah Muslim yang jahat dan termasuk golongan yang buruk kemudian bisa menemukan seorang budak yang Muslim, dia beruntung, lepaskan saja dia, dan dia akan mendapatkan kartu bebas hukuman neraka dari Islam. Tentu saja, kata kuncinya disini juga harus membebaskan alat vitalnya sang budak, karena kalau tidak membebaskan alat vitalnya ia juga akan masuk surga tanpa alat vitalnya, buat apa juga masuk surga tanpa alat vital dengan houris.

Jadi, kekonyolan-kenyoloan seperti ini hanya bisa diterapkan untuk yang laki-laki saja, karena secara tradisi, doktrin Islam hanya mendukung bahwa hanya laki-laki Muslim yang akan menghabiskan waktunya di surga bersenggama tak henti-hentinya dengan peri di surga dengan penis mereka yang teracung terus, sementara mayoritas wanita yang Muslim (muslimah) akan dibakar di neraka.

Segera akan kita dapati kalau kejiwaan Muhammad tidak hanya bergantung seputar pikiran-pikiran yang sifatnya tahayul tetapi juga ke semua hal yang sifatnya seksual. Sehingga banyak sekali bukti bahwa obsesi pikirannya akan seks dan kelamin wanita mendorong dia untuk menciptakan tradisi-tradisi berikut ini, yang akhirnya berujung menjadi masalah bagi pria Muslim yang mengantisipasi suatu kekekalan dimana ia akan memakai terus “organ’-nya:

Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa dapat menjamin bagiku sesuatu yang berada di antara jenggotnya (mulut) dan di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga.” (Sahih Bukhari 5993 Sahih Bukhari 5993)

Akhirnya, pertanyaan muncul bagi orang Islam fundamentalis: Bagaimana pria Muslim bisa tanpa sadar bersenang-senang dalam hubungan seks tanpa alat vitalnya?

Tidak dapat dipungkiri, buah zakar orang-orang Muslim ada ditangannya.

 

 


Add a Comment
| 11
no fans of Bang Mohmad
Reply| 20 Sep 2017 07:43:16
@oksa
Oksa (ok ok di paksa ) you musti tau cara main disini, sekali komen jangan mundur dan kabur,,,,coba jelasin apa yang bro bro gw disini minta dari you.....coba jelasin......jangan kabur yah?
Si momad69Aisha
Reply| 01 Sep 2017 15:11:27
Apa yang dimaksudkan sebagai "Fenomena Alam Luar Biasa Eksistensi Muslim", juga dapat dipandang sebagai sebuah MISTERI, sebab bukan sebagai fenomena alam biasa (normal) melainkan luar biasa (abnormal), yang tidak mungkin dipahami dengan menggunakan akal sehat, bisa jadi hal ini adalah merupakan "peristiwa ghaib".

1. Ketika diberitahukan atau dikemukakan semua bukti-bukti otentik mengenai segala bentuk kepalsuan, kesalahan, kebohongan, ketahayulan, ketakutan atau ketidakwarasan Muhammad oleh pak admin, mereka yang seharusnya senang malahan menolak atau marah.
2. Ketika ditanya atau dimintakan alasan mengapa mereka marah, eh.. malahan mereka diam 1000 bahasa.

Jadi sampai saat ini saya betul-betul "Gagal Paham Tentang Makhluk Apa Gerangan Muslimin Itu"?

@oksa
Sekali lagi saya memohon bantuan anda untuk menjelaskannya!
Si momad69Aisha
Reply| 30 Aug 2017 17:42:10
Barang Palsu

1. Adakah orang yang mau membeli barang palsu?
Jawabannya: ADA, asalkan dapat dibeli dengan harga (sangat) murah dan kwalitas yang cukup baik (artinya mirip-mirip kwalitas yang asli). Dalam hal ini sekaligus berarti 'pembeli tahu bahwa barang yang dibelinya adalah barang palsu (KW)'.
Dalam kasus ini si pembeli tidak dirugikan, bahkan mungkin dia merasa senang sekali (sangat gembira), sebab kepuasannya yang selama ini mungkin sulit terpenuhi dengan membeli barang asli, dapat dengan mudah dipuaskannya.

2. Adakah orang yang membeli barang asli (mungkin dibeli dengan harga sedikit lebih murah dari pasaran harga barang asli), 'merasa senang' setelah 'DIBUKTIKAN' kepadanya bahwa barang yang dibelinya ternyata adalah barang palsu?
Jawabannya: Pasti Tidak Ada yang Senang. Kalau ada yang merasa senang dalam kasus ini, artinya yang bersangkutan adalah 'ORANG GILA' atau paling tidak ada yang tidak beres dengan OTAKNYA!

Kembali ke Islam:
Lalu bagaimana dengan muslimin, bukankah artikel di atas justru memberi bukti-bukti otentik segala tahayul, ketakutan dan kesalahan Muhammad, tetapi justru ditolak mereka dengan berkata:
kok ada web blog yang ngurusin ngejelek jelekin agama orang lain kurang kerjaan banget. urus aja dirimu sendiri...

Nah inilah terus terang saya sungguh-sungguh tidak mampu pahami...

@oksa
Mohon Bantuan Anda untuk memberi penjelasan, mengapa anda justru menolak?
Yanuar
Reply| 30 Aug 2017 07:33:35
@oksa

Bukan ngurusin, cuma heran aja koq masih ada ya 1,5 milyar manusia yg masih percaya dng ajaran gila dari abad ke-7 padang gurun ini???!!!
Meski sdh sedemikian banyak bukti2 yg dipaparkan di blog ini; dan nggak ada satu Muslim pun sanggup membantahnya, kami hanya salut (sambil geleng-geleng kepala) jika Muslim masih tetap percaya Islam itu agama dari Tuhan %$#@^&%
oksa
Reply| 29 Aug 2017 16:23:29
kok ada web blog yang ngurusin ngejelek jelekin agama orang lain kurang kerjaan banget. urus aja dirimu sendiri...
Si momad69Aisha
Reply| 25 Aug 2017 19:21:59
"Boleh dikata ISLAM adalah Agama Orang Gila".

1. Mujizat Muhammad terletak pada Penyakit Mentalnya (Skizofrenik) alias GILA ==> Cukup Dahsyat
2. Mujizat Muslim terletak pada Kelemahan Mentalnya (Ignorance) alias DODOL ==> Lebih Dahsyat
3. Mujizat Awloh terletak pada KETIADAANNYA alias NOTHING ==> Sungguh Teramat Dahsyat, Wow...

Ketiga harus lengkap, bila kurang salah satunya saja, maka Islam tiada. 3in1 inilah konsep Yang ESA Islami!
no name
Reply| 25 Aug 2017 15:54:09
tepat memang segimana pun banyaknya bukti2 moslem tetap setia, memang agama orang gila.
hamidin
Reply| 24 Aug 2017 21:50:35
islam bukan agama cuman sebuah ideologi.

judul yg cocok itu : islam ideologi tahyul
syuhada
Reply| 23 Aug 2017 23:05:17
Islam rahmatan LiL kelamin , bunuh kafir dapet 72 virgin
Si momad69Aisha
Reply| 22 Aug 2017 13:13:38
Satu lagi:

Menurut pak admin:
Tidak dapat dipungkiri, buah zakar orang-orang Muslim ada ditangannya.

Menurut saya:
Tidak dapat dipungkiri, buah zakar orang-orang Muslim ada diotaknya.
Si momad69Aisha
Reply| 22 Aug 2017 13:12:51
Namun demikian belum ada satupun manusia dimuka bumi ini yang mampu memungkiri akan adanya fakta otentik tentang 'fenomena alam luar biasa eksistensi muslim'.

Fenomena Alam Luar Biasa Eksistensi Muslim:
"Eksistensi mereka TIDAK DAPAT DITUMBANGKAN oleh sebanyak apapun bukti-bukti kepalsuan kenabian Muhammad ataupun sebesar apapun pemahaman yang salah dan tahayul yang dibuat Muhammad".

Menurut saya pribadi, adanya 'fenomena alam luar biasa ini', sama sekali BUKAN KARENA KEHEBATAN Muhammad ataupun awloh (sebab duet mereka berdua belum pernah sekalipun membuktikan mampu melakukan mujizat apapun. Kalau mujizat tipu-tipu tentu tidak termasuk hitungan), namun yang HEBAT LUAR BIASA adalah adanya JALINAN SUPER HARMONIS dari 2 (dua) perkara utama, berikut ini:
1. Penyakit mentalnya (skizofrenik) Muhammad, sehingga memampukannya terus menerus mengutarakan halusinasinya yang masih tertinggal di dalam ingatannya, dan itu menjadi dasar ketakutannya. Termasuk ke semua hal yang bersifat seksual.
2. Kelemahan mentalnya (ignorance) muslimin, sehingga memampukan mereka teledor (seperti terhipnotis) dan TAKUT PADA pernyataan Muhammad yang sesungguhnya salah (sangat fatal) bahkan bertolakbelakang (tidak konsisten), yaitu suatu keyakinan dan ketakutan yang tidak memiliki dasar, yang sesungguhnya merupakan kepercayaan yang konyol sebab semuanya berdasarkan pada khayalan/ilusi dan ketakutan sinting "Makhluk Setan Terkutuk Tersebut".


KESIMPULAN:

"KEHEBATAN ISLAM BUKAN TERLETAK pada Muhammad & awloh, melainkan PADA KETAKUTAN DAN PENYAKIT MENTAL MUHAMMAD DAN KELEMAHAN MENTAL MUSLIMIN.
"Boleh dikata ISLAM adalah Agama Orang Gila".
Fetching more Comments...
↑ Back to Top