Blog / Peperangan Hunayn

Inkonsistensi sesungguhnya telah menolong Islam karena orang Muslim dapat melakukan apapun dengan bersandar pada otoritas sebuah hadith atau ayat Quran dan menyangkali bahwa hal semacam itu diijinkan dalam Islam dengan mengutip hadith atau ayat lainnya. Islam berhutang sukses kepada standar gandanya.

 

Mekkah telah ditaklukkan, tetapi ini bukan alasan mengapa orang Arab mendampingi Muhammad. Mereka datang untuk rampasan perang. Jarahan itu harus datang baik dari Hawzin yang adalah suku pengembara yang besar, dimana Muhammad menghabiskan lima tahun pertama hidupnya bersama mereka, atau dari Taif. Ia mengutus Abdullah ibn Abu hadrd untuk berbaur dengan orang Hawazin dan kembali membawa berita. Orang Hawazin tinggal di wilayah yang disebut Hunayn sekitar 3 malam perjalanan dari Mekkah. Abdullah mengetahui bahwa orang Hawazin telah mendengar berita penaklukkan Mekkah dan mengetahui bahwa mereka akan menjadi sasaran berikutnya, maka mereka bersiap untuk membela diri. Muhammad telah kehilangan elemen kejutan yang dapat mendatangkan kemenangan baginya, tetapi ia mempunyai 10.000 orang ditambah 2.000 orang dari Mekkah. Ia berkata, “Kita tidak akan terpuruk hari ini karena jumlah kita kurang”.  

Ia meminta Safwan ibn Umayya yang adalah salah seorang pemimpin Mekkah untuk meminjamkannya sejata dan perisai agar ia dapat memerangi musuhnya. Safwan bertanya apakah ia memintanya secara paksa. Muhammad menjawab, “Tidak, itu adalah pinjaman dan jaminan hingga kami mengembalikannya kepadamu”. Safwan mengatakan jika demikian maka tidak ada masalah, dan memberikan senjata-senjata itu kepada Muhammad. Ayah Safwan, Umayya ibn Khalaf, dan saudaranya Ali telah terbunuh di Badr, setelah dijadikan tawanan. Ia termasuk di antara orang-orang yang melawan pasukan Muhammad ketika mereka berusaha memasuki Mekkah dan kemudian melarikan diri ke Yaman.  

Seseorang memohon demi dirinya dan Muhammad memberikannya perlindungan, maka ia kembali ke Mekkah. Ia memberi Muhammad 100 jubah dengan persenjataan yang cukup. Orang Hawazin di sisi lain, telah bersiap untuk menghadapi pasukan Muhammad. Pemimpin mereka adalah Malik ibn Auf yang berusia 30 tahun. Orang Thaqif juga bergabung dengannya karena mereka tahu merekalah sasaran berikutnya, demikian pula suku-suku lain, Jusham, Sa’d ibn Bakr, dan beberapa orang dari bani Hilal.  

Di antara Bani Jusham, ada Durayd ibn al-Simma, seorang wanita yang sangat tua, yang walaupun terlalu lemah untuk berperang, pengetahuan perangnya sangat berharga. Ia adalah seorang pemimpin yang berpengalaman. Para sejarawan mengatakan Malik  memerintahkan orang Hawazin untuk membawa para wanita dan anak-anak mereka serta ternak mereka ke medan perang dapat berperang hingga mati dan ketika Durayd tiba dalam howdahnya, ia berusaha membujuknya membatalkan ide itu tetapi Malik tidak mau mendengarkannya. Sebagian dari kisah ini nampaknya tidak benar. Tidak mungkin orang membawa wanita dan anak-anak mereka juga ternak mereka ke medan perang, bahkan seandainya Malik mengatakan hal seperti itu, hanya sedikit orang yang mau mendengarkannya. Sudah menjadi kebiasaan para sejarawan Muslim menggambarkan para musuh mereka sebagai orang-orang yang bodoh namun menggambarkan orang Muslim sebagai kaum yang cerdas dan ksatria.

Ketika pasukan Muhammad tiba di Wadi Hunayn, dan menuruninya secara bertahap di pagi hari, orang Hawazin yang telah mengambil tempat disana malam sebelumnya dan menyembunyikan diri di terowongan, tiba-tiba menyerang mereka. Pasukan Muhammad ketakutan. Mereka terpecah dan melarikan diri ke berbagai arah. Muhammad mengundurkan diri dari pasukannya dan pergi ke tepi. Ketika sudah aman dan jauh dari bahaya, ia berkendara ke sebuah batu dan berteriak, “Kemanakah kalian pergi wahai orang-orang? Datanglah padaku. Akulah rasul Allah. Akulah Muhammad anak Abdullah”. Tidak seorangpun memperhatikannya. Unta-unta mereka saling bertabrakan, kecuali beberapa sahabat baik dan kerabatnya seperti Abu Bakr, Umar, Ali, Abbas dan Abu Sufyan ibn al-Harith dan beberapa orang lainnya yang berdiri di dekatnya untuk melindunginya, semua orang melarikan diri.

Melihat hal ini, Abu Sufyan ibn Harb berkata sambil mengejek, “Mereka tidak akan berhenti sebelum mereka tiba di laut”. Muhammad membuat catatan mengenai hal ini di dalam Quran. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”  (Sura 9:25)

Orang Hawazin berperang dengan gagah berani. Pemegang panji-panji mereka mengendarai seekor unta merah yang membawa panji-panji hitam di ujung tombak yang panjang. Ketika ia bertemu musuh, ia menusukkan tombaknya dan mengangkatnya lagi untuk memimpin orang-orang di belakangnya.

Muhammad meminta Abbas yang bersuara keras untuk memanggil pasukannya kembali sambil berkata, “Wahai Ansar, Wahai para sahabat pohon Akasia!” Beberapa orang mendengarnya dan datang ke tempat dimana Muhammad berdiri. Ketika mereka kembali berkelompok, mereka menyerang lagi dan kembali berperang. Muhammad, berdiri memandangi pasukannya yang berperang satu lawan satu dengan musuh, berkata, “Sekarang tungku sudah panas. Akulah utusan Allah dan bukan pembohong. Akulah anak Abdul Muttalib”. Pemandangan orang bertempur dan saling membunuh oleh karena dirinya tentu menjadi asupan narsisistik bagi orang yang bertumbuh sebagai anak yatim piatu, tidak dikasihi dan diabaikan oleh dunia. Semua impian masa kecilnya akan kebesaran telah menjadi kenyataan. Ia telah menjadi orang yang penting, berkuasa, dihormati, ditakuti dan dikasihi; semua itu dulu hanya menjadi impiannya dan fantasi masa kecilnya.[1]

Ali dan salah seorang Ansar mengepung pemegang panji-panji Hawazin. Ketika Ansari membuatnya sibuk dari depan, Ali datang dari belakang dan melumpuhkan untanya. Binatang yang malang itu tersungkur, dan Ansari melompat ke arah orang itu dan memukulnya dengan sekali pukulan, yang membuat kakinya melayang dan separuh bahunya dan ia jatuh dari pelananya.   

Muhammad meminta Abbas memberinya segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh sambil mengutuki mereka dengan kutukan Allah.[2] Ini mengakhiri partisipasi aktifnya dalam perang. Ketika orang Hawazin tercerai berai, Muhammad berteriak, “Bunuh siapapun yang dapat engkau pegang”. Orang Muslim menyerang dan tidak membiarkan seorangpun hidup, bahkan wanita dan anak-anak pun tidak.[3]

Pada hari itu juga Muhammad menemukan jasad seorang wanita di antara jasad-jasad yang dikumpulkan orang. Ia bertanya siapakah yang telah membunuh wanita itu dan mereka mengatakan itu perbuatan Khalid ibn Walid. Ia berkata, “Katakan pada Khalid jangan membunuh wanita dan anak-anak”. Larangan ini diperhalus oleh sebuah hadith yang mengatakan, “Nabi Allah, ketika ditanyai mengenai para wanita dan anak-anak para penyembah berhala yang dibunuh dalam penyerangan malam, berkata: ‘Mereka berasal dari antara mereka sendiri’”.[4]

Jadi mana yang benar? Keduanya benar. Ia mengatakan satu hal pada situasi tertentu dan berkata lain pada situasi yang berbeda.  Inkonsistensi sesungguhnya telah menolong Islam karena orang Muslim dapat melakukan apapun dengan bersandar pada otoritas sebuah hadith atau ayat Quran dan menyangkali bahwa hal semacam itu diijinkan dalam Islam dengan mengutip hadith atau ayat lainnya. Islam berhutang sukses kepada standar gandanya.

Para sejarawan juga memberi kita sekelumit keterangan mengenai kegigihan seorang wanita Muslim. Seorang wanita hamil menemui Muhammad. Namanya Umm Sulaym. Ia adalah istri Abu Talha. Setelah ia memperkenalkan dirinya, ia berkata, “Bunuhlah orang-orang yang melarikan diri darimu wahai rasul Allah, seperti engkau membunuh mereka yang memerangimu!” Muhammad menjawab, “Allah akan menyelamatkan aku (dari hal itu)”. Wanita itu membawa pisau. Suaminya bertanya padanya mengenai hal itu. Ia berkata, “Aku mengambil pisau agar jika seorang penyembah berhala datang mendekatiku aku dapat menusuknya dengan pisau itu!” Dengan bangga suaminya berkata, “Apakah engkau mendengar apa yang ia katakan wahai rasul?”

Seorang Muslim bernama Abu Qatada meriwayatkan pada hari Hunayn ia berkelahi dengan seseorang dan membunuhnya. Kemudian ia pergi untuk membunuh orang lain lagi. Sementara itu orang lain lagi datang dan melucuti orang yang telah dibunuhnya. Ketika perang berakhir, Muhammad mengatakan bahwa setiap orang yang membunuh musuh dapat mengambil jarahannya. Ia berkata ia telah membunuh seorang pria yang patut dilucuti dan terlalu memikirkan pertarungan pada saat itu dan ketika ia kembali orang lain telah menjarah korbannya. “Maka bayarlah ia sampai ia puas atas namaku dari jarahannya”, kata si mualaf baru yang masih belum memahami peraturan yang ada. Abu Bakr berkata, “Tidak, demi Allah, ia tidak boleh memberi kepuasan padamu dari jarahan itu. Apakah engkau akan membuat salah satu singa Allah yang berjuang demi agama-Nya berbagi mangsanya denganmu? Kembalikanlah jarahan orang yang dibunuhnya kepadanya!” Muhammad mengkonfirmasi perkataan Abu Bakr. Orang ini berkata, “lalu aku mengambil jarahan itu darinya dan menjualnya, dan dengan uang hasil penjualan itu aku membeli pohon kurma yang kecil. Inilah properti pertama yang aku miliki”.[5]

Semua orang ini datang demi rampasan perang. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, banyak dari mereka yang bahkan bukan orang Muslim. Bagi orang Muslim pun, godaan jarahanlah yang membawa mereka ke medan perang. Abu Talha menyombongkan diri bahwa dia seorang diri telah membunuh dan menjarah 20 orang.

Pada hari itu semut-semut hitam beterbangan dan menggelapkan langit seperti sebuah mantel. Seseorang meriwayatkan, “Sebelum orang-orang pergi dan para pria saling membunuh, aku melihat ada semacam kain hitam datang dari surga hingga jatuh di antara kami dengan musuh. Aku melihat, dan tengoklah semut-semut hitam dimana-mana memenuhi wadi. Aku tidak ragu itu adalah para malaikat. Kemudian musuh pun pergi”. Ini menceritakan pada kita mengenai tingkat kecerdasan dan takhayul orang Muslim mula-mula. Islam hanya dapat bertumbuh di antara orang-orang seperti itu. 

Pasukan Hawazin yang kalah melarikan diri. Ada yang berlindung di Taif dan yang lainnya ke gunung-gunung. Kelompok lainnya juga pergi ke Nakhlah. Malik ibn Auf sendiri berlindung di Taif. Muhammad mengutus pasukannya untuk mengejar mereka yang melarikan diri, terutama mereka yang telah pergi ke Nakhlah dan menangkap jumlah mereka yang ribuan. Orang-orang Muslim lainnya pergi ke arah Autas dan mengambil alih beberapa pelarian. Dalam perang kecil-kecilan setelah pertempuran besar banyak yang terbunuh hingga orang Muslim menemukan musuh mereka.

Para tawanan dibawa ke Jirana, sebuah tempat dekat Mekkah dalam perjalanan ke Taif. Mereka berjumlah 6.000 wanita dan anak-anak, 24.000 ekor unta, dan lebih dari 40.000 kambing dan domba. Orang Muslim juga menyita sekitar 4.000 oqiyah (setara dengan 480 kg) perak.[6]

Durayd diikuti seorang anak lelaki bernama Rabi’a yang lebih sering disebut Ibn Dughunna sesuai nama ibunya. Ia memegang kekang unta Durayd, berpikir bahwa ia seorang wanita karena ia berada dalam howdahnya. Ketika ia membuat unta itu berlutut ia melihat ternyata seorang pria tua. Durayd bertanya siapakah dia dan apa yang ia inginkan, orang yang baru menjadi mualaf itu mengatakan bahwa ia adalah Ibn Dughunna dan ingin membunuhnya. Kemudian ia memukulnya dengan pedangnya, tetapi pedang itu tumpul. “Betapa buruknya senjata yang diberikan ibumu kepadamu”, kata Durayd. “Ambillah pedangku yang ada di belakang pelana di dalam howdah dan pukullah aku dengan itu di tengkuk, karena itulah cara membunuh orang. Kemudian bila engkau pergi kepada ibumu katakan padanya bahwa engkau telah membunuh Durayd ibn Simma, karena aku telah melindungi kaum wanitamu sejak lama”. Rabi’a sangat terpengaruh dengan janji firdaus mesum Muhammad sehingga ia tidak dapat melihat apa yang telah diperbuat Durayd bagi kaumnya, dan jarahan juga bukan sesuatu yang dapat dianggap sepele. Ketika ia kembali kepada ibunya dan mengatakan padanya tentang pembunuhan yang dilakukannya terhadap Durayd, ibunya berkata, “Demi Tuhan, ia membebaskan 3 generasi ibumu dan nenekmu”.[7]

Amra bint Durayd membuat syair berikut ini berkenaan dengan pembunuhan ayahnya oleh Rabi’a:

“Banyak musibah engkau hindarkan dari mereka,

Ketika mereka berada di ujung maut.

Banyak wanita bangsawan mereka yang engkau bebaskan,

Dan yang lainnya engkau lepaskan dari ikatan.

Banyak pria Sulaym menyebutmu mulia,

Upah kami dari mereka adalah tidak tahu terimakasih dan duka”.

Muhammad berkata kepada orang-orangnya, “Jika kalian menangkap Bijad, seorang dari Bani Sa’d ibn Bakr, jangan lepaskan dia karena ia telah melakukan kejahatan besar”. Tidak seorangpun dari para penulis biografi yang menuliskan kisah ini mengatakan apa yang telah dilakukan Bijad. Namun demikian, kita dapat berasumsi ia tentunya telah menghina Muhammad. Inilah satu-satunya kejahatan yang tidak terampuni yang dapat dilakukan orang yang tidak beriman. Ketika orang Muslim menangkapnya juga keluarganya, seorang wanita di antara para tawanan mengatakan bahwa ia adalah Shayma bin Harith, saudari angkat nabi mereka. Mereka memperlakukannya dengan kasar saat mereka membawanya kepada Muhammad karena mereka tidak mempercayainya. Ia meminta bukti. Wanita itu menunjukkan bekas gigitannya di punggung wanita itu ketika ia menggendongnya di pinggulnya. Muhammad mengakui bukti itu, menghamparkan jubahnya agar wanita itu dapat duduk dan memperlakukannya dengan baik. Ia menawarkan wanita itu untuk datang dan tinggal dengannya atau ia dapat kembali kepada kaumnya dengan membawa hadiah-hadiah. Ia memilih untuk kembali. Muhammad juga memberinya seorang anak perempuan dan anak laki-laki yang ditangkapnya dari klan lain sebagai budak.[8]

Gigitan ini pastilah sangat dalam karena membekas seumur hidup, yang menunjukkan betapa Muhammad semasa kanak-kanak sangat pemarah. Ia adalah seorang yang sangat terganggu jiwanya sejak masih kanak-kanak.[9]

 


[1][1]Ibn Ishaq 570

[2][2]Tabari 1202

[3][3]Tanaqat v. 2 h. 149

[4][4]Muslim 19:4321

[5][5]Ibn Ishaq 571

[6][6]Oqiyah setara dengan 40 dirham. Satu dirham setara dengan 3 gram.

[7][7]Tabari 1205; Ibn Ishaq 574

[8][8]Tabari 1206; Ibn Ishaq 576

[9][9] Untuk lebih memahami psikologi Muhammad, silahkan membaca buku “Understanding Muhammad and Muslims”.

 

Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top