Blog / Revisi Qur’an Terjemahan Bahasa Indonesia - Apakah Sudah Sempurna?

Seperti diketahui, penelaahan selama bertahun-tahun terhadap Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan Departemen Agama RI sejak 1965, kemudian mengalami revisi secara bertahap mulai 1989, 1998, 2002, hingga 2010, telah menyentak kesadaran iman kita, betapa selama ini ajaran kitab suci Al-Qur’an ternodai akibat adanya salah terjemah yang jumlahnya sangat banyak.

“Maka, kami tidak hanya sebatas koreksi, tapi juga menerbitkan Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an lengkap 30 juz, sebagai tanggungjawab meluruskan terjemah harfiyah yang salah dari Al-Qur’an dan Terjemahnya versi Kemenag RI. Adapun Buku Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI ini hanya memuat 170 ayat saja. Karena sangat prinsip yang harus segera diketahui kaum muslim. Sebab tidak mungkin membukukan kesalahan terjemah 3.229 ayat sekaligus dalam waktu dekat ini,” kata Ustadz Thalib.

 

 

Oleh: Saifuddin Ibrahim (Eks Muslim)

Alquran terjemahan DEPAG RI, yang ada ditangan muslim Indonesia memang banyak kesalahan. Tapi sudah banyak revisi untuk memperbaiki kesalahan yang lalu. Tentu juga revisi dilakukan menyesuaikan perkembangan bahasa Indonesia yang semakin maju.
Juga terjemah tetap melihat serangan orang muslim yang masuk Kristen, memakai Alquran terjemah Depag, sehingga perlu revisi. Saya menemukan 1000 kekacauan Alquran dalam banyak hal berkaitan dengan Alkitab. Memang Alquran itu sudah kacau dari awal.

Namun juga namanya TERJEMAHAN, alih bahasa Arab ke bahasa Indonesia, tetap sulit. Mestinya tanpa tanda kurung, garis miring, huruf miring. Tapi tetap susah juga. Bahasa Arab itu bahasa kuno tapi kaya. Bahasa Indonesia baru berkembang sejak merdeka, baru 72 tahun. Ini akan menyulitkan menterjemahkan Alquran ke dalam bahasa Indonesia.

Saya copas tulisan berikut:

===========
Jakarta (voa-islam) – Buku berjudul Koreksi Kesalahan Terjemahan Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI” yang ditulis oleh Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, memuat sebagian kecil dari 3.229 jumlah kesalahan terjemah yang terdapat dalam Tarjamah Harfiyah Al-Quran versi Depag. Sementara kesalahan pada edisi revisi tahun 2010 bertambah menjadi 3.400 ayat.

Seperti diketahui, penelaahan selama bertahun-tahun terhadap Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan Departemen Agama RI sejak 1965, kemudian mengalami revisi secara bertahap mulai 1989, 1998, 2002, hingga 2010, telah menyentak kesadaran iman kita, betapa selama ini ajaran kitab suci Al-Qur’an ternodai akibat adanya salah terjemah yang jumlahnya sangat banyak.

“Maka, kami tidak hanya sebatas koreksi, tapi juga menerbitkan Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an lengkap 30 juz, sebagai tanggungjawab meluruskan terjemah harfiyah yang salah dari Al-Qur’an dan Terjemahnya versi Kemenag RI. Adapun Buku Koreksi Kesalahan Terjemah Harfiyah Al-Qur’an Kemenag RI ini hanya memuat 170 ayat saja. Karena sangat prinsip yang harus segera diketahui kaum muslim. Sebab tidak mungkin membukukan kesalahan terjemah 3.229 ayat sekaligus dalam waktu dekat ini,” kata Ustadz Thalib.

Dijelaskan Amir Majelis Mujahidin, ayat salah terjemah itu berkaitan dengan masalah akidah, syariah, dan mu’amalah. Khususnya menyangkut problem terorisme, liberalisme, dekadensi moral, aliran sesat dan hubungan antar umat beragama.

Dalam Simposium Nasional bertema: “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme” di Jakarta, Rabu 28 Juli 2010, Dirjen Bimas Islam Kemenag dan sekarang menjadi Wamenag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan gamblang menyatakan: sejumlah ayat berpotensi untuk mengajak orang beraliran Islam keras, karena itu dalam terjemahan Al-Qur’an versi baru pemerintah menyusun kata yang lebih moderat, namun memiliki makna yang sama.

Selain meluncurkan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an versi baru, Kemenag juga melakukan upaya deradikalisasi lain, yaitu pembinaan pengurus masjid oleh 95 ribu penyuluh agama hingga ke pedesaan.

 

Ayat Salah Terjemah

Diantara ayat Al-Qur’an yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Baqarah (2):191. Terjemah Harfiyah Depag: “dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah)…”

Kalimat ‘bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka’, seolah oleh ayat ini membenarkan untuk membunuh musuh di luar zona perang. Hal ini, tentu sangat berbahaya bagi ketentraman dan keselamatan kehidupan masyarakat. Karena pembunuhan terhadap musuh diluar zona perang sudah pasti menciptakan anarkisme dan teror, suatu keadaan yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam.

Maka Tarjamah Tafsiriyahnya adalah: “Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian di manapun kalian temui mereka di medan perang dan dalam masa perang…”

Ayat Al-Qur’an lain yang dituding berpotensi radikal adalah: QS. Al-Ahzab (33): 61. Adapun Tarjamah Harfiah Depag/Kemenag: “Dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.”

Dijelaskan, kalimat dibunuh dengan sehebat-hebatnya dalam terjemahan Depag versi lama, dan dibunuh tanpa ampun dalam terjemahan Kemenag versi baru, keduanya merupakan terjemahan harfiah dari kata quttilu taqtiila, artinya bukan dibunuh, tetapi dibunuh sebagian besar. Kemudian kata sehebat-hebatnya, atau ‘tanpa ampun’ sebagai terjemahan kata taqtiilaa tidak benar. Karena kata taqtiilaa hanya berfungsi sebagai penegasan, bukan berfungsi menyatakan sifat atau cara membunuh yang tersebut pada ayat ini.

Dijelaskan, Terjemahan Depag maupun Kemenag diatas berpotensi membenarkan tindakan kejam terhadap non-muslim. Padahal Islam secara mutlak melawan tindakan kejam terhadap musuh. Islam sebaliknya memerintahkan kepada kaum muslim berlaku kasih sayang dan adil kepada seluruh uma manusia, sebagai wujud dari misi rahmatan lil-‘alamin.

Terjemahan Tafsiriyah: “Orang-orang yang menciptakan keresahan di Madinah itu akan dilaknat. Wahai kaum mukmin, jika mereka tetap menciptakan keresahan di Madinah, tawanlah mereka dan sebagian besar dari mereka benar-benar boleh dibunuh dimana pun mereka berada”.

Dengan dua contoh terjemah ini, membuktikan bahwa tindakan radikal maupun teror yang banyak terjadi akhir-akhir ini, mendapat dukungan dan pembenaran, bukan dari ayat Al-Qur’an, melainkan terjemahan harfiyah terhadap ayat di atas, dan hal itu bertentangan dengan jiwa Al-Qur’an yang tidak menghendaki tindakan anarkis. Dan para pelakunya telah menjadi korban dari terjemahan yang salah ini.

Ketika Rasulullah Saw dan kaum Muslimin di Madinah, beliau hidup berdampingan dengan kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik dan kaum yang tidak beragama, sepanjang mereka tidak menganggu Islam. Apa yang akan terjadi sekiranya Rasulullah memerintahkan pengamalan ayat tersebut sebagaimana terjemahan Al-Qur’an dan Terjemahnya itu.

Kontroversi terjemah Al-Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilh metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah, dan Depag memilih metode harfiyah/tekstual. (Desastian)


===============

Sikap yang benar seharusnya:

Pemerintah Indonesia harus mencontoh pemerintah China, agar 30% ayat-ayat Alquran tentang TERORISME, dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan UUD’45 dan PANCASILA.

Tidak ada teroris dari China, meskipun ada 50 juta muslim Uighur di sana.

Bagaimanapun DEPAG RI, menterjemahkan Alquran, tetap saja teroris merajalela di Nusantara. Sampai semua ayat teroris ditiadakan dari Al-Quran Indonesia.

 


Add a Comment
| 2
hampirmualaf
Reply| 06 Nov 2017 10:03:42
@Si momad69Aisha
Jangan ikut tersentak bung momad.
Sudah sejak semula quran itu sudah salah hasil terjemahan dari sumbernya.
Yaitu wahyu yang aslinya dari TUHAN, tapi diturunkan keliru oleh JIBRIL (entah siapa dia, tak ada buktinya). Kemudian ditangkap salah oleh Muhammad ( nabi atau bukan, faktanya tak ada Allah yg mengangkatnya jadi nabi), kemudian disusun salah oleh Abu Bakar, dikoreksi salah oleh Uysman dst dst... hingga saat inipun.... hihihi mengerikan!
Untung saya cepat murtad!
Si momad69Aisha
Reply| 04 Nov 2017 19:40:08
...telah menyentak kesadaran iman kita, betapa selama ini ajaran kitab suci Al-Qur’an ternodai akibat adanya salah terjemah yang jumlahnya sangat banyak.

Komentar:
Tidakkah kalimat di atas ini terlihat sangat aneh dan terbalik? Sesungguhnya siapa yang telah ternodai? Noda yang paling berbahaya dan dapat menelan nyawa manusia itu qur'an, dan bukan penerjemah. Jumlah 3.229 kesalahan terjemah itupun juga merupakan upaya 'PENYUCIAN NODA', bagaikan upaya memandikan 'BABI'.
Dapatkah diupayakan mengeluarkan unsur 'RACUN' dari Asam Sianida, namun Asam Sianida tersebut TETAP UTUH tetapi tidak mematikan bila terhirup manusia? Inikan namanya kerjaan orang gak waras? Satu-satunya jalan adalah 'Buanglah Racun Asam Sianida tersebut Secara Seutuh-utuhnya'! Itupun membuangnya juga harus berhati-hati, jangan sampai racun ini mencemari lingkungan!

Dan hal ini terbukti pada kalimat selanjutnya:
...Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan gamblang menyatakan: sejumlah ayat 'BERPOTENSI UNTUK MENGAJAK' orang beraliran Islam keras, karena itu dalam terjemahan Al-Qur’an versi baru pemerintah menyusun kata yang lebih moderat, namun memiliki makna yang sama.

Komentar:
Pemilihan kata yang lebih moderat dalam upaya penerjemahan Al-Qur’an versi baru tersebut, demi meredam POTENSI TERORISME DARI AL-QURAN itu, adalah bagaikan upaya mengeluarkan unsur 'RACUN' dari Asam Sianida atau bagaikan upaya memandikan 'BABI'.

Dan hal ini terbukti pada kalimat selanjutnya:
Selain meluncurkan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an versi baru, Kemenag juga melakukan UPAYA DERADIKALISASI LAIN, yaitu PEMBINAAN PENGURUS MASJID oleh 95 ribu penyuluh agama hingga ke pedesaan.

Komentar:
Upaya seperti ini bukan hanya sekedar membuang-buang waktu dan ongkos saja, melainkan (sekali lagi) bagaikan upaya mengeluarkan unsur 'RACUN' dari Asam Sianida atau bagaikan upaya memandikan 'BABI' alias MUBAZIR.
Apakah dengan upaya seperti ini dapat menjamin tidak terjadi TERORISME ISLAM?

Dilain Pihak:
"SEGALA UPAYA KEMENAG DI ATAS, SECARA TIDAK LANGSUNG MENUNJUKKAN BAHWA ISLAM ADALAH AGAMA BERBAHAYA"!

Kesimpulan:
AGAMA IMPOR DARI ARAB INI, BETUL-BETUL BERENGSEK DAN SANGAT MERUGIKAN BANGSA & NEGARA INDONESIA!
Fetching more Comments...
↑ Back to Top