Reflections and Inspirations - Sebagai Nabi, Muhammad Sangat Tidak Akurat

Bagaimana kita dapat menentukan apakah seseorang itu benar-benar adalah nabi? Umumnya orang akan menyatakan bahwa tes mendasarnya adalah nubuat yang digenapi. Dengan kata lain, sang nabi harus mampu memprediksi peristiwa-peristiwa tertentu dan ini kemudian akan terjadi. Ternyata, Muhammad gagal total dalam hal ini. Ia membuat beberapa prediksi yang benar-benar tidak akurat. Satu insiden akan menjelaskan hal ini. Saat dalam sedang dibuang dari Mekkah, Muhammad berusaha memimpin sekelompok besar orang Muslim untuk melaksanakan Umroh (ibadah haji kecil). Muhammad berharap orang-orang Mekkah akan menentang keras usaha apapun yang dilakukannya bersama para pengikutnya untuk memasuki Mekkah dan menggunakan Quran 48:27 untuk meyakinkan para pengikutnya:

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”.

Dalam perjalanan menuju Mekkah, pasukan Muhammad ditemui oleh seorang utusan Mekkah yang mengatakan bahwa pasukan Quraysh akan melawan usaha apapun yang dilakukan oleh Muhammad dan para pengikutnya untuk memasuki kota tersebut. Muhammad tidak merasa yakin memaksa orang Mekkah untuk menyerah, maka ia harus memikirkan cara lain. Ia sepakat untuk menandatangani sebuah perjanjian dengan orang Mekkah (Perjanjian Hudabiya) bahkan mengambil langkah luar biasa dengan menyerahkan seorang Mekkah yang telah memeluk Islam kembali kepada orang Mekkah. Sebagai tambahan lagi, ia dipaksa mengubah gelarnya di akhir dokumen perjanjian itu dari: “Muhammad: Rasul Allah” menjadi “Muhammad: Putra Abdullah”. (Insiden ini dicatat dalam Sahih Bukhari 3:50:891). Hilanglah kesempatannya untuk memasuki Mekkah dengan berkemenangan dan Muhammad harus kembali ke Medinah mengetahui bahwa para pengikutnya baru saja menyaksikan tidak tergenapinya sebuah nubuatan yang spektakuler.

 

Klaim-klaim bahwa Muhammad adalah seorang pembuat mujizat tidak didukung oleh bukti (termasuk teks Quran)  

Ada orang-orang Muslim yang percaya bahwa klaim Muhammad sebagai nabi dikonfirmasi dengan fakta bahwa ia membuat bayak mujizat. Namun demikian, telah ditunjukkan bahwa ada ketidaksinambungan yang signifikan dalam cara Quran dan hadith menggambarkan kehidupan Muhammad. Sangat jelas bahwa Muhammad bukanlah seorang pembuat mujizat. Quran berkeras bahwa Muhammad bukanlah seorang pembuat mujizat dan satu-satunya mujizat yang ada adalah kitab yang “diwahyukan” kepadanya: “Dan orang-orang kafir Mekah berkata:

"Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata." Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (Quran 29:50-51).

Berkenaan dengan klaim bahwa Quran adalah sebuah mujizat, semestinya sekarang telah menjadi jelas bahwa “mujizat” bukanlah kata pertama yang muncul di benak ketika ia diuji secara kritis dan semua kesalahannya, ketidakkonsistenannya dan absurditasnya diekspos. Lebih jauh lagi, beberapa penulis Muslim mengklaim bahwa “membelah bulan” yang disebutkan dalam Quran 54:1-2 dan yang banyak dikomentari dalam tradisi Islam yang muncul kemudian merupakan mujizat otentik dari Muhammad. Ini adalah klaim yang agak aneh yang tidak dapat dibuktikan dengan mengacu kepada bukti kontemporer maupun astronomis. Terbelahnya bulan tentu akan mendatangkan konsekuensi katastrofik di bumi tetapi orang-orang pada jaman Muhammad nampaknya tidak mengetahui hal ini. Selain ayat-ayat ini, Quran bersikeras dengan klaim bahwa Muhammad bukanlah seorang pembuat mujizat. Di sisi lain, Hadith (yang ditulis setidaknya 200 tahun setelah masa Muhammad) memberi kita sebuah “menit mujizat” yang dikaitkan dengan Muhammad. Oleh karena Quran jelas lebih dekat dengan masa Muhammad, klaim-klaim mujizat yang ada dapat dengan mudah diabaikan mengingat satu-satunya hal yang dapat mereka buktikan adalah fakta bahwa transmisi oral dari fakta-fakta tersebut hampir dapat dipastikan mengarah kepada penambahan-penambahan yang tidak perlu.

 

Klaim-klaim kenabian Muhammad tidak berhubungan dengan tradisi yang dianggap merupakan dasar dari kalim-klaim tersebut

Salah satu upaya para apologis Muslim dalam menguatkan klaim-klaim kenabian Muhammad adalah dengan menyatakan bahwa pengajarannya dibangun di atas, dan melengkapi pengajaran para tokoh yang dipandang sebagai para nabi yang terdahulu di dalam tradisi Islam, utamanya Abraham dan Yesus. Disini bukanlah tempat untuk menyelenggarakan debat antar agama di kalangan orang Muslim, Yahudi dan Kristen. Namun cukuplah dikatakan bahwa orang Yahudi akan sangat terkejut saat berhadapan dengan klaim bahwa Abraham, Bapa bangsa Yahudi, mengunjungi jazirah Arab. Kunjungan ini tidak tercatat dalam catatan-catatan Yahudi mengenai Abraham. Klaim tersebut sangat tidak masuk akal jika kita memperhatikan tempat dimana Abraham menghabiskan masa hidupnya.

Orang Kristen yang yakin bahwa salib adalah pusat pemberitaan Injil akan mengangkat alis terhadap penyangkalan Muhammad, 600 tahun setelah peristiwa penyaliban Yesus (bdk. Quran 4:157 96 ). Kedua kelompok ini sudah tentu akan bertanya bagaimana Muhammad memandang dirinya sendiri sebagai nabi terakhir sedangkan inti pengajaran menurut tradisi ia sangkali. Adalah mustahil memandang/mensejajarkan Muhammad dengan Abraham dan Yesus sebagaimana yang dipaparkan oleh dokumen-dokumen kuno dan melihat Muhammad sebagai kelanjutan dari pengajaran mereka (Abraham dan Yesus – Red).

 


↑ Back to Top