Blog / Rumah-Tangga dan Kehidupan Seks Muhammad

 

Telah ditunjukkan bahwa sebagian besar isi Quran nampaknya ditulis untuk memenuhi hasrat dan mengatur kehidupan rumah-tangga satu orang, yaitu: Muhammad. Ini menakjubkan. Orang Muslim percaya bahwa Quran adalah perkataan final Allah dan merupakan penuntun iman dan praktik bagi seluruh dunia mulai dari Amerika Selatan hingga ke Tiongkok. Namun Allah tidak memperoleh tempat dalam halaman-halamannya dalam Syahadat (pengakuan iman), lima pilar, seberapa sering anda harus berdoa dan banyak instruksi krusial lainnya. Namun demikan, Ia menemukan waktu dan tempat untuk mengurusi masalah rumah-tangga satu manusia. Mereka yang tidak merasa hal ini agak aneh kemungkinan besar terperangkap dalam pemujaan yang tidak kritis terhadap ‘nabi’. Kita telah melihat beberapa “wahyu nyaman” yang berkaitan dengan kehidupan pribadi Muhammad. Ringkasnya:

  • Allah menyatakan bahwa orang Muslim hanya diijinkan untuk menikahi empat wanita (Quran 4:3[1]). Muhammad menginginkan lebih. Betapa menyenangkan! Ia mendapatkan wahyu yang mengijinkannya menikahi sebanyak mungkin wanita sesuka hatinya. Allah secara eksplisit menyatakan bahwa hak istimewa ini adalah “sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin”  (Quran 33:50[2]).
  • Allah menyatakan bahwa istri yang banyak harus diperlakukan dengan adil (Quran 4:3). Tetapi Muhammad pilih kasih terhadap istri-istrinya, ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan beberapa saja dari antara mereka. Betapa menyenangkan! Ia langsung mendapatkan wahyu yang mengatakan padanya bahwa ia dapat “menunda” dan “menerima” istri-istrinya seturut kehendaknya (Quran 33:52[3]).
  • Muhammad menginginkan istri (Zainab) dari Zaid, anak angkatnya. Zaid menceraikannya agar Muhammad dapat menikahinya. Ini menyebabkan gerutu hebat di kalangan para pengikutnya, banyak yang memandang perbuatannya ini sebagai inses. Betapa nyaman! Allah langsung campur tangan dengan wahyu spesial lainnya yang memperjelas bahwa jika para anak angkat ‘telah usai” dengan istri-istri mereka, para ayah angkat mereka dapat menikahi istri-istri mereka dan siapapun yang mempertanyakan peraturan ini mempertanyakan Allah! (Quran 33:37[4]).
  • Muhammad berhubungan seks dengan seorang budak (Maria orang Koptik) yang tidak dinikahinya. Istrinya (Hafsa) yang malam itu adalah gilirannya sangat keberatan dan murka. Muhammad berjanji tidak akan menyentuh Maria lagi jika Hafsa diam. Ia tidak menutup mulutnya maka tersebarlah skandal itu. Betapa menyenangkan! Allah yang selalu setia campur tangan untuk menyelesaikan perkara itu: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu... “ (Quran 66:1). Allah kemudian mengancam para istri Muhammad dengan perceraian jika mereka tidak bersikap baik dan menaati Muhammad! (Quran 66:5[5]).

Apakah mengherankan jika Aisha (istri favorit Muhammad) bereaksi sebagai berikut terhadap “wahyu nyaman” yang mengijinkan Muhammad mengabaikan jadwal yang mengatur perlakuan adil dan tidur dengan para istrinya ketika ia meminta: “Aisha (Allah senang padanya) meriwayatkan: ‘ Aku merasa iri terhadap para wanita yang memberi diri mereka kepada rasul Allah (SAW) dan berkata: Dan ketika Allah, Yang Maha Tinggi dan Mulia, mewahyukan hal ini: Engkau boleh menyingkirkan siapapun yang kau suka, dan mengambil bagimu siapapun yang kau suka; dan jika engkau menginginkan siapapun yang telah engkau singkirkan (tidak ada dosa yang dituduhkan kepadamu). Aku (Aisha) berkata: ‘Bagiku nampaknya Tuhanmu bergegas untuk memuaskan hasratmu’” (Sahih Muslim 3453).

Nampaknya istri kesayangannya sekalipun (kita akan membahasnya nanti) dapat melihat sesungguhnya dia (Muhammad) yang sedang beroperasi!

Cara Muhammad menggunakan Quran untuk menikahi lebih banyak wanita daripada orang Muslim lainnya dan mengatur kehidupan seksnya tentu dirasa memalukan oleh orang Muslim yang baik. Banyak di antara mereka yang berusaha untuk terlibat dalam mengontrol kerusakan dengan mengklaim bahwa Muhammad masuk ke dalam pernikahan-pernikahan ini hanya untuk membangun aliansi-aliansi politik atau untuk “menolong” para wanita itu. Boleh jadi ini adalah faktor dalam memutuskan untuk pernikahannya tetapi sangat jelas bahwa hasrat seksual yang serampangan juga memainkan peranan penting dalam banyak pernikahannya. Ini diperjelas dalam Sahih Bukhari: “Diriwayatkan Qatada: Anas bin Malik berkata: ‘Nabi selalu mengunjungi semua istrinya sekali putaran, selama hari siang dan malam dan mereka berjumlah sebelas orang’. Aku bertanya pada Anas, ‘Apakah nabi mempunyai kekuatan untuk itu?’ Anas menjawab, ‘Kami selalu mengatakan nabi diberi kekuatan tigapuluh (laki-laki)’” (Sahih Bukhari 1:5:268).

Sebagai tambahan untuk stamina seksual Muhammad yang luar biasa, ia juga nampaknya terlibat dalam praktik-praktik seksual yang tidak lazim. Ada beberapa tradisi dalam Sahih Bukhari yang menyatakan bahwa pakaiannya terus-menerus ternoda cairan sperma (semen). Sebagai contoh: “Aku selalu membasuh jejak-jejak Janaba (semen) dari pakaian nabi dan ia selalu pergi sembahyang sementara bekas-bekas air masih ada (pada pakaiannya) (noda air masih terlihat)” (Sahih Bukhari 1:4:229). Menarik sekali melihat kitab ini “ramah keluarga”, dan sebaiknya tidak masuk ke dalam diskusi mendetil perihal bagaimana pakaian Muhammad ternoda semen terus-menerus. Katakan saja hal ini tidak memberi kita kesan yang indah akan orang yang berusaha membangun reputasi dengan berpantang seks!

 



[1] Quran sura An Nisa 4:3 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

[2] Quran sura Al Ahzab 33:50 “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin...”

[3] Quran sura Al Ahzab 33:52 “Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan- perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”

[4] Quran sura Al Ahzab 33:37 “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

[5] Quran sura At Tahrim 66:5 “Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top