Blog / Mempertanyakan Syariah (Hukum Islam)

 

Hukum Islam secara umum dikenal dengan Syariah. Syariah lebih dari sekadar aturan hukum. Syariah berusaha mengatur setiap aspek kehidupan orang Muslim (dan faktanya mengatur seluruh dunia) oleh karena Syariah dipandang sebagai hukum Allah yang sempurna.

Orang Muslim wajib mengikuti Syariah sepenuhnya. Faktanya, Allah menyatakan orang-orang yang menolak hidup sesuai hukum-Nya sama dengan keluar dari Islam: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan  berarti bahwa bagi seorang Muslim yang bertakwa, setiap sistem hukum yang tidak berdasarkan Syariah tidak dapat diterima. Quran mengatakan:

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (Quran 5:49-50).

Poin ini selanjutnya diperkuat dalam hadith yang menyatakan dengan tegas bahwa seorang Muslim sangat dilarang menaati hukum dan keputusan yang tidak sejalan dengan Syariah:

Diriwayatkan ‘Abdullah: Nabi berkata, ‘Seorang Muslim harus mendengar dan menaati (perintah penguasanya) apakah ia menyukainya atau tidak, selama perintah-perintahnya tidak menunjukkan ketidaktaatan (kepada Allah), tetapi jika tidak menaati (Allah) diberlakukan maka ia tidak boleh mendengarkan atau menaatinya’” (Sahih Bukhari 9:89:258).

Posisi Syariah yang tidak dapat dipertanyakan dalam benak orang Muslim setidaknya mendatangkan masalah. Ini karena Syariah secara signifikan bertentangan dengan sensibilitas modern, hak-hak azasi manusia dan semua aturan hukum non islami. Oleh karena itu para penganut Syariah menempatkan komunitas Muslim berseberangan dengan orang-orang non Muslim yang ada di sekitar mereka.

Memaparkan segala sesuatu mengenai Syariah yang bertentangan dengan nilai-nilai modern dan hak azasi manusia kemungkinan besar memerlukan buku yang terpisah. Disini hanya akan diberikan beberapa contoh penting. Secara umum, dapat dikatakan bahwa Syariah:

  • Mengkriminalkan tindakan-tindakan yang bukan merupakan kejahatan di dalam yurisdiksi yang berbeda.
  • Memerintahkan untuk melakukan tindakan-tindakan yang merupakan kejahatan di dalam yurisdiksi yang berbeda.
  • Secara fundamental tidak adil dalam memperlakukan para saksi.
  • Memberlakukan hukuman-hukuman yang kejam dan tidak manusiawi.

Setiap poin ini akan didiskusikan secara ringkas berikut ini:

 

Sebaran Luas Kriminalitas Syariah

Harus dipahami bahwa Syariah dirancang untuk mengontrol setiap aspek kehidupan masyarakat dan individu. Untuk alasan inilah beberapa tindakan tertentu yang di banyak belahan dunia lainnya dipandang netral secara hukum, secara tegas digambarkan melanggar Syariah. Sebagai contoh, yang berikut ini dianggap sebagai kejahatan serius di bawah Syariah:

  • Murtad (yaitu meninggalkan agama Islam). Dalam beberapa yurisdiksi (wilayah hukum) dimana Syariah secara konsisten diberlakukan, orang-orang yang murtad akan menghadapi hukuman mati. 
  • Kebebasan Berbicara. Hujat dipandang sebagai kejahatan yang serius di bawah Syariah. Kritik terhadap nabi adalah sangat serius. Sejalan dengan perlakukan Muhammad terhadap para pengkritiknya banyak aturan hukum Syariah menuntut hukuman mati bagi orang yang menghujat.
  • Perzinahan. Hukuman tradisional Syariah bagi perzinahan adalah rajam, walaupun faktanya hukuman ini dimandatkan oleh kumpulan hadith dan bukan Quran. 
  • Mengkonsumsi alkohol dan berjudi. Dalam hal ini hukum Syariah berdasarkan Quran 5:90 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. Pelanggaran-pelanggaran pertama umumnya mendapat hukuman cambuk, dan konsekuensi-konsekuensi yang lebih serius jika terulang kembali.
  • Homoseksualitas. Aturan-aturan Syariah berbeda dalam tingkatan penghukuman terhadap tindak homoseksualitas tetapi tidak mempermasalahkan apakah para penyuka sejenis harus dihukum atau tidak. Dalam hal ini mereka sepakat. Banyak aturan Syariah menuntut hukuman mati bagi homoseksualitas.

Banyak contoh lainnya berkenaan dengan tindakan-tindakan yang biasanya tidak disorot sistem-sistem legal pada umumnya; namun di bawah Syariah tindakan-tindakan tersebut merupakan kejahatan. Harus ditekankan bahwa “kejahatan-kejahatan” ini secara agresif masih didakwa di dalam dunia Islam. Oleh karena itu, dalam abad 21 ini dalam dunia Islam dapat disebutkan banyak orang yang kehilangan nyawa mereka karena murtad, menghujat, perzinahan dan homoseksualitas.

 

Perintah-perintah Ilegal Syariah

Sebagai tambahan bagi tindakan-tindakan tertentu yang umumnya bukan kejahatan namun dipandang sebagai kejahatan, Shariah malah secara positif memerintahkan untuk melakukan beberapa tindakan tertentu yang umumnya dipandang sebagai kejahatan. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:

  • Kekerasan dalam rumah-tangga. Quran jelas memerintahkan kaum pria untuk memukuli istri mereka jika tetap tidak taat: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka”  (Quran 4:34). Oleh karena itu memukuli istri sangat legal bahkan secara aktif dianjurkan di bawah aturan Syariah.
  • Diskriminasi seks. Syariah mengikuti instruksi-instruksi Quran perihal warisan dan aturan-aturan mengenai bukti. Berdasarkan ini seorang wanita hanya dapat mewarisi separuh dari apa yang diwarisi pria (Quran 4:11[1]). Kesaksian seorang wanita juga hanya bernilai separuh dari kesaksian seorang pria (Quran 2:282[2]). Oleh karena itu, Syariah menganjurkan ketidaksetaraan jender dengan mengakui legalitas diskriminasi terhadap perempuan.
  • Seks di bawah umur. Oleh karena teldan pribadi Muhammad dan pengajaran yang jelas dari Quran, aturan-aturan Syariah tidak memuat larangan yang cukup kuat terhadap seks dengan anak di bawah umur. Sebaliknya, upaya apapun oleh pemerintah di dunia Muslim untuk menetapkan batasan umur yang sesuai dengan standar internasional akan dihadapi dengan perlawanan keras oleh lembaga-lembaga religius islami.
  • Perbudakan. Quran dan hadith tidak memuat satupun hukuman terhadap perbudakan tetapi memperlakukannya sebagai sebuah fakta kehidupan. Ditambah lagi, teladan pribadi Muhammad sebagai pemilik budak langsung memperjelas mengapa Syariah tidak memuat larangan apapun terhadap perbudakan. Walaupun memang perbudakan tidak tersebar luas di dalam dunia Muslim, ini sama sekali bukan karena adanya pembatasan apapun oleh sistem-sistem hukum yang berdasarkan Syariah.


[1] QS An Nisa 4:11 “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya...”

[2] QS Al Baqarah 2:282 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

 

 


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top