Blog / Anggota Kongres Menyerukan Untuk Mendengar “Radikalisasi” Terhadap Kaum Wanita Kristen Kulit Putih

Sudah tentu, jika seseorang dengan warna kulit apapun melakukan penembakan acak, maka kita bersikap rasis jika mengkambinghitamkan rasnya. Tetapi jika seseorang dengan warna kulit apapun melakukan penembakan acak – sambil melambai-lambaikan Quran, dan meneriakkan seruan jihadi “Allahu Akbar!” atau merasionalisasi tindakan-tindakannya dalam kriteria-kriteria islami seperti yang dilakukan Nidal Hasan  – maka kita berbicara mengenai tindakan penembakan yang dimotivasi oleh ideologi atau “worldview” yang dipelajari yang sama sekali tidak berkaitan dengan ras si pembunuh.


 

Oleh: Raymond Ibrahim
 

FrontPage Magazine
June 25, 2012
 

http://www.raymondibrahim.com/11907/congressman-calls-for-hearings-on-radicalization 

 

Dalam acara dengar pendapat yang dilakukan oleh Komite Keamanan Dalam Negeri, minggu lalu, mengenai “Radikalisasi Muslim-Amerika”,  anggota kongres Texas Al Green (D) mengkritik acara dengar pendapat itu sebagai sesuatu yang bias dan tidak adil terhadap orang-orang Muslim, dan karena itu menyarankan bahwa satu-satunya cara untuk membenarkan acara seperti itu adalah jika para anggota kongres juga melaksanakan sebuah “dengar pendapat mengenai radikalisasi orang-orang Kristen.”

Meskipun posisinya boleh jadi tidak seimbang, kenyataannya ini memperlihatkan sebuah percampuran berbahaya dari irasionalitas, relativisme moral, dan emosionalisme – semuanya merupakan ciri yang bisa merugikan dalam diri seorang anggota kongres Amerika Serikat. Perhatikan beberapa hal yang dituntut oleh Green:

 

Saya tidak beranggapan bahwa kebanyakan orang menentang dengar pendapat mengenai radikalisasi. Saya sendiri juga tidak menentang diadakannya acara dengar pendapat mengenai radikalisasi. Yang saya tentang adalah jika kita tidak memfokuskan pembahasan mengenai keseluruhan radikalisasi ... Mengapa kita merasa perlu melakukan dengar pendapat mengenai radikalisasi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen? ...Orang-orang yang menyaksikan dengar pendapat ini dan tidak pernah mendengar mengenai dengar pendapat tentang radikalisasi orang-orang Kristen, harus bertanya pada diri mereka sendiri,”Bagaimana hal ini bisa sampai hilang?”


Pertanyaan yang adil – “Mengapa tidak melakukan dengar pendapat mengenai radikalisasi orang-orang Kristen?” Sebelum merespons, kita harus mengenali bahwa kata “radikalisasi” secara sederhana berarti “berpaling pada akar asli dari suatu hal,” dalam kasus ini, agama. Seorang Muslim radikal berpaling pada akar pengajaran Islam, seorang Kristen berpaling pada akar pengajaran Kristen. Dengan demikian, di Amerika bisa dipastikan ada “orang-orang Kristen radikal.” Pertanyaannya adalah, apakah mereka akan menimbulkan risiko yang sama pada Amerika sebagaimana halnya yang ditimbulkan oleh orang-orang radikal Muslim?

 

Green dan semua dari para relativis moral, secara natural tidak ingin mengejar pertanyaan seperti ini, memilih untuk berpura-pura bahwa setiap bentuk “radikalisasi” – tak peduli apapun akar ajaran-ajarannya – adalah hal yang jahat. Tentu saja mereka tidak tertarik untuk menentukan perbedaan antara fundamentalisme Kristen dengan Islam, dan apakah keduanya sama-sama melakukan kekerasan, terorisme, penaklukan dsb.

 

Sementara ini bukanlah tempatnya untuk mengkontraskan sikap apolitik Kekristenan dan naturnya yang pasif dibandingkan dengan politik Islam modern dan naturnya yang agresif – sebuah tema dielaborasi di sini – cukuplah untuk mengatakan bahwa, ketika ribuan pemimpin Muslim modern dicatat telah mengutip ayat-ayat dari kitab suci Islam untuk membenarkan kekerasan dan kebencian, maka orang akan kesulitan untuk menemukan contoh-contoh dari para pemimpin Kristen modern yang mengkotbahkan kekerasan dan kebencian – dan membenarkannya melalui Alkitab.

 

Mufti Agung, yaitu ulama tertinggi Arab Saudi, yang adalah bangsa islami yang tersuci, menyerukan penghancuran semua gereja yang ada di Timur Tengah (lihat link: called on the destruction of all regional churches ), mengutip teks-teks islami. Dapatkah Green menemukan contoh yang sama: adakah seorang tokoh Kristen yang berotoritas yang menghimbau agar umat kristiani melakukan penghancuran terhadap mesjid-mesjid – dan mendapatkan dukungan untuk himbauannya itu dari Alkitab?

 

Green melanjutkan pertanyaannya “Mengapa kita tidak melanjutkan ke tahap berikutnya dan bertanya, bagaimana  seorang wanita kulit putih bermata biru dan berambut pirang, di Amerika Serikat dapat menjadi sangat radikal hingga ingin melakukan kejahatan kepada negara ini? Kita tidak melakukan dengar pendapat untuk hal ini. Itulah masalahnya”.


Dengan demikian, tidak hanya si Anggota Kongres secara tidak rasional mempertentangkan pengajaran-pengajaran semua agama sekaligus, tetapi ia juga mempertentangkan agama dengan ras (dan jender), mengemukakan bahwa satu-satunya alasan dilakukannya dengar pendapat berkenaan dengan radikalisasi Muslim adalah karena orang Muslim tidak berkulit putih, sedangkan wanita Kristen “radikal” berambut pirang dan bermata biru yang “sama berbahayanya” nampaknya mempunyai kemudahan untuk meneror Amerika.


Logika ini cacat dalam banyak hal. Islam bukanlah sebuah ras; ada banyak orang Muslim dengan berbagai warna kulit, demikian pula dengan orang Kristen. Tambahan lagi, memang benar ada para teroris “bermata biru, berambut pirang” di dunia, termasuk kaum wanita – dan mereka juga sungguh-sungguh orang Muslim. Green telah bersikap tidak jujur dengan mencoba mengalihkan fokus dari radikalisasi Islam dan mengkambinghitamkan setan “rasisme”.

 

Walau demikian, argumen bahwa Islam adalah sebuah ras sudah menjadi populer, dan sebagai contoh, digunakan oleh Anggota Kongres  Jackie Speier, yang juga menyebut dengar pendapat ini rasis. Demikian pula, seorang veteran tentara Amerika (lihat American soldier) ketika mendiskusikan penembakan-penembakan di Fort Hood meratap dengan mengatakan “Ketika seorang pria kulit putih menembaki kantor pos, mereka tidak terlalu mempermasalahkannya. Tetapi ketika seorang Muslim [yaitu Nidal Hasan] melakukan hal itu, mereka menyebutnya sebagai jihad”.

  

Perhatikanlah kekacauan yang ada; seakan-akan  “seorang pria kulit putih” dan seorang “Muslim” merepresentasikan ras yang berbeda. Sudah tentu, jika seseorang dengan warna kulit apapun melakukan penembakan acak, maka kita bersikap rasis jika mengkambinghitamkan rasnya. Tetapi jika seseorang dengan warna kulit apapun melakukan penembakan acak – sambil melambai-lambaikan Quran, dan meneriakkan seruan jihadi “Allahu Akbar!” atau merasionalisasi tindakan-tindakannya dalam kriteria-kriteria islami seperti yang dilakukan Nidal Hasan  – maka kita berbicara mengenai tindakan penembakan yang dimotivasi oleh ideologi atau “worldview” yang dipelajari yang sama sekali tidak berkaitan dengan ras si pembunuh.

 

Sejak awal sampai akhir, Green – sebagaimana koleganya anggota kongres Keith Ellison, yang berkeberatan terhadap dengar pendapat ini hingga memuncak pada meneteskan air mata (lihat  teary-eyed breakdown) – mendasarkan pendapatnya pada emosionalisme: ia membuka pernyataannya dengan mengucapkan salam islami assalamualaikum kepada para hadirin yang Muslim, dan bermulut manis mengatakan: “Bukankah indah melihat cucu seorang pendeta Kristen dapat duduk dalam “Homeland Security Committee” dan mengatakan assalamualaikum?” – poin yang tidak bermakna yang tidak mengubah fakta bahwa dalam Islam, hanyalah orang Muslim yang diijinkan mengatakan “damai bagimu” kepada sesamanya Muslim, dan tidak pernah mengucapkannya kepada orang-orang kafir non Muslim, yang secara naturnya tidak layak mendapatkan sapaan Muslim.

 

Akhirnya, Green menyimpulkan serangan-seangannya dengan mengatakan “Saya mengetahui bagaimana rasanya terlihat seperti seorang Muslim di benak beberapa orang dan diremehkan dalam sebuah pertemuan publik ... Saya menantikan hari dimana kita akan mempunyai dengar pendapat yang berurusan dengan radikalisasi Kristen di Amerika” – sekali lagi, semua retorika yang tidak bermakna yang berkaitan dengan ras dan relativisme moral, nilai mendasar yang tidak berkaitan dengan isu yang sedang dibicarakan, yaitu ancaman nyata adanya “radikalisasi orang-orang Muslim Amerika”.

 

http://www.raymondibrahim.com/11907/congressman-calls-for-hearings-on-radicalization


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top