Blog / Perempuan Kristen Diculik dan Dipaksa Masuk Islam di Pakistan

 

 

Washington, D.C. (October 16, 2012) -  Wanita ini baru saja selesai melaksanakan shift malam di pabrik Millat Textile Mill di Nishatabad, sebuah distrik Faisalabad, sebelum ia secara tiba-tiba seperti lenyap ditelan bumi. Seorang pria Muslim berusia 26 tahun, Muhammad Javaid Iqbal, sudah lama tertarik pada Shumaila. Namun wanita muda itu adalah seorang Kristen yang taat dan telah berulang-ulang menolak permohonan Iqbal untuk menikahinya.

 

“Iqbal telah membantu Shumaila mendapatkan pekerjaan di pabrik itu, dan bersahabat dengan saudara-saudara laki-laki wanita ini,” demikian dikatakan oleh Shareef Masih, ipar Shumaila  kepada ICC. “Iqbal sering mengunjungi rumah Shumaila karena ia ingin agar orangtua Shumaila mengijinkannya menikahi gadis ini. Tetapi Shumaila menolak lamarannya. Ia setia pada keyakinan Kristianinya sementara pria ini adalah seorang Muslim. Seringkali Iqbal menggoda dan melecehkan Shumaila karena determinasi gadis ini yang sedemikian kuat untuk mengikuti Kekristenan.”

 

Iqbal telah menunggu Shumaila saat gadis ini berjalan pulang menuju rumah di senja hari, setelah bekerja sepanjang malam di the mill pada tanggal 24 September. Sambil menodongkan pistol ke kepala gadis ini, Iqbal menyeret Shumaila ke dalam sebuah kendaraan.

 

Hari berikutnya, Shumaila dibawa kepada Muhammad Aslam, seorang pengacara Muslim, dimana ia diminta untuk menandatangani dokumen-dokumen yang melegalisir pernikahannya kepada Iqbal dan mengumumkan bahwa ia adalah seorang Muslim. Tapi Shumaila menolak.

 

“Karena ia tidak juga bersedia menandatangi surat-surat itu, kepada Shumaila diberikan sejumlah cairan yang dimasukkan ke dalam cangkir teh yang menyebakan gadis ini kehilangan kesadarannya,” kata Masih. “Setelah itu, pengacara ini berhasil mendapatkan cap jempolnya pada dokumen pernikahan dan ‘perpalingannya’ ke Islam. Ada sekitar 30 orang di kantor pengacara itu yang mendukung ‘cara yang dilakukan Iqbal’ untuk mengislamkan Shumaila.”

 

Kemudian Shumaila dibawa ke sebuah madrasah oleh ‘ipar’ Muslimnya untuk belajar Quran dan belajar cara sembahyang Islami. “Segala sesuatu diawasi oleh keluarga”, demikian penjelasan Masih. Selama berhari-hari, Shumaila mengalami “pelecehan seksual, kekerasan dan pemaksaan untuk mempelajari Quran dan aturan-aturan Islam,” demikian laporan Asia News.

 

Untunglah Shumaila berhasil melarikan diri dari madrasah itu dan kembali ke keluarganya pada tanggal 5 Oktober. Iqbal melaporkan hilangnya Shumaila pada stasiun polisi lokal segera setelah pelariannya, mengklaim bahwa keluarga Shumaila telah “menculik” wanita ini dan bahwa ia telah memilih untuk masuk Islam “berdasarkan kehendak bebasnya sendiri.”

 

Mansha Masih, ayah Shumaila, terancam akan dipenjara atas tuduhan menculik anak gadisnya sendiri. Komisi Nasional untuk Keadilan dan Perdamaian (NCJP) telah bersumpah akan membela Shumaila dan ayahnya di pengadilan, tetapi yang terjadi selama ini, sistem pengadilan di Pakistan sangat menguntungkan pihak Muslim. Ada kekhawatiran yang sangat besar bahwa Shumaila akan kembali kepada para penculiknya.

 

“Kami melakukan yang terbaik untuk menyediakan bantuan dan pendampingan pada korban-korban seperti Shumaila,” demikian pernyataan Nisar Barkat, direktur NCJP di Faisalabad kepada Asia News. “Tetapi kita harus hati-hati dengan manipulasi yang selama ini kerap dilakukan atas nama ‘agama damai’ ini.”

 

Shumaila adalah satu dari ratusan wanita Kristen dan gadis-gadis di Pakistan yang selama beberapa tahun terakhir mengalami penculikan, pemaksaan masuk Islam, dan dipaksa menikah dengan pria yang tidak mereka kehendaki. Pada kasus lainnya, Rebecca Masih, seorang perawat Kristen berusia 22 tahun, juga mengalami penculikan ketika tengah berjalan menuju tempat kerja sebelum akhirnya dipaksa masuk Islam dan menikah dengan seorang pria Muslim pada tanggal 2 Oktober, demikian laporan the Pakistan Christian Post. Penculikan seringkali diikuti dengan aksi-aksi kekerasan termasuk perkosaan, pemukulan, dan bentuk-bentuk pelecehan fisik dan mental lainnya. Sama seperti Shumaila dan Rebecca, gadis-gadis Kristen hanya memperoleh sedikit hak-hak legal jika mereka beruntung bisa meloloskan diri dan penculiknya. Tetapi yang paling sering terjadi, keluarga mereka tidak pernah bisa bertemu atau melihat mereka lagi.

 

“[Saya ingin] hidup bersama dengan orangtua dan mempraktikkan iman Kristen,” demikian kata Shumaila kepada Asia News. “Saya berulang-ulang menolak [untuk menikahi Iqbal]. Dan hal itu telah menghancurkan hidupku.”

 

Untuk wawancara, hubungi Aidan Clay, Manager Regional untuk Timur Tengah

 

clay@persecution.org

 

 

Sumber: Persecution.org


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top