Daily Devotional


Dapatkah Orang Lain Melihat Yesus Dalam Diri Anda?

Dan Elohim segala anugerah, yang telah memanggil kita ke dalam kemuliaan kekal-Nya di dalam HaMashiak YESHUA, kiranya Dia sendiri akan memulihkan, meneguhkan, menguatkan, mengukuhkan kamu, setelah sedikit menderita.”

(1 Petrus 5:10)

 

Pencobaan dikendalikan oleh Tuhan. Dan pencobaan tidak berlangsung selamanya; hanya sementara atau “semusim.” Kalau Tuhan mengizinkan anak-anakNya berjalan melalui perapian, Ia selalu melihat ke arah jam, dan tangan-Nya selalu berada pada alat pengukur temperatur (thermostat). Kalau kita memberontak, mungkin Ia akan terpaksa memutar kembali jamnya atau berarti kita perlu lebih lama lagi mengalami penderitaan itu. Tetapi kalau kita berserah, Ia tidak akan membiarkan kita menderita lebih lama lagi satu menit pun dari waktu yang telah ditetapkanNya. Hal yang terpenting adalah bahwa kita benar-benar belajar dari pengalaman itu. Ia ingin mengajar kita, dan supaya kita membawa kemuliaan hanya bagiNya saja.

Petrus menggambarkan kebenaran ini melalui sebuah ilustrasi tentang tukang emas. Tidak ada tukang emas yang mau dengan sengaja memboroskan logam berharga itu. Biasanya mereka menaruh biji-biji emas itu ke dalam perapian selama waktu tertentu untuk membuang kandungan logam atau zat-zat lain yang murah dan bukan emas; kemudian barulah ia menuangkan cairan emas yang benar-benar murni untuk dibentuk menjadi benda-benda seni bernilai tinggi. Bahkan konon kabarnya, pandai-pandai emas dari timur di zaman dahulu memasak emas di perapian cukup lama, sampai mereka dapat melihat pantulan wajah mereka dalam cairan emas murni itu. Jadi Tuhan menaruh kita dalam perapian atau penderitaan sampai kita bisa memantulkan kemuliaan serta keindahan Yesus Kristus.

 


Manusia-Manusia Pagi

Karena itu, dengan mengencangkan ikat pinggang pengertianmu, sambil menenangkan diri, berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang dibawa kepadamu dalam penyingkapan YESHUA HaMashiakh.”

(1 Petrus 1:13)

Para dokter mengatakan bahwa ada orang-orang yang bisa disebut sebagai “manusia-manusia pagi”, dan ada pula “manusia-manusia malam.” “Manusia-manusia pagi” adalah orang-orang yang sudah terbangun sebelum jam weker berbunyi. Kemudian mereka langsung berlari, dan tidak pernah merasa perlu menguap atau membasahi wajah mereka dengan air dingin. Orang-orang yang lain, biasanya susah bangun – mulai dengan satu mata, baru kemudian mata yang satu lagi – dan lambat laun dengan perlahan-lahan menyesuaikan badannya untuk memulai harinya.

Kalau kita hubungkan dengan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, kita semua harus menjadi “manusia-manusia pagi” – terbangun, waspada, sepenuhnya sadar, dan bersiap menyambut fajar hari baru yang istimewa itu.

Tetapi bagi banyak orang yang belum diselamatkan, bersuka-ria dalam mabuk-mabukan, kedatangan kembali Kristus Yesus akan berarti berakhirnya terang dan berawalnya kegelapan yang kekal.

 


Sang Pencipta Yang Setiawan

Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita, karena kehendak Elohim, menyerahkan jiwanya dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”

(1 Petrus 4:19)

Mengapa Petrus menyebut Tuhan sebagai “Pencipta yang setia” (1 Petrus 4:19) dan bukannya sebagai “Hakim yang setia” atau bahkan “Juruselamat yang setia”? Karena Tuhan sang Pencipta memenuhi kebutuhan umatNya. Sang Penciptalah yang telah menyediakan makanan dan pakaian yang dibutuhkan oleh orang-orang Kristen yang sedang menderita penganiayaan, dan melindungi mereka dalam masa-masa penuh bahaya. Ketika jemaat yang mula-mula itu dianiaya, mereka selalu berkumpul bersama-sama untuk berdoa, dan menyebut Tuhan sebagai “Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (Kisah Para Rasul 4:24). Mereka berdoa kepada Sang Pencipta!

Bapa sorgawi kita adalah “Tuhan langit dan bumi” (Matius 11:25). Dengan Bapa yang seperti itu, kita tidak perlu kuatir tentang apapun! Ia adalah Pencipta yang setia. Dan kesetiaannya tidak akan pernah gagal.

Sebelum Tuhan mencurahkan murkanya atas dunia yang penuh kejahatan ini, sebuah “pencobaan berat” akan dialami oleh gereja Tuhan, untuk mempersatukan dan menyucikannya, supaya gereja bisa menjadi saksi yang kuat bagi mereka yang terhilang. Tidak ada yang perlu kita takutkan kalau kita harus menderita dalam kehendak Tuhan. Bapa kita, Sang Pencipta yang setia itulah yang akan memastikan kemenangan kita!

 


Bersabarlah Dalam Penantian

Hanya pada Elohim saja jiwaku tenang, karena dari Dialah harapanku. Hanya dialah batu cadasku dan keselamatanku, perlindunganku yang tinggi, aku tidak akan digoyahkan.” (Mazmur 62:6-7)

 

 

 

Kemampuan menenangkan jiwa Anda dalam penantian terhadap Tuhan adalah salah satu hal yang paling sulit dalam kehidupan Kristiani. Sifat-sifat lama kita tidak mau mengalah begitu saja. Dunia di sekitar kita selalu dalam kondisi serba terburu-buru. Bahkan mungkin beberapa teman seiman kita pernah menyebutkan kita “mengalami kemunduran” karena kita tidak mengikuti semua seminar, mendengarkan khotbah semua pengkhotbah yang berkunjung ke kota kita, dan menghadiri semua pertemuan yang bersifat rohani. Bertahun-tahun lalu Dr. A.W. Tozer berpendapat bahwa mungkin gereja justru akan mengalami kebangunan rohani kalau kita mau membatalkan semua pertemuan-pertemuan seminar dan berkumpul semata-mata untuk berdoa dan menyembah.

Tuhan dapat menolong kita mengalahkan rasa takut kalau kita mau belajar menyembah dengan sepenuh hati, berjalan maju, serta menanti; dan dari ketiganya hal yang paling sukar adalah menanti. Hati yang gelisah biasanya mengakibatkan kehidupan yang gelisah pula. Semua kegiatan keagamaan tidak selalu berarti pelayanan. Kadang-kadang bahkan kegiatan-kegiatan seperti itu bukannya membina kita, sebaliknya malah meruntuhkan kita.

 


Kerendahan Hati Yang Sejati

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

(Lukas 14:11)

Kepatuhan dan tunduk terhadap Tuhan dan sesama adalah sebuah tindakan iman. Memang ada bahayanya tunduk kepada sesama; mereka bisa memanfaatkan kita untuk kepentingan mereka sendiri. Tetapi tentang hal itu kita bisa mempercayakan semuanya kepada Tuhan. TanganNya yang Maha Kuasa yang mengatur kehidupan kita juga bisa mengatur kehidupan sesama kita.

Tuhan tidak pernah mengagungkan atau memuliakan siapapun sampai orang itu siap untuk menerimanya. Yang pertama adalah Salib, baru kemudian mahkota; yang pertama adalah penderitaan, baru kemudian kemuliaan. Musa berada di bawah tuntunan Tuhan selama empat puluh tahun sebelum akhirnya Tuhan mengirimnya untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Yusuf berada di tangan Tuhan selama paling sedikit tiga belas tahun sebelum akhirnya Tuhan mengangkatnya ke tahta. Memang kesombongan – keinginan untuk menjadi seperti Tuhan – yang mendorong Hawa untuk mengambil buah terlarang. Satu-satunya obat penawar bagi kesombongan adalah kasih karunia Tuhan, dan kita akan menerima kasih karunia kalau kita berserah diri kepadaNya. Bukti dari adanya kasih karunia itu adalah bahwa kita juga saling merendahkan diri satu terhadap yang lain.

 


↑ Back to Top