Daily Devotional


Mereka Akan Melihat Dia

Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, dan mereka yang telah menikam Dia serta semua suku di bumi akan meratap karena Dia. Ya, amin!” (Wahyu 1:7)

Kisah tentang pertobatan Paulus hampir tidak ada persamaannya sama sekali dengan pengalaman penyelamatan kita dalam zaman ini. Tidak ada seorangpun dari kita yang pernah melihat Kristus dalam kemuliaan atau benar-benar mendengar suara-Nya berbicara dari sorga. Kita juga belum pernah dibutakan oleh cahaya dari sorga atau tersungkur ke tanah. Jadi, bagaimana pertobatan Paulus bisa menjadi “pola” bagi kita, atau di mana letak kesamaannya?

Hanya dalam gambaran bagaimana bangsa Israel akan diselamatkan ketika Yesus datang kembali untuk membangun kerajaanNya di bumi ini. Bangsa Israel akan melihat Dia pada waktu Dia datang kembali, mengenalinya sebagai Sang Mesias, bertobat, dan menerima Dia. Itu akan menjadi pengalaman yang sama dengan pengalaman Saulus orang Tarsus ketika ia dalam perjalanan menuju Damsyik untuk menganiaya orang-orang Kristen pada zaman itu.

Refleksikanlah kedatangan Kristus yang kedua yang akan terjadi dalam sekejab mata. Pujilah Tuhan atas kasih karuniaNya dan doakanlah mereka yang belum berpaling kepadaNya

 

 


Jangkar Yang Teguh

Agar oleh dua kenyataan yang tidak dapat berubah, yang dengannya mustahil Elohim berdusta, kita yang mencari perlindungan untuk menggenggam pengharapan yang disediakan sebelumnya, boleh mendapatkan penghiburan yang kuat, yang kita dapatkan seperti sebuah jangkar bagi jiwa, yang pasti dan juga teguh, dan yang masuk ke bagian dalam dari tabir, ke tempat YESHUA masuk, sebagai perintis bagi kita, ketika menjadi Imam Besar sampai selamanya menurut peraturan Melkisedek.” (Ibrani 6:18-20)

Harapan terhadap sorga juga bisa menjadi dukungan dan sumber penghiburan dalam masa-masa penderitaan. Sebagai orang-orang beriman, kita juga memiliki bagian dalam penderitaan; tetapi di tengah-tengah pencobaan, kita bisa tetap “bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tak terkatakan.” (1 Petrus 1:8). Kalau orang-orang yang tidak percaya menderita, mereka menjadi kehilangan semangat dan ingin menyerah. Tetapi kalau orang Kristen yang menjalani penderitaan, iman mereka bisa bertumbuh makin kuat, dan kasih mereka bertambah dalam karena pengharapan mereka bersinar lebih terang.

Bagaimana kita tahu bahwa kita memiliki pengharapan ini? Janji itu diberikan dalam “firman kebenaran, yaitu Injil.” (Kolose 1:5). Kita orang percaya tidak perlu “menciptakan” perasaan bahagia penuh pengharapan. Firman Tuhan yang tidak pernah berubah itu memastikan bagi kita bahwa pengharapan kita aman dalam Kristus. Bahkan, pengharapan itu dibandingkan dengan sebuah jangkar yang kokoh, yang tidak akan goyah atau patah, dalam surat Ibrani.

 


Hati Yang Berserah

“Namun Dia memberi anugerah yang lebih besar, karena itu Dia berfirman: “Elohim menentang orang-orang yang takabur, tetapi Dia memberi anugerah kepada orang-orang yang rendah hati.” Oleh karena itu, tundukkanlah dirimu kepada Elohim, lawanlah si iblis, maka dia akan melarikan diri dari padamu.” (Yakobus 4:6-7)

Timotius tahu apa artinya pengorbanan dan pelayanan, tetapi Tuhan juga memberikan upah kepadanya karena kesetiaannya. Dari awalnya, Timotius memiliki sukacita besar dalam menolong sesama. Memang ada kesukaran dan masa-masa yang berat, tetapi ada juga kemenangan dan berkat. Karena Timotius setia dalam hal-hal yang kecil, Tuhan memberkatinya dalam banyak hal yang besar, dan ia masuk ke dalam sukacita karena hatinya yang berserah. Ia menikmati sukacita karena bisa melayani bersama dengan rasul Paulus, serta membantunya dalam beberapa pelayanan yang paling sukar.

Tetapi mungkin upah terbesar yang Tuhan berikan kepada Timotius adalah memilihnya menjadi pengganti Paulus setelah rasul besar itu dipanggil pulang. Betapa besarnya kehormatan itu! Timotius bukan saja anak rohani dan pelayan Paulus, tetapi ia menjadi pengganti Paulus – suatu hal yang tidak pernah diimpikan oleh Timotius yang muda itu sewaktu ia sedang sibuk melayani Kristus.

Hati yang berserah bukanlah hasil dari khotbah satu jam atau seminar seminggu, atau bahkan pelayanan dalam setahun. Pikiran yang berserah tumbuh dalam diri kita sewaktu kita seperti Timotius, berserah kepada Tuhan dan berusaha melayani sesama.

 


Hal-Hal Yang Kekal

“Karena kami tidak memperhatikan apa yang kelihatan melainkan apa yang tidak kelihatan, karena apa yang kelihatan itu sementara tetapi apa yang tidak kelihatan itu kekal.” (2 Korintus 4:18)

Orang Kristen dalam Perjanjian yang Baru memiliki realitas! Kita tidak lagi tergantung pada imam besar yang di dunia ini, yang sekali setahun datang menghadap yang Maha Kudus di tempat Kudus yang sifatnya sementara. Kita tergantung pada Imam Besar Sorgawi yang sudah masuk ke ruang maha suci yang abadi untuk sekali dan selamanya. Di sana Ia mewakili kita di hadirat Tuhan, dan Ia akan selamanya menjadi wakil kita.

Waspadalah sebelum Anda mempercayai secara spiritual apapun yang dibuat oleh tangan manusia. Semuanya itu tidak akan bertahan. Kemah Suci tabernakel digantikan oleh Bait Tuhan yang dibangun oleh Salomo. Kemudian Bait Tuhan pun dihancurkan oleh bangsa Babel. Ketika bangsa Yahudi kembali ke tanah Kanaan setelah dibebaskan dari penjajahan, mereka membangun kembali Bait Tuhan. Beberapa tahun kemudian, raja Herodes memperluas dan mengubahnya dengan berbagai hiasan tambahan, tetapi kemudian bangsa Romawi menghancurkannya lagi, dan setelah itu Bait Tuhan tidak pernah dibangun kembali. Lebih jauh lagi, karena catatan-catatan silsilahnya sudah hilang atau musnah, orang-orang Yahudi tidak merasa pasti lagi siapa yang boleh melayani sebagai imam. Semua hal yang dibuat oleh tangan manusia dapat musnah, tetapi hal-hal yang tidak dibuat oleh tangan manusialah yang kekal.

 


Prioritas Utama

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Elohim dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Istilah first thing first atau “memprioritaskan yang paling prioritas” barangkali sudah tidak asing lagi bagi kita. Pertanyaannya, bagaimana kita menentukan hal yang paling prioritas? Ingat, salah menentukan prioritas akan membawa langkah kita ke arah yang salah juga. Salah satu cara untuk menentukan mana yang paling prioritas adalah dengan mengukur berapa lama hal tersebut kita bawa atau berapa “umur” hal tersebut.

Popularitas. Umur popularitas tergantung berapa lama kita bisa eksis di bidang tersebut. Saat populer kita meredup kita akan ditinggalkan begitu saja. Kekuasaan. Umur kekuasaan tergantung berapa lama kita memangku jabatan tersebut. Padahal kita sendiri tahu bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi, suatu saat kita akan pensiun. Di saat itulah kita akan memasuki post power zone, atau masa lepasnya kekuasaan. Pekerjaan. Umur pekerjaan tergantung berapa lama kita sanggup bekerja. Saat fisik masih mau kompromi kita akan terus bekerja, saat fisik sudah lemah kita tidak dapat lagi melakukan apa-apa. Uang. Uang memang bisa bertahan lama namun tidak bisa selamanya. Saat kita tutup usia, saat itu juga uang yang selama ini kita kumpulkan susah payah menjadi tidak ada artinya lagi.

Hal-hal yang bersifat kebendaan atau lahiriah ternyata tidak bertahan lama, itu sebabnya prioritas yang paling tepat di dalam hidup adalah hal-hal yang bersifat kekal. Tuhan dan segala hal yang bernilai kekal seharusnya menjadi prioritas utama hidup kita. Sudah seharusnya kita memprioritaskan hal-hal yang benar prioritas. Tidak dapat dipungkiri bahwa uang, pekerjaan, power dan sebagainya adalah hal yang kita perlukan juga. Namun semuanya itu jangan sampai membuat prioritas hidup kita menjadi tumpang tindih. Jangan sampai kita mengorbankan hal yang utama untuk hal-hal yang tidak prioritas. Bagaimana Anda menyusun prioritas selama itu? Sudahkan Anda menerapkan first thing first atau memprioritaskan hal-hal yang benar-benar prioritas? Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Elohim dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Prioritaskan hal-hal yang benar-benar prioritas

 


↑ Back to Top