Daily Devotional


Kehadiran Tuhan

 

Ada orang Kristen yang salah memahami penyertaan Tuhan. Misalkan: ketika seseorang ingin melewati kuburan yang dianggap angker, dia akan membawa Alkitab atau kalung salib. Seandainya dia tidak membawa Alkitab atau kalung salib, masih beranikah dia melewati kuburan angker?

Hal serupa pernah dialami bangsa Israel ketika berperang melawan bangsa Filistin. Dalam pasal ini kita melihat dua kekeliruan yang dilakukan bangsa Israel dalam memahami tuntunan Tuhan. Pertama, kehadiran Tuhan melalui tabut disalahartikan dan kedua, kehilangan tabut dianggap sebagai hilangnya kehadiran Tuhan. Mari kita simak lebih jauh.

Bangsa Israel menganggap Tuhan ada diantara mereka, padahal cara hidup mereka sangat jauh dari Tuhan. Ayat 1b-4 menceritakan kekalahan Israel. Mereka mengira bahwa kekalahan mereka disebabkan oleh tabut Tuhan yang tidak bersama mereka. Lalu mereka memutuskan untuk mengambil tabut perjanjian Tuhan dari Silo dengan tujuan agar menang perang. Bangsa Israel salah mengartikan kehadiran Tuhan melalui tabut perjanjian. Tabut itu bagai jimat yang dapat digunakan kapan saja, sesuai kehendak mereka sendiri. 

Ayat 5-11 mengisahkan bahwa setelah mereka membawa tabut perjanjian dari Silo, mereka terpukul kalah. Mereka terpukul kalah hingga gugur tiga puluh ribu orang. Tabut Tuhan dirampas serta kedua anak Eli, yaitu Hofni dan Pinehas, tewas. Ayat 12-22 menjelaskan bahwa Tuhan menggenapi nubuat-Nya kepada Samuel. Setelah Eli mendengar bahwa bangsa Israel terpukul kalah, kedua anaknya meninggal, dan tabut Tuhan dirampas, maka jatuhlah ia dan meninggal. Isteri Pinehas pun mendadak melahirkan dan hampir mati karena mendengar berita duka itu. 

Apakah semua itu terjadi karena tabut perjanjian Tuhan dirampas sehingga Tuhan tidak hadir lagi di tengah bangsa itu? Tentu saja tidak. Ketidakhadiran Tuhan adalah karena hidup bangsa Israel yang tidak lagi berkenan pada Tuhan. Maka bila Anda ingin Tuhan hadir dalam hidup Anda, hiduplah dalam kekudusan dan ketaatan kepada firman-Nya.

Bacaan: 1 Samuel 4: 1-22


Gangguan Hati

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” (Yehezkiel 36:26)

 

Inti dari semua masalah adalah masalah hati (The heart of the problem is the problem of the heart). Bangsa Israel (kecuali orang-orang seperti Musa, Yosua dan Kaleb) membuat kesalahan dalam hati mereka, artinya hati mereka menjauh dari Tuhan dan FirmanNya. Mereka juga memiliki hati yang jahat karena tidak beriman: mereka meragukan bahwa Tuhan akan memberi mereka kemenangan di Kanaan. Padahal mereka sudah melihat Tuhan menciptakan berbagai mujizat besar di Mesir, tetapi mereka tetap meragukan bahwa Ia berkuasa mengalahkan Kanaan.

Kalau seseorang sudah bersalah dan tidak mau percaya dalam hatinya, tak lama lagi hatinya akan mengeras. Itulah hati yang tidak peka terhadap Firman dan karya Tuhan. Sebegitu kerasnya hati bangsa Israel, sehingga orang-orang itu bahkan ingin pulang ke Mesir! Bayangkan mereka ingin menggantikan kebebasan di bawah Tuhan dengan perbudakan di Mesir!

Pernahkah Anda berharap bahwa Anda tidak diselamatkan – supaya Anda bisa kembali ke “Mesir”?

 


Mengendalikan Lidah

“Ya YAHWEH, taruhlah penjaga pada mulutku, awasilah pintu bibirku. Jangan biarkan hatiku berpaling pada perkara yang jahat sehingga melakukan perbuatan-perbuatan dalam kefasikan.” (Mazmur 141:3-4)

Dengan menggunakan kekang kuda dan kemudi sebagai ilustrasi, Rasul Yakobus mengemukakan dua macam benda dalam suratnya. Kedua benda itu, yang meskipun kecil bentuknya, tetapi memiliki kekuatan yang besar, seperti lidah. Kekang kuda yang kecil memampukan penunggang kuda mengendalikan kuda yang bertubuh dan bertenaga besar, dan sebuah kemudi yang kecil memampukan nakhoda menjalankan kapal yang sangat besar. Lidah adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi lidah memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang besar.

Baik kekang maupun kemudi harus mengalahkan kekuatan-kekuatan yang berlawanan. Kekang harus mengalahkan sifat liar yang alami dari seekor kuda, sedangkan kemudi harus melawan angin dan ombak yang bisa membelokkan kapal dari jalurnya, atau bahkan menenggelamkannya. Sebagai manusia kita juga memiliki sifat-sifat lama yang selalu ingin menguasai kita dan mendorong kita berbuat dosa. Ada situasi di sekeliling kita yang mendorong kita mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak boleh kita katakan. Dosa di dalam diri kita dan tekanan dari luar selalu berlomba mengendalikan lidah kita.

Ini berarti bahwa kekang maupun kemudi harus dikendalikan oleh tangan-tangan yang kuat. Penunggang kuda yang ahli mampu mengendalikan kekuatan besar dalam diri kudanya, dan nakhoda yang berpengalaman dengan gagah berani menyetir kapal melalui badai. Kalau Yesus Kristus yang mengendalikan lidah kita, kita tidak perlu takut mengatakan hal-hal yang salah – atau bahkan mengatakan hal-hal yang benar dengan cara yang salah!

Mintalah supaya Tuhan memampukan Anda untuk menggunakan lidah Anda bagi hal-hal yang baik.

 

 


Melihat Dosa Dalam Diri Sendiri

Orang-orang Kristen diwajibkan untuk saling mendukung dan saling membantu dalam pertumbuhan kasih karunia di antara mereka. Kalau kita tidak mau menilai atau menghakimi diri sendiri, kita bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang-orang lain yang bisa kita layani. Orang-orang Farisi menghakimi serta mengkritik orang lain supaya mereka tampak lebih baik. tetapi orang-orang Kristen harus menghakimi diri sendiri supaya mereka bisa membantu orang lain tampak lebih baik. Betapa besar perbedaannya bukan?

Marilah kita pelajari bagaimana Tuhan Yesus mengilustrasikan ajaran ini dalam Matius 7:3-5. Yesus memilih mata sebagai lambang karena mata adalah salah satu organ atau bagian tubuh manusia yang paling sensitif. Gambaran tentang orang yang mempunyai balok besar menutupi di matanya, tetapi berusaha menyingkirkan setitik debu dari mata orang lain, sungguh-sungguh menggelikan. Kalau kita tidak dengan jujur melihat atau menyadari dosa-dosa kita sendiri serta mengakuinya, kita membutakan diri sendiri terhadap diri kita sendiri; dan karena itu kita tidak mungkin melihat dengan jelas, apalagi menolong orang lain. Orang-orang Farisi melihat dosa orang lain, tetapi mereka tidak mau melihat dosa-dosa mereka sendiri.

Apakah Anda dibutakan oleh “balok” di mata Anda? Mungkin sekali dosa yang Anda lihat dalam diri sesama sebenarnya adalah dosa dalam kehidupan Anda sendiri, bukan dosanya. Akuilah di hadapan Tuhan hari ini juga.


Hanya Takut Kepada Tuhan

“Hanya, takutlah akan YAHWEH, dan beribadahlah kepadaNya dalam kebenaran dengan segenap hatimu; karena lihatlah, bagaimana Dia telah melakukan hal-hal yang dahsyat terhadap kamu.” ( 1 Samuel 12:24)

Orang yang hanya takut akan Tuhan tidak perlu lagi takut terhadap orang atau kelompok mana pun. Rasa takut akan Tuhan akan menghapuskan rasa takut yang lain.

Tuhan memeliharakan milikNya. Untuk membeli burung pipit di pasar tidak diperlukan banyak uang. Tetapi sang Bapa tahu kalau ada seekor pipit yang jatuh ke tanah, dan Bapa akan berada di sana. Kalau Tuhan memelihara burung-burung pipit itu sedemikian rupa, apakah Ia tidak akan memelihara umatNya yang melayaniNya? Tentu saja Ia memelihara mereka. Bagi Tuhan kita ini jauh lebih berharga daripada burung-burung pipit itu.

Tuhan mempedulikan semua rincian kehidupan kita. Bahkan rambut di kepala kita diketahuiNya jumlahnya (numbered) – bukan “dihitung” secara total, tetapi dinomorinya satu per satu! Tuhan melihat bila seekor pipit jatuh ke tanah, dan Tuhan juga melihat kalau sehelai rambut jatuh dari kepala salah satu anak-anakNya. Kalau Dia melindungi milikNya, Ia melindungi sampai ke rambut-rambut itu secara individu. Jadi kita tidak perlu merasa takut kalau Tuhan menerapkan pemeliharaan yang sedemikian rupa kepada kita.

Luangkan waktu beberapa menit untuk merenungkan hal-hal besar yang Tuhan sudah perbuat bagi Anda. Bersyukurlah kepadaNya untuk bukti-bukti bahwa Ia memang layak ditakuti dan dihormati dalam kehidupan Anda.

 

 


↑ Back to Top