Daily Devotional


Pikiran Yang Aman

“Dan damai sejahtera Elohim yang melampaui segala pikiran akan menjaga hatimu dan akalmu di dalam HaMashiakh YESHUA.”

(Filipi 4:7)

Rasa khawatir sebenarnya adalah cara berpikir (menyangkut pikiran) yang salah, dan juga perasaan (menyangkut hati) yang salah tentang lingkungan, orang-orang, dan hal-hal di sekeliling kita. Jadi, kalau kita memiliki hanya satu pikiran, sebuah pikiran yang menurut, dan juga pikiran yang rohani, kita tidak akan punya banyak masalah untuk dikhawatirkan. Yang kita butuhkan hanyalah sesuatu yang mampu menjaga hati dan pikiran kita supaya rasa khawatir jangan sampai masuk. Paulus menggambarkan pikiran yang aman demikian: “Dan damai sejahtera Elohim yang melampaui segala pikiran akan menjaga hatimu dan akalmu di dalam HaMashiakh YESHUA.” (Filipi 4:7). Kata menjaga yang digunakan dalam ayat ini mengandung pengertian yang biasa dipakai dalam istilah kemiliteran; artinya “berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan.” (Ingat, waktu itu Paulus dirantai dan rantainya diikatkan pada lengan prajurit penjaganya).

Tuhan memberikan kepada kita “ujian” secara teratur dalam kehidupan kita untuk menolong kita mengembangkan sikap spiritual kita. Hidup dan belajar bersama-sama, dan Ia akan memberikan kepada kita kasih karunia yang kita butuhkan dalam situasi apapun. Sewaktu kita melatih sikap yang benar, kita akan menemukan sukacita yang besar meluap dari dalam hati kita – sukacita walaupun lingkungan, orang-orang, dan berbagai masalah di sekitar kita kurang mendukung. Dan sukacita itu akan mengalahkan rasa khawatir dan mengisi hati kita dengan damai sejahtera Tuhan.

 


Pengembara Yang Bijaksana

“Sebab kewargaan kita berada di dalam surga, dari sanalah juga kita sangat menantikan Juruselamat, yaitu Tuhan YESHUA HaMashiakh” (Filipi 3:20)

Tuhan menginginkan supaya kita menjauhkan diri dari hal-hal yang duniawi dan berhenti menggantungkan diri kepadanya. Ia ingin supaya kita memusatkan perhatian kita pada dunia yang akan datang. Ini berarti bahwa kita berupaya sebisa mungkin “memisahkan diri” dari hal-hal duniawi, dan memulai hidup untuk nilai-nilai kehidupan yang akan datang dan yang kekal.

Abraham, seorang pria yang kaya, bisa saja hidup dalam sebuah rumah mewah di kota mana pun ia suka. Tetapi ia terutama adalah hamba Tuhan, seorang pengembara dan seorang asing – yang berarti ia harus hidup dalam tenda dan berpindah-pindah. Lot memilih untuk meninggalkan kehidupan mengembara itu dan pindah ke Sodom, kota yang penuh kejahatan itu. Siapakah di antara dua pria itu yang memiliki keamanan yang sejati? Tampaknya Lot yang lebih aman tinggal di dalam kota daripada Abraham yang tinggal di dalam tenda di gurun pasir. Tetapi kemudian Lot keluar sebagai seorang tawanan perag – dan Abraham terpaksa membebaskannya.

Lot tidak mau mendengarkan peringatan Tuhan, dan ia kembali lagi ke kota itu. Ketika Tuhan membinasakan Sodom dan Gomora, Lot kehilangan segalanya. Lot memang bisa bertahan hidup, tetapi ia lebih mempercayai hal-hal duniawi itu daripada Firman dan perintah Tuhan.

Seperti Abraham, kita harus menjadi pengembara-pengembara yang bijaksana sambil mengikuti panggilan suara Tuhan.

 


Harta Karun Di Sorga

“Hendaklah engkau tidak bersusah payah untuk menjadi kaya, berhentilah dari pengertianmu itu. Apabila engkau melayangkan matamu atasnya, maka lenyaplah dia, karena sesungguhnya dia membuat sepasang sayap baginya, dan dia terbang ke langit bagaikan rajawali.” (Amsal 23:4-5)

Materialisme bisa memperbudak hati, pikiran, dan kemauan kita. Kita bisa menjadi terbelenggu oleh benda-benda material dalam kehidupan kita, tetapi kita harus dimerdekakan dan dikendalikan oleh Roh Tuhan.

Kalau hati kita mencintai benda-benda materi dan menempatkan keuntungan dunia di atas investasi sorgawi, akibatnya hanyalah sebuah kerugian yang tragis. Harta duniawi ini memang bisa juga kita pakai bagi pekerjaan dan kemuliaan Tuhan. Tetapi kalau kita mengumpulkan benda-benda materi itu bagi diri sendiri, kita akan kehilangan semuanya itu; dan bahkan kita akan kehilangan hati kita bersama dengan benda-benda itu. Kita tidak akan memperoleh kekayaan spiritual, sebaliknya kita akan mengalami pemiskinan rohani yang parah.

Apakah artinya mengumpulkan harta karun di sorga? Artinya adalah menggunakan semua yang kita punya bagi kemuliaan Tuhan. Itu berarti juga kita perlu bersikap “tidak terlalu serius” (hang loose) dengan benda-benda materi dalam kehidupan kita. Itu juga berarti mengukur kehidupan dengan harta yang sejati dari kerajaan Tuhan, dan bukan dengan kekayaan dunia yang palsu ini.

Apakah Anda diperbudak oleh benda-benda material? Gantikanlah semua itu dengan “harta karun di sorga.” Lakukanlah sesuatu yang memiliki nilai yang abdi hari ini. Mintalah supaya Tuhan mengarahkan Anda.

 


Pekerjaan Yang Telah Selesai

“Aku telah memuliakan Engkau di bumi, Aku telah menyelesaikan pekerjaan yang telah Engkau berikan kepada-Ku supaya Aku dapat mengerjakannya,” (Yohanes 17:4)

Seorang anak laki-laki remaja yang ibunya sedang bepergian tidak mempunyai kegiatan apa-apa. Ia memutuskan untuk membaca salah satu buku yang ada dalam koleksi buku keluarganya. Ibunya adalah seorang Kristen yang penuh pengabdian, karena itu anak itu tahu bahwa buku itu akan dimulai dengan sebuah khotbah dan diakhiri dengan anjuran untuk penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi di tengahnya pasti akan ada beberapa cerita yang menarik.

Sewaktu membaca buku itu, ia menemukan sebuah ungkapan, “pekerjaan Kristus yang sudah selesai.” Ungkapan itu memberikan kepadanya kejutan yang kuat sekali:”Pekerjaan Kristus yang sudah selesai.”

“Mengapa penulisnya menggunakan ungkapan ini?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. “Mengapa tidak dikatakan pekerjaan Kristus yang menyelamatkan atau pekerjaan Kristus yang membawa perdamaian?” (Anda lihat, anak itu mengetahui semua istilah-istilah yang alkitabiah, tetapi ia tidak mengenal Juruselamat!). Tetapi kemudian kata-kata “Sudah selesai” terpancar dalam pikirannya, dan barulah ia kemudian menyadari bahwa karya penyelamatan sudah tercapai.

“Kalau seluruh karya itu sudah selesai dan semua utang sudah terbayar, apalagi yang bisa kulakukan?” Ia tahu jawabnya, lalu bersujud untuk menerima sang Juruselamat dan pengampunan penuh atas segala dosa-dosanya. Demikianlah J. Hudson Taylor, pendiri The China Inland Mission (Misi ke Pedalaman Cina), diselamatkan.

Luangkan waktu hari ini juga untuk bersyukur kepada Tuhan karena telah membayarkan semua utang dosa-dosa Anda. Pikirkan tentang seorang remaja yang Anda kenal, dan mintalah supaya Tuhan menyatakan kebenaran ini menjadi sungguh-sungguh nyata dalam kehidupannya.

 


Siapakah Yang Mengendalikan Pikiran Anda?

“Dan janganlah menjadi serupa dengan zaman ini, tetapi biarlah kamu diubah oleh pembaharuan pikiranmu, agar kamu membuktikan apa itu kehendak Elohim, yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Dunia ini ingin mengendalikan pikiran Anda, tetapi Tuhan ingin mengubahkan pikiran Anda. Kata mengubahkan (transform) adalah sama dengan kata berubah rupa (transfigur) yang kita temukan dalam Matius 17:2. Kata itu sudah masuk ke dalam bahasa Inggris, sama dengan kata metamorphosis, yang menggambarkan perubahan yang dari dalam. Dunia ini ingin mengubahkan hati Anda, karena itu dunia menggunakan tekanan dari luar. Sedangkan Roh Kudus mengubahkan pikiran Anda, Anda menyesuaikan diri Anda kepadanya; kalau Tuhan yang mengendalikan pikiran Anda, Anda akan menjadi seorang yang membawa perubahan (transformer) ke dalam diri Anda sendiri.

Tuhan mengubahkan pikiran kita dan menjadikan pemikiran kita lebih tertarik kepada hal-hal yang spiritual melalui FirmanNya yang hidup. Sewaktu Anda meluangkan waktu merenungkan Firman Tuhan, menghafalkannya, dan menjadikannya sebagai bagian dari diri dan kehidupan rohani Anda, Roh Tuhan akan lambat laun menjadikan pikiran Anda menjadi semakin spiritual.

 


↑ Back to Top