Blog / Pilih Adam Muslim atau Adam Alkitab? (Seri 1)

Adam Muslim dikatakan sudah bertaubat dan sudah diterima Allah akan taubatnya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS2:37). Sesudah pengampunan Allah Yang Maha Penyayang, mestinya semua keadaan kembali damai sebagai sediakala tanpa ada hukuman. Akan tetapi nyatanya tidak demikian! Walau sudah diampuni, namun Allah tetap mengusir Adam-Hawa dari sorga. Mereka malahan di turunkan kedunia dengan membawa dampak hukuman yang saling bermusuhan diantara keturunannya kelak,

“Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS.2:36; juga HS.Muslim33, no.6411).

Dan ini disusulkan kelak (akibat hukum “upah dosa ialah maut”) dengan dekrit masuk ke neraka secara pasti (QS.19:71).

Jadi bagaimana sekarang? Adam manakah yang harus kita pilih? Dua kasus bertolak belakang yang paling mencolok, sehingga kita manusia harus mengambil sikap, dan tidak bisa ABSTAIN!

By Miryam Ash

 

Islam menamakan agamanya sebagai terusan agama-agama langit – Yudaisme, dan Kristiani –yang menurunkan Taurat, Zabur, Injil, dan Quran. Dimana-mana didengungkan bahwa Islam tidak membeda-bedakan Allah, malaikat, Kitab-kitab, dan setiap nabi dari agama pewahyuan tersebut.

“Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” (QS.2:285).

“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS.2:136).

Disinilah awal dari segala penyanggahan dan perselisihan - keluar dan kedalam - ketika Kalimat Allah ini tetap dianggap benar sementara orang dengan mudah dapat melihat dan merasakan bahwa Allah SWT, malaikatnya, Kitab dan para Nabi-Rasul-Nya berbeda hampir MENYELURUH dengan apa dan siapa-siapa yang telah ada sebelumnya!  Karena terlalu luas area perbedaan ini, maka paparan kita ini hanya difokuskan saja pada sosok ciptaan yang paling awal, yaitu ADAM dalam kaitannya dengan Penciptanya.

Baiklah! Dimana-mana umat beragama selalu mengklaim bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang MahaKasih dan Penyayang. Namun anehnya, tidak ada Tuhan yang sungguh-sungguh membuktikan atau memperlihatkan dimana dan bagaimana Dia telah menunjukkan MAHA kasih-Nya yang paling pertama bagi umat-Nya! Tampaknya hanya Tuhan Alkitab sajalah yang mampu memperlihatkannya!

Tuhan Sejati itu kasih adanya, dan setiap hari Ia telah mengasihi umat manusia ciptaanNya yang paling berharga. Jadi, bilamana Adam dan Hawa dianggap sebagai generasi umat manusia yang pertama-tama, maka  demonstrasi mahakasih yang paling awal dari Tuhan tentulah dan haruslah sudah dapat disaksikan orang secara terbuka dari kehidupan Adam dan Hawa itu sendiri. Yaitu tatkala mereka masih hidup dan berhubungan dengan Tuhannya  di taman Eden. Kalau begitu, sederhana saja pertanyaan kita – sekaligus mentest kesejatian Tuhan – dimanakah hunjukan kasih paling awal yang Tuhan perlihatkan kepada Adam dan Hawa?

Orang secara gampangan akan berkata: “Bukankah Tuhan telah membuktikan MahakasihNya dengan segala fasilitas taman yang berkelimpahan untuk Adam-Hawa nikmati”? BUKAN! Itu bukan bukti mahakasih. Itu semua merupakan sarana dan prasarana umum yang istimewa yang Tuhan sediakan demi mendukung kelangsungan hidup bagi buah ciptaanNya. Itu adalah bagian dari hikmat dan kebaikan Tuhan yang selalu akan demikian. Namun Mahakasih Tuhan hanya akan tampak ketika Dia sampai memperlihatkan betapa Dia mengasihi khusus ciptaanNya sampai kepada titik dimana Dia “berkorban” secara pribadi!

Tatkala Adam hidup damai tentram di Taman Eden bersama dengan Hawa dan semua satwa binatang dan pohon-pohonan yang melimpah dengan buahnya, kita belum melihat curahan mahakasih Tuhan yang dahsyat. Sekalipun sewaktu-waktu TUHAN juga berjalan-jalan dalam taman tsb dan berbicara dengan Adam dan Hawa secara langsung, itu semua masih termasuk “manner” kepedulian yang amat menyenangkan, namun belum sampai berkorban secara pribadi. Dalam kebaikanNya yang sempurna, Dia juga memberi kebebasan sepenuh-penuhnya (free-will) kepada Adam-Hawa untuk melakukan apa saja, terkecuali larangan Tuhan yang satu-satunya, agar mereka jangan kena petaka. Mari kita perbandingkan kedua Kitab Suci berkenaan dengan Hukum Tuhan yang paling awal ini, yang pertama kali diturunkan kepada manusia pertama, Adam.

HUKUM KEPADA ADAM ALKITAB: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16:17).

HUKUM KEPADA ADAM MUSLIM: Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS.2:35, 7:19)

Itu adalah Hukum Tuhan yang paling pertama ditujukan kepada manusia. Bagus-bagus Tuhan telah memberikan free-will kepada manusia, tetapi  jelas itu bukan hukum kasih! Itu hukum tentang cara Adam harus bertanggung jawab atas anugerah free-will yang Tuhan berikan! Free-will disertai ancaman petaka serius apabila melanggar larangan Tuhan yang satu-satunya dikala itu!  Disini kita masih belum bisa melihat betapa Tuhan itu menyatakan Mahakasih-Nya dengan berkorban bagi Adam dan Hawa. Namun disini kita justru disodorkan perbedaan mencolok tentang hukum pertama dari Alkitab versus Quran bagi Adam,

 

MATI VERSUS ZALIM

Apa yang anda lihat beda kedua ayat tersebut?

  1. Adam Alkitab dilarang MAKAN buah terlarang.
  2. Adam Muslim dilarang MENDEKATI pohon terlarang.
  3. Bila Adam Alkitab makan apa yang Tuhan larangkan, maka ia langsung MATI.
  4. Bila Adam Muslim mendekati pohon tersebut ia akan menjadi ORANG ZALIM.

Hukum Pertama bagi manusia adalah teramat khusus dan penting. Ini menentukan hubungan dan hidup manusia selanjutnya dengan Tuhannya. Hukum pertama ini pasti harus sangat spesifik untuk bisa dipahami seorang Adam yang masih polos dan innocence. Tidak boleh dimaknai secara kabur ataupun kompleks, apalagi meleset dan tidak akurat! Kalau begitu, pertanyaan yang segera bagi benak kita adalah: Apakah Adam Muslim disaat awal kehidupan yang polos begitu sudah bisa tahu apa maksudnya dengan “orang zalim” yang dikatakan di Quran? Adakah contoh dan suasana “orang zalim” bagi pengertian Adam waktu itu? Semua kita pasti meragukan kalau-kalau Adam dapat memahami kata Allah-nya …

Sebaliknya, Tuhan Alkitab mengatakan hal yang lain, yaitu ”Janganlah kaumakan buahnya… pastilah engkau mati. Ini adalah hukum vonis kematian seketika. Tidak main-main atau dienteng-entengkan, ini adalah hukuman paling serius dan terbesar, kiamat dan mematikan! Disini Adam pasti lebih paham tentang “orang mati” ketimbang “orang zalim”, karena “orang mati” bisa dipahaminya sebagai “tiada-berada”, sebab Adam tahu keberadaan dirinya dari yang TIADA, dan bahkan juga menyaksikan Hawa yang muncul dari TIADA. Maka Adam tahu merasakan bahwa ia akan dihukum paling berat sehingga terpisah dan “hilang” dari Tuhan Yang Mahakudus. Itulah kematian-rohani yang dialami Adam seketika ia berbuat dosa dengan makan buah larangan!  Dan hukum inilah yang terkenal dengan: “UPAH DOSA IALAH MAUT” (Roma 6:23). Akan dibicarakan dalam seri lanjutan.

Anda bertanya, kenapa bisa terjadi perbedaan begitu mencolok antara Alkitab dan Al-Quran, bahkan sudah dimulai dari sejak hukumNya yang pertama? Jangan salah! Hukum KETIADAAN atau hukum kematian-kekal ini sesungguhnya ada tercantum juga dalam Quran. Bagaimanapun, hukum “Upah dosa adalah maut” ini tidak bisa dihilangkan Allah, namun tampaknya itu ditunda Allah selama ribuan tahun, tidak dimunculkan dalam zaman dan konteks Adam untuk menghukum Adam. Ia baru muncul diabad ke-7 ketika Allah lewat Muhammad menyampaikan wahyu susulanNya yang menjadikan semua Muslim gerah dan sangat menggelisahkan. Disitulah Allah Swt akhirnya menetapkan bahwa semua Muslim – yang bertakwa maupun yang zalim—di dekritkan dan dipastikan harus turun keneraka (QS.19:71). “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu.Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.”

Dan nanti-nanti entah kapan Allah baru akan berurusan untuk menyelamatkan yang bertakwa (menurut ayat lanjutannya QS.19:72). Namun Allah tidak menjamin kapan penyelamatan itu akan dilakukanNya, malah Dia samasekali tidak berurusan dengan  SALVATION PLAN, rancangan penyelamatan bagi umatNya. Quran telah menetapkan bahwa nasib umat hanyalah kematian-neraka sebagai upah dosa. Dan selanjutnya ditentukan dengan wewenang Allah (yang tidak dijelaskan lagi), yang sewenangNya menyesatkan atau memberi petunjuk (QS.16:93, 14:4, 4:88).

Padahal kita diberitahu bahwa terbakar satu hari saja di-alam akhirat ibarat sama dengan terbakar 50 tahun dibumi dengan kelipatan panas yang tidak terkirakan!

 

MAHAKASIH-TUHAN ALKITAB, DITUNJUKKAN KEPADA ADAM

Mari kita segera baca kisah kejatuhan Adam-Hawa di Taman Eden oleh penyesatan licin dari si Ular (iblis). Terjadilah kegentaran dan kengerian Adam-Hawa yang luar biasa, menanti hukuman dahsyat yang tak terbayangkan. Dan benar, Tuhan datang, namun bukan menghardik Adam dan Hawa keluar untuk mempertanggung-jawabkan apa yang telah mereka perbuat. Atau memerintahkan regu tembak para malaikat untuk mengeksekusi mereka. Kita justru tersendat menyaksikan betapa Tuhan habis-habisan menyertakan Kasih-Nya masuk kedalam alam suasana yang paling tragis, dimana Dia-lah yang seolah  “tercabik  meratapi” kejatuhan Adam-Hawa secara emosional ilahiah…

Ular itu berkata kepada perempuan itu:

“Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu:
“Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,  tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” 

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu:
“Sekali-kali kamu tidak akan mati,  tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Elohim, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” 

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya,… Lalu ia … dan suaminyapun memakannya.
Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Elohim,
yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,
bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Elohim
di antara pohon-pohonan dalam taman.

Tetapi TUHAN Elohim memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya:
“Di manakah engkau?”

Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini,
aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku,
dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Kemudian berfirmanlah TUHAN Elohim kepada perempuan itu:
“Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu:
Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
(Kejadian 3:1-13).

Tampak betapa Tuhan memanggil Adam dan Hawa dengan satu seruan yang paling dalam maknanya: “DIMANAKAH ENGKAU”?

Nah, pertanyaan sepenting ini telah disalah pahami oleh banyak pihak. Mereka mengkritik dan mengolok: “Lho, kok Tuhan bertanya dan tidak tahu dimana Adam & Hawa berada? Tuhan apakah itu? Bukankah Dia sendiri yang menempatkan Adam/Hawa di taman Eden? Dan bukankah Dia  mahatahu dan tak perlu bertanya bego begitu?

Dan apa jawab kita?….
Para pencemooh itu lupa-diri sehingga menyesatkan diri sendiri secara konyol. Bilamana seseorang Anda sudah sangat tahu bahwa Tuhan itu mahatahu, maka seharusnya  Anda mencari makna ayat itu berdasarkan hakekat mahatahuNya, dan bukan mengada-adakan makna kutu-busuk yang selalu bisa diadakan secara konyol. Sejak kapan Tuhan dan manusia pernah dilarang untuk bertanya tentang apa yang telah diketahuinya?! Bukankah semuanya bebas bertanya atas hal-hal yang bahkan bukan untuk dijawab sekalipun, semisal,
Apa Kabar?,
Kau kira kau ini siapa?,
Anda gila?
Untuk apa hidup bersusah payah? dst…

Bahkan Injil memperlihatkan berpuluh pertanyaan dari Yesus sendiri yang tidak membutuhkan jawaban, namun yang setiapnya mengandung makna dan tujuan yang paling dalam:
“Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya”?
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan”?
“Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”
“Elohimku, Elohimku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”?
“Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku”?
“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan”? dll…

 

DIMANAKAH ENGKAU, ADAM?